Love On The Air

Love On The Air
Eps 89 Perdebatan Kecil


__ADS_3

**Hi, LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Pasti kalian semua lagi sibuk2nya khatam Al Qur'an dan persiapan lebaran, ya ... meskipun ada larangan mudik. Pastinya dah siap dg Kuker dan sajian hidangan lebaran nanti, buat stay di rumah aja. Demi kebaikan bersama. Semoga pandemi segera berlalu ya, dan kita slalu diberi kesehatan dan dlm lindungan Allah. Aamiin ....


Okay, happy reading ya ... tinggal beberapa eps lagi cerita DanSa end. Kalian masih bisa baca karya Imoet lainnya.


#LOVE AND DREAMS (KISAH PRASTA & RENATA)#


#KAMU YANG SELALU KUTUNGGU (CERPEN)#


FOLLOW IG : @imoet_enra


Yg punya akun WP, bisa juga follow imoet_enra.


HAPPY READING ALL πŸ€—πŸ˜˜πŸ’ž**


#######


Duduk di lantai beralaskan karpet Turki menghadap hijaunya taman kecil di belakang rumah, Saka dan Danisha masih saling diam untuk beberapa saat.


Saka melirik Danisha yang duduk di samping kanannya. Diraihnya jemari tangan wanita yang telah memberi warna hidupnya, seulas senyuman terukir di bibirnya.


"Maaf! Maaf karena membuatmu menunggu lama," ucap Saka penuh sesal, jari jemarinya menggenggam lembut tangan Danisha.


Danisha bergeming. Kepalanya menunduk, matanya tertuju pada genggaman tangan Saka. Sebenarnya, ia tidak marah hanya karena Saka terlambat menjemputnya. Ia hanya cemas dan takut terjadi sesuatu pada laki-laki halalnya dikarenakan dia tidak memberi kabar atau tidak bisa dihubungi ponselnya. Namun, ada sesuatu yang lain yang mengganggu dirinya. Terlebih setelah pertemuan dan obrolannya dengan Audy di pendopo kampus sore tadi. Tentang beasiswa S-2 ke Australia untuk Saka.


Ia menghela napas singkat. Saka tidak pernah membicarakan soal beasiswa dengannya. Ia tidak suka mendengarnya dari orang lain.


"Sayang ... Masih marah?" tanya Saka lembut. Ia semakin merapatkan tubuhnya pada Danisha. Mengikis jarak di antara mereka.


Pelahan Saka mencium puncak kepala Danisha.


"Please, jangan diam, Bee ... Aku emang salah, kamu berhak marah. Marahlah, Bee. Tapi jangan diam," lirih Saka di telinga Danisha. Jantungnya berdegup lebih kencang dibanding biasanya. Dan itu karena diamnya Danisha.


"Bee ...." panggil Saka lembut. Kedua tangannya menangkup wajah Danisha hingga berhadapan dengannya. Keduanya kini saling menatap. Kali ini jantung Danisha seperti hendak melompat ingin memasuki kedua manik hitam teduh di hadapannya. Sungguh, ia sangat mencintai lelaki di hadapannya ini. Ia tak ingin berpaling sedetik pun dari lelaki bermanik hitam yang selalu meneduhkan dan penuh cinta ini.


Saka tersenyum semringah ketika menatap mata bening istrinya yang sangat jelas mengisyaratkan cinta. Sedetik kemudian, bibirnya telah menyentuh bibir tipis Danisha, ******* lembut penuh cinta.


"I love you," bisik Saka dengan suara seraknya saat melepas bibirnya dari bibir Danisha.


Danisha tertunduk malu dengan wajah merona. Saka terkekeh pelan melihat Danisha yang merona. Tiba-tiba ia merebahkan kepalanya di paha Danisha sehingga ia dapat melihat wajah istrinya yang tertunduk merona itu lebih leluasa. Senyuman nakal pun terukir di bibir Saka.


"Apaan sih, Mas!" gerutu Danisha malu.


"Istriku menggemaskan! Setiap hari setiap detik semakin menggemaskan. Selalu membuat aku jatuh cinta setiap saat. Jangan marah ya, Sayang ...." ucap Saka penuh cinta.


Danisha menghela panjang napasnya. Sebelah tangannya pelahan mengusap rambut hitam suaminya. Saka pun tersenyum simpul, lalu memejamkan kedua matanya menikmati usapan lembut tangan Danisha yang penuh cinta. Beberapa saat kemudian, ia mengubah posisinya menjadi miring dengan wajah menghadap ke perut Danisha, salah satu tangannya mengusap pelan perut wanita tercintanya.


"Hi, Baby. Are you there?" gumam Saka lirih.


"Mas ... Please!" sahut Danisha.


"Kenapa?" tanya Saka heran.


Danisha terdiam dan menarik napasnya dalam. Saka bangkit dari baringnya dan duduk menghadap Danisha. Ia dapat melihat kegelisahan di wajah istrinya.


"Kenapa, Bee?" tanyanya lagi.


Danisha bangkit dari duduknya, berdiri dan beranjak meninggalkan Saka tanpa berkata sepatah kata pun. Saka pun ikut berdiri dan berjalan menyusul istrinya yang kini sedang menaiki tangga menuju ke lantai 2 rumahnya.


"Sayang ... Maaf!" Saka mensejajarkan langkahnya dengan Danisha yang tinggal tiga anak tangga lagi sampai di lantai 2.


Danisha bergeming. Kenapa dadanya sangat sesak bila Saka mulai berbicara seperti itu. Mengharapkan kehadiran seorang bayi di perutnya. Danisha terus berjalan hingga saat akan membuka handle pintu, Saka menahan tangannya. Lelaki itu berdiri di antara pintu dan Danisha, menatap Danisha dengan tatapan yang menuntut.


"Kamu kenapa sih, Bee? Kenapa setiap omonganku rasanya salah terus di mata kamu? Aku harus gimana?" Nada bicara Saka sedikit meninggi yang membuat Danisha terkesiap dan seketika menatap Saka dengan tatapan nanar. Dadanya semakin sesak.


Danisha memutar tubuhnya berbalik arah dan berjalan kembali hendak menuruni tangga. Namun tiba-tiba suara Saka yang memanggilnya membuat ia berhenti melangkah.


"Bee ...!"


Dadanya seperti diremas, sakit.


"Maaf! Ga ada yang salah sama kamu, Mas. Aku yang salah. Maaf!" Tanpa menoleh ke belakang dimana Saka berdiri, Danisha menuruni anak tangga dengan setengah berlari. Tujuannya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.


Saka mengejarnya. Namun saat ia sampai di depan kamar, tepat pada saat Danisha menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.

__ADS_1


"Bee ... Please, buka pintunya. Sayang ... Ayolah! Maafkan aku, Bee ...." Saka berusaha membujuk Danisha. Namun tak ada sahutan dari dalam kamar.


Bu Erni mendengar perdebatan mereka tanpa sengaja dari balik dinding dapur. Baru kali ini, wanita paruh baya itu mendengar majikannya bertengkar. Tapi kenapa? Padahal tadi mereka baik-baik saja dan terlihat sangat mesra.


*******


"Abang benar tidak tau?" tanya Distha pada sang kekasih dokternya, sembari mengecap kentang goreng di mulutnya.


Dokter Ardhy menggeleng setelah menyesap kopi hitamnya.


"Saka ga ada cerita soal beasiswa sama aku. Terakhir kali kita chat itu tiga atau empat hari yang lalu. Dia minta rekomendasi dokter kandungan," cerita Dokter Ardhy pada Distha.


"Hah? Dokter kandungan? Serius?" cecar Distha dengan mata membulat.


Dokter Ardhy terkekeh geli melihat raut wajah calon istrinya. Lucu.


"Widih! Emang kenapa, sih? Wajar, kan ... Mereka udah nikah setahun lebih," celoteh Dokter Ardhy, tangannya mengacak puncak kepala calon istrinya. Saat ini keduanya sedang menikmati makan malam di sebuah cafe.


Distha terdiam sesaat.


"Sayang, aku merasa Danish sedikit aneh, deh!" ujar Distha akhirnya.


"Aneh, gimana?" tanya Dokter Ardhy.


"Ada sesuatu yang dipendamnya. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Apa mungkin Saka tidak memberitahu Danish soal beasiswa itu, ya? Tau-tau, dia dengarnya dari Audy," Distha pun bercerita mengenai pertemuan mereka dengan Audy hingga mereka berbincang soal beasiswa itu.


"Bisa jadi juga, sih!" sahut Dokter Ardhy. "Tapi ... Masa iya Saka ga kasih tau Danish?" imbuhnya.


"Rasanya emang Danish ga tau soal beasiswa itu, Sayang. Kelihatan banget perubahan sikapnya sore tadi begitu Audy nanya soal persiapan Saka untuk S-2 ke Aussie," terang Distha.


"Sepanjang jalan aku antar pulang, dia ga mau aku ajak ngobrol. Seperti sedang nahan marah, gitu!" lanjut Distha.


"Mungkin Saka nunggu waktu yang tepat untuk bicara sama Danisha soal beasiswa itu," tutur Dokter Ardhy dengan seulas senyum terbaiknya.


Distha pun balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, Abang benar. Saka tidak pernah mengabaikan Danisha. Pasti ia punya alasan kenapa belum mengatakan apa pun soal beasiswa itu pada Danisha. Semoga Danisha bisa paham dan tidak bersikap egois ya, Sayang."


Dokter Ardhy mengangguk dengan mengulum senyuman, menyetujui perkataan calon istrinya.


Sementara itu, Danisha masih berada di dalam.kamar tamu. Cukup lama ia menangis, menumpahkan segala sesak di hatinya. Ia kecewa, Saka tidak memberitahunya soal beasiswa itu. Ditambah lagi, sepertinya Saka menuntut dirinya untuk segera hamil. Sementara suaminya itu tahu bagaimana kondisi dirinya. Kembali rasa tidak percaya diri menguasai dirinya.


Danisha menghela napasnya panjang. Matanya tertuju pada jam dinding di kamar itu. Pukul 22.00. Ia merasa tenggorokannya kering sekali, haus. Pelahan ia berjalan ke arah pintu kamar, membukanya pelan. Sepi. Lampu sudah dimatikan. Ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia menuang teko kaca berisi air putih ke dalam gelasnya, meneguknya hingga habis tak bersisa. Ia menuang lagi air putih ke dalam gelasnya, lalu berjalan menuju taman belakang di mana ia dan Saka memulai perdebatan sore tadi. Ia duduk dengan menekuk dan memeluk lututnya, lalu menatap langit malam dengan beberapa bintang di sana.


Dua tangan kokoh melingkar memeluk tubuhnya dari belakang. Membuatnya hangat. Suara serak yang selalu membuatnya rindu terdengar di detik berikutnya diikuti sebuah kecupan di bahunya


"Maafkan aku, Sayang."


Danisha menatap dua tangan kokoh yang memeluknya. Beberapa saat ia masih bergeming, menikmati pelukan hangat yang membuatnya tak ingin lepas.


"I love you, Bee ... I need you, My Wife ...." Pelukan itu semakin erat dan hangat.


"Forgive me, please ...." Suara lelaki itu terdengar bergetar seperti menahan tangis.


Danisha meraih kedua tangan yang memeluknya, lalu ia mendekap dan bibirnya mengecup basah kedua tangan kokoh itu. Lama.


Malam selalu membuatku tenang. Ibarat dirimu yang selalu menjadi obat penenangku, kala memelukku hangat di setiap malam yang kulewati.


********


Tiga hari berlalu. Saka dan Danisha telah berdamai dan melewati hari-hari seperti biasa setelah kejadian perdebatan kecil sore itu. Keduanya kembali mesra. Menghabiskan malam panjang berdua penuh cinta di peraduan dan singgasana cinta mereka.


Meskipun demikian, Saka masih juga tidak berbicara mengenai beasiswa S-2 nya. Danisha sengaja tidak menanyakannya. Ia ingin Saka sendiri yang mengatakannya. Kecewa pasti. Sebagai seorang istri, ia seharusnya berhak tahu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan suaminya. Namun, ia juga tidak bisa bersikap kekanakan dan egois hanya karena masalah itu. Apa pun yang terjadi, ia harus selalu mendukung suaminya. Baginya, Saka yang selalu mencintainya, yang tiada henti memberikan kebahagiaan untuknya, sudah lebih dari cukup. Ia sangat bersyukur memiliki Saka, yang selalu bersedia mengesampingkan ego, memanjangkan sabar dan selalu setia mendampinginya di kala susah dan senang. Baginya, Saka adalah lelaki terbaik dan sempurna sebagai pasangan hidup.


Malam itu, Saka dan Danisha sedang menikmati makan malam berdua di sebuah restoran Jepang. Mereka sedang memilih menu Sushi ketika tiba-tiba seseorang menyapa.


"Hai, Saka, Danish!"


Keduanya pun seketika menoleh. Tidak jauh dari tempat Saka berdiri, Audy berdiri di sana dengan senyum membingkai wajahnya yang manis.


"Hai!" sahut Saka, sedikit canggung.


"Halo, Dy!" sapa Danisha, tersenyum tipis pada Audy.


"Kalian udah dari tadi?" tanya Audy.


"Belum lama, sih! Belum ada setengah jam ya, Sayang ," jawab Saka sembari menatap bergantian Audy dan Danisha. Tangannya memeluk erat pinggang Danisha. Sementara Danisha tersenyum dan mengangguk membalas perkataan Saka.

__ADS_1


Audy melihat kemesraan keduanya. Ada sedikit rasa nyeri menghampiri hatinya. Ia tersenyum pada suami istri itu, meskipun dipaksakan.


"Oh ya, kamu udah prepare semuanya, Ka? Siap berangkat ke Aussie, dong ...." celetuk Audy.


Seketika Saka terkesiap dan salah tingkah akan pertanyaan Audy. Ia menatap Danisha yang saat ini menampakkan perubahan raut wajahnya.


Saka hanya tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Audy.


"Aku permisi ya, mau kembali ke meja," sela Danisha, sepiring sushi dengan berbagai varian telah berada di tangannya.


"Sayang, sini, biar aku yang bawa. Duluan ya, Dy!" Saka bergegas menyusul Danisha dan melambaikan tangan pada Audy yang masih terpaku di tempatnya.


Audy menepuk pelan dadanya yang sedari tadi dirasakannya begitu sesak menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu. Lalu ia tersenyum kecut, menyadari bahwa tidak seharusnya ia masih menyimpan perasaan lebih pada lelaki yang sudah menjadi suami perempuan lain.


Sementara itu, Danisha sudah kembali duduk di kursinya setelah meletakkan sepiring sushi serta beberapa bahan makanan suki dan grill. Saka yang menyusulnya segera bergabung duduk dan meletakkan kopi hitam serta susu coklat dingin untuk Danisha.


"Kok main tinggal aja tadi," keluh Saka sembari melirik Danisha yang sedang memasukkan bahan makanan ke dalam panci panas berisi kuah kaldu daging sapi di hadapannya. Raut wajahnya terlihat datar, terkesan cuek. Hal itu membuat Saka semakin tidak enak hati dan salah tingkah.


Sepertinya dia marah lagi. Kenapa juga ketemu Audy dan dia berbicara soal beasiswa itu. Aarrgghhhh ...!


Gerutu Saka dalam hati. Ia menghela napasnya dalam. Wanita tercintanya masih menampakkan wajah datarnya walaupun sesekali dia tersenyum padanya.


"Bee ...."


Danisha yang sedang asyik memanggang dan menikmati makanan khas Jepang itu pun seketika mendongak dan menatap Saka yang memanggil namanya.


"Ya ...."


Saka balas menatap Danisha dengan tatapan sendu dan senyuman manis di bibirnya.


"Jadi, kapan ... berangkat?" tanya Danisha terbata, tenggorokannya sedikit tercekat. Ia berusaha menikmati makanannya meskipun sebenarnya nafsu makannya sedikit demi sedikit telah menghilang.


Saka memicingkan matanya. "Berangkat? Kemana?" tanyanya sembari menatap Danisha lekat.


"Australia, kan?" balas Danisha sembari mengecap makanan yang baru saja ia suap ke mulutnya. Lalu perhatiannya ia alihkan pada grilled pan di hadapannya yang berisi beberapa irisan daging sapi, udang dan cumi. Ia membolak-balikkan daging-daging tersebut agar matang sempurna.


Kembali Saka menatap Danisha lekat. Lalu diletakkannya sumpit yang dipegangnya.


"Bee ... Please, look at me!" pinta Saka di detik berikutnya.


Danisha menghentikan aktivitasnya. "Ya?" Ia menatap Saka. "Kenapa? Udah selesai kan, semua urusan dokumen keberangkatannya? Tinggal berangkat, kan? Mas ga usah khawatir, besok aku bantu berkemas dan siapkan semua keperluan Mas," cerocos Danisha, lalu ia meraih segelas susu coklat dingin dan meneguknya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Saka menghela napasnya singkat dan meraup wajahnya pelan.


"Kamu ingin aku pergi, Bee?" tanya Saka dengan suara pelan, nyaris berbisik.


Danisha kembali menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya lekat wajah suaminya.


"Kok nanya begitu? Bukannya ini kesempatan emas, dapat beasiswa S-2. Ke Australia, lho! Kapan lagi?"


"Kamu marah?"


Danisha menggelengkan kepala pelan.


"Iya, kamu marah!"


Lagi, Danisha menggelengkan kepalanya.


"Iya!" tegas Saka dengan senyum miringnya.


"Gaa! Aku ga marah!" jawab Danisha dengan nada sedikit tinggi dan wajah merengut.


Saka terkekeh kecil. Ia beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping wanita tercintanya. Kemudian diraihnya tangan Danisha dan dengan pelan, ia menghadapkan wajah Istrinya itu agar menatapnya.


"Hei, Sayang! Jangan marah, ya! Nanti kita bicarakan di rumah. Sekarang kita selesaikan makan kita dulu. Ok?"


Tbc


**Hiyyyaaaa ... marah lagi marah lagi sih, Bee 🀭 Saka selalu diuji kesabarannya menghadapi Danisha. Daann ... yaaa ... begitu ya, LOTA Lovers, namanya pengantin baru, pasangan muda, pasti banyak pertengkaran & perdebatan kecil jadi bumbu penyedapnya 😁 apa lagi Danisha sedikit oleng kepercayaan dirinya setelah operasi. Merasa dirinya tidak sempurna.


Tapiii mereka ga pernah lama sih, berantemnya☺️


Thank you yg masih stay di sini, banyak cinta dan sayang untuk kalian πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž


Jgn lupa like & komennya donk ☺️**

__ADS_1


__ADS_2