Love On The Air

Love On The Air
Eps 33 Saat Bahagia


__ADS_3

Kedua kakak beradik itu masih berbincang-bincang di dalam kamar ketika sayup-sayup mereka mendengar suara derap sepatu dan juga suara seorang wanita yang memanggil nama mereka berdua.


Keduanya pun segera keluar dari kamar dan benar, mereka mendapati kedua orang tua mereka yang baru datang dari bepergian.


" Ren, kamu datang udah dari tadi ? " tanya Bu Rima lembut.


" Assalamualaikum, Bu. Ibu sehat ? " salam Mas Rendra pada sang Ibu, mencium punggung tangan dan kedua pipi wanita paruh baya itu.


" Waalaikumsalam.. Alhamdulillah Ibu sehat, " jawab Bu Rima tersenyum dan mengusap lengan putra sulungnya.


" Ren, gimana, sehat kamu Nak ? " tanya Pak Brata yang baru saja datang.


Seketika Mas Rendra menghampiri sang Bapak dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pada sang Ibu.


" Alhamdulillah.. Rendra sehat Pak. Bapak sehat kan ? " ucap Mas Rendra balik bertanya pada sang Bapak.


" Seperti yang kamu lihat, alhamdulillah.. beginilah, namanya juga orang tua, " jawab Pak Brata sambil tertawa pelan.


" Ibu dan Bapak ke kamar dulu ya.. ganti baju dulu. Kalian tunggu di bawah ya.." ujar Bu Rima kemudian.


" Iya Bu, Rendra juga mau mandi dulu baru saja sampai juga " kata Mas Rendra.


Bu Rima dan Pak Brata mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan kedua anaknya.


" Buruan mandinya, Mas. Daripada Ibu ngomel karena nunggu terlalu lama, " Nay mengingatkan kakaknya.


" Hilih, kamu juga buruan mandi sana ! " tukas Mas Rendra menoyor kening adiknya, lalu berlalu sambil tertawa.


Dengan kesal, Nay memegang keningnya dan memanyunkan bibirnya sambil pergi ke kamarnya.


Mas Rendra telah selesai mandi. Laki-laki rupawan itu mengenakan polo shirt berwarna navy dan celana denim soft blue, menuruni anak tangga setengah berlari. Dilihatnya kedua orang tuanya sudah duduk di sofa hitam yang berada di ruang keluarga.


" Ren, besok Ibu minta tolong antarkan Ibu dan Aya ke butik langganan Ibu ya.. " kata Bu Rima pada putranya yang baru saja duduk di sofa single di hadapannya.


Mas Rendra menautkan kedua alis tebalnya.


" Ke butik Tante Farah ? Ada acara apa Bu ? " tanya Mas Rendra ingin tahu.


" Mau lihat-lihat koleksi terbaru butiknya Tante Farah lah.. " jawab Bu Rima.


" Pentingkah ? " tanya Mas Rendra sambil melirik sang Bapak yang juga melihat ke arahnya.


Pak Brata menarik salah satu sudut bibirnya.


" Kamu ga mau mengantar Ibu dan Aya ? " Ibunya kembali bertanya dengan nada sedikit tinggi.


" Bukan Rendra ga mau mengantar Bu... Rendra harus kembali besok siang. Kalo hanya melihat-lihat koleksi terbaru butik Tante Farah kan bisa ditunda, ga terlalu penting juga kan...." jelas Mas Rendra dengan lembut berusaha memberikan penjelasan pada sang Ibu.


" Benar yang dikatakan Rendra, Bu. Lain waktu kan bisa, " sahut Pak Brata.


" Baiklah. Gimana soal permintaan Bapak dan Ibu, Ren ? Sudah kamu pikirkan ? " tanya Bu Rima menatap putra sulung harapannya.


" Bu, Rendra punya atasan di kantor. Rendra harus membicarakannya dengan atasan Rendra terlebih dulu. Tidak bisa begitu saja pergi meninggalkan tanggung jawab Rendra yang masih banyak di kantor, " jelas Rendra.


" Lalu kapan kamu bisa meninggalkan pekerjaanmu itu ? Oh ya, Ibu sudah meminta Aya kemari besok. Ibu ingin kalian kembali akrab seperti dulu, " ucap Bu Rima tersenyum sumringah.


Mas Rendra menghela napasnya panjang.


" Bu, sudah Rendra bilang, kami tidak ada hubungan istimewa. Maksud Ibu apa, ingin Rendra dan Aya kembali akrab ? Dari dulu sampai sekarang, hubungan kami hanya teman biasa dan tidak ada yang istimewa, " tutur Mas Rendra, ia sedikit mulai kesal dengan sikap Ibunya namun ia berusaha menjelaskan selembut mungkin pada Ibunya agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Pak Brata yang sedari tadi diam, akhirnya ikut berbicara.


" Bu, sudah. Jangan paksa Rendra masalah pendamping hidupnya. Biarkan dia yang menentukan sendiri gadis mana yang dicintai dan mencintainya. "


" Ibu ga memaksa Pak. Ibu hanya melihat selama ini tidak ada gadis yang dekat dengan Rendra kecuali Aya. Lagipula, mereka sebelumnya sudah saling mengenal sejak lama. Jadi apa salahnya memulai kembali untuk lebih mendekatkan diri kalian. Witing tresna jalaran saka kulina, iya kan.."


Mas Rendra hanya terdiam duduk bersandar di sofa di hadapan Bapak dan Ibunya. Beginilah kalo ia bertemu kedua orang tuanya, terutama Ibunya. Selalu saja membicarakan hal yang membuatnya tidak nyaman.


" Ren, Bapak cuma berharap sama kamu untuk menggantikan posisi Bapak di perusahaan keluarga kita, " Pak Brata tiba-tiba berkata, membuyarkan lamunan Mas Rendra.


Mas Rendra lagi-lagi menghela napasnya panjang. Ia sedang memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan agar tidak membuat Bapak dan Ibunya kecewa dan marah.


Perlahan, ia pun mulai berbicara.


" Pak, Rendra paham semua keinginan Bapak dan Ibu. Untuk saat ini Rendra belum siap untuk menggantikan posisi Bapak. Terus terang, Rendra sudah sangat nyaman bekerja di stasiun radio siaran milik Pak Andre di Surabaya. "


" Kalo sekarang belum siap, kapan kamu bisa siap ? " tanya Pak Brata.


" Bapak hanya ingin pensiun, Ren. Istirahat. Dokter menyarankan agar Bapak banyak istirahat mengingat usia dan kondisi kesehatan Bapak, " lanjut Pak Brata dengan nada memohon pada putranya.


" Ren, selama ini baik Bapak maupun Ibu tak pernah menghalangi semua keinginanmu. Sejak kamu kecil hingga sekarang, kami selalu mendukung dan menuruti apa saja yang menjadi keinginanmu karena kamu anak yang bertanggungjawab dan dapat diandalkan. Kamu tidak pernah mengecewakan kami. Ibu mohon kali ini, kamu bisa benar-benar paham dan menuruti keinginan kami, " sahut Bu Rima dengan nada memohon.


Lagi-lagi Mas Rendra terdiam. Mendadak kepala Mas Rendra pusing. Selama ini ia selalu menolak bila diminta membantu Bapaknya mengurus perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang property. Ia merasa bukan disitu minatnya. Ia ingin mencari pekerjaan sendiri, mendapat penghasilan dari usahanya sendiri bukan dari campur tangan keluarganya terutama Bapaknya.


Hingga akhirnya ia bisa membuktikan semua usahanya. Bekerja di sebuah stasiun radio swasta di Surabaya mulai dari seorang penyiar paruh waktu hingga ia dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Manager Siaran sekaligus Penanggung Jawab Stasiun Radio DG FM. Yang tak kalah menarik, ia juga sedikit mempunyai saham di stasiun radio itu dari hasil ia bekerja dan tabungan yang ia miliki.


Tidak sampai disitu, ia juga memiliki sebuah cafe sekaligus sanggar lukis dan fotografi di kota Malang yang ia kelola bersama sang adik, Nay dan seorang teman kuliahnya dulu. Nay sendiri mempunyai bakat melukis. Sementara teman kuliah Mas Rendra, Hiro, seorang fotografer. Karena itu Mas Rendra mempercayakan pengelolaan cafe dan sanggar lukis serta fotografinya pada adik satu-satunya dan teman fotografernya itu.


" Gimana, Ren ? Kapan kamu siap membantu Bapak ? "


Suara Pak Brata mengejutkannya. Seketika ia tersadar dari diamnya. Ia menatap Bapak dan Ibunya, lalu menghembuskan napasnya perlahan.


" Pak, Bu. Sebelumnya, terima kasih untuk semua yang telah Bapak dan Ibu berikan pada Rendra. Terima kasih atas dukungan Bapak dan Ibu untuk semua yang Rendra lakukan. Dan Rendra mohon maaf jika selama ini telah banyak merepotkan Bapak dan Ibu, membuat kecewa atau bahkan mungkin Rendra sudah membuat marah Bapak dan Ibu. "


Mas Rendra berhenti sejenak. Ia menelan ludahnya sebelum melanjutkan kalimatnya.


" Tolong beri Rendra waktu untuk mempersiapkan diri, hati dan segala sesuatunya supaya bisa membantu Bapak sepenuhnya. Masih banyak yang harus Rendra selesaikan di Surabaya. Rendra mohon pengertian dari Bapak dan Ibu. "


Akhirnya Mas Rendra menyelesaikan perkataannya. Ia bernapas lega. Semoga kedua orang tuanya bisa mengerti apa yang disampaikannya. Kini ia menunggu respon dari kedua orang tuanya.


*******


Setelah sholat Maghrib, Saka sudah bersiap akan ke rumah Danisha. Ia sengaja tidak memberitahu Danisha akan rencananya tersebut, ia ingin memberi kejutan pada gadis yang sudah sangat dirindukannya itu.


Ia menatap dirinya di depan cermin. Kaos putih lengan pendek dipadu kemeja kotak-kotak dengan celana jeans hitam dan ia menambahkan topi di kepalanya. Ia tersenyum sumringah menatap pantulan dirinya di cermin. Topi hitam yang ia pakai adalah kado ulang tahun dari Danisha. Ia jarang sekali memakai topi kesayangannya itu. Hanya momen-momen tertentu ia akan memakainya, terutama ketika bersama Danisha.

__ADS_1



Perfect, gumamnya. Lalu ia pun keluar kamar mencari Mamanya, menanyakan salad buah dan croissant sandwich yang akan dibawanya.


Bu Dinda sedang menonton televisi di ruang keluarga.


" Udah siap ya anak Mama ketemu gebetan.. whoaah kerennya anak Mama... " goda Bu Dinda sambil terkekeh dan mengacungkan jempolnya melihat penampilan anak laki-laki nya.


" Mama ! Apaan sih.. mana donk pesanan Saka...."


" Tuuhhh.. dah ready dari tadi di meja makan tinggal cuusss... hehehe... " lagi-lagi Bu Dinda terkekeh menggoda anaknya.


Saka melihat paper bag coklat di atas meja makan. Ia pun mengambilnya dan berpamitan pada sang Mama.


" Saka berangkat ya Ma, makasih banyak buat semuanya. Love you Mam... " pamit Saka mencium kedua pipi Bu Dinda.


Sang Mama pun tersenyum sumringah sambil mengusap punggung putranya.


" Love you too... salam buat Danisha dan kedua orang tua nya ya... hati-hati di jalan sayang.... " ucap Bu Dinda.


" Iyes Mama... assalamualaikum..." Saka berpamitan dan berjalan keluar sambil melambaikan sebelah tangannya.


" Waalaikumsalam... " Bu Dinda membalas salam putranya dengan lambaian tangan.


Bu Dinda menghela napasnya dan bergumam, " Semoga kamu selalu bersabar dan ikhlas, Nak. Semoga suatu saat cintamu kembali. "


Saka melajukan mobilnya santai. Radio di mobilnya telah ia nyalakan dan suara Bang Hendra terdengar dari audio nya, detik berikutnya terdengar lagu Saat Bahagia dari Ungu feat. Andien


🎢🎢


Saat bahagiaku


Duduk berdua denganmu


Hanyalah bersamamu


Hmm ...


Mungkin aku terlanjur


Tak sanggup jauh dari dirimu


Kuingin engkau selalu


'Tuk jadi milikku


Kuingin engkau mampu


Kuingin engkau selalu bisa


Temani diriku


Sampai akhir hayatmu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku


Selalu


Seribu jalan pun kunanti


Bila berdua dengan dirimu


Melangkah bersamamu


Kuyakin tak ada satu pun


Yang mampu merubah rasaku untukmu


Kuingin engkau selalu


'Tuk jadi milikku


Kuingin engkau mampu


Kuingin engkau selalu bisa


Temani diriku


Sampai akhir hayatmu


Meskipun itu hanya terucap


Dari mulutmu


Dari dirimu yang terlanjur mampu


Bahagiakan aku


Selalu


🎢🎢


Saka menikmati lagu yang diputar Bang Hendra. Sesekali ia ikut bernyanyi. Ia banyak tersenyum di sepanjang perjalanan.


Saat hampir sampai di rumah Danisha, ia melambatkan mobilnya dan menghentikannya tak jauh dari rumah Danisha. Ia pun keluar mobil dengan membawa paper bag coklat sebagai buah tangannya untuk Danisha.


Sesaat kemudian, ia melakukan panggilan telepon setelah mencari nama orang yang dituju.


" Assalamualaikum..." sapa lembut suara diseberang sana.

__ADS_1


" Waalaikumsalam... hai Sweet Girl.. lagi apa ? " sahut Saka sumringah.


" Saka... ! Eh, bener kan ini Saka ! " seru gadis itu girang.


" Hu um. What are you doing, Sweet Girl ? " tanya Saka masih terkekeh. Ia berjalan dari tempat mobilnya diparkir menuju rumah Danisha yang hanya berjarak satu rumah saja.


" Aku... aku lagi di kamar. Lagi baca-baca buku, " jawab Danisha sedikit gugup. Lama tidak berbicara dan bertemu dengan sahabat dekatnya ini membuatnya sedikit canggung.


" Owh kirain... "


" Kirain apa ? "


" Kirain lagi mikirin aku... hahaha... " Saka terbahak. Kali ini ia sudah berdiri di depan pagar rumah Danisha dan akan bersiap masuk. Masih sambil berbicara di ponselnya.


" Hah ? Eh, percuma juga mikirin orang yang ga pernah mikirin kita, " Danisha berkata seolah sedang merajuk.


Saka sudah berdiri di halaman rumah Danisha.


" Eh, emang siapa orang itu. Jahat bener ga mau mikirin gadis semanis dan sebaik kamu, " ujar Saka terkekeh pelan.


" Entah ! Pergi ga pamit juga. Ngakunya sahabat, ngakunya sayang. Tapi pergi gitu aja, aku sakit pun ga ditengok ! " rajuk Danisha.


" Masa sih ! Keterlaluan amat ! Kalo ketemu orangnya, mau kamu apain orang itu ? " tanya Saka menahan tawanya.


Tok tok tok....


Saka mengetuk pintu rumah Danisha.


" Eh, tunggu. Ada yang ketuk pintu, ada tamu. Tunggu ya, jangan ditutup teleponnya. "


" Ok, my Sweet Girl. "


Setelah memakai jilbabnya, Danisha keluar kamar dan membuka pintu rumahnya. Seketika ia berjengit, matanya melebar, ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sementara tangan lainnya masih memegang ponselnya. Di hadapannya berdiri sosok laki-laki yang lama tak dijumpainya.


" Assalamualaikum, Sweet Girl, " sapa Saka dengan mengedipkan sebelah matanya, sementara tangan kiri yang memegang paper bag ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Ia tertawa lepas. Ia sudah tak bisa lagi menahan tawanya.


Danisha tertawa senang melihat sosok laki-laki bertopi di hadapannya.


" Waalaikumsalam, " jawab Danisha tertawa, sejurus kemudian ia memukul ujung topi yang menutupi sebagian wajah bagian atas Saka.


" Jahat ih ! " seru Danisha mencebikkan bibirnya.


" Widih ! Jeyeg amat ih ! " ejek Saka dan tergelak melihat raut Danisha yang cemberut.


" Eh, aku ga disuruh duduk ? Berdiri aja begini ? Pegel lho ini kaki, " ujar Saka kemudian sambil terus menatap gadis berlesung pipi di hadapannya.


" Hilih ! biasanya juga langsung duduk ga usah disuruh. Buka donk topinya, " kelakar Danisha, tangannya dengan cepat membuka topi hitam yang dipakai Saka.


" Eh, apaan main buka aja. Ga sopan banget sih ! " ledek Saka lagi.


" Biarin ! lagian di dalam rumah ga sopan juga pake topi, " Danisha tak mau kalah meledek.


Lalu keduanya tertawa bersama. Sepertinya sudah lama mereka tak bercanda seperti itu. Saling ledek dan tertawa bersama.


Kini mereka sudah duduk di kursi teras. Saka meletakkan paper bag coklat yang dibawanya di atas meja di depannya.


" Ini buat aku ? " tanya Danisha memegang paper bag coklat itu sambil melirik Saka.


" Mau ga nih ? Kalo ga mau kasih ke Kiran aja ya..." Saka belum juga berhenti menggoda Danisha.


" Eh, kok ? Emang ini apa sih ? " tanya Danisha lagi, dibukanya paper bag itu dan dikeluarkannya isinya karena benar-benar penasaran.


Seketika ia berteriak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Ia tertawa senang sekali melihat isi kotak yang diambilnya dari dalam paper bag tadi.


" Woowww...! Yeeaayyy... I love it, love it so much... yeeaayyy....! " teriak Danisha kegirangan.


Saka menatap Danisha yang kegirangan dengan tatapan bahagia. Binar matanya memancarkan kebahagiaan melihat betapa girangnya Danisha melihat apa yang dibawanya untuk gadis itu. Dua makanan kesukaannya, salad buah dan croissant sandwich.


" Makasih banyak ya, Ka. You always know me so well, " ucap Danisha tulus menatap Saka yang duduk di hadapannya.


Saka dan Danisha saling menatap lekat. Kedua manik mata mereka bertemu. Sejenak terdiam tanpa ada yang berucap.


Kamu terlalu sempurna, Danish


Semua yang ada pada dirimu, tak ada cela di mataku


Aku bahagia melihatmu bahagia seperti ini


Kamu bahagiaku


Saka bergumam dalam hati, aku tak kan lagi pergi, Danish. Bahagiaku saat aku duduk berdua denganmu seperti saat ini. Saka tersenyum, masih menatap Danisha.


Danisha pun tersenyum ketika melihat senyum sahabat laki-laki nya itu.


Kamu selalu mengerti aku, Ka. Kamu selalu tahu apa yang kuinginkan, batin Danisha.


" Seneng banget sih, cuma salad dan croissant sandwich lho ! Ga ada berliannya, " ledek Saka memecah keheningan yang baru saja mereka ciptakan.


" Iyalah seneng pake banget. Pinjem ponselnya donk..." Danisha menyambar ponsel Saka yang diletakkan di atas meja.


" Eh, buat apa sih... Hey ! main sambar aja ! " Saka berusaha merebut ponsel yang diambil Danisha.


" Pinjem bentar doank ih ! Mau nelpon Mama nih... " sahut Danisha.


Saka pun mengalah, ia tak mau membuat Danisha lelah karena gadis itu belum sembuh benar.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Naah... akhirnya udah tau kan siapa Mas Rendra dan hahaayy... Saka udah ketemu Danisha, rame kan saling ledek... πŸ˜„


Anyway, Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 75 tahun.. Semoga Indonesia semakin maju... Semakin perhatian dan tidak menutup mata pada masyarakat yang lemah yang membutuhkan bantuan πŸ€—β€οΈ


Jan lupa tinggalkan jejak kalian, like n komen yaa πŸ€—πŸ˜˜

__ADS_1


Banyak terima kasih, cinta dan sayang buat My LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜


Stay safe n healthy as alwaysπŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2