
Mas Rendra terbangun mendengar suara ponsel berdering. Dengan kedua mata yang masih mengerjap, samar ia melihat Danisha berbicara dengan benda pipih menempel di telinganya tak jauh dari tempatnya duduk bersandar.
" Ya, Distha. Assalamualaikum..." Danisha menyapa Distha yang menelponnya.
" Waalaikumsalam.. sorry Danish, aku belum bisa ke rumah kamu sekarang. Masih belum kelar urusan Mama. Sorry ya Sist. " jawab Distha dengan nada menyesal.
Danisha tersenyum, masih dengan ponsel yang menempel di telinga kirinya, ia duduk di samping kanan Mas Rendra.
" Iya Sist, ga papa. Namanya masih repot, santai aja lah.. "
" Ok, Sist. Aku tutup teleponnya ya.. Dipanggil Mama nih, rempong dari tadi si Mama.. hehehe.. assalamualaikum, " Distha pamit mengakhiri panggilan teleponnya sambil terkekeh.
Danisha pun ikut terkekeh.
" Waalaikumsalam, salam buat Mama ya.. hati-hati, Sist, " jawab Danisha menutup teleponnya.
Danisha menatap Mas Rendra yang memijat-mijat tengkuknya.
" Maaf ya Mas, terbangun gara-gara telepon. Sakit ya tengkuknya ? Lagian kok bisa tadi tiba-tiba tidur dengan posisi begitu, " Danisha berkata sambil memijat tengkuk Mas Rendra.
Mas Rendra tersenyum menatap Danisha. Ia raih tangan kekasihnya yang memijat tengkuknya.
" Udah, ga papa kok. Hanya sedikit pegal. Iya.. tadi berasa nyaman dan tiba-tiba pengen merem aja. Makasih ya.. " ucap Mas Rendra dengan suara sedikit parau khas bangun tidur.
" Yuk makan dulu, Bunda udah siapin makan siang, " ajak Danisha seraya berdiri dari duduknya.
" Kalian kok masih disini, Bunda kira udah di meja makan. Ayo Danish, ajak Nak Rendra makan, " ujar Bunda.
" Iya Bun. Mas mau sholat dhuhur dulu ? " tanya Danisha pada Mas Rendra.
Mas Rendra mengangguk.
Danisha pun mengantarkan Mas Rendra mengambil air wudhu, sementara ia menyiapkan sajadah di kamarnya untuk Mas Rendra sholat.
Selesai sholat dhuhur dan makan siang, Mas Rendra berpamitan akan langsung pergi ke Malang, ke rumah orang tuanya.
" Kamu baik-baik ya.. jangan bandel dan membantah apa yang dibilang Bunda sama Ayah. Kalo ada apa-apa langsung telepon ya.. secepatnya aku pulang begitu urusan selesai, " pamit Mas Rendra pada Danisha.
Danisha tersenyum dan mengangguk
" Mas hati-hati di jalan, kabari kalo dah sampai ya.. makasih banyak. "
" Saya pamit Bunda, terima kasih makan siangnya, assalamualaikum.." pamit Mas Rendra.
" Waalaikumsalam.. hati-hati ya Nak, terima kasih atas bantuannya, " ucap Bunda tersenyum ramah.
Mas Rendra pun berjalan keluar menuju mobil yang diparkir di depan rumah Danisha. Ia melambaikan tangannya untuk berpamitan sekali lagi.
Danisha menarik napas dan menghelanya perlahan. Ia pun mengajak Bunda masuk ke dalam rumah.
Drrttt.. Drrttt....
Danisha meraih ponselnya dari meja makan, dilihatnya panggilan telepon dari Mas Rendra. Danisha menautkan kedua alis hitamnya, kenapa lagi Mas Rendra menelpon ? batin Danisha.
" Assalamualaikum.. iya Mas, ada yang ketinggalan kah ? "
" Waalaikumsalam.. iya sayang. I love you Danish.. I love you.. itu yang ketinggalan sayang.." ucap Mas Rendra dari seberang sana.
Danisha terkekeh
" Ish, aku pikir memang ada barang yang ketinggalan.."
Mas Rendra juga terkekeh
" I love you my Danish.. tadi mau bilang, tapi malu ada Bunda, hehehe... kok ga dijawab sih.."
" I love you Mas.. hati-hati nyetirnya. Kalo ngantuk, berhenti aja dulu, " sahut Danisha, ia tersenyum sumringah.
" Siap sayang.. aku tutup yaa.. love you.. assalamualaikum, " pamit Mas Rendra seraya terkekeh pelan.
" Waalaikumsalam.." jawab Danisha, tersenyum lebar menjawab salam kekasihnya.
******
Prasta sedang menunggu Renata yang siaran di studio DG FM. Ia duduk di ruang tamu seperti biasa. Dilihatnya dari jendela kaca pembatas, gadis pujaannya sedang berbicara di depan microphone dengan ekspresi yang ceria. Lalu terdengarlah lagu yang diputar Renata, Akad dari Payung Teduh
πΆπΆ
Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Namun bila hari ini adalah yang terakhir
Namun ku tetap bahagia
Selalu kusyukuri
Begitulah adanya
Namun bila kau ingin sendiri
Cepat cepatlah sampaikan kepadaku
Agar ku tak berharap
__ADS_1
Dan buat kau bersedih
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
πΆπΆ
Prasta tersenyum usil mendengar lagu yang diputar Renata. Ketika Renata keluar dari ruang siaran dan menghampiri Prasta, seketika Prasta menyambutnya dengan senyuman menggodanya. Ia mengedipkan sebelah matanya, membuat Renata menatap pujaan hatinya dengan dahi mengernyit.
" Apaan sih, say.. huh ? "
" Lagunya kek ngode nih.. " goda Prasta menaik-turunkan kedua alis hitamnya yang tebal.
" Hah ?? Maksudnya apa say ? " Renata masih bingung dengan ucapan Prasta.
Prasta menarik tangan Renata dan membisikkan sesuatu di telinga Renata. Seketika Renata mencubit lengan Prasta.
" Aauuwww.. sakit sayang.. kok nyubit sih.. jadi ga mau dilamar ? " Prasta masih menjahili kekasihnya.
" Emang berani ?? " tantang Renata
" Berani donk.. mau kapan, sekarang atau besok ?? " balas Prasta
" Ish ! udah ah say.. aku mau masuk siaran lagi.. ngaco ih ! " tukas Renata berlalu meninggalkan laki-laki berambut gondrong itu.
Prasta pun terkekeh melihat kekasihnya pergi dengan bibir mengerucut.
Pada saat bersamaan, Bang Hendra datang dari luar studio.
" Hallo Bang, " sapa Prasta.
" Eh, udah lama, Pras ? " tanya Bang Hendra.
" Lumayan, lagi nungguin calon istri, Bang.. hehehe.. " kelakar Prasta
" Harus sabar lho nungguin calon istri, hahaha.. " ujar Bang Hendra membalas kelakar Prasta.
" By the way, Danisha gimana kondisinya ? Aku dengar dari Mas Rendra, dia masih ga mau melakukan tes pemeriksaan lanjutan buat memastikan diagnosis sakitnya, " lanjut Bang Hendra
" Iya Bang. Dia kan begitu, keras kepala. Kalo bukan kemauannya, susah membujuknya, " tutur Prasta.
" Iya Bang, tolong Abang coba bujuk dia gih.." Prasta pun sependapat dengan Mas Rendra meminta Bang Hendra membujuk Danisha.
" Baiklah Bro, nanti coba aku hubungi dia. Ok, aku masuk dulu ya.. laporan dulu.. hehehe.. " ucap Bang Hendra seraya menepuk bahu Prasta.
" Siap Bang.. thanks ya.. " jawab Prasta.
******
" Ma.. pesanan Saka udah siap belum ? " tanya Saka yang baru datang dari kampus pada Bu Dinda yang sedang sibuk di dapur sore itu.
" Kamu berangkat selepas Maghrib kan ? Tunggu lah.. sabar dikit, bentar lagi siap, " ucap Bu Dinda seraya tersenyum pada anak laki-lakinya.
Bu Dinda telah mendengar semua cerita dari Saka mengenai hubungannya dengan Danisha. Sebenarnya Bu Dinda juga kecewa karena cinta anak lelaki satu-satunya bertepuk sebelah tangan. Ia sangat berharap jika Saka dan Danisha menjalin cinta. Wanita paruh baya itu sudah mengenal Danisha yang dekat dengan putranya sejak masih sama-sama satu sekolah di SMA.
Namun, ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya pada putranya. Bagaimanapun, cinta tak bisa dipaksakan. Danisha berhak memilih laki-laki yang dicintai dan mencintai nya. Ia bangga pada putranya yang sekarang telah merelakan gadis yang dicintainya menjadi milik laki-laki lain.
Setelah semalam Saka menceritakan semuanya pada sang Mama, ia meminta dibuatkan salad buah dan croissant sandwich kesukaan Danisha yang akan ia berikan pada gadis berlesung pipi itu malam nanti.
" Mama mau ikut ke rumah Danisha ? " tanya Saka pada sang Mama
" Lain kali aja.. ini Mama masih nunggu Papa katanya pulang malam ini dari luar kota, " jawab Bu Dinda.
" Lho katanya baru besok pulangnya Ma ? " tanya Saka lagi.
" Ga jadi, udah selesai semua urusannya siang tadi. Makanya bisa langsung pulang, " jawab Bu Dinda.
" Owh.. syukurlah kalo begitu. Saka ke atas dulu ya Ma, mau mandi dan sholat. "
" Iya.. buruan sholat, keburu habis waktunya, " sahut Bu Dinda sambil terus sibuk dengan pekerjaan dapurnya yang dibantu asisten rumah tangganya.
Saka pun bergegas naik menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Selepas Maghrib, ia akan menjenguk Danisha di rumahnya.
Beberapa hari datang ke kampus untuk kuliah, ia tak pernah menjumpai gadis itu. Dia pasti belum sehat benar. Dan siang tadi di kampus, Distha memberitahu jika Danisha tidak mau melakukan tes pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis sakitnya.
Ah, kamu tetap saja keras kepala padahal semua itu untuk kebaikan kamu. Gumam Saka seraya menatap foto gadis kesayangannya yang terpasang di ponsel miliknya. Saka menghela napasnya pelan dan tersenyum.
Abaikan rasa sakit itu,
atau jika tidak kamu tidak akan pernah
bahagia
(Ali Bin Abi Thalib)
******
__ADS_1
Mobil Mas Rendra memasuki halaman sebuah rumah mewah di salah satu kawasan elit kota Malang setelah sebelumnya seorang pria paruh baya membukakan pintu pagar rumah itu.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Mas Rendra turun dari mobilnya. Ia pun berjalan memasuki rumah milik kedua orang tuanya.
" Assalamualaikum.." salam Mas Rendra membuka pintu utama rumah.
Sepi. Kemana semua penghuni rumah ini ? tanyanya dalam hati.
" Waalaikumsalam.. Eh Mas Rendra. Baru datang ya Mas, " sambut Bik Rum, asisten rumah tangga keluarganya.
" Iya, Bik. Kok sepi Bik, pada kemana ? " tanya Mas Rendra sambil berjalan menuju kamarnya di lantai atas.
" Ibu dan Bapak sedang pergi ke undangan teman Bapak, Mas, " jawab Bik Rum.
" Nay kemana ? " tanya Mas Rendra menanyakan keberadaan adik perempuannya.
" Mbak Nay belum pulang dari kuliah, Mas, " jawab Bik Rum.
" Ya udah, makasih ya Bik. Tolong buatkan saya kopi ya Bik dan antar ke kamar saya ya.. makasih Bik, " titah Mas Rendra sambil tersenyum ramah.
" Baik, Mas. Saya permisi.. " jawab Bik Rum sambil menundukkan kepala dan berlalu menuju dapur.
Mas Rendra berjalan naik menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang didominasi warna grey. Kegelisahan meliputi wajah dan perasaannya.
Ia terhenyak ketika terdengar ketukan pintu di kamarnya. Ia beranjak dari ranjangnya, membuka pintu kamarnya.
" Ah Bik Rum, makasih kopinya ya Bik, " ucap Mas Rendra meraih segelas kopi dari nampan yang dibawa Bik Rum.
" Sama-sama, Mas. Adalagi yang diperlukan, Mas ? Atau Mas Rendra mau makan ? " tanya Bik Rum.
" Ga ada, Bik. Nanti aja makan sama-sama yang lain. Bik Rum selesaikan kerjaan yang lain aja. Makasih Bik, " ujar Mas Rendra ramah dan kembali masuk ke kamarnya setelah Bik Rum beranjak dari tempat itu.
Bik Rum sudah lama bekerja bersama keluarganya, sejak Mas Rendra berumur 10 tahun. Wanita paruh baya itu tinggal di rumah orang tuanya sejak suaminya meninggal 10 tahun lalu, karena ia juga tidak mempunyai anak.
Duduk bersandar di sofa yang ada di kamarnya, ia menatap foto kekasih hatinya. Ia usap wajahnya dengan sebelah tangannya dan menghela napasnya panjang. Lalu ia raih gelas kopi di atas meja di depannya dan menyesapnya perlahan. Pikirannya mengembara pada percakapan telepon dengan Ibunya beberapa hari yang lalu.
Flash Back On
Saat itu, saat Mas Rendra masih di studio DG FM setelah selesai sholat Ashar, ia menerima telepon dari ibunya yang tinggal di Malang.
" Ren, kamu harusnya paham dengan keinginan Bapak dan Ibu. Sudah saatnya kamu tinggalkan pekerjaanmu di Surabaya. Bapak dan Ibu hanya punya kamu dan Nay, adik kamu. Nay tidak mungkin menggantikan Bapakmu. Cuma kamu harapan kami. Sudah saatnya pula kamu menikah, Nak. Bagaimana hubunganmu dengan Aya ? "
Mas Rendra terdiam mendengar perkataan panjang ibunya di telepon. Ia tak berani memotong perkataan ibunya. Ia biarkan ibunya berbicara hingga selesai.
" Maafkan Rendra, Bu. Rendra tidak pernah ada hubungan spesial dengan Aya. Tolong Ibu mengerti untuk ini. Rendra dan Aya hanya teman biasa, Bu. Mengenai pekerjaan, Rendra butuh waktu untuk berpikir dan mempertimbangkannya, " jawab Mas Rendra memberikan pengertian pada Ibunya.
" Ibu dan Bapak menunggu kedatanganmu segera, kalo bisa dalam minggu ini. Kita bicarakan semua di rumah. Jangan ditunda, assalamualaikum, " titah Ibu Rima kemudian mengakhiri panggilannya.
" Waalaikumsalam, " jawab Mas Rendra.
Jika ibunya sudah berkata, ia tak pernah bisa membantah. Setiap perkataan ibunya, baginya itu perintah. Bukan hanya sebuah permintaan yang bisa ditawar.
Flash Back Off
Dan disinilah sekarang Mas Rendra, di rumah orang tuanya. Menuruti perintah Ibunya.
Masih di dalam kamarnya, pikirannya masih pada perkataan ibunya tentang hubungannya dengan Aya, teman semasa SMP nya. Dari dulu ia tak pernah menganggap Aya teman spesialnya. Memang dari SMP hingga kuliah mereka tak pernah pisah sekolah, selalu satu sekolah dan satu kampus. Hubungan mereka hanya sebatas teman, tidak lebih. Walaupun kedua orang tua mereka adalah teman dekat.
Kenapa tiba-tiba ibunya membicarakan Aya dan juga soal menikah ? Mas Rendra mengusap-usap tengkuknya, kegelisahan melanda dirinya.
Tok tok tok...
Pintu kamar yang diketuk membuyarkan pengembaraan pikirannya.
" Siapa ? "
" Ini Nay, Mas. Kenapa pake dikunci segala sih pintunya.. " suara Nay menyahut dari balik pintu kamarnya.
Segera ia beranjak dan membukakan pintu untuk adik perempuan satu-satunya itu.
" Hai anak manja.. darimana aja ? Pasti dari nge-mall ya.. ga mungkin kuliah sampai sore gini, " kelakar Mas Rendra, membiarkan adiknya nyelonong masuk ke kamarnya.
" Kok tau sih kalo dari mall.. eh mana calon kakak iparku ? Katanya mau diajak kesini ? " tanya Nay to the point.
" Hilih.. ngomongnya ga pake rem, nyerocos aja sih..! " sahut Mas Rendra.
" Nanti bakalan dikenalin. Gimana kuliah kamu ? " tanya balik Mas Rendra.
" Ish ! Katanya sekarang, mau dikenalinnya..? Kuliah ya biasa aja Mas, kuliah aja, emang kenapa sih.. ? " celoteh Nay.
" Nay, Mas mau nanya nih. Kamu jawab yang benar dan jujur ya.. "
" Mau nanya apa ? " tanya Nay santai.
" Aya sering kesini ? " selidik Mas Rendra.
" Iya, emang kenapa ? "
" Ngapain ? "
" Banyak. Kadang ngajak Nay pergi jalan-jalan ke mall atau ke cafe. Suka-suka dia pokoknya. Kadang juga ngobrol sama Ibu, bawain Ibu kue-kue gitu. Kenapa sih emang ? " jawab dan tanya Nay penasaran.
" Gitu ya ? Ga papa sih.. aneh aja. Aku sama dia udah lama banget ga ketemu ataupun berhubungan via telepon. Lost contact lah ya.. tapi sekarang tiba-tiba dia nongol. Apa maksudnya ya ? " tutur Mas Rendra penuh tanya.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Terkuak dikit ya siapa Mas Rendra sebenernya.. dan Saka sedang siap2 mau ketemu Danisha..
__ADS_1
Moga tetap sabar menanti kelanjutan LOTA story π€π
Stay safe n healthy as always my LOTA Lovers π€πππ**