
Dokter Aldi menghela napasnya berat setelah membaca hasil medical check up Danisha. Sesekali ditatapnya gadis yang duduk di hadapannya.
" Danish, sepertinya saya harus segera melakukan tindakan untuk mencegah penyakitmu semakin parah, " jelas Dokter Aldi.
" Maksud Dokter ? " tanya Danisha cemas.
Dokter Aldi menatap Danisha dan menghela napasnya dalam.
" Operasi, " jawab Dokter Aldi singkat.
Seketika Danisha terdiam, wajahnya terlihat tegang dan cemas. Ia menundukkan kepalanya sesaat, menghela panjang napasnya, lalu menegakkan kepalanya dan menatap Dokter Aldi.
" Separah apa sekarang penyakit saya, Dok ? " tanyanya kemudian.
" Sepertinya operasi jalan satu-satunya untuk mengangkat penyakitmu. Saya tidak ingin berspekulasi untuk penyakit yang satu ini. Tindakan preventif dari awal lebih baik daripada kita hanya menunggu hingga penyakit ini makin ganas menyerang tubuhmu. Saya tidak mau menunggu. Saya yakin kamu paham apa yang saya katakan, " jelas Dokter Aldi lebih lanjut.
Tubuh Danisha terasa lemas. Dunianya seolah runtuh. Separah itukah penyakitnya ? Ia harus apa ? Batinnya.
" Bicaralah sama orang tuamu, juga sama calon suamimu. Atau saya yang bicara sama mereka ? "
" Ja... Jangan, Dok. Tidak, biar saya sendiri yang bicara sama mereka. Kapan saya harus operasi ? "
" Secepatnya, Danish, " jawab Dokter Aldi tegas.
" Dok, bisakah operasi itu dilakukan setelah pernikahan saya ? " tanya Danisha ragu.
Dokter Aldi melihat undangan hijau pastel yang tadi Danisha berikan untuknya.
" Ya ! Bicaralah dulu dengan mereka. Pertimbangkan saran saya. Saya yakin kamu bisa sembuh, Danish, " ucap Dokter Aldi optimis, tersenyum pada gadis berlesung pipi itu.
Danisha menganggukkan kepalanya dan balas tersenyum tipis. Untuk hari ini saja ia harus berbohong pada orang tua dan juga calon suaminya. Mencari alasan yang tepat agar mereka tidak curiga padanya yang telah menyembunyikan sesuatu.
Pada orang tuanya, terutama Bunda, ia mengatakan akan pulang terlambat karena harus ke perpustakaan kampus dan ada acara dengan teman-teman Radio DG FM. Sedangkan pada Saka, ia tidak ingin dijemput karena ada acara di Radio DG FM dan pulangnya akan diantar Bang Hendra. Awalnya Saka tidak mengijinkan Bang Hendra mengantarnya pulang. Saka tetap kekeuh ingin menjemputnya. Tetapi karena Bang Hendra yang berbicara sendiri dengan Saka, akhirnya laki-laki itu pun mengiyakan.
Dan apa yang didengarnya hari ini dari Dokter Aldi sungguh membuatnya lemas dan cemas pada dirinya sendiri. Operasi. Kata itu sungguh membuat jantungnya berdebar kencang. Membuat dunianya seakan runtuh saat itu juga. Hari pernikahannya tinggal beberapa hari saja. Ia tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.
Danisha menarik napasnya panjang ketika keluar dari ruang periksa Dokter Aldi. Ia berusaha tersenyum dan terlihat wajar di depan Bang Hendra yang saat ini sedang menunggunya di depan ruangan Dokter Aldi.
" Yuk, Bang ! " ajak Danisha pada Bang Hendra yang duduk di kursi tunggu sembari sibuk dengan ponselnya.
Bang Hendra mendongakkan kepalanya.
" Udah ? Apa kata Dokter ? " tanya Bang Hendra.
" Ga apa-apa, semuanya baik-baik aja, " sahutnya berbohong dengan senyum yang dipaksakan.
" Syukurlah ! Kita makan dulu ya, Dek ! " ajak Bang Hendra beranjak dari duduknya.
" Ga usah, Bang ! Langsung pulang aja, " tolak Danisha.
" Kamu belum makan, lho ! Udah hampir jam 3 sore ini, Dek. Aku ga mau dimarahi Saka gara-gara kamu telat makan, " ujar Bang Hendra.
Danisha tersenyum tipis mendengar perkataan Bang Hendra, teman seprofesinya yang mengantarkannya ke rumah sakit.
" Baiklah, Bang ! " Danisha pun mengiyakan ajakan Bang Hendra sembari menghela napasnya pelan.
*******
Saka berjalan keluar dari ruangan dosen. Ia baru saja selesai bimbingan skripsi dengan dosen pembimbingnya. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Bimbingan skripsi hari ini lancar, tidak terlalu banyak koreksi. Rencananya, Saka akan segera merevisinya setelah tiba di kantor.
Saat ia berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari ruangan dosen, ia melihat Audy yang berdiri di depan mobilnya sembari menatap ke arahnya.
" Audy ? " ucapnya pelan.
Audy tersenyum dan melambaikan tangannya.
" Hai, Ka ! " sapa gadis cantik itu pada Saka saat Saka sudah berdiri di hadapannya.
" Hai ! Apa kabar, Dy ? " tanya Saka sedikit berbasa basi.
" Kabar baik. Kamu apa kabar ? " Audy bertanya balik.
" Baik juga, alhamdulillah, " sahut Saka.
Audy mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum canggung.
" Uummm... Selamat ya, Ka ! " ucap Audy mengulurkan tangannya.
Dengan ragu Saka menyambut uluran tangan Audy, menjabatnya sekilas dan mengucapkan terima kasih.
" Thanks. Ah iya, ini undangan buat kamu. Sorry, belum aku tulis nama kamu di situ, " ucap Saka sembari merogoh tas ransel dan menyodorkan undangan pernikahannya dengan Danisha pada Audy.
Audy tertegun. Diterimanya undangan hijau pastel itu, lalu ditatapnya sejenak. Tertera nama Saka dan Danisha di sana. Hatinya merasakan perih. Kenapa rasanya sakit begini, batinnya.
" Datang ya, Dy, " kata Saka, senyum tipis tersungging di bibirnya.
" Harus, ya ? " tanya Audy, tersenyum getir.
" Ya, kita akan senang kalau kamu bisa datang, Dy. Tapi kalau kamu ga bisa datang atau mungkin ga mau datang, ga apa-apa juga, sih ! " jawab Saka tersenyum lebar.
__ADS_1
Audy ikut terkekeh pelan.
" Insya Allah, ya. Aku usahakan, " ucapnya kemudian.
" Makasih ya, Ka, " lanjutnya pelan, suaranya sedikit bergetar.
" Untuk apa ? " tanya Saka tak mengerti.
" Untuk semua. Makasih untuk kebersamaan kita selama ini, " ucap Audy lirih.
Saka mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan maksud perkataan Audy yang menurutnya ada maksud tertentu.
" Maksudnya ? " tanya Saka.
" Hah ? Maksudnya ya... Maksudnya... Makasih udah jadi teman aku, " jawab Audy gugup.
" Owh... ! Sama-sama, Dy. Baiklah, aku permisi mau jalan, ya. Usahain datang ya, Dy, " ujar Saka sembari berjalan ke arah pintu kemudi.
" Ok, insya Allah, " sahut Audy yang berjalan ke samping mobil Saka saat laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya.
Saka menurunkan kaca mobilnya setelah menyalakan mesin mobilnya. Tersenyum pada Audy dan melambaikan tangannya pada gadis itu.
Audy membalas lambaian tangan Saka dengan senyuman getir di bibirnya. Lalu dilihatnya undangan berwarna hijau pastel itu. Dadanya sesak. Hatinya perih. Sakit. Pelupuk matanya mulai berair. Secepat kilat ia menghapusnya dengan ujung jemarinya. Lupakan dan lepaskan, bisik suara hatinya.
Sementara itu di rumah sakit, Dokter Ardhy sedang bersiap untuk pulang. Ia ada janji dengan pujaan hatinya, Distha.
Karena mobilnya masih berada di bengkel, Distha yang akan menjemputnya. Ia senyum-senyum sendiri mengingat gadis ceplas-ceplos nya itu.
" Dokter, kok senyum-senyum ? " tanya perawat yang membantunya praktek hari ini.
" Hah ? Masa, sih ? " ucapnya malu karena kepergok senyum-senyum sendiri.
Perawat itu pun terkekeh.
" Dokter lagi jatuh cinta, ya ? " tanya perawat itu lagi.
" Hush ! Ngarang kamu, ya ! Eh, tapi mungkin bener, sih, " sahut Dokter Ardhy ikut terkekeh.
" Udah beres ? Ya, udah saya pulang dan kamu juga bisa istirahat, " ucap Dokter Ardhy kemudian.
Keduanya pun beranjak dari ruangan praktek Dokter Ardhy. Baru saja mereka berjalan meninggalkan ruangan itu, tampak seorang gadis berjalan ke arah mereka dengan senyum manis membingkai wajahnya.
" Nah, kan, bener. Yang bikin jatuh cinta datang, " canda si Perawat.
Dokter Ardhy tersenyum simpul
" Tau aja kamu ! " sahutnya sumringah.
" Doakan, ya, " sahut Dokter Ardhy dengan senyum sumringah.
" Hai, Sayang ! " sapanya saat keduanya sudah saling berhadapan.
Cup !
Tiba-tiba Dokter Ardhy mengecup pelipis Distha. Membuat Distha diam seketika. Tubuhnya berdiri kaku. Terlebih saat pujaan hatinya merangkul pinggangnya.
Distha melirik sekilas tangan kokoh yang berada di pinggangnya. Ia melihat sekeliling tempat itu. Untung tidak banyak orang yang berlalu lalang. Ia sedikit lega. Hatinya berbunga-bunga.
" Kok melamun ? "
Pertanyaan Dokter Ardhy membuat Distha tersadar dari keterkejutannya atas sikap kekasihnya itu.
" Ga, kok ! "
Mereka berjalan beriringan, kini tangan Dokter muda itu sudah beralih tempat. Kali ini, ia menggandeng mesra tangan gadis ceplas-ceplosnya.
Distha tersenyum bahagia. Ia tak menyangka bisa benar-benar jatuh cinta dengan lelaki yang menggandeng mesra tangannya saat ini. Dokter muda yang tampan, yang juga menyambut cintanya.
*******
Setelah makan malam dan berbincang sejenak dengan kedua orang tua dan adiknya, Danisha kembali ke kamarnya. Pikirannya melayang pada perkataan Dokter Aldi.
Operasi.
Satu kata itu membuatnya takut. Berbagai pikiran buruk mengelilinginya. Ia tak sanggup mengatakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Lidahnya kelu, bibirnya tak sanggup bersuara. Lalu, sanggupkah ia mengatakan semuanya pada Saka, calon suaminya ? Pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
Pandangannya tertuju pada meja rias di samping ranjang tidurnya. Di atas meja itu, beberapa undangan berwarna hijau pastel tergeletak rapi. Undangan pernikahan yang akan ia berikan pada tetangganya. Ia lupa memberikannya pada Bunda pagi tadi.
Diambilnya undangan itu satu. Di sana ada namanya dan nama Saka serta tanggal pernikahannya. Apa yang harus dilakukannya ?
Jika memang operasi adalah jalan yang terbaik, ia akan melakukannya. Namun, untuk mengatakan hal itu pada keluarga dan calon suaminya, sangatlah berat. Kembali, ia tidak ingin membuat repot semua orang yang menyayanginya. Tidak ingin merusak suasana bahagia yang saat ini mereka rasakan. Ia merasakan sesak di dadanya. Pikirannya lelah, hingga kantuk datang menyergapnya.
Baru saja ia terlelap, sayup-sayup telinganya mendengar dering ponselnya. Tangannya meraba ranjangnya. Seingatnya sebelum terlelap tadi, ia letakkan ponselnya di sebelahnya berbaring.
Dering ponsel itu tak terdengar lagi. Perlahan Danisha bangun dari baringnya. Dengan posisi duduk di ranjangnya sembari mengucek mata, ia mengumpulkan kesadarannya.
Ponselnya berbunyi lagi, tapi kali ini tanda pesan baru masuk. Ia melihat ponselnya di sebelahnya duduk. Diraihnya ponsel biru metalik itu, lalu dibukanya layar kuncinya.
Pesan baru dari Saka. Seharian ini ia tidak bertemu dengan lelaki yang sebentar lagi menjadi kekasih halalnya. Ia tersenyum saat melihat calon suaminya itu mengirimkan sebuah pesan suara. Lalu ia menekan tombol play. Sedetik kemudian, terdengarlah alunan gitar dan suara merdu dari kekasih hatinya.
__ADS_1
πΆπΆπΆ
Ingin kukirim bunga, yang pantas kau terima
Atau tuliskan lagu, s'kedar menuang rindu
Apa saja ku mampu, asal itu buatmu
Kuharap engkau suka, beri kecil binar mata
Ingin dengar candamu, di telepon bicara
Pastinya kau tersipu, waktu ku merayumu
Apa saja ku mau, 'tuk meraih hatimu
Kuharap mengkau suka, beri kecil binar mata, melekat erat di jiwa
Sudikah naik ikut perahuku
Berkain layar cinta
Arungi warna-warni gelombang dunia
Satu kayuh berdua
'Tuk sampai di sana ...
Apa saja ku mampu, 'tuk meraih hatimu
Kuharap engkau suka, beri kecil binar mata
Melekat erat di jiwa
Sudikah naik ikut perahuku
Berkain layar cinta
Arungi warna-warni gelombang dunia
Satu kayuh berdua
'Tuk sampai di sana ...
Kau turut serta ...
Sudikah naik ikut perahuku
Berkain layar cinta
Arungi warna-warni gelombang dunia
Satu kayuh berdua
Satu Kayuh Berdua by KLa Project
Kedua mata Danisha berkaca-kaca. Suara merdu kekasih hatinya menyanyikan lagu dengan bermain gitar sungguh membuatnya tak bisa menahan haru dan rindu. Bulir bening di pelupuk matanya pun sudah tidak bisa dibendungnya, jatuh sudah membasahi kedua pipi dengan lesung yang dalam itu.
Tentu saja aku akan naik ikut perahumu, bersamamu. Kita kayuh perahu berlayar cinta berdua. Kamu sudah memiliki hatiku, menjadikanku sempurna dengan segala kekuranganku. Aku mencintaimu selamanya, hingga napasku terhenti dan mungkin saat aku tak di sisimu lagi. Danisha bermonolog dalam hati dan tangisnya.
Masih terisak, Danisha membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang berbalut sprei berwarna hijau tosca dengan motif kotak. Ia putar lagi alunan suara kekasih hatinya. Perlahan rasa kantuknya kembali datang dan akhirnya ia terlelap.
Sementara di waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda. Saka tersenyum bahagia setelah mengirimkan pesan suaranya yang bernyanyi dengan bermain gitar pada kekasih hatinya.
Seharian tidak bertemu dengan gadis pemilik hatinya membuatnya sangat merindukan gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya. Gadis yang membuatnya selalu jatuh cinta setiap detik kehidupannya. Gadis yang membuatnya tidak ingin berpaling pada gadis lainnya. Hanya dia dalam hidupnya.
Hanya tinggal menghitung hari dirinya dan Danisha sah di mata hukum agama dan negara. Sang Mama mengingatkannya jika dua hari lagi, ia dan Danisha harus dipingit. Tidak diperbolehkan bertemu. Ah, apalagi ini. Mana sanggup dirinya berjauhan dengan Danisha. Tidak melihatnya seharian ini saja hatinya begitu merindu.
Tidak ! Ia tidak sanggup !
Saka bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju balkon kamarnya dengan ponsel yang masih digenggamnya. Kemudian ia duduk di kursi yang tersedia di balkon kamarnya. Malam yang cerah berhias kerlip bintang di langit. Ia tersenyum menatap langit. Sesaat kemudian, matanya terpejam. Membayangkan wajah ayu berlesung pipi ada bersama ribuan bintang di atas sana. Aku sangat mencintaimu, Danisha Almanita. Di setiap detik napas dan hidupku. Kita akan mengayuh perahu cinta kita berdua, hanya berdua. Menuju surga Nya.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers ππ
Aq koq sedih yaa... hiks π€§ sekaligus deg2an menuju pernikahan mereka
Kalian siap hadir ??
siap2 ya LOTA Lovers βΊοΈ
Yg mo hadir di resepsi nya Saka n Danisha, absen yaa.. tinggalkan jejak kalian, like, komen, Rated. Mo vote juga ? thank you π€ππ
__ADS_1
Banyak terima kasih, cinta n sayang untuk kalian yg slalu setia di sini π€πππ
Stay safe n healthy π·π€**