
Bang Hendra masih menatap Danisha, menanti jawaban dari Danisha. Sementara Danisha semakin dibuat salah tingkah dan gugup.
" Nona Danisha ! "
Petugas apotek memanggil namanya, obat dari Dokter Aldi telah siap untuk diambil.
Danisha tersenyum pada Bang Hendra.
" Permisi sebentar ya, Bang, " Danisha pun menuju tempat pengambilan obat.
Bang Hendra pun mengikutinya. Ditatapnya gadis teman seprofesinya itu intens. Pikirannya menduga-duga tentang keberadaan Danisha di rumah sakit. Ia juga tidak melihat Saka atau orang lain yang bersama gadis itu selain seorang perawat tadi.
Setelah mengambil obat dan membayarnya, Danisha melihat Bang Hendra berdiri tak jauh dari tempatnya mengambil obat. Bang Hendra segera menghampirinya.
" Ikut Abang, kita duduk di sana, " Bang Hendra menggamit tangan Danisha untuk mengikutinya duduk di pojok ruang tunggu apotek.
Danisha hanya bisa diam. Bang Hendra pasti bertanya-tanya tentang keberadaannya di rumah sakit.
Setelah mereka duduk, Danisha masih terdiam dan sesekali menghela napas pelan. Sementara Bang Hendra tak lepas pandangan dari gadis berhijab dengan lesung pipinya yang dalam.
" Masih ga mau cerita, Dek ? " Bang Hendra mulai bertanya lagi.
Danisha menundukkan kepalanya, ia ragu menjawab pertanyaan dari lelaki di sampingnya yang sudah dianggapnya kakak. Perlahan ia menegakkan kepalanya dan menatap Bang Hendra dengan senyuman tipis yang samar.
" Danish minta Abang berjanji dulu sebelum Danish ceritakan semua, " pinta Danisha.
" Janji apa ? Kenapa harus pakai janji segala, sih ? " tanya Bang Hendra.
" Yaaa... janji ! Tolong Abang janji dulu ga bakalan bilang sama siapa pun tentang ini semua, " ujar Danisha, matanya sedikit sayu menatap Bang Hendra.
Ditatap dengan mata yang sayu dan wajah sedikit pucat, membuat Bang Hendra iba. Ia semakin paham jika gadis di hadapannya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Semoga dugaanku salah, Danish. Bang Hendra berkata dalam hatinya.
" Baiklah. Ada apa sebenarnya, Dek ? "
" Abang janji dulu. Janji kalau Abang ga bakalan cerita sama siapa pun, " ucap Danisha, diangkatnya jari kelingking di hadapan mereka.
" Saka ? "
" Tanpa terkecuali, Bang, " ucap Danisha lugas.
" Ok, baiklah ! Aku janji ga bakalan bilang sama siapa pun, " ucap Bang Hendra, ia menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Danisha.
Danisha tersenyum, " Promise ? "
Bang Hendra memutar kedua bola matanya.
" Ok, promise ! " ucapnya mengikuti Danisha.
Lalu tanpa berbasa basi lagi, Danisha pun menceritakan semuanya. Bang Hendra memang pendengar yang baik. Tidak sedikit pun dia menyela cerita Danisha hingga selesai. Hanya helaan napas dan tatapan penuh kecemasan yang diperlihatkannya. Dia sangat prihatin dengan kondisi Danisha, gadis yang sudah seperti adiknya sendiri.
Bang Hendra memegang kedua bahu Danisha ketika gadis itu telah selesai bercerita. Tersenyum penuh makna, ia ingin memberi semangat pada gadis itu.
" Semangat, Dek ! Kamu pasti sembuh, ok ? Kamu pasti sembuh ! Abang siap kalau kamu butuh bantuan kapan pun. Mulai sekarang, bilang sama Abang kalau kamu mau berobat. Abang akan antar kamu, " tutur Bang Hendra memberi semangat pada Danisha untuk selalu yakin bahwa dia akan sembuh dan dia tidak sendiri. Lelaki itu siap membantu dan menemani gadis itu bila diperlukan.
Danisha terharu mendengar penuturan Bang Hendra. Ia tidak ingin menangis lagi, ia harus kuat dan tidak cengeng. Namun, apa yang baru saja dikatakan Bang Hendra sungguh membuatnya ingin menangis. Ia tidak sendiri sekarang, ada Bang Hendra yang sudah mengetahui tentang kondisinya selain Dokter Aldi dan Suster Indah.
Dengan mata berkaca-kaca, Danisha menatap Bang Hendra. Ia tersenyum dan menghapus genangan air matanya menggunakan jemarinya.
" Makasih, Bang. Makasih banyak ! Makasih, Abang udah mau mendengarkan keluh kesahku. Makasih, Abang bersedia membantuku. Dan makasih banyak karena Abang mau berjanji untuk tidak cerita sama siapa pun, " ucap Danisha sedikit terisak.
" Udah seharusnya, Dek. Udah, jelek tuh kalau nangis ! Masa iya, Alma Danish yang selalu ceria nangis kek gini. Entar ada yang tau kan malu, " ledek Bang Hendra dengan senyum jahilnya.
Danisha terkekeh, " Apaan sih, Bang ! Mana ada yang tau Alma Danish, " sahut Danisha, bibirnya mencebik.
" Kali aja ada yang tau lho, Dek ! " tukas Bang Hendra ikut terkekeh.
" By the way, kamu yakin ga mau cerita sama orang tua kamu ? Atau sama Saka ? Sebenernya, Abang ga setuju sih, kamu menyembunyikan kondisi kamu seperti ini sama mereka. Mereka berhak tau, Dek, " tutur Bang Hendra lagi.
Danisha menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku ga mau membuat mereka khawatir. Aku ga mau merepotkan mereka, ga mau jadi beban pikiran mereka, Bang. Apalagi.... " Danisha menjeda kalimatnya.
" Apalagi apa, Dek ? " tanya Bang Hendra penasaran karena Danisha tidak meneruskan kalimatnya.
" Kami akan menikah, Bang, " kata Danisha lirih sembari menghela napasnya dalam.
" Wow ! Congratz, Dek ! Abang seneng dengernya ! " seru Bang Hendra tertawa.
" Tunggu ! Kok kamu malah sedih gitu, sih ? Harusnya kan bahagia gitu... Ada apa ? " Bang Hendra lanjut bertanya.
" Aku takut ga bisa membahagiakan mereka terutama Saka, Bang, " lontar Danisha dengan suaranya yang lirih.
__ADS_1
Bang Hendra tersenyum.
" Dek, Saka sangat mencintai kamu. Abang kenal dia. Ga mungkin dia ga bahagia. Kalau dia ga bahagia, ga mungkin dia ngajak nikah kamu, " ujar Bang Hendra dengan sabarnya.
*******
Bang Hendra mengantarkan Danisha pulang. Kebetulan dia membawa mobil milik pamannya yang ternyata sedang sakit dan dirawat di rumah sakit yang sama tempat Danisha berobat.
Setelah mengantarkan Danisha sampai di rumahnya, Bang Hendra segera pergi kembali ke rumah sakit untuk menemani sang Bibi yang menjaga pamannya.
Sementara itu Saka masih berada di kantor perusahaan orang tuanya. Ia baru selesai meeting dengan klien saat Kak Sandra menelponnya.
" Jadi gimana desain undangan dan sebagainya buat pernikahan kamu, Dek ? "
Kak Sandra kembali menanyakan tentang desain undangan serta konsep pernikahan adik satu-satunya itu.
" Kakak bisa pilihkan untuk undangannya ? Danisha ikut pilihan Kakak katanya. Untuk yang lainnya nanti aku akan bicarakan sama Danisha. "
" Dek, Mama udah cuap-cuap minta undangan segera dicetak dan disebar, lho ! Tau sendiri kan, gimana Mama ? Kakak ada beberapa desain yang sudah Kakak pilih. Kalau gitu, nanti malam Kakak ke rumah bawa desainnya, kalian bisa pilih yang kalian suka. Ok ? "
Saka menghembuskan napasnya kasar. Memang tidak banyak waktu yang dimilikinya. untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta pernikahannya. Itu mengapa ia dan Danisha sesungguhnya hanya menginginkan acara akad nikah dan syukuran sederhana saja, tidak dengan pesta resepsi segala. Namun, mau bagaimana lagi, kedua orang tuanya menginginkan sebaliknya.
" Dek ? Gimana ? "
" Ok lah, Kak ! Aku ikut aja, Kakak kan WO nya, " ujar Saka pasrah.
" Baiklah. By the way, Kakak juga tunggu kalian ke kantor Kakak buat bahas acara resepsinya, " cetus Kak Sandra di seberang sana.
" Ya, Kak. Makasih banyak. "
Panggilan telpon berakhir.
Saka menghela napasnya panjang. Ia teringat Danisha dan sangat merindukan calon istrinya itu. Ia pun beranjak dari ruangannya untuk menemui Papanya.
Saka mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruang kerja Papanya. Begitu ada jawaban dari dalam sana, Saka pun membuka pintu dan masuk.
Pak Rahmat tersenyum memandang putranya.
" Lho, katanya mau ke rumah Danisha ? Papa kira kamu udah pergi ke rumah Danisha begitu meeting selesai tadi, " kata Pak Rahmat sembari membereskan beberapa dokumen yang baru saja ditandatanganinya.
" Belum, Pa. Tadi juga masih beresin berkas meeting dulu. Trus tadi Kak Sandra nelpon juga nanyain desain undangan dan lain-lain, " jelas Saka yang duduk di hadapan Pak Rahmat.
" Papa pulang sama Pak Damar ? Atau Saka antar pulang dulu ? " tanya Saka bangkit dari duduknya.
" Biar Papa sama Pak Damar aja, " jawab Pak Rahmat.
" Ok, Pa. Makasih, Saka pergi dulu. Assalamualaikum, " pamit Saka dengan mencium punggung tangan Pak Rahmat.
" Waalaikumsalam, hati-hati bawa mobilnya, " sahut Pak Rahmat.
*******
Setelah membersihkan tubuhnya dan sholat Ashar, Danisha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tadi dilihatnya Kirana juga sudah pulang dari sekolah dan sekarang sedang berada di kamarnya.
Sementara Bunda masih di toko kue karena menunggu Ayah pulang kantor untuk menjemputnya.
Danisha meraih ponselnya yang ia letakkan di meja kecil di samping ranjangnya ketika terdengar nada dering panggilan telpon.
Saka is calling.
Senyum gadis berlesung pipi itu mengembang.
" Assalamualaikum, Sayang, " ucap Danisha lembut memberi salam.
" Waalaikumsalam. I miss you, Bee. "
" Miss you, too. Gimana meeting nya, Sayang ? Lancar ? "
" Alhamdulillah, lancar. Lagi ngapain, Bee ? Aku udah di depan gerbang komplek rumah kamu. "
" Masa sih ? Kamu pulang awal lagi ? Ish ! jangan sering-sering nyuri waktu, Sayang. Ga enak sama Papa dan karyawan lain, lho ! " gerutu Danisha sembari bangun dari rebahannya.
" Papa yang minta aku jemput kamu. Papa paham kok, kan aku lagi sibuk ngurusi acara pernikahan kita. "
" Iya, tapi kan ga tiap hari juga dong ! Ck ! Nanti jadi kebiasaan, lho ! " tukas Danisha berdecak pelan.
" Kamu lama-lama kek Mama deh, Bee. Pantes banget jadi anaknya Mama. "
Saka berkata sambil tergelak tawa.
" Aku udah di depan. Aku parkir dulu ya, Bee. "
__ADS_1
Danisha bangkit dari ranjangnya begitu panggilan telpon berakhir. Ia merapikan dirinya di depan cermin sebelum keluar kamar menemui Saka.
Senyuman manis dengan lesung pipi menghiasi wajah ayu Danisha saat melihat kekasih hatinya berdiri di teras rumahnya.
" Assalamualaikum, " salam Saka, seulas senyuman tersungging di bibirnya. Wajah lelaki itu terlihat semakin menawan, meneduhkan hati Danisha.
" Waalaikumsalam, " jawab Danisha dengan wajah yang sumringah.
Saka duduk di kursi teras sembari menghela napasnya panjang dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Danisha menghampiri kekasihnya. Meskipun dia datang dengan senyum sumringah, tetapi ia bisa melihat jika mata dan wajah kekasihnya terlihat lelah.
" Ga istirahat di dalam ? Di sofa dalam kan lebih nyaman, " ujar Danisha lembut menatap kekasihnya yang memejamkan matanya.
Saka pun membuka matanya. Wajah ayu calon istrinya sedang menatapnya sendu. Sedikit terlihat pucat, tetapi sangat membuat hatinya tenang dan nyaman. Ia sudah tidak sabar untuk segera menghalalkan hubungan mereka.
" Ga usah, di sini aja. Aku takut khilaf kalau di dalam, " ucap Saka asal.
Danisha spontan mencubit lengan kekasihnya hingga lelaki bermanik hitam itu merintih kesakitan.
" Auuwww ! Sakit, Bee ! Main cubit sama calon suami, nanti kualat lho ! " sungut Saka sembari meringis.
" Mau aku cubit lagi ? " goda Danisha.
Saka memasang wajah sendu dan mengiba.
" Udah dong, Bee. Pulang kerja bukannya disayang, malah dianiaya, " keluh Saka dengan wajah cemberut.
" Kan mulai, apaan sih, Sayang. Bicaranya sekarang suka asal aja, " ujar Danisha sebal.
Saka mendekatkan wajahnya pada Danisha. Menatapnya lekat dengan wajah sayunya.
" Aku semakin mencintaimu. Akan selalu mencintaimu, tanpa batas waktu, " ucap Saka lirih, tangannya menyentuh pipi Danisha dengan lembut penuh sayang.
Danisha pun menatap lekat wajah sayu milik kekasih hatinya. Ia sangat bahagia mendengar ungkapan cinta lelaki yang sebentar lagi akan menjadi imamnya. Namun, sesaat kemudian ia menundukkan kepalanya. Dadanya tiba-tiba sesak mengingat penyakitnya.
" Aku ke belakang dulu ya. Mau teh hangat, kopi atau coklat panas ? " tanya Danisha mengalihkan pembicaraan. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan akan beranjak masuk ke dalam rumah. Namun, belum juga melangkah, tangan Saka menahannya.
" Ga usah, Bee. Nanti aja. Duduk dekat aku, please, " pinta Saka, tersenyum menatap sang calon istri.
" Tapi.... "
" Please.... "
Danisha tersenyum dan duduk di samping kekasih hatinya.
Saka tersenyum senang, tangannya menggenggam tangan Danisha erat. Sesekali mengusap lembut menggunakan ibu jarinya.
" Bee, pernikahan seperti apa yang kamu inginkan ? " tanya Saka.
" Aku tidak tau. Buat aku yang terpenting adalah sah di mata agama dan negara. Itu udah cukup, " ucap Danisha, senyum mengembang di wajahnya.
" Maksud aku, acara resepsi pernikahannya, Bee. Kamu mau yang seperti apa dan gimana ? " tanya Saka lagi.
" Kamu yang lebih paham soal begitu, Sayang. Apapun yang kamu siapkan untuk acara pernikahan kita, pasti bagus dan indah. Dan pasti akan membuatku bahagia, " tutur Danisha.
Saka menghela napasnya singkat. Kenapa ia merasa sepertinya Danisha tidak berminat untuk merancang konsep pernikahan mereka.
" Baiklah. Sepertinya hanya aku yang menginginkan pernikahan ini. Kita tunda saja sampai kamu benar-benar menginginkannya. " ujar Saka dengan nada kecewa. Ia melepaskan genggaman tangannya.
Danisha terkejut dengan yang baru saja didengarnya. Ia menggelengkan kepalanya.
" Sayang, kamu bicara apa ? Maaf, jika aku salah bicara. Tapi tolong jangan bilang aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku ingin, sangat ingin. Tolong jangan salah paham, " jelas Danisha dengan mata yang berkaca-kaca.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Yaaa gitu sih... emang ada aja koq masalah2 yg datang mendekati hari pernikahan, mereka sedang diuji, sesabar apa mereka menghadapi masalah, sekuat apa cinta mereka βΊοΈ
Tetap ditunggu like n komen nya yaa... buat yg sdh vote thank you so much π€
Banyak terima kasih, cinta n sayang buat kalian πππ
Stay safe n healthy with 3M LOTA Lovers π€πππ**
__ADS_1