Love On The Air

Love On The Air
Eps 86 Kejutan


__ADS_3

**Hi, LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Maaf sebelumnya πŸ™πŸ™


Eps kali ini, adegan 18++ ada di part awal


Mohon bijak untuk kalian di bawah 18 ya, tolong untuk skip ... langsung menuju bawah deh, di tengah part β˜ΊοΈπŸ™πŸ™


Untuk kalian yang punya akun di WP, boleh ya follow Imoet, kunjungi cerpen aq di sana β˜ΊοΈπŸ€—


Thank you so far, yg udah follow Imoet, setia mengikuti kisah LOTA, juga udah like n vote.


Appreciate banget, sayaaaang kalian πŸ€—πŸ˜˜


Sehat selalu untuk kalian πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


#####


Saka menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya saat merasakan hangat di wajah dan tubuhnya. Tirai jendela yang telah terbuka membuat sinar matahari menembus masuk jendela kaca kamarnya. Ia segera beranjak duduk saat ia tak melihat Danisha di sisinya.


Ia pun meregangkan ototnya dengan posisi duduk di tepi ranjang. Menghela napas dalam sesaat. Lalu diraihnya ponsel di meja kecil samping ranjang tidur. Baru pukul 06.50 dan beberapa notifikasi pesan sudah berjejer di layar ponselnya. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hari ini adalah hari Sabtu, Saka tidak pergi ke kantor. Karenanya, selepas salat subuh tadi ia tidak mengijinkan Danisha untuk keluar dari kamar. Ia hanya ingin bermalas-malasan di ranjang bersama istrinya. Tentu saja sambil bermesraan berdua. Hanya bermesraan. Saka masih belum berani meminta haknya kepada Danisha untuk berhubungan intim lagi sejak keluar dari rumah sakit.


Saka meraup wajahnya yang terguyur air shower. Ia teringat pembicaraannya dengan Dokter Aldi di rumah sakit dua hari yang lalu saat mengantar Danisha melakukan kontrol kesehatannya. Ketika Danisha masih berada di ruang rehabilitasi untuk analisis kesehatannya secara keseluruhan, Saka mempunyai kesempatan berbicara dengan Dokter Aldi di luar ruangan tersebut. Dengan ragu dan sedikit rasa malu, ia menanyakan pada Dokter Aldi mengenai hal yang sangat pribadi. Dokter Aldi pun memberikan penjelasannya secara gamblang pada Saka mengenai hal hubungan suami istri pasca operasi. Secara garis besar, dengan kondisi Danisha yang semakin hari semakin membaik, tidak menjadi masalah bila melakukannya. Bahkan, Dokter Aldi mengira mereka sudah melakukan hal itu pada saat Danisha diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Namun, entah mengapa hingga saat ini Saka masih ragu untuk melakukannya. Ia takut membuat Danisha merasa kesakitan dan tidak nyaman. Ia tidak mau terjadi hal-hal yang membuat penyakit istrinya itu datang lagi atau malah menimbulkan penyakit baru.


"Mas ...." Ketukan pintu dan suara Danisha membuyarkan pikiran Saka yang berkelana.


Saka segera mematikan kran shower, meraih handuknya dan mengeringkan tubuhnya cepat. Dibukanya pintu kamar mandi dengan bertelanjang dada, hanya ada handuk yang melilit bagian bawah tubuh terawatnya. Kemudian ia mengulas senyum manis yang rupawan pada istrinya.


"Dari mana, Bee? Kok aku ga dibangunin, hm?" tanya Saka, tangannya mengusap lembut pipi Danisha.


"Maaf, aku liat Mas tidurnya pulas banget. Ga tega banguninnya," jawab Danisha dengan senyum simpul di bibirnya. Lalu ia beranjak menuju lemari untuk mengambilkan pakaian suaminya.


Sementara Saka mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil di tangannya. Diperhatikannya istrinya yang terlihat kesulitan mengambil baju kaosnya yang terletak di rak bagian atas. Ia tersenyum geli.


"Kenapa ga minta tolong buat ngambilin, sih?" goda Saka yang langsung mengambil baju kaos yang akan diambil Danisha.


Danisha menunduk malu. Saka pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Danisha. Dikecupnya sekilas pipi kiri Danisha. Danisha bergeming, mendadak tubuhnya terasa kaku dan menegang. Dada telanjang Saka yang menempel erat di punggungnya bagai sengatan listrik. Ada rasa aneh mendesir di hatinya.


"Uummm ... Sarapan sekarang atau nanti?" tanya Danisha gugup, berusaha mengalihkan suasana yang membuatnya canggung.


Dan entah mengapa, Saka pun terbawa suasana. Perlahan ia membuka jilbab instan berwarna dark grey yang menutupi kepala Danisha, mengabaikan pertanyaan Danisha. Luka di kepala Danisha sudah sembuh, tersisa sedikit bekas jahitan operasinya yang sudah mengering di sana. Sementara rambut Danisha masih terlihat belum tumbuh sempurna. Pada awalnya, Danisha sangat tidak percaya diri bila Saka melihat keadaan kepala dan rambutnya. Ia pernah menangis dan beradu mulut hebat dengan Saka saat suaminya itu tanpa sengaja melihatnya duduk bercermin di meja riasnya sambil terisak dan menarik-narik rambut pendeknya yang baru tumbuh. Ia marah karena Saka melihat kondisi kepalanya yang membuatnya sangat tidak percaya diri. Namun, bukan Saka bila tidak bisa membuat Danisha luluh dan menyadari bahwa suaminya itu tidak mempermasalahkan segala kekurangan Danisha sekecil apa pun.


Bibir Saka mengecup lembut tengkuk istrinya saat jilbab itu lolos dari kepalanya. Baju kaos yang diambilnya tadi pun jatuh tergeletak di lantai begitu saja. Kecupan lembut itu membuat Danisha meremang. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, kali ini keduanya berhadapan. Saling menatap lekat dan mengunci tatapan masing-masing.


Tanpa aba-aba, Saka memagut bibir Danisha. Mengulumnya dengan lembut. Tubuh Danisha semakin menegang. Subuh tadi, cumbuan kecil Saka membuat hatinya bergetar dan menghangatkannya. Walaupun hanya cumbuan kecil, ia merasa sangat dicintai suaminya. Ia pun menyadari sesuatu. Suaminya menginginkan haknya yang sudah lama terabaikan karena kondisi sakitnya.


"Mas ... A-aku akan berikan hakmu jika kamu memintanya se-karang," gugup Danisha saat Saka melepaskan ciumannya.


Tatapan sayu dan kilatan hasrat di mata Saka cukup membuat Danisha mengerti. Ia menangkup wajah Saka, lalu mengecup sekilas bibir suaminya. Tanpa berkata-kata, Saka pun menggendong tubuh Danisha menuju ranjang untuk melepaskan kerinduan dan hasrat terpendam mereka setelah sekian lama terabaikan.


*******


Danisha membereskan meja makan setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka berdua. Weekend kali ini, kedua orang tua Saka sedang tidak berada di rumah. Pak Rahmat dan Bu Dinda sedang berada di luar kota untuk keperluan bisnis.


"Udah, Mbak. Biar Bibi yang cuci semuanya. Kata Mas Saka tadi, Mas sama Mbak mau pergi," ujar Bibi.


"Pergi? Mau kemana, Bi? Kok Saka ga bilang sama aku, ya?" tanya Danisha bingung.


"Bibi, ih! Ga bisa pegang rahasia, deh!" Saka tiba-tiba muncul di samping Danisha dan memelek erat pinggang istrinya.


Danisha mengerutkan dahinya. Memandang Bibi dan Saka bergantian.


"Kok ada rahasia? Rahasia apa?" cecar Danisha.


"Ada, deh! Yuk, siap-siap! Biar ga terlalu siang," sahut Saka, mengulum senyuman. Tangannya menggamit jemari Danisha dan mengajaknya pergi dari dapur.


"Eh! Emang mau kemana?" seru Danisha penuh tanya pada Saka yang terus menggandengnya berjalan ke kamar.


Bibi tersenyum menyaksikan kedua majikannya yang semakin hari semakin mesra.

__ADS_1


Di dalam kamar, Saka mengganti pakaiannya. Danisha masih berdiam diri duduk di tepi ranjang, masih tidak paham dengan yang dikatakan Saka.


"Bee, kok malah bengong di situ? Ayo, Sayang!" ucap Saka mendekat pada Danisha.


"Bilang dulu mau kemana?" cecar Danisha, berbicara dengan serius.


"Nanti juga tau, Bee," jawab Saka santai.


Danisha menatap lekat kedua manik hitam Saka. "Ga aneh-aneh, kan?"


Saka menggeleng.


"Ga ngerjain, kan?"


Saka menggeleng lagi.


"Ga bikin jantungan, kan?"


"Uummm ... Namanya surprise, sih! Bisa bikin jantungan ga, ya?" jawab Saka sembari menggigit bibir bawahnya dengan tangan bersedekap.


"Tuh, kan ... Ga, ah! Ga mau!" tolak Danisha.


"Ayo dong, Bee ... Dijamin kamu suka, hm?" rayu Saka mendekat pada Danisha. Posisi mereka pun tanpa jarak. Kening Danisha pun menjadi sasaran bibir Saka.


"Bilang dulu kemana?" rengek Danisha.


Ampun, Tuhan! Istriku menggemaskan banget kalau lagi begini! Gerutu Saka dalam hati.


"Kita pergi belanja dulu, setelah itu aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Aku ingin menyenangkan dan membahagiakan istriku yang super hebat ini," tutur Saka, tangannya mencubit gemas hidung mancung Danisha.


"Ga bohong, kan?" selidik Danisha.


Saka terkekeh. "Pasti ga, dong!" Ditatapnya wajah ayu di hadapannya dengan senyum terbaik yang ia punya.


"Ok! Tapi kalau bohong atau ngerjain aku, awas!" ancam Danisha dengan mata melebar dan tangan mengepal ke arah Saka.


Saka kembali terkekeh lucu melihat wajah Danisha saat mengancamnya.


Kedua tangannya tiba-tiba memeluk Danisha dari belakang.


"Bidadariku ... My beautiful angel. I love you," bisik Saka di telinga Danisha penuh cinta.


Danisha tersenyum malu. Wajahnya seketika merona.


"Makasih, Sayang! I love you, too," balas Danisha, mengusap wajah Saka penuh kelembutan dan cinta.


Saka tersenyum bahagia. "Udah siap? Kita berangkat sekarang, Nyonya!" ujar Saka sembari berdiri tegak dengan memberikan lengannya pada Danisha, meminta kekasih halalnya itu untuk mengalungkan tangan pada lengan kokohnya.


Danisha pun tersenyum dan segera bergelayut manja pada lengan kokoh suaminya. Keduanya pun segera beranjak dari kamar. Sebelum benar-benar pergi ke luar rumah, keduanya pun berpamitan pada Bibi dan beberapa asisten rumah tangga di rumah Saka.


******


Saka membawa Danisha ke supermarket untuk berbelanja semua kebutuhan rumah tangga termasuk segala jenis bahan makanan. Danisha dibuat heran dengan apa yang dilakukan Saka. Pagi tadi, ia melihat di dapur persediaan kebutuhan bahan makanan masih banyak. Lalu, untuk apa sekarang membeli begitu banyak bahan makanan?


"Mas, ini bahan makanan banyak banget buat apa?" tanya Danisha saat mereka sedang mengantre di meja kasir.


"Buat di rumah," sahut Saka singkat.


"Tapi di rumah tadi persediaan masih banyak, lho. Bukannya sebelum pergi kemarin Mama udah belanja banyak, ya?" celetuk Danisha menatap Saka penuh tanya.


Saka tersenyum simpul. "Ga apa-apa," ucapnya lagi.


"Trus itu tadi ada taplak meja, vas bunga, dan lain-lain buat apa?" cecar Danisha lagi.


Saka benar-benar gemas dengan Danisha yang banyak sekali berbicara hari ini. Ia hanya tersenyum membalas pertanyaan istrinya itu.


"Kok senyum doang ...? Ish!" gerutu Danisha sembari merengut.


Saka mencubit kecil pipi Danisha dengan gemas. Danisha mengaduh dan semakin merengut.


Setelah semua belanjaan dibayar, mereka bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, Danisha dibuat semakin bingung. Pasalnya, Saka melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dengan rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Eh! Kita mau kemana?" Dahi Danisha mengernyit.


Saka diam, fokus pada kemudinya. Namun ia terkekeh di dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, mobil Saka memasuki sebuah komplek perumahan yang cukup mewah. Danisha semakin dibuat bingung.


"Mas, seriously, tell me where are we now?" Danisha menekankan pertanyaannya, ia benar-benar penasaran.


Mobil Saka berhenti tepat di sebuah rumah minimalis dua lantai dengan pagar kayu yang terlihat mewah dan ... Elegan!



Saka tersenyum semringah. Namun tidak demikian dengan Danisha. Wanita itu terlihat bingung dan menyimpan tanda tanya besar.


"Sayang, ini rumah siapa?" tanyanya sekali lagi dengan raut yang benar-benar bingung.


"Yuk, turun dulu, Bee!" ajak Saka. Masih dengan senyuman semringah, ia pun keluar dari mobilnya.


Danisha pun telah keluar dari mobil. Menatap lekat rumah yang didominasi warna putih di hadapannya.


Tiba-tiba pagar rumah itu terbuka dan muncullah seorang pria paruh baya yang mempersilahkan mereka masuk.


"Pak Bondan, terima kasih," ucap Saka. Ia pun menggandeng mesra tangan Danisha dan berjalan memasuki rumah itu.


Pak Bondan tersenyum dan sedikit menunduk. Danisha pun balas tersenyum pada pria paruh baya yang dipanggil Pak Bondan.


"Welcome here, My Sweet Girl. Welcome home!" cetus Saka sembari mencium jemari Danisha dan berakhir di kening wanita kekasih halalnya.


Danisha bergeming, berdiri di tempatnya. Di teras rumah elegan itu. Masih dengan raut kebingungannya.


"Home? Wait! Rumah siapa ini, Mas?" cecarnya lagi.


Saka menghela panjang napasnya sebelum ia berkata. Digenggamnya kedua jemari tangan Danisha.


"Sayang, selamat datang di rumah kita. This is for you. This is yours, Bee. Maaf, hanya ini yang baru bisa kuberikan untukmu. Semoga kamu senang. Semoga kamu suka," terang Saka menatap penuh cinta istrinya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


Danisha tertegun menatap lekat kedua mata teduh Saka. Tidak salah dengarkah dirinya? Rumah kita? Lalu pandangannya beralih pada sekeliling teras rumah.


"Masuk, yuk! Kamu bisa lihat interior dan dekorasinya di dalam bila ingin tahu detilnya," ajak Saka, menautkan jemarinya pada jemari Danisha lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Danisha pun mengikuti, tetapi ia masih bergeming. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kalau kamu ga suka dengan interior ataupun dekorasinya, kamu bebas mengubahnya sesuai keinginan kamu, Sayang," imbuh Saka, masih dengan senyum terbaiknya.


Danisha masih tertegun menatap ruangan dalam rumah itu. Tertegun karena takjub. Tertegun karena interior dan dekorasi rumah itu sederhana tetapi terkesan sangat nyaman sekaligus elegan. Di dinding ruang tamu terpajang foto Saka dengan jubah toga saat wisuda kelulusan seminggu yang lalu. Di sisi lain ruang tamu, juga terpajang foto dirinya dan Saka dengan moment yang sama, pada saat acara wisuda kelulusan suaminya. Senyum pun mengembang di bibirnya, membingkai wajah berlesung pipinya.


"Kamu suka, Bee?" tanya Saka yang melihat senyum membingkai wajah ayu Danisha.


Danisha mengangguk.


"So?" tanyanya kemudian.


Saka mengernyit. "So what, Bee?" tanya balik Saka.


"Y-yaaa ... Rumah ini?" Danisha menatap Saka dengan raut serius.


"Sayangku, Istriku yang super cantik dan super hebat ... Rumah ini milikmu. It's yours!" tegas Saka dengan kedua tangan menangkup wajah menggemaskan istrinya.


"Hah?" Danisha terkesiap. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kamu bikin gemas deh, Bee!" celetuk Saka, tangannya pun langsung mencubit gemas hidung Danisha. Wanita berlesung pipi itu pun mengaduh, dada bidang suaminya pun segera menjadi sasaran pukulannya.


Saka tertawa terbahak dengan sikap istrinya. Lalu, direngkuhnya tubuh Danisha ke dalam dekapannya erat.


"Hari ini kita menginap di sini, ya. Aku ingin kamu yang mengatur tata letak dan dekorasi rumah ini, Sayang," cetus Saka.


Danisha menautkan kedua alis hitamnya. "Semua udah sempurna, Sayang. Ga perlu lagi diubah. Aku menyukainya. Kamu yang mendesain?"


Saka mengangguk dan tersenyum lebar.


"Makasih, Suamiku. Makasih, Sayang. Aku ga menyangka dengan semua ini. Kebahagiaan yang kamu berikan untukku tak pernah berhenti. Hidupku sangat sempurna bersamamu di sisiku. Sedetik pun, tidak ada kebahagiaan yang terlewatkan." Danisha berkata dengan kepala mendongak untuk menatap lelaki terhebatnya, sementara Saka tetap memeluk tubuhnya erat, menahannya agar tidak terjatuh.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2