
Acara fitting gaun pengantin untuk Danisha dan outfit untuk Saka pun telah selesai. Bu Dinda dan Bunda juga sudah memilih kebaya untuk seragam mereka dan keluarga besar.
Danisha bernapas lega, satu dari sekian banyak persiapan untuk pernikahan mereka sudah beres. Sesungguhnya Danisha menginginkan pernikahan yang sederhana. Acara akad nikah dan syukuran bersama keluarga dan teman dekat sudah cukup baginya. Tidak harus dengan pesta resepsi. Namun, kedua orang tua mereka menginginkan sebaliknya. Mengundang seluruh kolega, terutama kolega dari Pak Rahmat yang seorang pengusaha dan juga seluruh keluarga besar.
" Bee, Kak Sandra nanya desain undangannya. Mau segera dibikin katanya, " ujar Saka saat di dalam mobil hendak mengantar Danisha pulang.
Sementara Bu Dinda dan Bunda sudah pulang terlebih dulu diantar Pak Damar, sopir keluarga Saka.
" Aku ikut Kak Sandra aja, Sayang. Pilihan Kak Sandra pasti bagus, " ucap Danisha tersenyum menatap Saka yang sedang mengemudi.
Saka menghela napasnya pelan. Ia merasa Danisha tidak benar-benar bahagia dengan rencana pernikahan mereka.
" Bee, kamu bahagia ? " tanya Saka skeptis.
Danisha tersenyum dan menatap Saka lekat. Ia bahagia, sangat bahagia. Namun ia takut tidak bisa memberikan kebahagiaan buat lelaki yang sangat dicintainya, yang sudah memberikan segalanya untuk kebahagiaannya.
" Sangat bahagia. Aku tak bisa lagi mengungkapkan kebahagiaanku. Bahagiaku terlalu sempurna karena kamu, " ungkap Danisha sembari menggenggam jemari tangan kiri Saka dengan lembut.
Ungkapan Danisha dan genggaman lembut jemari tangan calon istrinya sungguh membuat Saka bahagia. Seketika binar bahagia terpancar dari wajah tampannya.
" Benarkah sebahagia itu ? " tanyanya lagi, seolah ingin meyakinkan sekali lagi apa yang didengarnya.
Danisha tersenyum dengan lesung pipi dalamnya, kepalanya digerakkan naik turun beberapa kali.
" Seribu persen aku bahagia karena memiliki kamu, Tuan Saka Abimanyu, " ucap Danisha lembut.
" Aku lebih bahagia karena melihatmu bahagia, Bee. Bahagiaku menjadi sempurna karena kebahagiaanmu yang sempurna, Nona Danisha Almanita. Wait, Nyonya Saka Abimanyu ! " lantang Saka berujar, dikecupnya berulangkali jemari tangan calon istrinya.
********
Tibalah hari dimana Danisha akan melakukan kemoterapi lagi. Sebelumnya, Danisha meminta bertukar jam siaran dengan Mala. Ia yang seharusnya bertugas siaran jam 8 pagi bertukar jam siaran dengan Mala yang bertugas jam 6 pagi. Beruntung Mala tidak keberatan dan Kak Ella menyetujuinya.
Danisha baru saja selesai mengemas bekalnya dan juga bekal untuk Saka. Roti sandwich telur dan beberapa macam buah potong sudah disiapkannya dikemas dalam kotak makan yang berbeda, untuknya dan untuk Saka yang akan mengantarnya ke studio Radio DG FM.
Saka baru saja datang menjemputnya, Danisha bergegas berpamitan pada Ayah dan Bunda untuk berangkat. Sementara Saka menunggunya di teras sembari sibuk menerima panggilan telpon perihal pekerjaan.
" Ada masalah ? " tanya Danisha ketika Saka baru saja mengakhiri panggilan telponnya.
" Sedikit. Berangkat sekarang ? " tanya Saka dengan seulas senyuman di bibirnya.
" Hu um, " jawab Danisha singkat dengan senyum sumringah di wajahnya. Berjalan mendekati kekasihnya lalu ia menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta.
Saka mengerutkan dahinya, heran dengan sikap kekasih hatinya.
" I love you, " ucap Danisha lirih.
Ingin sekali saat itu juga Saka memeluk Danisha dan menghujaninya dengan ciuman. Namun ia harus menahan dirinya, mereka belum halal.
" I love you, I love you more, I love you forever, " balas Saka. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke telinga Danisha.
" Jangan menggodaku, Bee. Aku bisa khilaf, lho, " bisik Saka yang diikuti dengan wajah merona kekasih hatinya.
Danisha memukul dada bidang kekasihnya. Wajahnya terlihat merona bak buah tomat yang matang.
" Ish ! Udah ah, ayo berangkat, keburu telat. Udah jam 5 lebih, " tukas Danisha, masih dengan wajah meronanya.
Saka terkekeh melihat sikap calon istrinya.
Setelah berpamitan dengan Ayah dan Bunda, mereka pun berangkat ke studio Radio DG FM.
Di dalam mobil, Danisha membalas pesan dari Dokter Aldi yang mengingatkannya akan jadwal pengobatannya jam 10 pagi hari ini.
" Serius amat, Bee. Lagi chat sama siapa, sih ? " tanya Saka ingin tahu.
" Mala, " jawab Danisha berbohong.
" Maaf ya, nanti aku ga bisa jemput. Ada meeting sama klien, kemungkinan sampai sore. Nanti biar aku minta Pak Damar buat jemput kamu, " tutur Saka.
" Eh, ga usah ! Nanti aku bisa minta Kiran buat jemput. Ga usah minta tolong Pak Damar, " ucap Danisha sedikit gugup.
" Emang Kiran bisa ? " tanya balik Saka.
__ADS_1
" Aku juga ada meeting siang ini. Jadi, kemungkinan Kiran bisa jemput aku kalau sepulang dia sekolah, " jelas Danisha, masih berbohong.
Saka terdiam sejenak, lalu dipandangnya Danisha yang masih sibuk dengan ponselnya.
" Biar Pak Damar aja yang jemput, Bee, " ucap Saka kemudian. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Danisha jika naik motor bersama Kirana, adik Danisha.
" Ga usah ! Udah deh, aku ga mau berdebat soal ini. Kamu ga usah khawatir, aku ga apa-apa, Sayang, " sahut Danisha meyakinkan calon suaminya yang mengkhawatirkannya.
Saka menatap lekat Danisha sambil tetap fokus dengan jalanan di depannya. Entah hanya perasaannya saja atau memang Danisha yang bersikap aneh hari ini.
" Kamu balas chat serius banget. Emang ngomongin apa sama Mala, " cetus Saka.
Danisha tersenyum simpul membalas tatapan Saka sembari berkata, " Urusan perempuan, Sayang. "
Saka hanya bisa ber oh ria mendengar jawaban sang kekasih.
Maafkan aku, Sayang. Maafkan karena kebohonganku. Gumam Danisha dalam hati.
*******
Usai bertugas siaran, Danisha bergegas bersiap akan pergi ke rumah sakit. Ia sudah memesan taksi online. Sembari menunggu pesanan taksinya, ia membalas pesan dari Saka yang sebelumnya mengiriminya pesan.
My Prince
" Bee, masih di studio ? Hati-hati kalau pulang ya... Maaf ga bisa jemput kamu 😘❤️❤️. "
Danisha benar-benar merasa bersalah. Ia telah berbohong pada Saka. Maafkan aku, gumamnya dalam hati. Sedetik kemudian jemarinya telah mengetikkan pesan balasan untuk calon suaminya.
Me
" Ga perlu minta maaf, Sayang. Aku baik-baik aja, aku pasti akan berhati-hati. Jangan lupa dimakan bekalnya, ya 😘💞💞. "
Danisha terdiam sesaat setelah mengirim pesannya.
" Danish, mau ke kampus ? " tanya Kak Ella yang baru saja datang.
" I... Iya, Kak. Bang Hendra nya off hari ini ? " tanya Danisha sedikit gugup.
" Ga apa-apa, sih. Tumben kok belum keliatan, " ujar Danisha tersenyum tipis.
" Kak, aku pergi dulu ya. Taksi nya udah datang, " pamit Danisha terburu-buru karena taksi nya sudah menunggu di depan studio.
" Lho, ga dijemput Saka ? " tanya Kak Ella heran.
" Saka lagi sibuk meeting. Duluan ya, Kak. Assalamualaikum, " pamit Danisha sekali lagi.
" Hati-hati, Danish. Waalaikumsalam, " sahut Kak Ella.
Di dalam taksi, Danisha beberapa kali menghela napasnya. Mencoba menenangkan diri dengan melafalkan kalimat-kalimat dzikir di dalam hatinya.
Ia teringat kedua orang tua dan adiknya. Lalu teringat dengan Saka yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Terlintas pula bayangan Bu Dinda dan Pak Rahmat. Juga kedua sahabatnya, Distha dan Prasta. Mengingat mereka, membuatnya memiliki kekuatan untuk melawan penyakitnya. Ia harus sembuh ! Ya, ia akan sembuh ! Seulas senyuman terukir di bibirnya. Bismillahirrahmanirrahim, semua ia pasrahkan kepada Allah yang berhak atas hidup dan mati hamba Nya.
Setibanya di rumah sakit, Danisha segera melakukan pendaftaran di bagian administrasi. Setelahnya ia menuju tempat praktek Dokter Aldi.
Jam di pergelangan tangan Danisha menunjukkan belum jam 9 pagi. Di ruang tunggu tempat praktek Dokter Aldi sudah ada beberapa pasien yang sedang duduk menunggu giliran untuk diperiksa.
Praktek Dokter Aldi dibuka pukul 08.00 hingga pukul 10.00 setiap hari Senin sampai dengan Jum'at. Namun, tak jarang jam praktek dokter ahli bedah syaraf itu berubah pada sore atau malam hari, mengikuti jadwal Dokter Aldi yang terkadang harus bertugas ke luar kota atau ada jadwal operasi.
Sembari menunggu gilirannya, Danisha membuka bekal yang tadi dibawanya. Ia menyantap potongan buah yang dibawanya untuk mengisi perutnya yang sedikit lapar.
Beruntungnya, hari ini pasien Dokter Aldi tidak terlalu banyak. Sehingga ia tidak menunggu terlalu lama namanya dipanggil oleh perawat asisten Dokter Aldi.
Asisten Dokter Aldi tersenyum mempersilahkan Danisha masuk ke ruangan praktek Dokter Aldi.
" Makasih, Suster, " ucap Danisha dengan sebuah senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya.
" Pagi, Dokter Aldi, " sapa Danisha dengan seulas senyum terukir di bibirnya.
Dokter Aldi pun tersenyum membalas sapaan Danisha.
" Pagi, Danisha. Gimana keadaan kamu ? "
__ADS_1
" Lebih baik, Dokter, " jawab Danisha dengan senyum tipisnya.
" Baiklah, kita langsung mulai ya. Kamu datang sendiri ? " tanya Dokter Aldi.
" Iya, Dokter, " jawab Danisha singkat.
Dokter Aldi sudah meminta asistennya untuk menyiapkan kursi roda buat Danisha. Mereka akan membawa gadis itu ke ruang pemeriksaan khusus penderita tumor dan kanker.
Dokter Aldi menghampiri Danisha yang telah duduk di kursi roda. Tersenyum pada gadis berlesung pipi itu dan emegang bahu sang pasien, Dokter Aldi menghela napasnya pelan sebelum kemudian mengatakan sesuatu.
" Saya yakin kamu akan sembuh. Tolong bantu saya juga, dengan semangat dan keyakinan kamu bahwa kamu akan sembuh. Kita sama-sama berusaha. Saya berusaha untuk mengobati sakitmu dan kamu berusaha untuk melawan sakitmu, berusaha untuk sembuh dari sakitmu. Allah bersama kita. Kita berdoa dan berusaha. Selebihnya kita pasrahkan pada Nya untuk hasil akhirnya, " tutur Dokter Aldi memberikan semangat pada Danisha.
Danisha tersenyum.
" Siap, Dokter. Makasih buat semuanya. Saya akan sembuh ! " ucap Danisha lantang.
Dokter Aldi tersenyum lebar menepuk bahu Danisha pelan. Lalu meminta asistennya membawa Danisha menuju ke ruang pemeriksaan khusus yang sudah disiapkan untuk Danisha.
*******
Danisha masih berada di ruang pemeriksaan khusus setelah hampir 3 jam melakukan kemoterapi dengan infus. Ia dipersilahkan untuk beristirahat di ruangan itu terlebih dulu untuk memulihkan kondisi tubuhnya kembali setelah proses kemoterapi.
Pada kemoterapi yang pernah dilakukan sebelumnya, ia mengalami mual dan tubuhnya sedikit lemas setelah proses kemoterapi. Karenanya, Dokter Aldi memintanya untuk beristirahat di atas brankar untuk memulihkan kondisinya terlebih dulu. Mengingat Danisha datang seorang diri tanpa ditemani oleh orang tua atau kekasihnya seperti sebelumnya.
Asisten Dokter Aldi menghampiri Danisha dengan membawa segelas air kacang hijau. Danisha yang sudah merasa kondisinya membaik sedang duduk di tepi ranjang.
" Ayo diminum air kacang hijaunya, Mbak Danish. Biar tubuhnya tidak lemas, " kata asisten Dokter Aldi yang diketahuinya bernama Indah.
" Makasih, Suster, " sahut Danisha lirih.
" Masih mual, Mbak ? " tanya Suster Indah kemudian.
" Sudah tidak, Sus. Saya udah baikan, kok. Bisa kan, saya pergi dari sini ? "
Suster Indah tersenyum menatap Danisha.
" Tentu saja, Mbak. Mari saya bantu dorong dengan kursi roda ke apotek. Mbak Danish harus menebus resep obatnya dulu, " ujar Suster Indah.
" Makasih banyak, Suster, " ucap Danisha.
Suster Indah mengantarkan Danisha yang duduk di kursi roda menuju apotek yang terletak di lantai 1. Setelah tiba di apotek rumah sakit, Danisha meminta Suster Indah untuk meninggalkannya. Namun sebelumnya, Suster Indah membantunya menyerahkan resep obat dari Dokter Aldi kepada petugas apotek. Danisha mengucapkan terima kasih pada Suster Indah yang telah banyak membantunya.
" Danisha ! "
Sebuah suara bariton yang dikenalnya membuat Danisha yang sedang berbicara dengan Suster Indah mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
" Bang Hendra.... " gumam Danisha lirih.
" Baiklah, Mbak. Saya permisi, Mbak Danish hati-hati ya. Sampai ketemu 3 minggu lagi ya, Mbak, " ucap Suster Indah berpamitan pada Danisha yang sudah duduk di kursi tunggu apotek.
" Iya, Suster. Sekali lagi makasih banyak atas bantuannya, " sahut Danisha.
Suster Indah tersenyum dan mengangguk sebelum kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan mendorong kursi roda yang dipakai Danisha tadi.
Sementara Bang Hendra sudah berdiri di hadapan Danisha dengan tatapan bingung.
Danisha berdiri memandang Bang Hendra dengan senyuman yang samar.
" Hai, Bang. Abang kenapa ? Sakit ? " tanya Danisha berusaha menyembunyikan yang sebenarnya tentang keberadaannya di rumah sakit saat itu.
Bang Hendra menatap Danisha lekat. Gadis itu terlihat gugup dan sedikit pucat. Sesekali ia menunduk tidak berani menatap Bang Hendra.
" Abang ga apa-apa. Kamu ngapain di sini ? Ada yang ingin kamu ceritain sama Abang ? " cecar Bang Hendra.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Semoga ga bosan dengan ceritanya dan tetap setia menanti kelanjutan cerita ini
Stay safe n healthy LOTA Lovers, tetap ikuti protokol kesehatan dg 3M yaa... 🤗😘💞💞
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat kalian 🤗😘💞💞**