Love On The Air

Love On The Air
Eps 96 Thank You For Everything


__ADS_3

**HAPPY READING LOTA LOVERSπŸ’žπŸ’ž**


Sebuah senyuman bahagia terukir di wajah Saka. Kedua manik hitamnya tak lepas menatap wajah pucat Danisha yang terbaring lemah di hadapannya. Sesekali tangannya mengusap perut istrinya penuh kelembutan dan sayang. Tak lupa dikecupnya perut sang istri penuh cinta.


Duduk di samping brankar, Saka tak pernah melepas tangannya yang menggenggam tangan Danisha. Ia teramat bahagia saat ini. Meskipun ada perasaan kesal dan sesal yang dirasakannya ketika mengetahui kondisi Danisha dan bayi dalam kandungannya yang hampir celaka. Namun rasa bahagia lebih dominan menguasainya ketika Dokter Nana mengatakan jika istri dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja. Meskipun begitu, Danisha diharuskan dirawat di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya dan bayi yang dikandungnya. Kali ini ia akan lebih berhati-hati menjaga istri serta calon anaknya.


Bunda dan Ayah sedang di musholla untuk sholat dhuhur. Prasta baru saja pamit pulang karena keluarganya menunggu di rumah untuk merayakan kelulusannya. Sementara Dokter Ardhy dan Distha juga pamit pulang karena masih ada beberapa hal yang berkaitan dengan acara pernikahan mereka yang harus diurus.


Saka merasakan pergerakan tangan Danisha yang digenggamnya. Seketika ia bangkit dari duduknya. Dilihatnya kedua mata Danisha yang mengerjap pelan, lalu dengan perlahan keduanya terbuka sempurna. Kedua mata indah dengan bulu mata yang lentik itu mengerjap sekali lagi, membuat Saka tersenyum menatapnya.


"Hai, Sayang! Alhamdulillah, kamu udah siuman," ucap Saka dengan senyum bahagia. Dikecupnya kening istrinya penuh cinta dan sayang.


Pandangan Danisha menyapu ke seluruh ruangan ketika Saka melepaskan ciumannya.


"Kok, aku di sini?" ringis Danisha. Ia menatap tangan kirinya yang terpasang jarum infus. Ia terlihat bingung kenapa ia berada di kamar rumah sakit.


"Kamu pingsan, Sayang," jawab Saka lembut.


Sejenak Danisha bergeming mendengar jawaban Saka. Pikirannya mengingat-ingat kembali kejadian yang dialaminya sebelumnya. Lalu terdengar helaan napasnya yang cukup panjang. Ya, ia mengingatnya. Ia pingsan di acara wisudanya, saat berbincang dengan kedua orang tua dan suaminya.


"Maaf, Mas! Lagi-lagi aku merepotkan," sesal Danisha, menatap lekat Saka dengan menggenggam tangan suaminya yang hangat.


Saka tersenyum semringah, lalu ia gelengkan kepalanya cepat.


"It's ok, Bee. Tapi please ... Lain kali jangan keras kepala, ya. Tolong bilang kalau kamu sedang tidak baik. Kamu hampir aja membuat jantungku berhenti berdetak. Bersyukur kalian baik-baik aja," tutur Saka, nada bicaranya serius tetapi penuh kelembutan.


Danisha menyipitkan kedua matanya yang bulat. "Kalian?"


Saka tersenyum, lalu meraih tangan kanan Danisha yang bebas infus, mengecupnya cukup lama. Selanjutnya, tangan kirinya mengusap perut istrinya yang tertutup selimut dengan perlahan. Danisha semakin heran dengan sikap Saka. Suaminya terlihat sangat bahagia. Sangat nampak pada wajahnya yang berbinar dengan senyum semringah menghiasi wajah rupawannya.


"Terima kasih, Bunda," ucap Saka lirih, lalu mengecup kening Danisha cukup lama. Sesaat kemudian, ia tersenyum menatap lekat wajah pucat istrinya yang masih kebingungan.


"Our baby is here, Bee. Kamu akan menjadi seorang ibu," lirih Saka sembari mengusap lembut perut Danisha. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.


Seketika Danisha menatap Saka lekat-lekat. "Be-benarkah? A-aku hamil?" gugup Danisha. Satu tangannya yang bebas infus mengusap lembut perutnya yang masih terlihat rata. Sementara tangan dengan jarum infus menutup mulutnya, pertanda terkejut dengan berita yang didengarnya dari sang suami.


Saka mengangguk tegas. "Ya, Sayang! Kamu hamil!" cetus Saka meyakinkan Danisha.


Sontak Danisha mengangkat kedua tangannya ingin memeluk Saka. Saka pun segera merengkuh tubuh Danisha, memeluknya erat sembari mengecup puncak kepala sang istri penuh cinta.


Danisha pun menangis dalam pelukan Saka. "Aku bahagia, Mas. Sangat bahagia!" ucap Danisha di tengah isakannya.


"Aku juga sangat bahagia, Sayang," balas Saka. Lalu ia menangkup wajah istrinya, menatapnya dengan tatapan sendu dan penuh cinta.


"Kita hampir saja kehilangan dia, Bee. Karena kelalaian kita. Bersyukur kalian baik-baik aja. Allah masih menjaga kalian untukku," ucap Saka, suaranya sedikit bergetar.


Tiba-tiba Danisha menangis dalam pelukan Saka. "Maafkan aku, Mas. A-apa yang terjadi? Dia sungguh baik-baik aja, kan? Tidak, tidak!" racau Danisha. Ia mengingat sesuatu. Ia mengurai pelukannya, lalu menatap lekat manik teduh Saka yang juga menatapnya dengan tatapan sendu.


"Ini karena aku. Aku yang salah! Maafkan, aku! A-aku mengabaikannya! Harusnya aku tahu dan bisa merasakannya. Ibu macam apa aku, Mas!" sesal Danisha. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Ssstttt ...! Udah, Sayang! Udah, ya ... Semua baik-baik aja. Dia baik-baik aja saat ini." Saka kembali memeluk Danisha untuk menenangkan istrinya. Danisha terisak dalam pelukan Saka.


Tiga hari yang lalu, ia mendapati bercak darah di ****** ********. Ia pikir itu darah haid karena memang siklus haidnya tidak teratur semenjak menjalani kemoterapi dan pengobatan lainnya.


"Maafkan, aku! Aku pikir itu darah haid. Ya Allah, aku hampir mencelakai anakku!" oceh Danisha, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak menyadari jika dirinya sedang hamil.


"Bee, udah, Sayang! It's ok! Bukan salah kamu. Aku juga lalai. Maafkan aku juga! Kita berdua belum paham akan hal seperti ini. Maafkan aku bila selalu membuatmu kesal dan marah. Maafkan aku yang terkadang mengabaikan kamu. Aku janji, akan selalu menjaga kalian. Aku mohon, jangan membahayakan diri kamu dan bayi kita. Katakan apa yang kamu rasakan. Katakan apa yang kamu minta. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada kalian. Jadi please, dengarkan perkataanku. Jangan membantah. Aku mencintai dan menyayangi kalian. Kalian sumber kebahagiaanku," tutur Saka, mengungkapkan segala perasaannya.


Danisha menatap nanar wajah suaminya. Sungguh, ia merasa banyak bersalah pada suaminya. Selalu mengabaikan perkataan suaminya yang mengajak untuk memeriksakan kondisi dirinya.


Danisha menggelengkan kepalanya. Ia mengusap lembut rahang tegas Saka.


"Maafkan, aku. Bukan kamu yang lalai. Aku yang lalai! Aku istri yang nggak mendengarkan perkataan suami. Maaf! Aku janji akan mendengarkan perkataan suamiku. Aku akan menjaga anak kita," ucap Danisha sesenggukan. Air matanya semakin deras membasahi wajah pucatnya.


Saka tersenyum, lalu merengkuh tubuh Danisha. Mendekapnya ke dalam dada bidangnya. Mengecup puncak kepala istrinya yang tertutup hijab.


"I love you both," bisik Saka lirih.


******


"Selamat ya, Sista!" Danisha memeluk Distha, sahabat baiknya yang malam ini duduk di pelaminan dan telah sah menjadi istri dari seorang Dokter Ardhy, Abang sepupu Saka.

__ADS_1


"Makasih, Sist. Are you fine tonight?" balas Distha dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Yes! I'm fine and very happy," sahut Danisha riang.


"Congratz buat kalian berdua. Sist, jangan kaget ya, kalau udah sekamar sama dia," celetuk Saka sembari menunjuk Dokter Ardhy, Abang sepupunya. Senyuman miring tersungging di bibirnya.


Dokter Ardhy berdecak kesal. "Ck! Jangan mulai, deh!"


Saka terkekeh pelan.


Distha mengerutkan dahinya. "Kenapa?" tanya Distha ingin tahu.


"Nanti kamu bakalan tahu sendiri, kok!" sahut Saka dengan tawa kecilnya. Danisha yang berada di sampingnya pun ikut tertawa, meskipun ia sendiri tidak tahu apa maksud perkataan suaminya.


"Nggak usah didengerin omongan dia, Yang," tukas Dokter Ardhy dengan senyum tipisnya.


"Wooiii! Sialan, aku ditinggal, nih!" Prasta tiba-tiba muncul.


"Kamu dari mana? Dicariin juga dari tadi. Jangan bilang kamu lagi tebar pesona di sini," lontar Saka.


"Woiya jelas! I'm free! Inget itu! Bebas dong, mau ngapain," sahut Prasta dengan tawanya yang lebar.


"Hilih! Udah dapat belum?" ledek Dokter Ardhy.


"Gayamu, Pras! Paling juga sehari doang, paling ujung-ujungnya cuma Renata yang nggak tergantikan," timpal Saka.


Seketika Prasta menghentikan tawanya. "Kalian ini nggak bisa apa, menghibur teman dikit aja. Kasih semangat gitu buat nyari gandengan," dengus Prasta.


"Anyway, congratz ya, Sista! Sakinah, mawadah, warahmah. Dok, selamat, ya! Kalau sewaktu-waktu aku butuh Distha, boleh ya, pinjam. Hehehe ...." kelakar Prasta dengan cengiran di wajahnya.


"Enak aja main pinjam! Emang istri aku barang!" sungut Dokter Ardhy.


"Cieee ... Istri nih, sekarang ... Uhuk!" ledek Prasta, pura-pura terbatuk.


Danisha terkekeh mendengar ocehan sahabat, suami dan Abang ipar sepupunya. Hatinya sungguh bahagia saat ini. Distha dan Dokter Ardhy telah resmi sebagai suami istri. Meskipun ada perasaan sedih karena ia tidak bisa membantu secara penuh persiapan dan juga prosesi acara akad nikah serta resepsi pernikahan sahabatnya, mengingat kondisinya saat ini yang mengharuskannya banyak beristirahat. Dua hari yang lalu, Dokter Nana mengizinkannya pulang dengan syarat harus banyak-banyak istirahat dan makan makanan dengan asupan gizi yang cukup serta rutin minum vitamin demi kesehatannya dan juga perkembangan calon buah hati dalam kandungannya.


"Yuk, Bee! Kita turun dan makan. Kasihan si dedek, dia pasti lapar," cetus Saka, tangannya mengusap lembut perut Danisha yang masih belum membuncit.


"Thank you, Mom. Sehat selalu ya, dek," balas Distha, perlahan tangannya mengusap perut Danisha dengan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Thanks, Danish. Baik-baik dan sehat selalu, ya!" ucap Dokter Ardhy semringah.


"Bang, pelan-pelan aja nanti di kamar. Jangan asal nyosor, ya!" kelakar Saka, mengedipkan sebelah matanya.


"Kampret! Emang kamu, main sosor aja! Dasar piktor!" balas Dokter Ardhy bersungut-sungut.


Saka terbahak tawa. Sementara Distha mencebikkan bibir sambil menatap tajam Saka yang tertawa. Danisha hanya tersenyum kecil sembari memukul lengan Saka.


"Ayo, Pras!" ajak Saka, tangannya menggandeng erat tangan Danisha berjalan meninggalkan pelaminan diikuti oleh Prasta.


Suasana acara resepsi pernikahan Distha dan Dokter Ardhy benar-benar meriah. Acara yang digelar di ballroom sebuah hotel yang terletak di kawasan timur kota itu dihadiri oleh banyak tamu undangan. Terutama dari kolega Dokter Ardhy dan tentu saja kolega dari orang tua Distha yang merupakan pengusaha yang cukup ternama di Surabaya. Distha terlihat sangat cantik dengan make up yang flawless. Natural tetapi sangat elegan. Gaun berwarna putih yang digunakannya pun nampak elegan. Dokter Ardhy pun terlihat tampan dengan outfit setelan jas dan celana panjang berwarna senada dengan gaun yang melekat di tubuh ramping Distha, dengan dasi berwarna silver ditambah hiasan bunga pink rose di dada kirinya.


"Renata benar-benar nggak ada kabar?" tanya Saka pada Prasta. Mereka sedang menikmati hidangan di sudut ballroom, duduk di kursi yang tersedia untuk keluarga.


Prasta menggeleng dan tersenyum tipis. "Aku udah mencoba menghubungi nomor ponselnya beberapa kali, tapi non aktif," ucapnya lirih.


"Renata tidak ada menghubungi kamu, Bee?" tanya Saka pada Danisha.


Danisha menggeleng lemah. "Maaf! Uummm ... Bang Hendra kapan lalu pernah info aku, Renata menghubunginya. Tetapi saat akan diangkat, telponnya mati. Lalu Bang Hendra coba menelpon balik, sayangnya nomornya tidak bisa dihubungi alias tidak aktif," ungkap Danisha.


Saka menepuk bahu sahabatnya. "Sabar. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Seperti air yang mengalir, let it flows. Yang terpenting saat ini adalah doa. Jangan pernah berhenti berdoa, Pras. Biarlah Allah yang menentukan bagaimana akhirnya," tutur Saka.


Prasta tersenyum getir sembari menggangguk. "I know. I am trying to do that way," ucap Prasta lirih, hampir tak terdengar karena ramainya suasana dan suara alunan live music yang menggema di se-antero ballroom.


*******


Danisha mengerjapkan matanya ketika merasakan sesuatu yang basah di keningnya.


"Mas ...."


"Assalamualaikum, Bunda ...." sapa Saka dengan senyum bahagia. Tangannya mengusap lembut perut Danisha.

__ADS_1


Danisha tersenyum semringah. "Waalaikumsalam, Ayah," balas Danisha, sembari bangkit dari baringnya dan kini posisinya duduk bersandar di bed headboard. Sementara Saka duduk di tepi ranjang.


"Jam berapa, Mas? Kok aku nggak dibangunin," ujar Danisha sembari mengikat rambutnya dengan karet pengikat rambut yang diambilnya di atas meja samping ranjang.


"Jam 07.00," jawab Saka santai. Tatapan matanya tak beralih dari wajah khas bangun tidur istrinya.


"Masya Allah! Mas, udah siang. Aku ...."


"Ssstttt ...!" Saka menempelkan telunjuknya di bibir Danisha. "Kenapa kalau udah siang, hm?" tanya Saka, menatap lekat wajah ayu istrinya.


"Yaa ... Aku belum siapin sarapan," jawab Danisha dengan suara yang pelan, bibirnya sedikit mencebik.


Saka tersenyum, lalu ia mendekat pada Danisha, mengikis jarak di antara keduanya. Kedua tangannya menangkup wajah ayu istrinya.


"Lupa dengan apa yang aku bilang, hm? Inget kondisi kamu, Sayang. Ada dia di sini, yang harus kita jaga. Jangan banyak aktivitas dulu. Urusan sarapan dan rumah, biar Bu Erni yang kerjakan. Ok, Bunda?" jelas Saka, menatap lekat penuh cinta pada kedua manik bening istrinya.


Danisha pun menatap lekat tak berkedip kedua manik hitam teduh di hadapannya. Seperti dihipnotis, kepalanya mengangguk.


"My good woman, thank you!" ucap Saka, lalu dikecupnya bibir Danisha sekilas membuat wajah sang pemilik merona. Saka tersenyum lebar.


"Mas udah mandi?" tanya Danisha. Ia menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, perlahan menggeser tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Kenapa? Mau mandi bareng?" tanya Saka dengan seringaian kecil di bibirnya.


"Ish! Mulai, deh!" sungut Danisha. "Inget yang dibilang Dokter Nana, ya! Nggak boleh macem-macem dulu," ujar Danisha mengingatkan Saka akan pesan Dokter Nana.


Saka terkekeh. "Iya, iya ... Inget, Sayang ...." sahut Saka. Ia bangkit dari tepi ranjang, lalu berjongkok di hadapan Danisha yang duduk di tepi ranjang. Dikecupnya perut Danisha, lalu diusapnya penuh sayang.


"Hai, Baby! Baik-baik, ya. Jangan menyusahkan Bunda. Jadilah anak yang kuat buat Bunda dan Ayah. Love you, Baby!" ucap Saka, dikecupnya perut istrinya sekali lagi.


Danisha menunduk dan tersenyum, diusapnya rambut Saka perlahan penuh cinta. Saka mendongak menatap wajah istrinya sembari mengulum senyuman.


"I love you, Bee ...." ucapnya sembari berdiri dan mengecup bibir Danisha sekilas.


Saka mengulurkan tangannya membantu Danisha untuk berdiri. Danisha meraih tangan Saka, perlahan ia pun berdiri. Segera Saka meraih tubuh Danisha dan memeluk pinggang istrinya erat, tanpa jarak. Seketika wajah Danisha merona bak kepiting rebus. Saka terkekeh melihat wajah istrinya yang merona. Tidak menunggu lama, bibirnya langsung mendarat pada dimple cheek wanita di hadapannya. Dikecupnya pipi merona wanitanya berulang-ulang.


"I love you, I love you, I love you!"


Danisha terkekeh geli dengan sikap Saka. Dibingkainya wajah suaminya sembari menatapnya penuh cinta.


"I love you more, Suamiku. Terima kasih sudah mencintaiku. Terima kasih untuk kesabaranmu yang luar biasa hebat. Terima kasih untuk pelukanmu yang luar biasa hangat untukku. Terima kasih untuk senyuman yang selalu kau berikan untukku. Terima kasih juga untuk selalu menggenggam tanganku. Terima kasih sudah menemaniku hingga saat ini. Menemaniku dan selalu di sisiku dalam sedihku, marahku, senangku, manjaku dan bahagiaku. Terima kasih untuk segala bahagia yang tak kunjung berakhir. Terima kasih untuk semua lelah yang pada akhirnya berganti indah. Tak perlu lagi kisah sempurna untuk kita jalani, cukup kamu yang membuat hidupku benar-benar sempurna hingga saat ini dan selamanya. Thank you for everything you do and everything that you are," ungkap Danisha dengan senyuman tulus penuh sayang dan cinta. Kedua matanya berkaca-kaca menatap mata teduh Saka.


Hati Saka berdebar, jantungnya berdetak semakin kencang mendengar ungkapan perasaan Danisha. Ia menatap wajah ayu berlesung pipi istrinya tanpa berkedip. Digenggamnya kedua tangan istrinya yang masih membingkai wajahnya.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Entah sebesar dan seluas apa, aku tak tahu. Yang jelas aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa mendeskripsikan cintaku padamu. Aku hanya merasakan aku sangat mencintaimu. Hatiku hanya mengatakan kamulah yang harus aku perjuangkan. Seberat apa pun masalah dan ujian yang datang, aku harus berjuang untukmu. Selelah apa pun diriku, aku tak akan menyerah untuk memperjuangkanmu, menjaga dan melindungimu. Aku juga tak ingin kisah yang sempurna untuk kita, karena hidupku sudah sempurna karena kamu bersamaku. Sumber kebahagiaanku. Dan sekarang, sumber kebahagiaanku bertambah. Our baby. Kalian sumber kebahagiaanku, kesempurnaan hidupku. Aku sangat mencintai kalian. Kalian napasku, hidup dan matiku," tutur Saka tegas tapi penuh kelembutan.


Sesaat keduanya bergeming, hanya saling menatap. Menikmati debaran hati dan detak jantung yang mengalun indah penuh romansa cinta. Saka tak dapat lagi menahan gejolak hatinya yang teramat bahagia. Disentuhnya bibir tipis istrinya. Dikecup dan dikulumnya dengan lembut. Mata Danisha terpejam, menikmati lembutnya sentuhan bibir Saka. Ia pun tak bisa menahan perasaan bahagia yang membuncah di hatinya. Ia mulai membalas ciuman lembut suaminya. Untuk beberapa saat keduanya menikmati momen saling memagut dan bertukar saliva, hingga keduanya merasa kesulitan bernapas karena ciuman yang dalam. Kening mereka menyatu dengan napas yang tersengal. Saka terkekeh melihat wajah Danisha yang merona.


Seketika Danisha menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Saka. Kedua tangannya memeluk erat pinggang suaminya. Ia bisa mendengar dan merasakan debaran dan detak jantung suaminya yang semakin kencang. Jangan pula ditanya, dirinya pun merasakan hal yang sama.


Saka memeluk erat tubuh Danisha. Mengecup puncak kepala istrinya penuh cinta. Setiap detik waktu bersama Danisha, semakin bertambah rasa cintanya. Ia tak bisa membayangkan jika jauh dari istrinya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika penyakit ganas itu merenggut istrinya. Demi Tuhan, ia sangat bersyukur saat ini masih diizinkan untuk bersama istrinya. Terlebih dengan hadirnya bayi dalam rahim Danisha ketika mereka sudah di ambang keputusasaan menantikan hadirnya seorang anak dalam keluarga kecil mereka. Ia tak henti bersyukur pada Zat Pemberi Kehidupan. Dan untuk kesekian kali, ia bersyukur karena memiliki Danisha. Demi Tuhan, ia teramat mencintai istrinya, Danisha Almanita.


Setiap detik kebersamaan kita adalah oksigen untukku bernapas. Tetaplah selalu bersamaku, jangan pergi jika tidak ingin melihatku mati.


#END#







**Hi, LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Finally, happy ending yaa ... Danisha lulus kuliah n hamil, happily ever after with Saka. Distha pun dah resmi jadi istrinya Dokter Ardhy setelah lulus kuliah. Prasta juga bahagia loh, udah lulus kuliah. Bahagia udah menyelesaikan tanggung jawabnya dan membuat ortunya bahagia sekaligus bangga. Yaa walaupun hubungan asmaranya kacau sih ya 🀭 Ingin tau kisah asmara Prasta-Renata? Yuk, mampir n baca di lapak mereka ya, LOVE AND DREAMS, buka di profil Imoet ☺️


Terima kasih banyak buat semua yg udah baca, komen, vote dan tentu saja yg udah nge-fave story DanSa. Highly appreciated πŸ˜˜πŸ™

__ADS_1


LOTA Lovers yg tercinta, jaga diri kalian yaa, tetap waspada dan tetap jalankan Prokes demi kebaikan bersama. Sehat selalu ya LOTA Lovers πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™πŸ™


__ADS_2