Love On The Air

Love On The Air
Eps 24 Aku Mau Bersamamu


__ADS_3

Sementara itu, setelah keluar dari toilet, Saka masih terus mencoba menghubungi Danisha kembali. Namun, masih sama juga tak ada respon.


Saka pun mengirim pesan pada Danisha. Sudah 5 menit tapi status pesan masih juga belum dibaca.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, panggilan telepon dari Kak Sandra.


" Ya Kak, ada apa ? " Saka menjawab dengan malas.


" Kamu masih di kampus ? "


" Iyaa.. kenapa ? "


" Ikut Kakak nemuin klien ya.. Kakak butuh bantuan kamu soal dokumentasi. "


" Sama Mbak Mirna ga bisa ? " tanya Saka.


" Ka, klien minta penjelasan mengenai dokumentasi. Kan yang paham kamu.. " tutur Kak Sandra.


" Urusan aku belum kelar Kak. Uummm.. jam berapa mereka minta ketemu ? " tanya Saka kembali.


" Setelah makan siang, jam 2 - 3 sore an lah. Bisa kan ? "


" Insya Allah, aku usahakan. Oh ya, ketemu dimana, kantor atau diluar ? "


" Di luar kantor, di rumah makan khas Sunda yang dulu kita pernah ketemu sama klien lain, " jawab Kak Sandra menjelaskan.


" Baiklah, aku usahakan ya Kak, " ucap Saka mengiyakan permintaan kakak satu-satunya itu.


Saka menghela napas panjang. Dia melihat jam sport yang bertengger di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11.30.


Ia pun berjalan menuju ke kantin menemui sahabatnya.


Dilihatnya Prasta dan Distha masih duduk di tempatnya tadi. Mereka berdua masih menikmati makanan yang mereka pesan tadi.


" Ada kabar dari Danisha, Dis ? " tanya Saka sambil mengambil tempat duduk berhadapan dengan Distha.


Distha menggelengkan kepalanya. Lalu melihat ke arah Prasta yang asyik dengan ponselnya. Prasta sedang chat dengan Renata menanyakan Danisha.


" Ini Renata lagi nanya Danisha ke Kak Ella, tapi belum dibalas, " ujar Prasta.


" Jam berapa kamu antar Renata ? " tanya Saka


" Sore bro, Renata siaran jam 4 sore. Kenapa ? " tanya balik Prasta.


" Ga papa, kirain sekarang. Ya udah, aku cabut duluan ya.. aku langsung ke DG FM aja. Jam 2 aku ada janji sama Kak Sandra, " Saka memutuskan untuk langsung menemui Danisha di studio DG FM.


Distha dan Prasta pun mengangguk. Mereka sangat paham, tak mungkin mencegah Saka saat ini karena ia tidak akan merubah apa yang sudah ia putuskan.


******


Di studio radio DG FM, Danisha berada di ruangan penyiar bersama Kak Ella, Bang Hendra dan beberapa kru DG FM termasuk Mas Rendra. Mereka sedang menikmati makan siang bersama yang disponsori oleh Mas Rendra. Ya, Mas Rendra memesan makanan via aplikasi online untuk semua kru DG FM.


" Dalam rangka apa sih ini Mas ? " tanya Dian, staff marketing radio DG FM.


" Mau tau atau mau tau banget ? " tanya balik Kak Ella dengan senyum jahilnya.


" Kasih tau ga ya Mas ? " tanya Kak Ella sambil melihat ke arah Mas Rendra, masih dengan senyum jahilnya.


Mas Rendra pun tersenyum, pandangannya pun menuju ke Danisha. Dan pada saat bersamaan, Danisha menoleh ke arah Mas Rendra duduk, yang tak jauh dari tempat duduknya. Mata Danisha beradu dengan mata bening Mas Rendra. Keduanya pun tersenyum tanpa berkata apapun.


" Udah, kalian tinggal makan aja ribet amat, " akhirnya Mas Rendra bersuara.


Mereka pun tertawa dan segera menyantap makanan yang tersedia sambil mengobrol dan sesekali bercanda.


Danisha yang duduk di samping Kak Ella merasakan sedikit sesak di dadanya. Kepala nya kembali berdenyut nyeri. Ia pun berusaha menahan rasa sakitnya.


Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pantry untuk mengambil air minum hangat. Sesampainya ia di pantry dan menuangkan air hangat dari dispenser ke tumbler nya, ia duduk di kursi. Tangannya bertumpu pada meja makan sambil memijat pelipisnya, kemudian meneguk perlahan air hangat di tumbler nya. Sejenak ia menarik napasnya dalam dan menghelanya perlahan. Lalu ia bangkit dari duduknya untuk kembali bergabung bersama teman-teman nya. Baru dua langkah kakinya berjalan, tiba-tiba pandangannya kabur. Samar ia mendengar suara seseorang memanggil namanya sebelum akhirnya pandangannya berubah gelap dan tubuhnya lemas terkulai.


Mas Rendra panik, ia tangkap tubuh Danisha yang terkulai lemas. Ia panggil nama Danisha berulangkali dengan menepuk pelan pipi gadis yang membuatnya jatuh cinta.


Semua orang yang berada di studio DG FM pun berlari ke pantry karena mendengar teriakan Mas Rendra.

__ADS_1


" Mas, bawa ke rumah sakit aja. Ayo buruan.. " ujar Kak Ella ikutan panik.


" Hen, tolong ambilkan kunci mobil di atas mejaku, " titah Mas Rendra sambil menggendong tubuh Danisha dan setengah berlari keluar menuju mobilnya.


Bang Hendra yang sudah mengambil kunci mobil langsung berlari mengikuti Mas Rendra dan segera membuka pintu mobil, membantu Mas Rendra membawa masuk tubuh Danisha ke dalam mobil. Diluruskannya jok mobil menyamakan posisi tubuh Danisha setengah berbaring. Lalu Bang Hendra memberikan kunci mobil pada Mas Rendra.


" Mas, ini tas Danisha, " kata Kak Ella terburu-buru menyerahkan tas milik Danisha.


Mas Rendra pun langsung menyambar tas tersebut dan meletakkannya di jok belakang mobil. Kemudian ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan cepat.


Di dalam mobil, Mas Rendra berusaha untuk tetap fokus mengemudi. Satu tangannya menggenggam tangan Danisha dan berucap doa supaya tidak terjadi apa-apa dengan gadis tercintanya.


" Please, Danish.. bangunlah. Jangan buat aku semakin khawatir dan tersiksa dengan keadaanmu.. " gumam Mas Rendra. Ia cukup panik karena Danisha tak kunjung sadar dari pingsannya. Ia sungguh tak habis pikir, gadis yang dicintainya teramat keras kepala untuk memeriksakan kondisi kesehatannya ke dokter.


Kurang lebih 15 menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit terdekat dari studio radio DG FM.


Ia langsung menuju ke IGD. Mobil ia hentikan di depan pintu IGD, lalu ia turun dari mobil dengan menggendong tubuh Danisha yang masih pingsan dan langsung meminta bantuan perawat untuk membawa tubuh Danisha ke ruang pemeriksaan menggunakan brankar.


" Tolong bapak urus dulu administrasi pendaftaran pasien, sementara pasien kami bawa ke ruang pemeriksaan dokter, " kata seorang perawat.


Mas Rendra pun segera melakukan pendaftaran pasien di tempat yang ditunjuk oleh perawat tadi. Sebelumnya ia memindahkan mobilnya ke tempat parkir mobil seharusnya dan mengambil tas Danisha yang ditaruh di mobilnya. Lalu ia bergegas ke ruang pemeriksaan dokter, namun ia menunggu di luar ruangan sementara dokter masih memeriksa kondisi Danisha. Ia begitu cemas dan gelisah, duduk di ruang tunggu dengan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya.


Tak berapa lama, dokter pun telah selesai memeriksa Danisha. Mas Rendra segera menghampiri sang dokter.


" Bagaimana kondisinya, Dok ? " tanya Mas Rendra cemas.


" Anda keluarga pasien ? " tanya balik sang dokter.


" Saya rekan kerjanya, " jawab Mas Rendra.


" Apakah pasien sering mengalami kondisi tak sadarkan diri seperti saat ini ? " tanya dokter yang diketahui bernama Ardhy dari name tag di seragam putihnya itu.


" Sudah 2 kali ini dia pingsan di kantor, dokter. Dia sering mengeluh sakit kepala, " jawab Mas Rendra.


" Apakah kondisi nya baik-baik saja, Dok ? Apa dia sudah siuman ? " Mas Rendra lanjut bertanya.


" Tekanan darahnya rendah, kemungkinan dia mengalami anemia dan kami sudah memberikan infus untuk menstabilkan kondisi nya. Dia akan segera siuman dari pingsannya. Untuk saat ini hanya itu yang bisa saya sampaikan. Oh ya, ada baiknya dia dirawat beberapa hari disini untuk melihat perkembangan kondisinya, " jelas dokter Ardhy.


" Oh tentu saja, silahkan. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pasien kami. Baiklah, kami akan siapkan kamar rawat inap untuk pasien segera, " tutur Dokter Ardhy


" Terima kasih banyak, Dokter, " ucap Mas Rendra tersenyum.


Mas Rendra pun bergegas masuk ke ruangan tempat Danisha diperiksa tadi. Dilihatnya Danisha yang terbaring di atas brankar dengan infus di tangan kirinya. Matanya masih terpejam. Ia mengambil kursi yang ada di dekat brankar, lalu mendudukinya. Ia pandangi wajah gadis yang senyumnya selalu membuat hangat hatinya. Wajah gadis yang dicintainya itu kini terlihat pucat, tanpa senyum tapi masih tetap terlihat manis dan cantik di matanya. Diraihnya tangan gadis tercintanya, ia genggam dengan kedua tangannya dan diusapnya lembut.


" Danish.. bangun sayang.. please.. " panggil Mas Rendra lembut, berharap Danisha segera siuman.


Perlahan Danisha mengerjapkan matanya. Berusaha sepenuhnya sadar. Ia merasakan hangat di satu sisi tangannya. Usapan-usapan lembut di tangannya membuat matanya terbuka lebar. Dilihatnya laki-laki bermata bening tersenyum menatapnya lembut.


" Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman sayang.. " ucap Mas Rendra penuh syukur.


" Ini.. auww.. " Danisha tanpa sengaja mengangkat tangan kirinya yang dipasang jarum infus.


" Hati-hati.. tanganmu dipasang jarum infus. Tenang yaa.. Tunggu, sebentar lagi kamu akan dipindahkan ke kamar rawat inap, " ujar Mas Rendra.


" Mas, aku kenapa di rumah sakit ? " tanya Danisha dengan suara yang lemah.


" Kamu pingsan lagi sayang.. Udah ya, kamu tenang aja. Kamu harus istirahat, " jawab Mas Rendra dengan nada dan tatapan mata yang lembut.


Tak lama kemudian, seorang perawat datang membawa kursi roda untuk memindahkan Danisha ke kamar rawat inap.


Sesampainya di kamar rawat inap, Danisha dibantu Mas Rendra naik ke atas ranjang rumah sakit. Botol infus yang dipegang Mas Rendra diletakkan ke tiang infus sebelah kiri ranjang.


" Saya permisi, jika ada keperluan bisa langsung pencet tombol nurse call ini, " kata perawat sambil menunjukkan letak tombol tersebut, " jelas perawat tersebut.


" Baiklah, terima kasih ya Sus, " ucap Mas Rendra dan Danisha tersenyum ramah.


Mas Rendra duduk di samping ranjang Danisha yang terbaring. Ia genggam kembali tangan kanan Danisha, seolah tak mau lepas.


" Kenapa aku harus menginap di sini sih Mas..? " tanya Danisha lirih sambil menatap Mas Rendra.


" Dokter yang menyarankan kamu harus rawat inap karena kondisi tubuhmu lemah. Kamu anemia, sayang.. jangan membantah ya.. Nanti aku akan menghubungi Ayah dan Bunda mengabari kalau kamu di rumah sakit. Yang penting, kamu sekarang istirahat. Mau minum atau makan ? " Mas Rendra berkata-kata dengan lembut sambil mengusap tangan Danisha yang masih lemas.

__ADS_1


Danisha menganggukkan kepalanya.


" Mas, minta tolong, aku mau minum, " ujar Danisha.


Mas Rendra pun mengambilkan botol air mineral di meja samping ranjang. Ia membantu Danisha menyeruput air mineral tersebut dengan menggunakan sedotan.


" Terima kasih, " ucap Danisha singkat.


Mas Rendra kembali duduk di samping Danisha setelah mengembalikan botol air mineral di tempat semula.


Ditatapnya wajah Danisha tanpa berkedip dengan senyuman lembutnya. Mata mereka pun beradu.


Tiba-tiba, mata Danisha berkaca-kaca. Ia terus menatap dan menelisik wajah laki-laki tampan di hadapannya.


" Hey.. kenapa menangis ? " Mas Rendra mengusap air mata yang masih menggenang di kedua mata Danisha.


" Terima kasih atas semuanya, Mas. Maaf merepotkan. Mas Rendra kalau mau pulang, silahkan. Biar aku menghubungi Ayah dan Bunda supaya ke sini, " tutur Danisha lirih.


" Ssst... aku ga akan pulang. Aku akan menemani dan menunggu kamu disini. Meskipun Ayah dan Bunda ada di sini, " ucap Mas Rendra lembut namun tegas.


Lalu ia pun melanjutkan ucapannya.


" Danish, I love you.. Aku mau bersama kamu, aku ga akan meninggalkanmu. Aku tau kamu bisa sendiri melalui rasa sakit mu, aku tau kamu kuat untuk itu. Karenanya, aku ingin bersama kamu melalui rasa sakit mu, aku ingin bersamamu melalui segala rasa hidup ini. Kamu yang selalu menemani setiap malam ku, dalam setiap bait doaku, dalam setiap mimpiku. Maukah kamu bersamaku ? Saat ini dan selamanya ? " ucap Mas Rendra dengan tatapan mata yang sungguh, senyuman yang lembut, yang membuat Danisha tak bisa berpaling menahan rasa yang ada dalam hatinya.


Danisha menatap mata bening laki-laki yang juga selalu hadir dalam mimpinya, yang kini sudah menempati ruang hatinya. Dengan mata yang berkaca-kaca, Danisha mengangguk, lirih ia berkata, " Ya Mas, aku mau bersama kamu.. aku mau bersama kamu berjuang melalui segala rasa hidup ini.. "


Dan tangisan Danisha pun pecah, bulir bening yang menggenang di matanya pun luruh begitu saja. Tangisan dan senyuman bahagia terpancar dari wajah pucatnya.


Mas Rendra tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan pujaan hatinya beberapa detik yang lalu, gadis dengan lesung pipi yang telah menjatuhkan hatinya itu telah menerima perasaannya. Bahagia membuncah dalam dirinya, dicium nya tangan gadis kekasih hatinya dengan lembut dan berkata, " Terima kasih, Cinta.."


********


Sementara itu, Saka yang masih dalam perjalanan menemui Danisha di studio DG FM mendapat panggilan telepon dari Prasta.


" Ya brader. Ada apa ? "


" Bro, kamu masih di jalan kan ? "


" Iya, kenapa ? "


" Renata bilang, Danisha pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh Mas Rendra. "


" Haahh ?? Serius ?? Di rumah sakit mana ? " tanya Saka panik, sangat panik.


" Rumah sakit yang tak jauh dari studio DG FM, rumah sakit S. Renata dapat info dari Kak Ella. Ini aku lagi sama Renata mau ke sana. "


" Ok, aku meluncur kesana. Thanks brader. "


Saka melempar ponselnya di bangku samping ia duduk. Ia usap wajahnya kasar dan melajukan mobilnya ke arah rumah sakit S dengan cepat.


Semoga tak terjadi apa-apa denganmu Danish, batin Saka.


Ketika sampai di rumah sakit S dan memarkirkan mobilnya, Saka segera turun dan berlari ke dalam rumah sakit. Ia menuju ke bagian front office rumah sakit tersebut dan menanyakan kamar Danisha. Setelah mendapatkan informasi dari petugas front office rumah sakit, ia pun bergegas menuju ke kamar rawat inap Danisha yang berada di lantai 3.


Saka menemukan kamar dimana Danisha dirawat. Pintu kamar sedikit terbuka, ia ragu akan masuk.


Tangan Saka sudah terangkat akan mengetuk pintu kamar, namun samar-samar ia mendengar tawa dua orang yang terdengar akrab. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Danisha yang duduk bersandar sedang tersenyum pada laki-laki yang duduk di samping ranjang. Laki-laki itu sedang menyuapinya. Sesekali laki-laki itu mengusap bibir Danisha yang belepotan karena makanan dan ia pun melihat tangan keduanya saling menggenggam.


Berdesir hati Saka, dadanya nyeri seketika. Raut wajahnya seketika berubah dingin. Tatapan matanya tajam dan kedua tangannya mengepal. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Di depan lift ia berpapasan dengan Prasta dan Renata yang baru saja keluar dari lift. Sementara Saka ia terus berjalan setengah berlari menuju tangga. Ya, ia akan turun menggunakan tangga. Prasta yang melihatnya pun memanggil-manggil namanya, namun tak dipedulikannya panggilan sahabatnya itu. Ia terus berlari menuruni anak tangga rumah sakit.


Prasta benar-benar bingung, tak tahu ada apa dengan sahabatnya. Ia masih terbengong di ujung tangga melihat tubuh Saka berlalu menuruni anak tangga rumah sakit tanpa peduli panggilannya. Lalu dengan gontai ia berjalan menuju kamar Danisha membiarkan Saka pergi.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Alhamdulillah bisa up lagi..


Thanks for keep stay tune @ LOTA


Banyak cinta dan sayang untuk kalian semua 😘😘🤗🤗

__ADS_1


Keep stay safe & healthy as always 😘😘💞💞**


__ADS_2