Love On The Air

Love On The Air
Eps 83 Lelah Tetapi Tak Akan Menyerah


__ADS_3

" Hatiku sedang benar-benar tak bahagia saat ini. Namun otak memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk tetap dalam keadaan baik-baik saja. Kalian tahu, menangis dalam hati itu lebih sakit daripada menangis dengan air mata. Aku berusaha menjadi lelaki kuat, padahal aku sedang lemah saat ini. Aku lelah tapi aku tak akan menyerah. "


- Saka Abimanyu -


Seharian Saka menemani Danisha. Mengajak ngobrol istrinya yang masih enggan membuka kedua matanya. Sesekali terlihat lelaki itu tertawa di sela obrolan satu arah dengan istrinya. Dan sesekali pula ia terdiam sembari mencium kening, pipi dan jemari istrinya.


Distha yang datang siang itu menitikkan air matanya melihat pemandangan itu dari balik jendela kaca ruangan ICU. Ia melihat apa yang dilakukan Saka, sahabat lelakinya terhadap istrinya yang terbaring lemah tak berdaya. Ia sangat paham bagaimana perasaan Saka. Terlihat begitu bersemangat dan bahagia mengajak berbincang istrinya, tertawa semringah. Namun, jauh di lubuk hatinya, pasti sebaliknya. Sahabatnya itu pasti merasakan kesedihan yang mendalam atas kondisi istrinya, yang juga sahabat terbaiknya.


Distha terhenyak kaget saat merasakan seseorang menepuk bahunya.


" Pras. "


" Jangan perlihatkan air matamu di depan Saka, Sist, " ujar Prasta mengingatkan Distha.


Dengan segera, Distha menghapus air mata yang membasahi pipi dan matanya.


" Ayah dan Bunda kemana ? " tanya Prasta.


" Ayah dan Bunda pulang, nanti sore kembali lagi, " jawab Distha dengan sedikit terisak.


" Bang Ardhy lagi tugas ? " tanya Prasta lagi.


Distha mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya ke dalam kamar Danisha.


" Nanti tolong bantu buat meyakinkan Saka, ya, Pras. Supaya dia mau maju sidang skripsinya dalam waktu dekat. Ini permintaan Danish, " tutur Distha, menahan isakannya.


" Aku udah menghubungi pihak kampus tadi, sebelum ke sini. Bang Ardhy dan Bunda pagi tadi meneleponku dan menceritakan semuanya, " terang Prasta.


" Terus ? "


" Pihak kampus bilang, Saka masih bisa ikut schedule minggu ini untuk maju sidang, " lanjut Prasta.


Distha mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Prasta.


" Ya, kabar baik. Tinggal kita bicara sama Saka. Semoga dia mau, " harap Distha.


" Kamu udah makan ? " tanya Prasta kemudian.


" Belum, sih ! Mau nunggu Bang Ardhy, sebentar lagi waktunya dia break, " ujar Distha sembari melihat jam tangan Fossil yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.


" Ya, udah ! Kita tunggu Bang Ardhy aja, " sahut Prasta, matanya menatap ke dalam kamar ICU tempat Danisha terbaring koma.


Prasta menghela napasnya panjang dan berdecak pelan. Hal itu membuat Distha mengalihkan pandangan matanya pada lelaki yang berdiri di sampingnya.


" Ada apa ? " tanya Distha.


Prasta menggelengkan kepalanya pelan. Sesaat terdiam, lalu menggamit tangan Distha mengajaknya untuk sedikit menjauh dari jendela kaca ruangan ICU.


" Ada apa, sih ?! " Distha mengernyitkan dahinya menanggapi sikap Prasta.


" Kamu udah denger slentingan di kampus ? " tanya Prasta, wajahnya terlihat serius.


Distha semakin mengernyitkan dahinya dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran dan ingin tahu.


" Slentingan ? Apaan ? Ga paham aku ! " cecar Distha.


" Tadi sewaktu aku ke kampus, Mbak Dila dan Mbak Cici nanya, apa bener, Danish koma karena operasi tumor otak. " Prasta bercerita mengenai kejadian di kampus pagi tadi.


" Terus kamu bilang apa ? Waktu Danisha pingsan dan masuk rumah sakit kemarin itu, Pak Heru dan Bu Aning juga udah tau, kok ! Dia bilang sama aku, prihatin dengan kondisi Danish, padahal skripsinya tinggal sedikit lagi kelar. Gitu kata mereka ! " Distha pun bercerita pada Prasta yang ia tahu soal para dosen yang mengetahui kondisi Danisha.


" Iya, aku tau kalau itu. Ini Mbak Dila dan Mbak Cici selain nanya kondisi Danisha juga bilang kalau banyak yang ngomongin soal Saka. Mereka juga denger ada yang ngomongin hal-hal jelek tentang Saka dan Danisha di kampus, " jelas Prasta.


" Hah ? Serius ? Ngejelekin Saka dan Danisha, gitu ? Ngejelekin gimana ? " selidik Distha.

__ADS_1


" Mereka ga bilang, sih, ngejelekinnya gimana. Aku pun juga ga pernah denger. Cuma, mereka pernah denger dari anak ekonomi, " sahut Prasta.


" Anak ekonomi ? " Lagi-lagi Distha mengernyitkan dahinya, heran.


Prasta menganggukkan kepalanya sembari menyisir rambutnya ke belakang dengan kelima jarinya.


Mbak Dila dan Mbak Cici adalah petugas administrasi di kampus mereka. Khususnya bagian administrasi di Fakultas Ilmu Komunikasi. Mereka berdua memang terkenal dekat dengan Danisha dan sahabat-sahabatnya.


********


Seharian itu, Danisha hanya menunjukkan responnya sekali dengan pergerakan jemarinya seperti sebelumnya. Itu pun hanya sesaat.


Malam ini, kembali Saka menemani wanita kekasih hatinya. Pikiran dan hatinya sungguh berkecamuk. Ingin menumpahkan semua yang dirasakannya pada Danisha yang masih terbaring lemah di hadapannya.


Bee... Aku takut. Aku takut banget kita bakal kalah sama keadaan. Maaf, Bee.


Saka hanya bisa berbicara sendiri dalam hatinya. Ia tak akan mengungkapkannya pada Danisha secara langsung.


Ia menundukkan kepalanya. Telapak tangannya ia letakkan menutupi kedua matanya yang sedikit basah. Ia menghapus matanya yang basah dengan cepat. Tak ingin Danisha tahu kesedihan dan air matanya. Ia pun menghela napasnya dalam dan senyuman pun tersungging di bibirnya.


" Aku akan sidang skripsi lusa, Bee. As you wish. Doakan aku, semua berjalan lancar dan mudah. Aku janji aku akan kembali ke sini secepatnya, mengabarkan kelulusan dan tentu saja nilai yang kudapatkan. Kamu mau menungguku, ya, Bee. Kamu juga harus janji, segeralah bangun, Sayang. Kamu minta kami semua menunggumu, kan ? Kami semua menunggumu bangun, Bee. Berjanjilah padaku, Sayang. "


Saka berkata-kata sembari menggenggam dan mencium tangan Danisha. Susah payah dirinya menahan agar tidak menangis dan terlihat lemah.


Sungguh, ini hal terberat kedua yang menimpa dirinya dalam sepanjang hidupnya. Hal terberat pertama yang menimpanya adalah saat ia mengetahui Danisha telah menjadi milik Mas Rendra waktu itu. Namun, ia merasa saat inilah ujian terberatnya. Bagaimana tidak, tumor di otak istrinya yang pernah dinyatakan telah menghilang ternyata muncul kembali menyerang otak wanita yang baru saja sah menjadi istrinya. Belum genap satu bulan sebagai pasangan suami istri, mereka harus menerima kenyataan bahwa tumor otak kembali menyerang istrinya di stadium 3. Karenanya untuk mencegah penyakit itu agar tidak terus berkembang, jalan satu-satunya harus dioperasi untuk mengangkat tumor dari otak istrinya dengan berbagai resiko. Saka dan kedua orang tua Danisha memang tidak ada pilihan lain. Ini adalah bagian dari ikhtiar dan mereka berharap semoga ini adalah ikhtiar terbaik yang mereka lakukan.


Dua orang perawat masuk untuk memeriksa Danisha. Ya, kondisi Danisha masih harus mendapat pengawasan dari pihak tim medis secara ketat. Mereka memeriksa Danisha setiap 20 menit sekali.


" Permisi, waktunya kontrol, Pak. "


" Silahkan, Suster, " sahut Saka. Ia pun berdiri dari duduknya.


Kedua orang perawat itu pun dengan cekatan memeriksa Danisha.


" Belum lagi, Sus. Hanya sore tadi. Bagaimana kondisi istri saya sebenarnya, Suster ? Apa dia baik-baik saja atau memang ada komplikasi yang terjadi ? " cecar Saka.


" Kalau dilihat dari tekanan darah dan hasil check up semuanya baik-baik saja, Pak. Tidak ada masalah. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya konsultasi dengan Dokter Aldi. Kami permisi, maaf. " Kedua suster itu tersenyum dan beranjak keluar kamar.


Saka menghela panjang napasnya.


" Kamu kenapa, Bee ? Ada apa denganmu ? Tolong, jangan membuatku takut. Kamu tau, kan, Bee. Kebahagiaanku adalah kamu. Sementara sampai saat ini, aku belum benar-benar bisa membahagiakan kamu. Aku ingin, aku dan kamu bisa membangun rumah tangga yang penuh ketaatan kepada Allah. Itu adalah salah satu kebahagiaan yang ingin kuwujudkan bersamamu, Bee. Jadi tolong, bangun ya, Bee. Please.... "


Setelah mengucapkan itu, dikecupnya lembut tangan Danisha lalu ia menundukkan wajahnya mencium pipi istrinya cukup lama dan penuh cinta.


********


Langit malam terlihat cerah. Bintang bertaburan menghias langit malam bersama sang bulan purnama yang bersinar indah.


Seorang lelaki muda berdiri bersandar pada sebuah pilar di depan ruangan ICU rumah sakit. Menatap panorama langit malam itu. Kedua tangannya bersedekap dengan wajah yang terlihat sendu dan meredup tak seterang bintang dan bulan yang bersinar saat itu.


" Jika kamu lelah, beristirahatlah. Jika memang kamu ingin menyerah, itu tak apa. Kami mengerti, Danisha pun pasti mengerti. "


Saka mengalihkan pandangannya ke arah suara lembut yang didengarnya. Pemilik suara lembut itu adalah Bunda yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Tersenyum tipis padanya.


Sementara Saka menatap Bunda dengan mengernyitkan dahinya. Mencoba mencerna ucapan Bunda.


" Maksud Bunda ? "


Sekali lagi, Bunda tersenyum menatap menantunya.


" Semua ini melelahkan, Nak. Jangan pernah membohongi diri sendiri. Ini adalah hal yang sangat berat dan melelahkan. Jujur Bunda katakan. Kenapa ? Kita menunggu ketidakpastian. Walaupun begitu kita memang harus sabar dan kuat juga yakin dengan hasil operasi Danish. Tapi pada kenyataannya, kita masih menunggu dengan ketidakpastian. Kita tidak tahu kapan dia akan terbangun dan tersadar dari komanya. Kita juga tidak tahu bagaimana kondisi Danish setelah dia bangun dan tersadar dari komanya nanti. Kita harus siap menerima semua kemungkinan-kemungkinan terburuk. Ayah dan Bunda siap dan ikhlas apa pun dan bagaimanapun kondisi Danish. " Sejenak Bunda berhenti berkata. Wanita paruh baya itu menghela napasnya panjang, tangannya dengan lembut mengusap lengan menantunya.


" Jika kamu lelah dan menyerah, tidak apa-apa, Nak. Danish sudah ikhlas dan ridlo. Dia ingin kamu bahagia, tidak seperti ini, " lanjut Bunda, dengan senyuman yang dipaksakan.

__ADS_1


Saka menggelengkan kepalanya cepat.


" Bunda bicara apa ? Kenapa Bunda punya pikiran seperti itu ? Saka lelah Bunda, itu benar. Tapi Saka ga menyerah. Tak akan pernah menyerah, apalagi untuk Danish ! " protes Saka tegas.


" Bun, bukankah yang Allah berikan untuk kita pastinya yang terbaik ? Meskipun yang terbaik itu tidak selalu indah. Jadi apa pun dan bagaimanapun kondisi Danish nanti, Saka tetap suaminya. Yang selalu mencintainya dan insya Allah akan selalu bersamanya sampai kematian datang menjemput kami, " lanjutnya menatap lekat sang ibu mertua.


Bunda tersenyum dan terisak pelan. Wanita bersuara lembut itu sangat terharu mendengar perkataan Saka. Digenggamnya erat salah satu tangan Saka.


" Terima kasih, Nak. Bunda tahu perasaanmu. Mencintai putri Bunda sedemikian besarnya. Hanya saja, kamu masih muda. Masa depan dan kebahagiaanmu masih panjang, jauh di depan sana. Danish ingin kamu selalu bahagia. Tidak seperti sekarang, yang hanya mengurusi Danish yang benar-benar tidak berdaya. Maafkan, Bunda, " ucap Bunda dengan suara bergetar karena tangisan yang sudah tidak bisa ditahannya.


" Bunda, masa depan Saka adalah Danisha. Putri Bunda. Saka akan memperjuangkannya. Kebahagiaan Saka adalah Danisha. Saka ga perlu mencari kebahagiaan lain karena Saka sudah memilikinya. Saka akan menjaga kebahagiaan itu sampai kapan pun, " tegas Saka.


Seketika Bunda pun memeluk Saka. Menumpahkan perasaannya dengan air mata di pelukan menantunya. Merasa sangat beruntung memiliki menantu seperti Saka, lelaki yang bertanggungjawab dan sangat mencintai putrinya.


Saka membiarkan ibu mertuanya menangis di pelukannya. Diusapnya lembut bahu dan punggung Bunda dengan kasih sayang. Ia tahu ibu mana yang tidak sedih dan hancur hatinya melihat kondisi putrinya saat ini. Harus berpura-pura dalam kondisi baik-baik saja dan menahan perasaan yang sesungguhnya dalam kesedihan. Terkadang perasaan hanya bisa dijelaskan dengan air mata.


********


Saka telah tiba di kampus bersama Prasta dan Distha. Hari ini ia akan maju untuk sidang skripsinya.


Pagi tadi, sebelum berangkat ke kampus dan saat Saka berpamitan dengan Danisha, istrinya itu menunjukkan responnya. Jemari tangannya bergerak meremas jemari Saka yang menggenggamnya. Cukup lama. Saat tim dokter datang untuk memeriksanya, Danisha menggerakkan sedikit kepalanya ke kanan dan kiri. Telapak kaki kiri Danisha pun sempat bergerak sedikit meskipun hanya sekilas.


Menurut Dokter Aldi hal itu merupakan progress yang bagus. Ada pergerakan dari anggota tubuh lain selain tangan. Tak henti Saka dan Bunda mengucapkan rasa syukurnya.


Saka pun kembali bersemangat. Dengan penuh keyakinan ia berangkat ke kampus ditemani Prasta. Ya, Dokter Ardhy, kakak sepupu Saka meminta Prasta untuk menemani Saka. Karena kekasih Distha itu sedikit mencemaskan kondisi Saka yang kurang tidur untuk mengemudikan mobil. Karenanya, Prasta yang diminta untuk mengemudikan mobil untuk menemani Saka ke kampus.


Saat ini Saka akan memasuki ruangan sidang skripsi. Sebelumnya ia menghadap dosen pembimbing, Pak Renaldi, yang merupakan dosen mata kuliah Komunikasi Bisnis. Ya, Saka memilih riset dan menulis skripsinya tentang komunikasi bisnis di perusahaan keluarganya.


" Good luck, Bro ! Semangat, ya ! " Prasta memberikan semangat untuk Saka dengan salam khas mereka.


Demikian pula Distha.


" Bismillah, mudah dan lancar semuanya, ya, Ka. Good luck ! " ucap Distha mengepalkan salah satu tangannya.


" Thanks, semuanya. Tunggu aku, ya ! " Saka berkata sembari tersenyum, lalu berjalan masuk ke ruangan sidang.


Sementara itu, di rumah sakit. Bunda yang menemani Danisha dikejutkan dengan respon pergerakan tangan dan kaki putrinya yang intens. Dengan segera, Bunda melakukan panggilan darurat kepada perawat dan dokter jaga. Dokter Aldi dan timnya pun datang dan segera memeriksa kondisi Danisha.


Cukup lama Dokter Aldi dan timnya memeriksa kondisi Danisha. Bunda dianjurkan untuk keluar ruangan. Harap-harap cemas Bunda menanti informasi perkembangan kondisi putrinya. Ayah sedang tidak ikut menemani di rumah sakit karena harus bekerja setelah mengambil cuti selama 5 hari.


Pintu ruangan ICU terbuka. Dokter Aldi keluar bersama tim medisnya.


" Gimana, Dokter ? " tanya Bunda cemas.


Dokter Aldi tersenyum.


" Sungguh progress yang bagus, Bu. Harapan dan keyakinan saya semakin kuat. Insya Allah, Danisha akan segera sadar. Perlu kesabaran dan tentu saja doa adalah tetap yang terbaik untuk segala ikhtiar kita, " terang Dokter Aldi dengan seulas senyuman untuk memberi semangat pada Bunda.


" Alhamdulillah, terima kasih, Dokter. " Bunda mengusap wajahnya pelan, bibirnya membentuk senyuman semringah.


" Saya permisi, ya, Bu. Para perawat jaga selalu standby di tempatnya. Mereka akan terus memantau dan mengontrol kondisi Danisha, " tutur Dokter Aldi.


" Baik, Dokter. Terima kasih sekali lagi. " Bunda sedikit membungkukkan badan mengucapkan terima kasih pada Dokter Aldi.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Masih eps Saka yg melow, sabar yaa Danisha dah ada progress bagus, bentar lagi dia bangun koq ☺️


Aq bakalan up lagi segera nih, ditunggu yaa


Semoga masih setia di sini ya.. LIKE N KOMEN always ditunggu ya LOTA Lovers πŸ€—πŸ˜˜πŸ’ž

__ADS_1


Thank you for everything πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2