Love On The Air

Love On The Air
Eps 95 Graduation & Pregnancy?


__ADS_3

**HAPPY READING LOTA LOVERS πŸ’žπŸ’ž**


Maaf baru up, namanya Emak2 musim tahun pelajaran baru. Jadi, ngurusin anak2 yg masuk sekolah dulu yaa... ditambah badan yg lg drop πŸ™πŸ™


######


Akhirnya tiba juga hari wisuda kelulusan Danisha. Sudah sejak selepas subuh, Danisha dirias di rumahnya oleh MUA kenalan sang ibu mertua, Bu Dinda. Saka sungguh tak ingin berhenti menatap Danisha saat istrinya itu selesai dirias. Polesan make up natural dengan hijab dan kebaya berwarna peach yang sederhana tetapi berkesan elegan membuatnya benar-benar cantik, apalagi dengan lesung pipi yang selalu menghiasi wajahnya yang berbinar bahagia. Walaupun sempat ada drama muntah-muntah pada saat awal dirias pagi tadi. Namun setelah minum air hangat dengan sedikit madu dan sarapan sedikit nasi, Danisha kembali merasa segar.


Saka sempat khawatir dengan keadaan Danisha. Ia sempat berpikir untuk melarang Danisha hadir di hari wisudanya. Namun melihat istrinya itu sangat bersemangat pada hari wisuda yang sudah sangat lama dinantikannya, ia pun tidak tega. Saka sengaja meliburkan diri dari pekerjaannya. Ia memilih mengambil cuti selama dua hari untuk bisa menemani istrinya di hari wisudanya.


"Kamu sangat cantik, Bee," puji Saka setelah Danisha selesai dirias dan siap untuk berangkat menuju tempat dilangsungkannya acara wisuda. Matanya tak berkedip menatap wajah ayu sang istri tercinta, yang juga terlihat sedikit pucat.


Danisha tersenyum mendengar pujian dari Saka.


"Terima kasih. Kan, istri kamu, Mas," balas Danisha setengah berbisik. Ia malu bila didengar oleh Bu Erni dan dua orang MUA yang meriasnya.


"Tentu, dong!" sahut Saka sembari memeluk pinggang Danisha, hingga wajah sang istri tersipu malu dengan kedua pipi yang semakin terlihat merona.


"Bee, kamu yakin baik-baik saja?" tanya Saka sekali lagi, meyakinkan Danisha bahwa kondisinya baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Aku udah bawa minyak kayu putih, kok!," jawab Danisha yakin.


Saka tersenyum mendengar jawaban Danisha, lalu menghela napasnya singkat karena ada rasa khawatir pada kondisi sang istri.


Keinginan Danisha terwujud. Ia akan diwisuda bersama kedua sahabat baiknya, Distha dan Prasta.


Dan di sini-lah mereka saat ini, di Gedung Serbaguna Kampus, tempat mereka menempuh kuliah dan akan diwisuda bersama. Mereka sedang bersiap di belakang tempat acara inti. Menunggu arahan dari pihak panitia wisuda kapan mereka harus bersiap untuk keluar menuju panggung acara wisuda.


Distha didampingi oleh kedua orang tuanya dan tentu saja calon suaminya, Dokter Ardhy. Sedangkan Prasta didampingi kedua orang tua serta adik satu-satunya. Sementara Danisha, tentu saja sang suami selalu siap sedia mendampinginya selain Ayah dan Bundanya. Mereka semua telah duduk di kursi undangan. Terlihat Saka sedang berbincang dengan kedua mertuanya.


"Ka, Danisha tadi udah sarapan, kan?" tanya Bunda yang mengkhawatirkan kondisi putrinya setelah beberapa hari yang lalu ia mendapati Danisha muntah-muntah pada saat berkunjung ke kediaman putri dan menantunya.


"Udah, Bun. Tadi juga dia udah bawa minyak kayu putih untuk berjaga-jaga kalau-kalau perutnya mual lagi," terang Saka, mencoba menenangkan sang Bunda, meskipun ia sendiri juga merasakan kekhawatiran itu.


"Anak itu tetap saja keras kepala. Kamu yang sabar ya, Ka. Cuma itu yang bisa Bunda bilang. Waktu kemarin-kemarin Bunda bujuk dia buat periksa ke dokter, tetap saja nggak mau. Katanya, udah diperiksa Bang Ardhy. Hanya tensi rendah saja. Sekali lagi, maafkan putri Bunda, ya?" papar Bunda sedih.


"Ya, putri kita memang begitu, Bun. Kita harus memahaminya. Dia udah dewasa, dia sendiri yang tahu bagaimana kondisi tubuhnya. Setelah semua yang menimpanya, dia nggak bakalan membahayakan dirinya sendiri. Dia anak yang bertanggung jawab," timpal Ayah.


"Iya, Ayah. Bunda ... Udah deh, nggak usah sedih gitu. Ini acara bahagianya Danisha, juga kita semua. Saka akan selalu berusaha sabar. Doa Ayah dan Bunda untuk kebaikan dan kebahagiaan kami sangat penting buat kami," tutur Saka, meyakinkan kedua mertuanya.


Acara sudah dimulai. Satu per satu wisudawan dan wisudawati berjalan masuk dan duduk menempati kursi masing-masing. Rentetan acara pun digelar. Hingga saatnya para wisudawan dan wisudawati akan disahkan gelar Sarjana Strata satu-nya oleh Sang Rektor.


Saka mengabadikan setiap momen wisuda istrinya menggunakan kamera kesayangannya yang sudah lama jarang ia gunakan. Dan laki-laki itu sangat mengagumi istri tercintanya yang berada di jajaran wisudawan dan wisudawati yang berdiri di atas panggung setelah disahkan lulus sebagai Sarjana Strata satu.


Tampak Danisha tersenyum bahagia. Lesung pipinya yang selalu menghiasi wajahnya semakin membuatnya cantik dan menggemaskan. Oh, Saka tak pernah bosan memandangi dan mengagumi wajah istrinya. Semakin hari semakin bertambah perasaan cinta pada istrinya.


********


Acara wisuda pun berakhir. Para wisudawan dan wisudawati pun terlihat menghampiri keluarga masing-masing untuk berfoto. Tidak terkecuali dengan Danisha, Distha dan Prasta. Setelah ketiganya berfoto bersama dan juga berfoto bersama Saka dan Dokter Ardhy, ketiganya pun berpisah untuk berfoto bersama keluarga masing-masing.


"Selamat ya, putri Ayah dan Bunda. Ayah dan Bunda bangga sama kamu. Ayah bahagia sekali, Nak," ucap Ayah sembari memeluk tubuh putri sulungnya.


"Terima kasih banyak, Ayah. Terima kasih buat semuanya. Semua karena doa, dukungan dan kasih sayang Ayah dan Bunda," tutur Danisha di sela isakannya.


Bunda memeluk erat tubuh putri sulungnya begitu sang Ayah melerai pelukannya. Bunda tidak bisa lagi menahan air matanya. Kedua ibu dan anak itu larut dalam air mata bahagia. Saka tersenyum haru melihat peristiwa di hadapannya.


"Terima kasih, Bunda. Terima kasih atas doa, dukungan dan kasih sayang Bunda pada Danish. Maafkan Danish yang belum bisa memberi kebahagiaan untuk Bunda dan Ayah. Maafkan Danish yang selalu membuat repot Bunda dan Ayah," ucap Danisha sesenggukan.


Saka mengusap lembut punggung Danisha. Perlahan Danisha mengurai pelukannya dan mencium punggung tangan sang Bunda. Lalu mengecup kedua pipi sang Bunda, setelah menghapus air matanya. Bunda menatap wajah sang putri dengan senyum bahagia di sela sisa-sisa isakan tangisnya.


"Akhirnya putri Bunda lulus dengan baik. Jangan lupakan suamimu yang selalu mendampingi setiap saat hingga detik ini, Sayang," tutur Bunda sembari menangkup wajah putri sulungnya yang terlihat sembab karena air mata.


"Tentu saja, Bunda. Apalah Danish tanpa Saka di samping Danish," sahut Danisha tersenyum pada Bunda, kemudian beralih menatap Saka yang berada di sampingnya. Pandangannya nanar, tubuhnya tiba-tiba lemas.


Saka menatap Danisha dengan senyum terbaiknya. Hingga tiba-tiba tubuh Danisha lunglai ke bawah, tetapi berhasil ditangkap oleh Saka sebelum benar-benar jatuh menyentuh lantai gedung. Bunda pun sontak menjerit karena terkejut dan panik melihat putrinya yang pingsan.


"Danish!" jerit Bunda.


Beberapa orang yang sedang sibuk berfoto dan bercanda bahagia di gedung tersebut seketika mengalihkan pandangan ke arah kejadian dimana Danisha pingsan.


Dengan wajah yang panik dan cemas, Saka mendekap tubuh Danisha. Ia berusaha melepaskan toga di kepala Danisha, dibantu Bunda yang masih terisak melihat kondisi putri sulungnya.


"Bee! Please, jangan begini, Sayang!" Saka menepuk pelan pipi Danisha. Namun Danisha bergeming.


Ayah pun memanggil Dokter Ardhy yang terlihat setengah berlari menuju ke tempat mereka diikuti oleh Distha, Prasta dan kedua orang tua mereka.


"Tolong, Dokter! Danisha pingsan!" seru Ayah cemas.


Dokter Ardhy pun segera menghampiri Saka yang terduduk di lantai mendekap tubuh Danisha. Beberapa orang mengerumuni Saka dan Danisha. Namun, Dokter Ardhy segera meminta untuk mundur dan memberi ruang untuk Danisha.


Saka mendongak melihat Abang sepupunya.


"Bang, tolong Danisha, Bang!" pintanya cemas.

__ADS_1


Dokter Ardhy berjongkok dan memeriksa denyut nadi Danisha. Lalu ia berdiri.


"Gimana, Bang?" tanya Saka menatap Abang sepupunya dengan raut yang cemas.


"Ayo, bawa ke rumah sakit sekarang!" titah Dokter Ardhy.


"Bang, Danish baik-baik aja, kan?" tanya Saka lagi penuh kecemasan.


"Sepertinya tensinya drop lagi. Sebaiknya kita ke rumah sakit. Ayo, cepat!" ajak Dokter Ardhy sembari membantu Saka berdiri dengan membopong tubuh lemah Danisha.


"Ayah dan Bunda akan segera menyusul," ujar Ayah sembari menganggukkan kepalanya menatap Saka.


"Danish, semoga kamu baik-baik saja, Nak!" rintih Bunda berdoa agar putri sulungnya baik-baik saja.


"Insya Allah dia akan baik-baik saja, Bun," lontar Ayah menenangkan Bunda yang mulai menangis.


"Pras, tolong nanti antar Ayah dan Bunda, ya," pinta Saka pada Prasta sembari memberikan kunci mobilnya. Prasta mengangguk dan menepuk bahu Saka untuk memberikan dukungan agar sahabatnya tenang.


"Jangan cemas, semua pasti baik-baik aja," ujar Prasta.


"Thanks!" sahut Saka, lalu berlari kecil membopong tubuh Danisha bersama Dokter Ardhy. Mereka akan pergi menggunakan mobil Dokter Ardhy. Sementara itu, Prasta meminta izin pada kedua orang tuanya untuk mengantar orang tua Danisha.


Distha pun meminta izin pada orang tuanya untuk ikut bersama Dokter Ardhy dan Saka mengantar Danisha ke rumah sakit.


*******


"Danish, Sayang! Bangun, Bee ... Please! Jangan lagi seperti dulu, Sayang!" lirih Saka sembari mengusap wajah pucat Danisha saat perjalanan menuju rumah sakit.


Distha yang duduk di kursi depan dengan Dokter Ardhy yang fokus mengemudi pun menoleh ke belakang.


"Ka, sabar. Jangan berpikir buruk, Danisha pasti baik-baik aja," timpal Distha.


Saka memandangi wajah pucat Danisha dengan perasaan yang berkecamuk. Tangan kirinya mengusap lembut pipi istrinya yang kini sudah mulai terlihat lebih berisi.


"Bang! Bisa lebih cepat lagi nyetirnya?" pinta Saka.


"Bangun, Sayang! Please ...." rintih Saka, berusaha membangunkan Danisha lagi.


"Bang, cepatlah!" seru Saka pada Abang sepupunya. Ia semakin cemas.


Dokter Ardhy pun menginjak gas untuk menambah kecepatan laju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Danisha segera dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa dan diberi tindakan.


Tak lama kemudian, Ayah dan Bunda datang diikuti Prasta yang berlari kecil di belakangnya.


"Gimana Danish, Ka?" tanya Bunda cemas sembari memegang bahu menantunya.


"Bun, duduk dulu," sela Ayah, menuntun Bunda untuk duduk.


"Masih ditangani dokter, Bun," jawab Saka, berusaha tenang dan menyembunyikan kecemasannya di depan kedua mertuanya. Prasta merangkul bahu Saka, berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat cemas dan kacau.


"Tenang, Bun. Bang Ardhy ada di dalam menemani Danish," ujar Distha sembari mengusap lembut bahu Bunda.


Bunda mengangguk lemah, tangannya menggenggam tangan Distha yang berada di bahunya.


Pandangannya beralih pada Saka yang berdiri bersandar di dinding samping pintu ruang IGD dengan raut yang cemas dan sedih.


Kenapa lagi dengan Danisha? Ya, Allah! Tolong jaga putri hamba. Tolong jangan siksa lagi putri dan menantu hamba dengan ujian-ujianMu. Mereka baru saja merasakan bahagia setelah melewati beratnya ujianMu beberapa waktu lalu. Berikan mereka kebahagiaan, Ya Allah!


Lirih Bunda berdoa dalam hatinya.


Saka menghela napasnya dalam-dalam. Dadanya sesak dan nyeri. Ia merasa susah untuk bernapas. Ia teringat kejadian saat Danisha koma setelah operasi pengangkatan tumor di rumah sakit yang sama.


Apakah penyakit itu menyerangnya lagi? Ya Allah, tolong jangan Kau berikan cobaan berat lagi pada kami. Kami ingin memulai kehidupan kami di jalanMu, berjuang menggapai ridloMu. Jagalah selalu istri hamba, Ya Allah!


Saka memejamkan mata dengan rintihan doa di dalam benaknya.


Prasta yang berdiri di samping Saka pun ikut terdiam dan berdoa untuk Danisha. Ia bisa merasakan kecemasan dan ketakutan Saka. Dirinya sendiri pun merasakan hal yang sama, cemas dan takut.


Tak lama berselang, pintu ruang IGD terbuka dan muncul-lah Dokter Ardhy, terlihat wajahnya sedikit tegang. Namun dokter yang juga Abang sepupu Saka itu berusaha untuk bersikap tenang. Ia berusaha menampilkan senyuman di bibirnya.


Saka pun segera menghampiri Abang sepupunya tersebut diikuti Bunda dan Ayah. Tak terkecuali Distha, ia menghambur ke arah sang calon suami.


"Gimana, Bang? Danisha baik-baik aja, kan?" cecar Saka.


"Kita tunggu Dokter Nana, ya. Sementara Danisha sudah ditangani dengan pemberian infus," terang Dokter Ardhy diikuti helaan napas dan menepuk pelan lengan Saka.


"Dokter Nana? Maksudnya?" tanya Saka sembari mengerutkan dahinya.


Belum sempat Dokter Ardhy menjawab pertanyaan adik sepupunya, Dokter Nana muncul menghampiri mereka.


"Maaf, saya baru selesai praktek. Mohon tunggu, ya," tukas Dokter Nana sembari berjalan tergesa memasuki ruang IGD.

__ADS_1


"Ini ... Bang, sebenarnya Danisha kenapa?" Saka benar-benar dibuat bingung, ia butuh penjelasan.


"Dokter, Danisha kenapa? Ada yang serius?" cecar Bunda dengan raut yang penuh kecemasan.


"Ada apa sih, Bang?" Distha pun ikut-ikutan cemas dan mencecar calon suaminya.


Dokter Ardhy menunduk sebentar, lalu menghela napasnya dalam.


"Berdoalah, semoga Danisha dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja," tutur Dokter Ardhy akhirnya.


Saka, Bunda, Ayah, Distha dan Prasta seketika terkejut. Terutama Saka.


"Ba-bayi? Mak-maksudnya?" Suara Saka bergetar dan terbata meminta penjelasan untuk meyakinkan apa yang didengarnya.


"Masya Allah! Danish ha-mil?" pekik Bunda seketika dengan suara yang sedikit ditekan agar tidak terdengar terlalu keras.


Saka menatap Bunda lalu beralih menatap Dokter Ardhy dengan tatapan bingung. Distha yang berada di samping Dokter Ardhy pun juga menatap calon suaminya itu, menuntut penjelasan.


"Maaf!" Dokter Nana tiba-tiba muncul menghampiri mereka.


"Ya, Dokter. Gimana istri saya, Dok?" tanya Saka tanpa basa basi. Ia menatap lekat Dokter Spesialis Kandungan di hadapannya.


"Sebaiknya kita berbicara di ruangan dokter jaga saja, Dok. Mari," ajak Dokter Ardhy.


"Di sini saja, Bang!" tukas Saka.


"Ya! Sebaiknya kita berbicara di ruangan dokter jaga. Mari!" putus Dokter Nana, berjalan mendahului Dokter Ardhy dan Saka.


"Pergilah, Nak. Kami tunggu di sini," ucap Ayah, tangannya menepuk pelan lengan menantunya.


Saka pun mengangguk dan berjalan dengan langkah lebar menyusul Dokter Ardhy yang sudah lebih dulu berjalan mengikuti Dokter Nana.


Sesampainya di ruangan dokter jaga, ketiganya masuk dan duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Dokter Spesialis Kandungan berusia 45 tahun itu menghela napasnya singkat dan menatap Saka dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Jadi, apa sebenarnya yang terjadi dengan istri saya, Dokter?" tanya Saka, berusaha tenang.


Kembali Dokter Nana menghela napasnya, menatap Dokter Ardhy dan Saka bergantian dengan gelengan kepala.


"Beruntung Danisha segera dibawa ke sini sehingga bisa segera ditangani. Kalau tidak, mungkin kalian sudah kehilangan bayi yang sudah kalian tunggu-tunggu kehadirannya selama ini," jelas Dokter Nana.


"Hah? Mak-maksud Dokter, Danisha ha-mil?" tebak Saka gugup.


"Ya!" tegas Dokter Nana.


"Be-narkah?" tanya Saka lagi, ingin meyakinkan kebenaran berita yang baru saja didengarnya.


"Ya! Dan kalian ... Aduh!" Dokter Nana memegang keningnya sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kalian sudah hampir dua bulan tidak datang konsultasi, kan? Ya, ampun! Istri kamu hamil, Saka! Kamu tidak tahu? Dia pendarahan dan pingsan. Syukur alhamdulilah, masih bisa diselamatkan. Ya, Allah!" tutur Dokter Nana sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dokter cantik itu merasa lucu dan gemas dengan yang terjadi pada pasangan pasien yang merupakan adik sepupu Dokter Ardhy, teman sejawatnya.


"Berapa usia kandungannya, Dok?" tanya Dokter Ardhy, menyela pembicaraan Dokter Nana dan Saka.


"Sekitar 8 minggu," jawab Dokter Nana.


"Ja-jadi benar Danisha hamil?" tanya Saka sekali lagi.


"Yes, Saka! Istrimu hamil dan 8 minggu usia bayi dalam kandungannya!" sahut Dokter Ardhy ikut-ikutan gemas.


Seketika bibir Saka mengembangkan senyuman lebar, wajahnya berbinar bahagia.


"Alhamdulillah ... Terima kasih, Ya Allah! Akhirnya ... Terima kasih, Dokter. Tapi kondisi Danisha dan bayi kami baik-baik saja kan, Dok?" seru Saka bahagia.


"Alhamdulillah, saat ini keduanya baik-baik saja. Tapi Danisha harus bedrest. Saya sudah meminta perawat untuk menyiapkan kamar untuk istrimu dirawat di sini beberapa hari ke depan sampai kondisi keduanya benar-benar pulih dan sehat. Saya minta dengan sangat, Saka. Tolong jaga istrimu dan jangan membahayakan mereka. Kamu sudah paham kan, apa yang sudah pernah kita bicarakan. Kondisi Danisha agak berbeda dengan wanita-wanita lain yang riwayat kesehatannya tidak menemui kendala. Tolong diperhatikan dan jaga keduanya dengan baik. Jika ada masalah atau sesuatu yang sekiranya mengkhawatirkan, kalian bisa mengubungi saya kapan pun," terang Dokter Nana panjang lebar. Sebagai seorang Dokter Spesialis Kandungan, ia sudah merasa kecolongan dengan peristiwa yang baru saja terjadi pada pasiennya. Beruntung semuanya bisa segera ditangani dengan cepat, sehingga ibu dan bayinya bisa diselamatkan.


Saka mengangguk tegas.


"Baik, Dokter! Maafkan saya. Banyak hal yang sudah terjadi pada kami, Dok! Dokter pasti paham. Danisha sangat keras kepala dan dia sangat sensitif perasaannya, terutama karena penyakit yang pernah dideritanya. Terus terang, sudah berkali-kali saya mengajaknya untuk konsultasi dan check up mengingat kondisinya beberapa bulan terakhir terlihat mengkhawatirkan. Tapi dia selalu menolak dengan alasan tidak mau membuat saya kecewa jika ternyata dia tidak hamil. Akhirnya saya ikuti kemauannya karena saya tidak ingin membuatnya semakin stress," papar Saka, ia menghela napasnya lega setelah mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya dan Danisha.




######


Gimana LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž ?


Udah sesuai ekspektasi kalian belum?


End??


Like n komen ditunggu β˜ΊοΈπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2