
**Hai LOTA Lovers, maaf sebelumnya eps ini mengandung 18++. Semoga LOTA Lovers bijak dalam memilih bahan bacaan π€ππ**
*******
Danisha menatap Saka dengan menautkan kedua alis cantiknya.
Terdengar suara pembawa acara yang meminta mempelai untuk berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu undangan dan berfoto bersama.
Danisha dan Saka pun berdiri, demikian pula dengan kedua orang tua mereka.
" Kamu masih punya hutang penjelasan, ya, Mas. Apa maksud perkataan kamu tadi, " bisik Danisha.
" Oh, tentu ! Nanti selesai acara di sini, kita punya acara sendiri di kamar. Aku jelasin nanti, " bisik Saka sembari mengedipkan matanya.
" Ish ! Kamu kok genit sih, sekarang ! " sungut Danisha lirih.
Saka terkikik geli menahan tawanya.
Selanjutnya mereka menerima ucapan selamat dari satu per satu tamu sekalian berfoto bersama.
Fotografer untuk acara resepsi mereka adalah teman lama Kak Sandra yang datang dari Bandung. Mereka adalah Mas Dewo dan Abim. Harusnya mereka datang bertiga dengan Mbak Lintang. Namun, karena Mbak Lintang sedang hamil, akhirnya yang datang hanya mereka berdua. Hasil jepretan mereka tidak perlu diragukan lagi. Mereka fotografer dari salah satu WO yang cukup ternama di Bandung.
Sementara itu, Prasta melihat Renata datang berdua dengan Bian. Mereka sedang berbaris menunggu giliran untuk mengucapkan selamat pada mempelai. Prasta tak bisa lepas pandangan dari Renata. Gadis yang masih dicintainya. Terlihat cantik dengan gaun yang dipakainya. Andai saja waktu itu... Ah, sudahlah ! Ga ada yang perlu disesali.
Sekilas Prasta melihat Bang Hendra bersama beberapa orang temannya dari Radio DG FM. Ia pun menghampiri mereka.
" Bang ! " sapanya pada Bang Hendra yang juga sedang berbaris menuju pelaminan.
" Wooiii, Bro ! Bebas tugas, nih ? " canda Bang Hendra.
" Kita bagian back up sih, Bang ! So, harus selalu siap kalau dibutuhkan ! " sahut Prasta sedikit terkekeh menanggapi candaan Bang Hendra.
" Apalagi status jomblo kek kita, ya ! " timpal Bang Hendra.
Keduanya pun tertawa terbahak diikuti oleh Yogi, Andika dan Tomi.
Tanpa sadar, pandangan Prasta tertuju pada Renata. Hatinya terasa teriris, perih. Melihat gadis itu digandeng mesra oleh lelaki bernama Bian.
Bang Hendra menyadari sikap Prasta. Lalu ia menepuk bahu lelaki itu, tersenyum tipis padanya.
" Udah... move on, Bro ! Ga usah diingat lagi masa lalu. Hidup terus berjalan. Aku paham apa yang kamu rasakan, " tutur Bang Hendra.
Prasta tertunduk dengan senyum getirnya. Lalu menganggukkan kepalanya.
" Thanks, Bang ! " ucapnya kemudian.
Sedetik kemudian, Kak Sandra melambaikan tangan memberi kode pada Prasta untuk melakukan tugasnya, memotret. Prasta pun memberikan kode balasan.
" Sorry, aku tinggal ya, Bang. Enjoy ! " cetus Prasta dengan seulas senyuman.
Pada saat yang sama, Audy berjalan naik ke pelaminan bersama seorang temannya.
Danisha memperhatikannya dengan senyuman manis terukir di bibirnya. Ia pun menarik napasnya dalam, ketika dilihatnya Saka tersenyum menatap gadis cantik itu. Audy terlihat cantik dengan balutan kebaya modern yang dipakainya dan rambut yang disanggul modern pula.
" Hai ! Selamat untuk kalian berdua, " ucap Audy dengan seulas senyuman dan memberi pelukan pada Danisha.
" Makasih, Audy. Makasih kedatangannya. Dinikmati ya, hidangannya, " ujar Danisha dengan senyum tulusnya.
Audy mengangguk, lalu sekilas menatap Saka yang tersenyum padanya. Kemudian ia bergegas pergi dari pelaminan mereka.
Danisha bisa melihat bagaimana Saka menatap Audy. Tatapan matanya terlihat mengagumi gadis itu. Danisha tersenyum tipis, ia tepiskan berbagai perasaan buruk di hatinya.
" Pak El dan Bu Luna, selamat datang dan terima kasih atas kehadirannya di sini. Terima kasih banyak, " Pak Rahmat mengucapkan terima kasih pada pria yang dipanggilnya Pak El dan wanita cantik yang bersamanya.
" Sama-sama, Pak Rahmat. Kebetulan sekali saya ada keperluan di Surabaya, jadi sekalian hadir di sini. Selamat atas pernikahan putranya. Doakan saya segera menyusul Bapak mengadakan pesta pernikahan untuk putri saya, " ucap pria itu. Sementara wanita yang bersamanya tersenyum sumringah, terlihat sangat cantik dan anggun.
" Oh ya ? Zea, kan, putri Pak El dan Bu Luna ? " celetuk Bu Dinda dengan raut sedikit terkejut.
" Benar, Bu, " sahut wanita cantik bernama Luna tersebut.
" Seingat saya, usianya sama dengan Saka, ya ? " tanya Bu Dinda lagi.
" Ah, iya, benar ! Mereka seumuran. Sayang sekali, Zea ga bisa ikut hadir di sini, " jawab Pak El.
" Saka, ini Pak El. Beliau pemilik Diamond Group dari Jakarta. Masih ingat tidak ? " tanya Pak Rahmat pada Saka.
Saka pun langsung tersenyum dan bersalaman dengan Pak El, relasi bisnis Papanya. Sementara dengan istrinya, Saka sedikit mengangguk dan memberikan senyuman. Lalu diperkenalkannya Danisha pada tamu kehormatan sang Papa.
" Selamat, Saka dan Danisha. Semoga langgeng, sampai maut memisahkan, " ucap Bu Luna pada mereka dengan seulas senyum di wajah cantiknya.
" Aamiin... Terima kasih Bu Luna, Pak El, " jawab Danisha menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
" Silahkan menikmati hidangan yang ada, Pak El dan Bu Luna. " Bu Dinda dan Pak Rahmat mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
" Terima kasih, " ucap Pak El dan Bu Luna singkat sembari menangkupkan kedua tangannya. Lalu, mereka pun berfoto bersama sebelum relasi Pak Rahmat dari Jakarta tersebut meninggalkan pelaminan.
********
Acara masih berlangsung dengan suasana santai. Para tamu menikmati hidangan dan live music yang disediakan di acara tersebut.
Kali ini, para kru Radio DG FM sedang berbondong-bondong ke pelaminan untuk berfoto bersama. Distha dan Prasta juga ikut meramaikan kehebohan teman kerja Danisha, kecuali Renata.
Bian melarang gadis itu untuk bergabung bersama mereka. Renata tidak ingin ada masalah timbul di acara tersebut hanya karena ia tidak menuruti keinginan Bian. Karenanya apapun yang dikatakan lelaki itu, akan ia ikuti semua keinginannya untuk menghindari masalah yang timbul.
Renata hanya tersenyum getir menyaksikan kebersamaan teman-teman kerjanya. Pandangannya tertuju pada Prasta yang juga menatapnya. Lelaki itu terlihat semakin tampan di matanya, walaupun memang terlihat lebih kurus.
Dokter Ardhy tampak berbincang dengan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Distha. Mereka terlihat sudah semakin akrab sejak bertemu di acara akad nikah di rumah Danisha. Hubungan mereka sepertinya akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
Kedua orang tua Saka dan Danisha telah berbaur dengan para tamu undangan, tidak lagi duduk di pelaminan bersama mempelai. Pak Rahmat dan Bu Dinda menyapa para relasi dan teman mereka yang hadir sembari menikmati hidangan yang tersedia.
" Selamat buat kalian, ya. Samawa, sampai maut memisahkan, " ucap Bang Hendra sembari memeluk Saka.
" Thank you, Bang, " jawab Saka.
" Tolong jaga Danisha. Buat dia bahagia, " bisik Bang Hendra lirih di telinga Saka.
Saka menganggukkan kepalanya yakin.
" Insya Allah, Bang ! " sahutnya tegas.
" Kalian ngomongin aku, ya. Pakai bisik-bisik segala. Kek ibu-ibu yang suka bergosip, deh ! " celetuk Danisha dengan wajah merengut.
" Wah, Bang. Gawat kalau nyonya merengut kek gini ! Bisa-bisa ga jadi nanti ! " gerutu Saka, berbisik di telinga Bang Hendra.
Bang Hendra terkekeh sembari berucap, " Deritamu, Ka ! Emang gue pikirin ! "
Masih tertawa terbahak, Bang Hendra pun turun dari pelaminan dan bergabung dengan teman-temannya yang lain menikmati hidangan yang ada.
Saka mendengus pelan mendengar ucapan Bang Hendra. Lalu, ia menggenggam tangan Danisha. Tersenyum menatap wajah ayu yang selalu membuatnya jatuh cinta.
" Bang Hendra berbisik padaku untuk selalu jaga kamu dan membuatmu bahagia, Sayang, " terang Saka pada Danisha.
__ADS_1
Danisha menatap Saka lekat.
" Begitu banyak yang menyayangi kamu, Bee. Kamu tau, aku cemburu. Bang Hendra sebegitu perhatian sama kamu. Yogi, Andika. Tomi pun begitu. Semua laki-laki di tempat kerja kamu sangat perhatian sama kamu. Ucapan mereka seolah mengancamku, jika aku tidak menjagamu dengan baik, terlebih jika sampai kamu tidak bahagia. Maka aku akan berhadapan dengan mereka. Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Bee, " ungkap Saka lebih lanjut. Jemari tangannya semakin erat menggenggam jemari milik Danisha, istrinya. Matanya teduh dan sayu.
Tatapan Danisha semakin intens pada Saka. Ia tersenyum bahagia. Banyak orang menyayanginya. Ya, ia tahu itu.
" Uummm... Boleh aku bernyanyi di sana ? " tanya Danisha ragu.
" Hah ? Maksud kamu, nyanyi dengan live music di sana ? " tanya balik Saka, tangannya menunjuk ke tempat live music berada, di sudut halaman rumahnya.
Danisha mengangguk dengan seulas senyuman dan lesung pipinya.
" Tapi temani, ya, " ujarnya kemudian.
Saka menatap lekat istrinya sebelum kemudian mengangguk dengan senyuman manisnya.
Sepasang pengantin itu pun beranjak dari pelaminan menuju tempat live music berada. Semua mata menatap pada mereka berdua. Keduanya berjalan beriringan dengan mesra, dengan tangan yang saling bertautan tak ingin terpisahkan.
Danisha berbisik di telinga Saka, lalu suaminya itu berbisik pada si pembawa acara dan pemain musik yang ada di sana.
Tak lama, sebuah musik pun dilantunkan. Semua yang hadir di tempat itu pun bertepuk tangan riuh.
Danisha sudah membawa sebuah mikrofon di tangannya siap untuk bernyanyi. Tangannya masih tak lepas dari tangan suaminya.
πΆπΆπΆ
Aku 'tak pernah meminta
Sosok pendamping sempurna
Cukup dia yang selalu
Sabar menemani dalam kekuranganku
Namun Tuhan menghadirkan
Kamu lelaki terhebat
Kuat 'tak pernah mengeluh
Bahagiaku selalu bersamamu
Andai ada keajaiban
Ingin 'ku ukirkan
Namamu di atas bintang-bintang angkasa
Agar semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya kamu milikku...
Danisha menatap Saka dengan mata berkaca-kaca, ia begitu meresapi lagu itu. Saka bisa merasakan kekuatan lirik lagu itu sebagai curahan hati sang istri.
πΆπΆ
Kini telah 'ku buktikan
Kamu pendamping setia
Kuat 'tak pernah mengeluh
Suara Danisha mulai bergetar.
Di bait refrain berikutnya, Danisha bernyanyi dengan suara yang benar-benar bergetar. Air matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi.
πΆπΆ
Andai ada keajaiban
Ingin 'ku ukirkan
Namamu di atas bintang-bintang angkasa
Agar semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya kamu milikku...
Danisha menangis dan memeluk Saka erat, menenggelamkan wajahnya yang berderai air mata di bahu suaminya.
Saka membalas pelukan istrinya dengan senyum tipisnya, mengusap lembut punggung dan kepala istrinya. Ia sendiri tak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Hanya memberi kecupan pada kepala dan pelipis istrinya penuh cinta dan sayang.
Semua yang hadir di tempat itu dibuat terdiam dan terharu. Bahkan, Bang Hendra tak mampu melihat mereka berdua. Ia memilih untuk menjauh dari tempat itu. Ia pergi dari area acara resepsi. Ia tahu betul bagaimana perasaan Danisha saat ini.
Dokter Ardhy tertunduk membisu. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam kantong celananya. Distha yang berada di sampingnya menautkan tangannya pada lengan dokter muda itu dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasih dokternya yang tertunduk diam. Distha juga ikut terisak.
Musik masih terus mengalunkan nada lagu yang mendayu. Danisha masih saja menangis dan memeluk suaminya. Ia tak peduli pakaian suaminya basah oleh air matanya. Ia ingin berteriak mengatakan bahwa saat ini, ia sekarat. Namun, ia tak mampu melakukannya. Tak ingin merusak acara bahagia tersebut.
Tiba-tiba Saka meminta mikrofon pada pembawa acara. Masih memeluk erat istrinya, ia melanjutkan menyanyikan lagu itu.
πΆπΆ
Andai ada keajaiban
Ingin 'ku ukirkan
Namamu di atas bintang-bintang angkasa
Agar semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya kamu milikku...
Danisha mengurai pelukannya. Mengusap air mata di pipinya. Dengan penuh cinta, Saka mencium kening dan kedua kelopak mata istrinya. Tangannya mengusap kedua pipi istrinya yang basah.
Senyum terukir di bibir Danisha, ia pun kembali mengangkat mikrofonnya dan melanjutkan bernyanyi walaupun masih dengan sedikit terisak. Kali ini berduet dengan Saka yang memeluk pinggangnya erat dan sesekali memberikan kecupan mesra di pelipis istrinya.
πΆπΆ
Namun 'ku sadari diriku
Takkan mampu selalu
Bahagiakan kamu
Tapi akan 'ku perjuangkan
__ADS_1
Untukmu yang terhebat
Kekasih impian
Andai ada keajaiban (Andai ada keajaiban)
Ingin 'ku ukirkan
Namamu di atas bintang-bintang angkasa
Agar Semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya oohh oohh
S'lama-lamanya kamu milikku... πΆπΆπΆ
Kekasih Impian by Ashira Zamita
" I love you so much, Bee.... " ucap Saka lembut dengan mikrofon di bibirnya ketika selesai bernyanyi.
Danisha menghambur ke pelukan Saka, suaminya. Kedua tangannya erat memeluk pinggang suaminya. Sementara kepalanya ia tenggelamkan ke dada bidang suaminya.
Ia merasa benar-benar bahagia saat ini. Ia ingin menikmati kebahagiaannya, dengan orang-orang yang sangat dicintai dan mencintainya.
Tepuk tangan dari semua orang yang hadir membuatnya malu. Mereka memintanya untuk bernyanyi lagi. Danisha tersipu malu, menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak.
" Terima kasih semuanya. Terima kasih sudah hadir di hari bahagia kami. Kami menyayangi kalian, " ucap Saka kepada seluruh yang hadir saat itu. Ia memeluk pinggang Danisha erat dan kembali memberikan kecupan di kening istri tercintanya.
Tiba-tiba Danisha mengangkat mikrofonnya, lalu ia mulai berbicara di hadapan seluruh tamu yang hadir di acara itu. Masih dengan jemari tangan yang bertautan dan sesekali Saka memberikan kecupan di pipi Danisha dengan lesung pipinya yang dalam.
" Terima kasih kepada suami saya tercinta, yang telah memberikan segala cinta dan sayang yang luar biasa tanpa batas untuk saya. Anda tau ? Lelaki di samping saya ini adalah teman dalam segala hal. Dia, lelaki yang luar biasa hebat, dia suami sempurna saya. Imam dan Surga saya. I'm in the pink of you, Mr. Saka Abimanyu. I love you 'till death do us apart, " ungkap Danisha dengan suara bergetar karena isakan kecilnya. Isakan bahagia, kalimatnya penuh keyakinan serta cinta dan sayang yang teramat sangat. Tatapan matanya sendu menatap manik hitam milik Saka, suaminya.
Saka merengkuh tubuh Danisha, istrinya, ke dalam dekapan hangatnya. Ia tak bisa lagi menahan semua rasa yang ada di hatinya. Dikecupnya kening istrinya lama. Bibirnya berkali-kali mengucapkan ungkapan cinta kepada istrinya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bahagianya membuncah. Ingin rasanya ia membawa pergi istrinya dari tempat ramai itu, menuju suatu tempat yang hanya diperuntukkan buat mereka berdua, tanpa gangguan dari siapapun dan apapun.
******
Malam semakin larut dan acara resepsi pernikahan Danisha dan Saka pun telah berakhir. Danisha dan Saka serta keluarga besar mereka sudah berada di dalam rumah keluarga Saka.
Setelah mengantar kepulangan keluarga besar Danisha di teras depan rumah Saka, mereka segera masuk ke dalam kamar.
Danisha terpukau dengan dekorasi kamar Saka. Ranjang king size milik Saka disulap sangat cantik dan elegan. Harum semerbak saat mereka memasuki kamar itu.
Tirai putih yang menggantung di kanan dan kiri ranjang dengan rangkaian bunga melati dan mawar putih di atas ranjang bagian depan. Di atas ranjang diletakkan rangkaian bunga melati dan di samping kanan serta kiri ranjang terdapat buket bunga mawar putih yang diletakkan di atas meja kecil.
" Kamu suka, Bee ? " tanya Saka yang tiba-tiba memeluk Danisha dari belakang sembari mencium wangi white musk tubuh istrinya.
Danisha berjengit kaget dengan perlakuan Saka yang tiba-tiba. Ia pun mengangguk, tanda jika ia menyukai dekorasi kamar Saka. Ralat, kamar mereka. Kamar itu sekarang adalah kamar mereka berdua. Mulai hari ini, Danisha akan tinggal di rumah mertuanya. Semua ini atas permintaan Papa dan Mama mertuanya.
" Sayang.... " lirih Danisha.
" Heeemmm.... " sahut Saka yang memeluk Danisha semakin erat, enggan melepaskan.
" Aku mau mandi dan ganti baju. Gaun ini sangat berat, Sayang, " ujar Danisha, satu tangannya mengusap tangan Saka yang berada di perutnya. Sementara tangannya yang lain mengusap wajah kekasih halalnya.
Saka mengecup pipi Danisha sekilas. Lalu membalikkan tubuh Danisha perlahan untuk menghadap dirinya.
Senyum smirk mengembang di bibirnya, sementara tatapan matanya sayu.
" Mandi bareng ? " goda Saka dengan tangan yang memegang dagu istrinya.
Jangan ditanya, bagaimana perasannya saat ini. Gemuruh di dadanya semakin menjadi, ingin meledak saat berdekatan dengan Danisha di dalam satu kamar.
" Tuh, mulai nakal ! " tukas Danisha tersipu malu.
" Mas mau mandi dulu atau aku duluan ? " tanya Danisha, tangannya mengusap dada bidang Saka yang masih terbalut kemeja putihnya.
Jas yang dikenakan Saka sudah dilepas dan diletakkan di sandaran sofa yang ada di kamar itu.
Tiba-tiba Saka mencium sekilas bibir Danisha.
" Ok, aku mandi duluan, " ujarnya tersenyum manis dan mengecup pipi Danisha sebelum beranjak ke kamar mandi.
Danisha menggelengkan kepalanya. Setelah Saka masuk ke dalam kamar mandi, ia pun segera melepas segala aksesori dan jilbab pengantin yang membalut kepalanya. Setelah itu, ia membersihkan riasan wajahnya dengan pembersih wajah yang sudah tersedia di meja rias yang ada di kamar itu.
Ia tersenyum, baru menyadari jika di kamar itu segala kebutuhannya telah tersedia rapi. Termasuk semua pakaiannya, sudah tertata rapi di lemari besar milik Saka.
Danisha kembali ke meja rias, merapikan ikatan rambutnya sambil menatap pantulan dirinya melalui cermin di hadapannya. Wajahnya terlihat sayu dan lelah. Ya, ia sangat lelah hari ini. Kepalanya pun sedikit nyeri, sesekali pandangannya mulai berputar dan sedikit kabur. Tidak, ia harus kuat. Ia harus sembuh dan sehat untuk orang-orang yang mencintai dan dicintainya. Ia tak boleh menyerah dan kalah dengan penyakitnya. Ia harus melawannya.
" Kenapa, Sayang ? " Tiba-tiba Saka sudah berada di belakangnya dan kembali memeluknya dari belakang. Masih dengan bertelanjang dada, sementara tubuh bagian bawahnya hanya memakai boxer.
Danisha kembali berjengit. Ia bisa merasakan dada bidang telanjang suaminya menyentuh tubuhnya. Lalu ia juga bisa merasakan bibir dan hidung suaminya menyentuh leher jenjangnya. Hembusan napas hangat dari hidung suaminya bisa ia rasakan menerpa leher dan tengkuknya.
Tubuh Danisha sedikit menegang dan meremang. Hidung dan bibir Saka terus menjalar di lehernya, memberikan kecupan lembut, menimbulkan sensasi yang luar biasa di tubuhnya.
" Mas.... " suara lirih Danisha sedikit tertahan memanggil Saka.
Saka terus mengeksplor leher jenjang Danisha dengan kecupan-kecupan lembut, tidak mempedulikan panggilan Danisha. Tubuh Danisha semakin menegang dan dibuat melayang. Kini tangan kokoh suaminya mulai meraba resleting yang berada di bagian belakang gaun pengantinnya. Napas Saka mulai memburu. Namun, pelan-pelan ia menyibak resleting yang mulai terbuka sedikit demi sedikit memperlihatkan bahu dan punggung putih Danisha. Dikecupnya bahu mulus istrinya. Kecupan demi kecupan ia berikan pada tubuh indah istrinya.
Danisha semakin terbuai dengan sensasi sentuhan yang diberikan oleh Saka. Ia sungguh tidak paham dengan apa yang dirasakannya. Pikirannya tidak bisa ia kendalikan lagi. Tubuhnya merespon setiap sentuhan yang Saka berikan. Tanpa disadarinya, tubuhnya berbalik menghadap Saka. Tatapan matanya sayu dengan napas yang ikut memburu.
Saka tersenyum menatap Danisha dengan pandangan yang sudah dipenuhi kabut gairah. Ia raih tengkuk Danisha dan mulai mengecup dan memag*t bibir merekah Danisha. Tanpa disadari Danisha, ia mulai mendesah merasakan cumbuan lembut yang diberikan Saka.
Saka melepaskan ciumannya, matanya kembali menatap mata sayu istrinya.
" May I ? Boleh kah aku meminta hakku ? " tanya Saka pada Danisha dengan napas memburu dan tatapan sayu.
Danisha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Saka tersenyum bahagia, digendongnya tubuh Danisha dan direbahkannya perlahan di atas ranjang. Detik berikutnya, ia panjatkan doa, lalu perlahan dihembuskannya di puncak kepala istrinya.
Danisha melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya sembari memejamkan matanya. Malam ini ia pasrah, memberikan hak suaminya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Udah baper belum sih π€
Aq tuh nulis ini tarik napas terus loh π€§
Maaf jika tidak sesuai ekspektasi kalian π€π
Tetap aq tunggu, Rated π 5 nya, LIKE N KOMEN sangat penting buat Author receh ini.
Dukungan kalian slalu Author tunggu π€π
Tetap slalu jaga kesehatan ya LOTA Lovers ππ
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat LOTA Lovers semua π€πππ**