Love On The Air

Love On The Air
Eps 84 Membuka Mata


__ADS_3

**Happy reading LOTA Lovers 🤗😘💞**


" Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit. "


- Ali Bin Abi Thalib -


Saka bernapas lega saat ketiga dosen penguji di hadapannya mengakhiri sidang skripsinya. Meskipun ia merasa sedikit tegang menunggu hasil dari sidang ujian skripsinya. Namun, ia yakin bahwa ia telah melakukan yang terbaik saat presentasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para dosen penguji.


Pak Renaldi, dosen pembimbingnya tersenyum pada Saka.


" Baiklah, saudara Saka. Saatnya bagi kami bertiga untuk berdiskusi. Silahkan keluar dulu. Kami akan memanggil anda kembali untuk menyampaikan hasil ujian skripsi anda, " ucap Pak Renaldi.


" Baik, Pak. Terima kasih. " Saka beranjak dari duduknya, membereskan laptop dan beberapa berkas skripsinya. Kemudian ia menjabat tangan satu per satu dosen pengujinya sebelum meninggalkan ruangan sidang.


Prasta dan Distha yang sedang berbincang di luar ruangan sidang, segera berdiri menghampiri Saka yang baru saja menutup pintu saat keluar ruangan itu.


Saka tersenyum menatap kedua sahabatnya, sementara salah satu tangannya berusaha mengambil ponsel di saku celananya yang sedari tadi ia pasang mode silent selama di dalam ruang sidang.


" Gimana, Bro ? " tanya Prasta penasaran.


" By the way, kok cepat, sih ? Sejam doang ? " tanya Distha heran.


" Nah, bener, Sist ! Si Yudha kemarin satu jam lebih, kan ? " sahut Prasta.


Saka mengedikkan bahu menatap kedua sahabatnya setelah mengganti ponselnya ke mode dering.


" Sebentar, aku mau telepon Bunda, " sela Saka.


Prasta dan Distha pun mendudukkan pantatnya di bangku yang tersedia di luar ruangan dimana Saka sidang skripsi.


" Assalamualaikum, Bunda ! "


" Waalaikumsalam. Ka, udah selesai sidangnya ? Gimana hasilnya ? "


" Udah, Bun. Masih nunggu hasilnya. Danish gimana, Bun ? "


" Ka, Danish semakin baik kata Dokter Aldi. Perkembangannya semakin bagus. Tadi tangan dan kakinya bergerak lebih sering dan semakin kuat. Semoga dia segera tersadar dari komanya. "


Wajah Saka terlihat semringah.


" Alhamdulillah ! Semoga Allah segera menjawab doa-doa kita, ya, Bun. "


" Aamiin ya rabbal alamiin... Semoga kamu juga lulus dengan nilai yang sangat membanggakan, Ka. "


" Aamiin ya rabbal alamiin... Insya Allah, Bunda ! Tolong kabari Saka apa pun perkembangan Danish. Saka permisi dulu, mau masuk ruang sidang lagi. Minta doanya, ya, Bun. Assalamualaikum. "


Panggilan berakhir setelah beberapa saat Saka mengucap salam.


Pada saat yang bersamaan, Mbak Dila, karyawan bagian administrasi fakultasnya muncul dari balik pintu ruang sidang dan memintanya untuk masuk kembali menemui ketiga dosen pengujinya.


Ini saatnya. Bismillah, berikan yang terbaik untuk hasil kerja keras hamba, ya, Allah.


Batin Saka merapalkan doa agar diberikan yang terbaik untuk ujian skripsinya.


Saka menatap kedua sahabatnya yang masih setia menemani dan menunggunya. Prasta dan Distha tersenyum, lalu mengangguk pada lelaki yang kini wajahnya terlihat tirus dan lelah. Anggukan keduanya meyakinkan Saka bahwa semua akan berjalan mudah dan lancar. Ia akan mendapatkan hasil terbaiknya.


Saka balas tersenyum pada kedua sahabatnya, kemudian melenggangkan kakinya masuk ke ruang sidang diikuti oleh Mbak Dila.


" Sukses, ya, Ka, " ucap Mbak Dila dengan seulas senyum di bibirnya sebelum Saka mengetuk pintu ruangan tempat ketiga dosen penguji itu menunggunya.


" Makasih, Mbak ! " sahut Saka tersenyum tipis.


Suara Pak Renaldi menyuruhnya masuk beberapa saat setelah Saka mengetuk pintu ruangan itu. Saka pun membuka pintu dan melangkah masuk ke ruangan itu dengan penuh keyakinan. Tidak bisa dibohongi, suasana hati Saka saat ini sedang baik. Kabar baik perkembangan kondisi Danisha dari Bunda tadi, membuatnya senang dan bersemangat.


********


Prasta menghisap benda bernikotin di tangannya dengan sesekali menengok ke arah pintu ruangan dimana Saka sedang menanti keputusan dan penilaian dari dosen pengujinya. Sementara Distha sedang menerima telepon dari kekasihnya, Dokter Ardhy.


Distha menghampiri Prasta setelah selesai berbicara via ponsel dengan kekasihnya. Wajahnya terlihat berbinar semringah.


" Bang Ardhy kasih kabar, Danish semakin menunjukkan tanda-tanda baik. Pergerakan anggota tubuhnya semakin intens. Semoga ada kabar baik setelah ini, " ujar Distha yang sudah duduk di samping Prasta.


" Alhamdulillah ! Semoga semuanya bisa kembali baik dan normal lagi. Jujur, aku takut, Sist. " Prasta berkata sembari menginjak puntung rokok dengan sepatu hikingnya. Wajahnya tertunduk dengan kedua jemari tangan yang saling bertautan.


Distha menatap sahabat di sampingnya dengan penuh tanya. Kemudian dipegangnya bahu sahabatnya itu dengan pelan.


" Kenapa ? " tanya Distha.


" Entahlah ! " Prasta mengusap wajahnya sambil menghela napas dalam. Lalu jemarinya menyisir rambutnya ke belakang.


Distha menundukkan kepalanya dengan helaan napas pelan.


" Kamu mencemaskan Saka ? " tanya gadis itu kemudian. Sesaat, ia menoleh dan menatap lelaki yang biasanya terlihat cuek dan sedikit konyol itu. Ada gurat kecemasan di wajahnya.


Prasta menganggukkan kepalanya, mengatupkan kedua bibirnya dan helaan napas panjang keluar dari mulutnya.


" Udahlah ! Semua pasti baik-baik aja. Danish pasti sembuh ! " ucapnya optimis dengan senyuman lebar menghias wajah tampannya.


Distha mengulas senyuman di bibirnya.

__ADS_1


" Yup ! Ga boleh sedih, kan ? " cetus Distha bersemangat.


Bersamaan dengan itu, pintu ruangan sidang terbuka. Setengah berlari Saka menghampiri kedua sahabatnya. Wajahnya berbinar dan tersenyum lebar. Tiba-tiba ia memeluk Prasta dengan eratnya.


" I did it ! I did it ! " serunya bahagia sambil memeluk tubuh Prasta. Saka tertawa riang, terlihat sangat bahagia.


Prasta yang terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu, segera menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Demikian pula dengan Distha. Keduanya pun ikut tertawa bahagia. Prasta menepuk-nepuk punggung sahabatnya.


" You did it ! Kamu berhasil, Bro ! Congratz ! " sahut Prasta riang. Sudah lama ia tak mendengar tawa sahabatnya.


Distha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia sangat bahagia hingga tawa itu bercampur dengan isak tangis bahagia.


Perlahan, Saka melepas pelukannya. Ia menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Distha pun menghapus air matanya dan menghampiri sahabatnya itu. Meninju pelan lengannya.


" Congratulation ! Finally, you did it ! " ucap Distha dengan tawa bahagia.


Saka menatap Distha, lalu merangkul bahu kiri gadis itu. Kemudian tangan kanannya merangkul bahu kanan Prasta.


" Thank you ! Makasih buat support nya. Makasih udah jadi teman, sahabat dan saudara. Kalian terbaik, terhebat ! " ucap Saka tulus.


" Saka ! "


Ketiga sahabat itu pun menoleh saat mendengar seseorang memanggil Saka. Tampak dosen pembimbing dan kedua dosen pengujinya berdiri di depan pintu ruangan sidang.


" Pak Renaldi ! " Saka menghampiri dosen pembimbingnya.


" Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih atas bimbingannya. " Saka menjabat tangan sang dosen pembimbing dengan senyuman bahagia di wajahnya.


Pak Renaldi tersenyum lebar menerima jabat tangan mahasiswanya. Pria 40 tahun berkacamata itu sangat puas dengan pencapaian yang diraih oleh salah satu mahasiswa yang dibimbingnya itu. Saka adalah salah satu mahasiswa bimbingannya yang terhitung cerdas dan sangat menguasai materi skripsinya. Ia mampu mengerjakan skripsinya dalam waktu yang cukup singkat. Mungkin karena ia sudah sangat memahami profil dan seluk beluk perusahaan milik orang tuanya yang dijadikan sebagai bahan penelitiannya.


" Selamat, ya, Anak Muda ! Kamu berhasil dengan sangat baik, " balas Pak Renaldi.


" Saya ikut prihatin dengan kondisi istrimu. Semoga Danisha segera sehat kembali dan segera bisa menyelesaikan skripsinya dengan hasil yang sama baiknya denganmu, " ucap Pak Renaldi, menyatakan keprihatinannya dan mendoakan kesembuhan untuk Danisha.


Saka tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih sekali lagi.


" Selamat, Saka. Kami sangat puas dengan kerja kerasmu. Nyaris sempurna. Danisha pasti bangga denganmu. Semoga Danisha segera sehat dan bisa kembali ke kampus segera. " Bu Aning, salah satu dosen pengujinya yang juga dosen pembimbing skripsi Danisha menjabat tangannya dan menyatakan keprihatinan sekaligus mendoakan kesembuhan istrinya.


Pak Dwipa, dosen penguji lainnya pun menjabat tangan Saka dan mengucapkan selamat serta menyatakan ikut prihatin sekaligus mendoakan supaya Danisha segera sehat kembali.


" Terima kasih, Pak Renaldi, Bu Aning dan Pak Dwipa. Terima kasih banyak atas bimbingannya. Terima kasih atas doa-doanya untuk istri saya. Aamiin ya rabbal alamiin.... " ucap Saka dengan sedikit menundukkan kepalanya.


" Bersiaplah untuk wisuda bulan depan, " cetus Pak Renaldi, seulas senyuman ia berikan pada Saka.


" Siap, Pak ! " sahut Saka menganggukkan kepalanya.


" Oh, ya. Setelah ini, siap lanjut S-2 ? " tanya Pak Renaldi kemudian.


" Mungkin nanti, Pak. " Saka tersenyum tipis menjawab pertanyaan dosen pembimbingnya.


" Ya, ya ! Saya paham, " sahut Pak Renaldi sembari tersenyum kecil sebelum kemudian berlalu dari tempat itu diikuti oleh Bu Aning dan Pak Dwipa yang juga ikut tersenyum pada Saka.


Saka balas tersenyum simpul pada ketiga dosen tersebut.


" Selamat ya, Ka ! " ucap Mbak Dila yang ternyata berdiri sejak tadi di belakang para dosen tersebut.


Saka tersenyum simpul pada wanita berhijab yang usianya sedikit lebih tua dari Kak Sandra itu.


" Mbak Dila, makasih, ya ! " ucapnya kemudian.


" Maaf, ya. Aku belum sempat jenguk Danisha. Semoga Danisha lekas sembuh dan sehat kembali, " lirih mbak Dila berkata dengan wajah yang sendu.


Saka tesenyum kecil.


" Aamiin... Makasih, Mbak Dila. Paham kok, Mbak. Santai aja, yang penting doanya. "


Mbak Dila tersenyum menatap Saka.


" Kamu hebat, Ka ! Teruslah berjuang, jangan pernah menyerah, ya ! " kata Mbak Dila menyemangati Saka.


" Ya, Mbak ! Pasti itu ! " jawab Saka yakin.


Prasta dan Distha menghampiri Saka dan Mbak Dila.


" Makasih, Mbak Dila. " Distha menyela obrolan antara Saka dan Mbak Dila.


" Sama-sama, Distha. Baiklah, Mbak permisi dulu, ya. Mau beresin kerjaan dulu, " pamit Mbak Dila.


" Ya, Mbak. Silahkan, sekali lagi makasih, " sahut Saka.


Mbak Dila mengangguk lalu beranjak meninggalkan ketiga sahabat itu.


" Heran, deh ! Saka mau-maunya, ya, nikah sama cewek penyakitan gitu ! " suara seorang gadis terdengar kesal.


" Yaaa... Kubilang cuma karena kasihan, sih ! Hallaahh ! Paling juga habis ini dia nyari cewek lain. " Kali ini suara laki-laki yang terdengar lebih kesal.


" Hilih, sok tau ! Kamu hati-hati, Gas ! Pepet terus si Audy, kalau ga mau tuh cewek diambil dia ! " sahut seorang laki-laki yang terdengar mengingatkan temannya.


Distha menyenggol lengan Prasta saat mendengar celotehan dari beberapa mahasiswa yang melintas tak jauh dari tempat mereka saat ini.

__ADS_1


Wajah Saka seketika menegang, telinganya memanas dan kedua tangannya mengepal keras mendengar celotehan dan cibiran mereka. Matanya menatap tajam pada ketiga orang yang mencibirnya tersebut.


Saka melangkahkan kakinya hendak menghampiri ketiga orang itu. Namun baru dua langkah ia berjalan, Prasta memegang bahu Saka untuk menahan agar sahabatnya itu mengabaikan mereka.


" Please, Pras ! Aku ga akan bertindak bodoh. Aku hanya ingin tau alasan mereka bicara seperti itu ! " Saka kembali berjalan cepat, setengah berlari mengejar ketiga orang yang mencibirnya.


Prasta dan Distha setengah berlari mengikuti Saka. Keduanya khawatir, Saka akan bertindak bodoh.


" Hai, kalian ! " seru Saka saat dirinya berada empat langkah di belakang ketiga orang itu.


Sontak ketiga orang mahasiswa itu berhenti dan menoleh ke belakang. Ketiganya terkejut mendapati orang yang mereka bicarakan sedang menatap tajam ke arah mereka.


" Kamu, Bagas, kan ? Teman Audy ? " Saka berjalan mendekat dan menatap tajam seseorang yang dipanggilnya Bagas.


" Ya ! Kenapa ? " Bagas pun maju satu langkah sembari menatap kedua mata tajam milik Saka.


" Maksud kamu apa, sih ?! " cecar Saka, masih dengan tatapan tajamnya.


" Apa, emang ?! " tantang Bagas.


" Tadi aku dengar kalian bertiga ngomongin aku dan Danisha. Aku juga dengar kalian menyebut nama Audy. Jadi sebenarnya maksudnya apa dan mau kalian apa ? " cecar Saka lagi.


" Ga ada ! Suka-suka kita, dong ! " sahut Bagas enteng.


Saka menghela napas kasar, kakinya berjalan satu langkah mendekati Bagas.


" Aku dan Danisha ga pernah berurusan dengan kalian sebelumnya. Jadi urus aja diri kalian sendiri, ga usah ngurusin orang lain. Apalagi mengatakan yang tidak-tidak tentang kami. Kamu laki-laki. Jaga bicara kamu, jangan suka bergosip ! Lelaki sejati itu tak akan habiskan waktunya untuk mencari wanita lain. Maaf, aku terlalu sibuk mencari cara untuk terus bisa lebih mencintai wanita yang kucintai ! "


Sesaat kemudian tatapan tajam Saka beralih pada gadis yang berada di belakang Bagas.


" Dan kamu ! Jaga juga bicara kamu ! Kamu


perempuan. Bisa-bisanya ya, menjelekkan dan menghina sesama perempuan ! Coba pikir kalau ternyata setelah ini kamu yang penyakitan ! Kamu mau tau, kenapa aku mau nikah sama Danisha ? Karena aku mencintainya ! Dan laki-laki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, karena kata cinta itu menuntut tanggung jawab ! " tutur Saka kesal, membuat gadis itu seketika tertunduk malu.


" Lalu kamu ! Aku bukan laki-laki yang suka mempermainkan perempuan ! Ga bakalan aku pergi dan meninggalkan Danisha. Satu lagi ! Aku dan Audy tidak ada hubungan apa pun. Camkan itu ! " Kedua mata Saka menatap tajam pada teman laki-laki Bagas yang berdiri di belakang Bagas, tepat di samping teman perempuannya.


Saka berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Bagas dan kedua orang temannya dengan perasaan geram dan kesal. Prasta dan Distha bernapas lega melihat akhir dari kejadian di depan mata mereka.


Sementara Bagas mendengus kesal. Ia hanya ingin menumpahkan perasaan kesalnya karena beberapa kali cintanya ditolak oleh Audy. Gadis itu mencintai Saka. Walaupun Saka sudah menikah dengan Danisha, hatinya masih sulit untuk berpaling pada laki-laki lain. Hal itu yang membuatnya juga kesal pada Saka. Laki-laki yang menjadi rivalnya itu seolah memiliki sejuta pesona di mata Audy dan bahkan mungkin di mata gadis-gadis kampus lainnya dibanding dengan dirinya.


*******


Saka dan Prasta berlarian menyusuri koridor rumah sakit. Di perjalanan tadi, Dokter Ardhy memberi kabar bahwa Danisha telah tersadar dan membuka matanya. Dan saat ini tim medis Dokter Aldi sedang melakukan medical check up menyeluruh pada Danisha. Kondisi Danisha masih dalam pantauan Dokter Aldi dan timnya yang intens. Saat tersadar, Danisha hanya membuka kedua matanya tanpa mengeluarkan suara. Gerakan kedua kelopak dan pupil matanya juga terbatas. Saat ini Danisha harus diisolasi. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan masuk ke ruangan ICU selain tim dokter dan perawat. Untuk saat ini, Dokter Aldi ditemani oleh Dokter Spesialis Mata yang akan memeriksa secara intens kondisi saraf mata Danisha.


" Bunda ! "


Dengan napas yang tersengal Saka memanggil Bunda yang terlihat cemas berdiri sendiri di luar ruangan ICU.


Bunda membalikkan badannya dan langsung menubruk tubuh Saka untuk dipeluknya. Beruntung Saka sigap sehingga ia tidak sampai terjatuh saat tubuh Bunda memeluknya dengan tiba-tiba.


" Ka, Danish ! " Bunda menangis dalam pelukan menantunya.


Masih dengan napas yang tersengal akibat berlari dari tempat parkir rumah sakit, Saka berusaha mengatur napasnya dan menenangkan debaran jantungnya. Pandangan matanya tertuju pada jendela kaca kamar Danisha. Para tim medis termasuk Dokter Aldi terlihat sedang memeriksa kondisi Danisha.


" Bunda tenang, ya. Semua akan baik-baik aja. " Saka berusaha menenangkan ibu mertuanya.


Prasta duduk di bangku ruangan itu. Ia mengusap kasar wajahnya. Sebentar kemudian ia berdiri. Menatap jendela kaca di hadapannya. Di dalam sana, nampak tim dokter dan perawat sedang memeriksa kondisi Danisha.


Dengan perlahan, Saka melepas pelukan Bunda dan menuntunnya untuk duduk. Prasta pun mengikuti mereka, duduk di samping Bunda.


" Bunda, semua akan baik-baik aja, " ucap Saka pelan dengan seulas senyum di bibirnya.


Bunda menganggukkan kepala disertai senyuman kecil di wajahnya yang tampak lelah karena kurangnya istirahat.


Pintu ruangan ICU terbuka. Ketiganya berdiri. Saka segera menghampiri Dokter Aldi. Diikuti Bunda dan Prasta.


Dokter Aldi tersenyum menatap Saka.


" Alhamdulillah, kondisi Danisha baik, sudah stabil. Ia sudah bisa membuka matanya, " terang Dokter Aldi.


" Apa kondisi matanya baik-baik saja, Dok ? " tanya Saka.


" Baik, Ka. Semuanya baik. Memang belum semuanya kembali normal. Perlu proses pemulihan untuk bisa kembali normal. Perlu kesabaran, " jelas Dokter Aldi, menepuk bahu Saka.


" Alhamdulillah... Bunda, dengar, kan. Danish baik-baik aja, " ujar Saka sembari merangkul bahu Bunda.


Bunda menganggukkan kepala, senyuman bahagia terpancar dari wajah lelahnya.


Prasta menepuk bahu Saka dengan senyum semringah.


" Baiklah, saya permisi. Untuk malam ini, biarkan Danisha istirahat. Kita lihat perkembangannya besok pagi. "


" Terima kasih, Dokter, " ucap Saka sebelum Dokter Aldi beranjak pergi.


Saka berjalan mendekat pada jendela kaca untuk melihat Danisha.


Sayang, aku udah lakukan apa yang kamu inginkan. Sidang skripsiku lancar. Bulan depan aku wisuda. Baik-baiklah, Bee. Segeralah sehat kembali untuk menemaniku wisuda. Menemaniku seperti hari-hari yang lalu. Aku ingin menikmati perjalanan waktu bersamamu. Selamanya bersamamu, Bee. Selamanya aku mencintaimu.


Tbc

__ADS_1




__ADS_2