
Saka tersentak kaget saat merasakan pergerakan di ranjang. Ia segera menegakkan kepala dan membuka matanya. Dengan pandangan yang masih samar, ia melihat Danisha dengan posisi terduduk dan seperti ingin turun dari ranjang.
" Sayang, mau kemana ? " tanya Saka sembari mengusap wajahnya.
" Maaf, Sayang. Aku membangunkanmu, ya. Aku mau ke kamar mandi, " jawab Danisha dengan tangan mengusap pipi Saka.
" Kenapa ga langsung bangunin aku ? Ayo, aku gendong aja ! " cetus Saka.
" Ga usah, Mas... Aku bisa jalan sendiri. Lagian kalau digendong, pegang infusnya gimana coba ! " sanggah Danisha.
Saka pun menuruti perkataan Danisha. Lalu ia membantu Danisha turun dari ranjang. Setelah itu, ia meraih tiang infus dan mendorongnya bersamaan dengan menuntun Danisha ke kamar mandi.
" Udah, aku sendiri bisa, " ucap Danisha saat akan masuk ke kamar mandi. Ia meminta Saka menunggu di luar saja, tidak perlu ikut masuk ke kamar mandi.
" Yakin ? " tanya Saka. Ia menatap Danisha dengan tatapan khawatir.
" Iya, Mas, " yakin Danisha.
" Bener ? Ga mau berdua sama aku di dalam ? " tanya Saka sekali lagi, menggoda istrinya.
" Ish ! Apaan sih, Mas ! " sahut Danisha sembari memukul dada suaminya. Bibir tipisnya mencebik lucu. Membuat Saka terkekeh karena gemas.
Tanpa basa basi, Saka langsung mendaratkan bibirnya di bibir tipis Danisha. Mencium dan mengulum bibir pucat istrinya dengan lembut.
Seketika mata Danisha membulat, terkejut dengan serangan mendadak dari Saka. Namun, sesaat kemudian ia membalas ciuman lembut suaminya.
Danisha mendorong sedikit dada Saka dan melepaskan ciuman mereka. Wajah keduanya tanpa jarak, dengan kening dan hidung yang saling menempel.
" Jangan tinggalin aku, Bee, " ucap Saka lirih.
Danisha mencium bibir Saka sekilas, lalu memeluk tubuh gagah suaminya itu erat. Kepalanya bersandar di dada bidang suaminya hingga ia bisa mendengar degup jantung lelaki belahan jiwanya.
Saka membalas pelukan Danisha. Dikecupnya puncak kepala istrinya berulang kali. Rasanya tak ingin melepas pelukannya.
" Mas, aku udah ga tahan. Lepas dulu, ya, " ujar Danisha, berusaha lepas dari pelukan hangat suaminya yang begitu erat.
" Ga tahan apa, Bee ? " tanya Saka, masih memeluk Danisha.
" Beneran aku ga tahan ini ! Lepasin dulu, Mas. Nanti aku ngompol di sini, lho ! " cetus Danisha.
Saka menghela napasnya panjang sembari melepas pelukannya. Danisha pun buru-buru masuk ke kamar mandi. Saat akan menutup pintu kamar mandi, Saka menahannya.
" Ga usah ditutup, Bee.... " ujar Saka, tangannya menahan pintu kamar mandi supaya tetap terbuka.
" Duh ! Kamu nih, apaan sih ! Aku ga apa-apa, Mas, " sungut Danisha.
" Ya, udah lah ! Terserah kamu, Mas ! " ucapnya kesal, lalu segera menuju kloset untuk buang air kecil. Masa bodoh, deh ! Pikir Danisha.
Saka terkekeh pelan. Ia duduk di sofa menunggu Danisha selesai dengan hajatnya.
" Nanti dilanjut ya, Bee.... " seru Saka sedikit menggoda.
Di dalam kamar mandi, Danisha mendengus kesal mendengar seruan Saka. Karena terburu-buru, selang infusnya tertarik.
" Auww ! " jerit Danisha.
" Sayang ! " Sontak Saka berdiri mendengar jeritan Danisha dan bergegas masuk ke kamar mandi.
" Tuh, kan ! Kubilang apa ! " Gerutu Saka sembari memegang tangan Danisha. Selang infusnya dipenuhi darah.
Danisha meringis kesakitan. Tangannya terasa ngilu dan sedikit perih. Sepertinya jarum infusnya sedikit bergeser.
" Ga mau denger kata suami, sih ! " omel Saka sembari menuntun Danisha kembali ke ranjang tidurnya dan membawa tiang infus dengan hati-hati.
Danisha hanya diam sambil menahan sakit di tangannya.
Setelah membantu Danisha naik ke atas ranjang dan meletakkan tiang infus di samping ranjang, Saka menekan emergency button yang ada di samping ranjang.
" Sakit ? " tanya Saka, tangannya mengusap lembut tangan Danisha yang diinfus.
Danisha mengangguk, wajah pucatnya terlihat sendu menatap Saka.
Saka yang duduk di tepi ranjang tersenyum lembut menatap perempuan halalnya. Diusap-usapnya tangan istrinya pelan penuh kelembutan.
" Permisi, bisa saya bantu ? " Seorang perawat masuk.
Saka berdiri dari duduknya.
" Iya, Sus. Minta tolong, ada masalah dengan infus istri saya, " terang Saka.
" Oh, baik ! Maaf, biar saya lihat dulu, " ucap perawat itu mendekat ke tepi ranjang untuk melihat dan memeriksa tangan Danisha yang terpasang infus.
Perawat itu memeriksa cairan infus. Lalu dia menggetik pelan selang infus menggunakan jarinya dan membetulkan jarum infus yang menancap di telapak tangan Danisha. Sementara Danisha meringis menahan rasa ngilu di tangannya.
" Hati-hati kalau bergerak ya, Mbak. Perubahan posisi tangan seringkali bisa mengubah tekanan dan posisi jarum infus di dalam pembuluh darah. Ini yang menyebabkan darah ada yang kembali ke selang infus. Usahakan posisi tangan jangan terlalu tinggi dan terlalu jauh dari infus. Hindari posisi menekuk dan jangan terlalu sering menggerakkan tangan yang terpasang infus, ya, " jelas si Perawat.
" Makasih, Suster. Tadi ga sengaja selang infus tertarik pada saat saya di kamar mandi, " ujar Danisha.
" Iya, Mbak. Ada lainnya yang bisa saya bantu ? " tanya Perawat itu sebelum meninggalkan mereka.
" Sementara tidak ada, Sus. Makasih bantuannya, " sahut Saka.
" Kalau begitu saya permisi, " pamit Perawat itu berlalu pergi meninggalkan mereka.
*******
" Jadi, kapan maju sidang skripsinya ? " tanya Danisha pada Saka yang saat ini tidur seranjang dengannya, memeluk pinggangnya dari belakang.
Saka yang berusaha memejamkan matanya terdiam. Namun mendengar pertanyaan Danisha membuatnya teringat akan kelanjutan skripsinya yang telah mendapat persetujuan untuk maju sidang paling cepat minggu depan. Hal itu membuatnya membuka matanya. Tapi ia tidak menjawab pertanyaan istrinya.
" Mas ? " panggil Danisha, tangannya menyentuh tangan kokoh Saka yang memeluk pinggangnya. Ia juga bisa merasakan hembusan napas suaminya di sekitar tengkuk dan bahunya.
" Tidur, Bee. Udah lewat tengah malam. Kamu harus istirahat untuk persiapan pemeriksaan besok, " ujar Saka lirih mengalihkan pembicaraan. Ia mencium sekilas tengkuk Danisha.
" Jawab dulu pertanyaanku. Kapan maju sidang ? Aku tau skripsi kamu udah selesai bab terakhir. Pasti udah ada persetujuan dan dalam waktu dekat kamu maju sidang, " cecar Danisha.
" Aku ngantuk, Bee, " sahut Saka lirih, hampir tak terdengar.
" Tinggal jawab aja kapan, susah amat, sih ! " sungut Danisha.
" Ga penting juga, Bee. Ada yang lebih penting, kesehatan kamu, " lirih Saka, berusaha tidak terpancing emosi.
__ADS_1
" Penting, Sayang. Sangat penting ! " tukas Danisha sedikit kesal.
" Ga ada yang lebih penting dari kesehatan kamu, Bee. Soal sidang skripsi bisa diatur nanti, " sahut Saka lembut dengan mata terpejam.
" Udah, ya. Sekarang kita tidur, " imbuh Saka. Dikecupnya tengkuk Danisha lembut sembari mengeratkan pelukan dan menggenggam lembut jemari istrinya.
Untuk beberapa saat Danisha terdiam dan mencoba memejamkan matanya. Namun, pikirannya berkelana. Demikian pula dengan Saka. Meskipun matanya terpejam, tetapi ia belum benar-benar tidur. Pikirannya pun berkelana ke segala arah. Segala yang terjadi pada dirinya dan Danisha, istrinya. Belum juga dua minggu mereka sah sebagai suami istri, ujian dan cobaan sudah menerjang mereka.
" Maaf ya, Mas. Aku udah mengacaukan semuanya. Aku janji, aku akan baik-baik aja. Aku juga mau kamu janji untuk segera maju sidang skripsi dan ikut wisuda tahun ini. Sebenarnya aku sangat ingin wisuda bareng sama kamu. Seperti janji kita berempat untuk bisa lulus dan wisuda bersama-sama. Tapi aku udah mengacaukan semuanya, " lirih Danisha bergumam.
Meskipun suara Danisha terdengar sangat lirih, Saka masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Kemudian ia mengecup kembali tengkuk dan bahu Danisha lembut.
" Tidur, Bee. Besok aja ngobrolnya, ya, " ujar Saka dengan suara seraknya.
Danisha pun terdiam. Perlahan ia mengeratkan tautan jemari tangannya dan Saka. Lalu berusaha untuk memejamkan kedua matanya, tidur.
*******
" Bee ! Jangan pergi ! Please, Bee ! Jangan tinggalin aku ! Bee ! "
" Mas, Sayang ! Bangun, Sayang ! Hei, ini aku, Mas ! " seru Danisha membangunkan Saka yang berteriak memanggilnya dengan mata terpejam dan keringat membasahi wajahnya.
Saka membuka matanya dengan napas tersengal-sengal. Danisha tersenyum di hadapannya dengan tangan menangkup wajahnya.
" Hei ! Aku di sini, ga akan kemana-mana ! " ucap Danisha dengan senyum cantiknya.
Seketika Saka memeluk Danisha erat. Mencium bahu Danisha berkali-kali, lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Danisha membalas pelukan suaminya, mengusap lembut rambut dan punggung suaminya penuh cinta. Ia bisa merasakan tubuh suaminya bergetar dan penuh keringat. Sepertinya suaminya bermimpi buruk.
" Jangan pergi, Bee, " lirih Saka masih memeluk erat Danisha.
" Aku di sini, Mas. Ga pergi kemana-mana, " sahut Danisha.
" Mimpi apa ? " tanya Danisha kemudian.
Saka terdiam. Ia tak ingin menceritakan mimpinya. Mimpi yang sangat buruk.
" Sayang ? Ya udah, kalau ga mau cerita. Sholat subuh dulu, yuk ! " Danisha melerai pelukannya, mengajak suaminya sholat subuh.
Saka menatap lekat Danisha. Menelisik kedua manik indah milik istrinya.
" Aku ga mau kehilangan kamu, Sayang, " cetus Saka, tangannya mengusap lembut wajah perempuan belahan jiwanya.
" Berjanjilah untuk selalu di sampingku, selalu bersamaku sepanjang hidupku. Jangan tinggalkan aku, ya, " lanjutnya penuh pengharapan.
Danisha menelan salivanya. Tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu. Tak bisa berkata-kata, hanya menatap sendu wajah berharap suaminya.
" Bee ? Janji ya, Sayang ? " Saka memohon.
Danisha tersenyum tipis. Semakin hari ia semakin mencintai lelaki di hadapannya, suaminya.
" Aku ga pergi kemana-mana, Sayang. Masih di sini, kan ? Sama kamu, " jawab Danisha.
" Insya Allah, kita akan terus bersama, " imbuh Danisha.
Saka mencium kening Danisha cukup lama.
" Sholat dulu, yuk ! " ujar Danisha lirih.
Keduanya saling menatap lekat. Danisha bisa melihat kegelisahan di kedua manik hitam Saka. Namun ia juga bisa melihat cinta yang luar biasa besar di sana. Hal itulah yang menjadi kekuatan dirinya saat ini. Saka selalu menjadi kekuatannya.
Danisha berjanji di dalam hatinya. Ia akan berjuang untuk melawan penyakitnya demi Saka, suaminya dan orang-orang yang sangat menyayanginya. Nothing's impossible. Mukjizat itu selalu ada untuk orang-orang yang sabar, ikhlas dan tawakkal. Ia ikhlas dengan penyakit di tubuhnya. Ia ridlo dan akan berikhtiar untuk sembuh. Demi mereka, suami, keluarga, sahabat dan orang-orang yang menyayanginya.
*******
Pemeriksaan kelanjutan terhadap Danisha untuk persiapan operasi telah dilakukan. Mereka juga telah mendapatkan penjelasan dari Dokter Aldi mengenai proses operasi termasuk metode operasi dan proses pemulihan kondisi pasca operasi.
Mereka masih berada di ruangan Dokter Aldi yang baru saja selesai menjelaskan semuanya. Terlihat Danisha menggigit bibir bawahnya. Sementara Saka menghela napasnya dalam. Tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Danisha.
" Minggu depan, bagaimana ? " tanya Dokter Aldi, menatap Danisha dan Saka bergantian.
" Uummm... Dokter ! " Danisha terlihat ragu dan berpikir.
" Ya ! Lebih cepat lebih baik, Dok ! " tukas Saka cepat, menyela Danisha.
" Mas ! " seru Danisha.
" Sayang, lebih cepat lebih baik. Yakinlah semua akan baik-baik aja. Kamu akan sembuh. Aku yakin itu ! " ujar Saka penuh keyakinan.
" Tapi sidang skripsimu ? " tanya Danisha yang teringat sidang skripsi Saka.
Saka menatap Danisha dengan senyum hangatnya.
" Udah aku bilang, kamu lebih penting. Sidang skripsi bisa diatur, Sayang. Ya ? Kamu udah janji padaku, kan ? " tutur Saka meyakinkan Danisha.
Danisha menelan ludahnya kelat. Sesungguhnya ia sangat takut menghadapi semua ini. Apalagi, setelah Dokter Aldi menjelaskan semuanya. Ia tidak bisa membayangkan jika operasinya gagal. Berbagai kemungkinan buruk telah memenuhi kepalanya. Namun, ia harus berikhtiar. Ia mengeratkan genggaman tangannya dengan tangan suaminya.
" Aku bersamamu, Sayang. Jangan khawatirkan apa pun. Kamu kuat, kamu akan sembuh. Then everything gonna be alright, ok ? " yakin Saka pada Danisha.
Danisha mengangguk dan tersenyum.
" Saya akan lihat lagi untuk jadwal operasinya. Jika mungkin bisa maju, yaa... mungkin dalam waktu 3 atau 4 hari ini, " kata Dokter Aldi kemudian, menatap sepasang suami istri muda di hadapannya.
Saka mengangguk.
" Ya, Dokter, " sahut Saka tegas.
Danisha tersenyum dan mengangguk menatap Dokter Aldi. Lalu pandangannya beralih pada Saka. Lelaki di sampingnya tampak bersemangat dan yakin dengan apa yang dikatakannya. Ia menghela napasnya dengan senyuman terukir di bibir tipisnya yang terlihat pucat meskipun telah dipoles lip gloss.
" Ya, let's do it ! " ucap Danisha yakin.
Dokter Aldi tersenyum dan mengangguk tegas.
" Semangat, Danish ! Yakin dan tetap meminta kesembuhan pada Allah, " ucap Dokter Aldi memberi semangat pada Danisha.
Saka membawa Danisha ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya penuh cinta.
" Kita akan hadapi bersama, " ucap Saka lirih dan mencium puncak kepala istrinya sekali lagi.
Usai berkonsultasi dengan Dokter Aldi, mereka pun keluar dari ruangan Dokter Ahli Bedah Syaraf itu.
Saka mendorong kursi roda Danisha untuk kembali ke kamar rawat inapnya.
__ADS_1
" Mas, kita ke taman sebentar, ya. Aku bosan di kamar terus, " pinta Danisha.
" Nanti sore aja, ya ? Kamu harus makan dan udah waktunya minum obat, " ujar Saka lembut.
" Sebentar aja, Mas, " rengek Danisha sedikit menengadahkan kepalanya supaya bisa melihat wajah Saka yang mendorongnya.
Saka tersenyum dan menghentikan mendorong kursi roda Danisha. Lalu berjalan dan berjongkok di hadapan Danisha yang duduk di kursi roda.
" Sayang, mataharinya cukup terik. Nanti kamu pusing. Nanti sore aja, ya ? Janji deh, nanti sore setelah ashar, kita ke taman, " tutur Saka penuh kelembutan, tangannya menggenggam kedua tangan Danisha.
Danisha berdecak, wajahnya cemberut.
" Jeyeg, ih ! Jangan cemberut, Bee... Nanti sore aja ke tamannya. Ya, Sayang ? " bujuk Saka.
" Tapi bener, ya ? Janji nanti sore ke taman, " ujar Danisha dengan wajah memohon.
" Iya, Sayang. Apa pun yang kamu mau, deh ! " ujar Saka menyentil hidung mancung Danisha dan mengedipkan sebelah matanya.
Danisha tersenyum geli.
" Makasih, Sayang, " ucapnya kemudian.
Saka berdiri dan menundukkan kepalanya, mencium puncak kepala istrinya.
" Apa pun akan kulakukan untukmu, Sayang. Apa pun ! " gumam Saka di dalam hatinya.
********
Sementara itu di studio DG FM, tepatnya di ruang siaran. Bang Hendra baru saja menyelesaikan tugas on air nya dan Kak Ella sedang bersiap menggantikannya.
" Ini serius ya, Kak. Mas Rendra balik lagi ke sini ? " tanya Bang Hendra pada Kak Ella yang sudah duduk di kursi penyiar siap untuk menjalankan tugasnya.
" Keknya gitu, Hen. Tuh ! Orangnya ada di ruangannya, " ucap Kak Ella, tangannya sibuk menyiapkan lagu-lagu dan iklan yang akan diputar selama jam siarannya.
" Ada apa sebenarnya sama tuh orang, ya, Kak ? Dia masih mengharapkan Danisha ? " tanya Bang Hendra lagi.
" Entah, Hen ! Aku sih, happy dia balik ke sini. Tugasku ga ribet ! " cetus Kak Ella.
Bang Hendra terkekeh. Ia paham. Selama ini Kak Ella lebih banyak mengerjakan tugas Mas Rendra sebelumnya. Hingga seringkali pulang melebihi jam kerjanya.
" Aku keluar dulu ya, Kak, " ujar Bang Hendra berjalan keluar ruang siaran.
Saat menuju pantry, dilihatnya pintu ruangan Mas Rendra terbuka. Bang Hendra melihat Mas Rendra sedang menatap laptopnya. Terlihat seperti sedang melamun, tatapan matanya kosong.
Bang Hendra mengetuk pintu berwarna coklat itu.
" Sibuk, Mas ? " tanyanya.
Mas Rendra sedikit terkejut.
" Hai, Hen. Masuk ! " ujar Mas Rendra menyuruh Bang Hendra masuk ke ruangannya.
Bang Hendra masuk dan duduk di sofa minimalis yang tersedia di ruangan itu.
Mas Rendra beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil tempat duduk di sofa sebelah Bang Hendra duduk.
" Welcome back, Mas ! " celetuk Bang Hendra.
Mas Rendra terkekeh dan mengucapkan terima kasih.
" Kok berubah pikiran ? " tanya Bang Hendra ingin tahu.
Mas Rendra terdiam sesaat. Lalu menghela napasnya panjang sembari menatap Bang Hendra.
" Apa Danisha akan baik-baik aja, Hen ? " tanya Mas Rendra tiba-tiba, terlihat serius.
Bang Hendra menatap Mas Rendra lekat.
" Tentu dia akan baik-baik aja, Mas. Ada suami yang menjaganya setiap saat. Saka tidak pernah meninggalkannya, " ujar Bang Hendra, menekankan kata suami di kalimatnya.
Mas Rendra tersenyum tipis.
" Aku khawatir, Hen. Sejak kapan dia divonis tumor otak ? "
" Ingin tau ? " tanya Bang Hendra.
Mas Rendra mengangguk.
" Waktu kamu memutuskan pergi ke Malang dan tidak ada kabar, " cetus Bang Hendra.
Seketika Mas Rendra terkejut. Lalu ia ingat waktu itu. Dia pergi ke Malang dan disibukkan dengan urusan perusahaan milik keluarganya, hingga melupakan tidak menghubungi Danisha. Ia menelan ludahnya kasar. Semakin merasa bersalah.
" Waktu itu, dia pingsan lagi di kampus. Saka dan sahabatnya yang membawa ke rumah sakit. Saka pula yang selalu menemani dan menjaganya di rumah sakit. Lalu kamu datang dan akhirnya Danisha meminta berpisah darimu. Ingat ? " ungkap Bang Hendra, mengingatkan Mas Rendra akan kejadian yang telah berlalu.
Mas Rendra menghela napasnya dalam. Kedua tangannya meraup wajahnya kasar. Tentu saja ia ingat kejadian itu. Tak pernah dilupakannya. Membuatnya merasa sesak dan sakit. Hingga saat ini.
" Apa ini alasan Mas Rendra kembali ke sini ? " tanya Bang Hendra dengan tatapan yang serius.
" Hen... Aku.... "
" Jangan bilang jika itu benar, Mas, " tukas Bang Hendra.
" Buat apa, sih, Mas ? Kalian udah beda jalan. Udah punya kehidupan masing-masing, " imbuh Bang Hendra, berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
" Hen ! Aku banyak berbuat salah padanya. Banyak menyakitinya. Aku juga ingin menjaganya, Hen ! Aku ingin menebus kesalahanku, " ungkap Mas Rendra.
" Danisha pasti udah maafin kamu, Mas. Menjaganya ? Saka udah lakukan itu. Menebus kesalahan ? Sekarang ? Ga salah, Mas ? " cecar Bang Hendra sedikit kesal.
Mas Rendra terdiam. Ia mencerna semua perkataan anak buah sekaligus sahabatnya itu. Dan ia mengakui semua itu benar adanya. Menebus kesalahan sekarang sudah sangat terlambat. Menjaga Danisha pun untuk apa ? Sudah ada Saka, suaminya, yang lebih berhak. Semuanya hanya karena hatinya tidak bisa berpaling dari gadis berlesung pipi itu. Ia masih mencintai Danisha.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Sehat2 semua untuk kalian, jaga kesehatan slalu yaa 🤗
smoga puas n tetap setia di sini... 🤗
Jan lupa LIKE, KOMEN nya juga ditunggu yaa... 😘
Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk kalian semua 🤗😘💞**
__ADS_1