Love On The Air

Love On The Air
Eps 39 Bertemu Kembali


__ADS_3

Hari ini adalah puncak acara anniversary Radio DG FM. Acara digelar di cafe milik Pak Andre, sang pemilik Radio DG FM.


Para kru begitu sibuk mempersiapkan segala sesuatunya sedari pagi.


Saat ini, mereka sudah berkumpul di cafe untuk mempersiapkan acara nya yang akan dimulai pada jam 10.00.


" Kak Ella, itu kue yang di kantong plastik ada kertasnya buat kru ya, Kak. Kalo yang ini buat tamu VIP, " kata Danisha menunjuk kantong plastik berisi kue box yang ia sebutkan.


" Owh iya, sini dipisah tempatnya aja simpan di sebelah sini, Danish, " ujar Kak Ella.


" Iya, Kak. Renata mana, Kak ? " tanya Danisha.


" Itu dia, di atas panggung sama Prasta dan Hendra.


" Aku ke sana sebentar ya, Kak, " kata Danisha. Kak Ella mengangguk sambil terus sibuk menata kue-kue.


Danisha naik ke atas panggung menghampiri Renata dan Prasta yang berdiri berdampingan.


" Hai, Ren, Pras, " sapa Danisha.


" Haiiii ! " sapa balik Renata dan Prasta.


Danisha tersenyum.


" Ay, foto in kita berdua donk ! " Renata meminta Prasta untuk mengambil foto mereka berdua.


" Ish, belum juga mulai acaranya, Nona ! Baiklah, ayo sini, " cetus Prasta.


" Pras, Saka apa kabarnya ya ? " tiba-tiba Danisha menanyakan Saka.


Prasta menatap Renata, keduanya terdiam sejenak. Lalu Prasta membuka suaranya.


" Saka baik kok ! WO nya rame. Hehehe.... " ujar Prasta.


" Owh iya, kemarin aku sempat lihat dia di toko buku sama cewek. Keknya anak kampus juga, Pras. Kalau ga salah temannya Distha deh, tapi aku lupa namanya, " kata Danisha bercerita.


" Oh ya ? Temannya Distha yang mana ya ? " tanya Prasta pura-pura tidak tahu.


" Itu aku juga lupa kok. Hehehe.... " jawab Danisha tersenyum tipis.


" Sayang ! Aku cariin ternyata kamu di sini, " seru Mas Rendra.


" Ya, Mas. Eh, Nay mana ? " tanya Danisha mencari Nay.


" Tuh ! Lagi bantu Kak Ella, " jawab Mas Rendra menunjuk ke arah Kak Ella dan Nay yang menata kue box di meja penerima tamu.


Semua kue box untuk acara itu dipesan dari toko kue Bundanya Danisha. Selain kue box, juga ada snack untuk hidangan di meja tamu VIP, yang juga dipesan dari toko kue Bundanya Danisha.


" Kamu duduk aja di tempat Kak Ella itu, sayang. Ga usah jalan kesana kemari, capek nanti, " omel Mas Rendra.


" Aku ga apa-apa, Mas. Santai kenapa sih.... " sahut Danisha.


" Kamu tadi belum sarapan lho ! Bunda bilang kamu ga mau sarapan. Jangan membantah donk.... " tukas Mas Rendra mulai kesal menghadapi Danisha yang keras kepala.


Danisha terdiam. Mau ngomong dan membantah pun ga ada gunanya. Lalu dia pun turun dari panggung dan duduk di kursi tempat meja penerima tamu sambil membantu Kak Ella menata kue dan minuman.


Mas Rendra menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. Ia pun turun dan menghampiri Danisha.


" Sayang ! .... "


" Iya, ini udah duduk di sini kan ? " sungut Danisha.


" Makan dulu, isi perutnya sayang... nanti pusingnya kambuh lagi... ya... ? " bujuk Mas Rendra


" Aku udah kenyang tadi pagi minum susu ukuran jumbo ditambah 2 tangkup roti tawar selai coklat, " ujar Danisha kesal.


" Ok ok ! " Mas Rendra pergi meninggalkan Danisha yang kesal, tak ingin memperpanjang pembicaraan.


Kak Ella geleng kepala melihat sepasang kekasih itu beradu mulut. Sepele sih, tapi bikin ribut.


" Danish, jangan ngambek gitu ah ! Kalian ga perlu berantem dan saling kesal gara-gara hal sepele. Banyak-banyak sabar dan coba belajar saling memahami. Apalagi kondisi kamu ga boleh terlalu banyak pikiran dan tegang, harus banyak rileks. Ok, sayang ? " tutur Kak Ella kemudian.


Danisha menghela napas panjang dan beristighfar dalam hati.


" Makasih, Kak, " ucap Danisha dengan nada menyesal.


Nay yang juga melihat dan mendengar adu mulut itu pun menghampiri Danisha sembari tersenyum.


" Sabar ya, Mbak. Mas Rendra emang selalu perhatian begitu. Kalo dah begitu, dia ga mau dibantah. Pertanda Mas Rendra benar-benar sayang sama Mbak, " ujar Nay sambil memegang bahu Danisha.


Danisha pun balas tersenyum dan mengangguk, " Iya, Nay. "


Nay berlalu pergi. Danisha melihat dia menghampiri Mas Rendra di seberang tempat Danisha berdiri. Entah apa yang dibicarakan.


******


Acara puncak anniversary Radio DG FM yang digelar off air berjalan lancar dan sukses. Para pendengar dan pengiklan sangat antusias mengikuti acara yang bertema meet and greet itu. Mereka mengaku sangat senang dan puas dengan acara tersebut dan berharap akan diselenggarakan kembali sebagai agenda tahunan.


Pak Andre pun sangat senang dan puas dengan kerja keras para kru radio DG FM selama ini, termasuk kerja keras dalam penyelenggaraan acara meet and greet ini.


" Rendra ! " Pak Andre memanggil Mas Rendra, akan berpamitan pulang.


" Saya, Pak, " jawab Mas Rendra menghampiri Pak Andre yang berdiri di dekat pintu utama cafe.


" Aku pamit dulu, ya. Aku senang dan puas dengan hasil kerja kalian, " kata Pak Andre sungguh-sungguh. Ia menjabat tangan Mas Rendra sambil tersenyum lebar.


" Terima kasih atas apresiasi nya, Pak. Terima kasih udah mau datang di acara ini, " ucap Mas Rendra tersenyum sumringah.


" Baiklah, Rendra ! Besok aku tunggu kamu di kantor ya, seperti biasa, " Pak Andre berkata sambil menepuk bahu Mas Rendra pelan.


" Baik, Pak ! " jawab Mas Rendra singkat.


Setelah Pak Andre pergi, Mas Rendra menghampiri kru nya yang berkumpul di samping panggung selepas membereskan semua atribut dan barang.


" Udah beres semua kan ? Barang-barang dan lain-lain udah masuk mobil semua ? " tanya Mas Rendra memastikan.


" Beres, Boss ! " jawab Hendra, Andhika dan lainnya kompak.


Mereka tertawa bersama.


" Sip ! Kita balik ke studio sekarang, " jawab Mas Rendra.


Mereka pun beranjak dari tempat itu menuju ke luar cafe.


" Sayang, langsung aku antar pulang ya ? " Mas Rendra mengajak Danisha untuk langsung pulang, tidak perlu ke studio dahulu.


" Ga usah, ke studio dulu aja. Ga enak sama yang lain, " jawab Danisha lirih.


Mas Rendra tersenyum dan mereka berjalan bergandengan saling menautkan tangan mereka.


Di dalam mobil dalam perjalanan ke studio. Danisha duduk di samping bangku kemudi yang dipegang Mas Rendra. Sementara Nay duduk di bangku belakang.


" Mas, nanti malam jadi kan antar aku jalan-jalan ? " tanya Nay pada kakaknya.

__ADS_1


" Kamu mau jalan kemana sih ? Ga capek ? " tanya Mas Rendra heran.


" Ya pengen jalan-jalan keliling Surabaya lah, Mas, " sahut Nay.


" Besok sore aja ya... Mas masih ada keperluan nanti malam. Kemarin udah jalan ke Mall kan, ke toko buku, " tukas Mas Rendra.


" Tapi bener besok sore, ya ? " tanya Nay memastikan.


" Iya, Insya Allah. Sayang, kamu capek ya ? Tidur dulu, gih ! " Mas Rendra melihat Danisha yang menyandarkan kepalanya di bangku mobil.


" Capek biasa aja kok, " Danisha tersenyum tipis.


Ponsel di tas Danisha berdering tanda panggilan telepon. Buru-buru ia menggeser tombol hijau pada benda pipih biru metalik itu.


" Assalamualaikum ! " sapa Danisha.


" Waalaikumsalam ! Danish, udah selesai acara nya ? Sorry tadi aku ga bisa datang, Tante aku sakit dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit. "


" Iya, Distha. Syafakillah buat Tante kamu. Ini lagi on the way ke studio. "


" Besok ke kampus ? "


" Insya Allah, Sist. Tapi mungkin agak siang ya. "


" Ok, sampai besok di kampus ya ? Assalamualaikum.... "


" Ok ! Waalaikumsalam. "


Danisha mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu perlahan, ia mencoba memejamkan matanya.


Mas Rendra memperhatikan gadis berkerudung dark grey di sebelahnya yang sedari tadi tak banyak bicara. Wajahnya sedikit pucat, mungkin kecapekan. Sementara dari kaca spion di depannya, Mas Rendra melihat Nay memejamkan matanya.


*******


Distha berlari-lari mengejar Prasta yang baru saja ke luar dari tempat parkir motor.


" Woooyy...! Pras ! " seru Distha.


" Hai ! Santai kenapa, Sist. Ga usah lari-lari begitu. Udah kangen aku banget, ya ? " kelakar Prasta.


" Kampret ih ! Tapi iya lho, kangen ma kalian bertiga. Hehehe.... " Distha terkekeh, tangannya bergelayut di bahu Prasta.


" Kamu sok sibuk sih ! Selesai kuliah buru-buru pulang. Sebenarnya apa sih yang kamu kerjain ? " kelakar Prasta.


" Begitu deh ! Aku juga pengennya ga buru-buru pulang, tapi aku kan anak yang berbakti, Bro. Begitu ada panggilan dari orang tua langsung siap laksanakan ! Hahaha.... " ujar Distha tertawa menanggapi kelakar Prasta.


" By the way, Danisha kok belum datang ya ? Dia ada kuliah ga sih ? " tanya Danisha pada Prasta.


" Keknya dia ga ada kuliah, tapi kemarin bilang mau ke kampus nemuin Pak Suharyono, " jawab Prasta serius.


" Kemarin cuma bilang ke aku mau ke kampus siangan, " sahut Distha.


" Saka juga belum kelihatan, " ujar Prasta.


" Jemput si Audy kali, " celetuk Distha.


Prasta memperhatikan Distha yang asyik dengan ponselnya.


" Dis, Saka kok bisa akrab dengan Audy sih ? " tanya Prasta penasaran.


" Perasaan di kampus ini dia ga pernah akrab sama cewek selain kamu, Danisha dan satu lagi si Meta cewek matre itu. Meskipun sekarang sama si Meta dia udah anti banget. Hehehe.... " lanjut Prasta, ia tertawa pelan mengingat sahabatnya yang pernah dekat dengan Meta, cewek matre di kampus nya.


" Aku juga penasaran sih ! Belum ketemu Saka, jadi belum nanya. Kamu sendiri, kemarin katanya ketemu dia. Kok ga nanya ? " Distha balik bertanya.


" Mau nanya ga enak. Dia juga buru-buru pergi, " sahut Prasta.


" Iya, Dis, " jawab Prasta singkat.


Sementara itu, Danisha masih dalam perjalanan diantar Mas Rendra ke kampus.


Memakai outfit yang simpel, celana denim biru dipadu dengan blouse berwarna putih dan kerudung pashmina berwarna senada dengan celana denimnya. Mas Rendra tak henti memandangi gadis yang duduk di sampingnya. Benar-benar gadis yang simpel dan manis, gumam Mas Rendra.


" Nanti selesai jam berapa ? " tanya Mas Rendra.


" Belum tau, Mas. Kalo Mas sibuk, ga usah jemput ga apa. Ada Distha kok. Aku bisa pulang bareng dia, " jawab Danisha sambil tersenyum lembut. Kedua lesung pipinya seketika tercetak jelas.


" Dari kampus langsung ke studio ? Atau mau pulang dulu ? "


" Langsung ke studio, Mas, " sahut Danisha.


Tapi tetap kabari ya, kalo udah selesai urusannya, " kata Mas Rendra .


" Siap, Boss ! " jawab Danisha singkat.


Mas Rendra tersenyum menatap gadis pujaannya. Ia meraih tangan gadis berlesung pipi di sampingnya, ia kecup sekilas kemudian digenggamnya penuh kelembutan.


" I love you more and more, " ucap Mas Rendra seraya menatap penuh cinta kekasih hatinya.


Danisha tersenyum lebar, " Masih pagi ngegombal. I love you, Mas, " jawab Danisha menelengkan kepalanya menatap laki-laki penuh pesona di sampingnya.


" Nanti selepas siaran, mau temenin Nay kan ? " tanya Mas Rendra.


" Insya Allah. Nay mau kemana rencananya ? "


" Aku juga ga tau maunya tuh anak. Lihat nanti aja, apa maunya dia, " sahut Mas Rendra.


Mobil Mas Rendra berhenti di depan pintu gerbang kampus.


" Beneran di sini aja ? Ga kejauhan jalannya ? " tanya Mas Rendra.


" Iya di sini aja. Ruangan dosen ga jauh kok, " jawab Danisha.


" Thank you. Hati-hati ya, Mas. Jangan melamun dan jangan ngebut bawa mobilnya. Assalamualaikum, " pesan Danisha pada kekasihnya.


" Waalaikumsalam... Ngelamunin kamu ga apa kan ? See you, sayang.... " sahut Mas Rendra dengan mengedipkan sebelah matanya.


Danisha tersenyum lebar melihat sikap kekasihnya. Ia menutup pintu mobil dan tersenyum melambaikan tangannya.


Danisha berjalan menuju gedung tempat ruangan dosen. Dari depan ruangan dosen, ia melihat Saka keluar dari mobilnya. Ia tersenyum, membuka mulutnya akan memanggil Saka. Namun, ia urungkan ketika melihat seorang gadis berambut panjang turun dari sisi kiri mobil Saka.


Danisha mengatupkan mulutnya, memandang lekat Saka dan gadis itu. Ia terdiam, menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian, ia menghela napasnya dalam, tersenyum getir. Lalu melangkah memasuki ruangan dosennya.


Sementara itu, Saka dan Audy yang berjalan beriringan, berhenti di persimpangan taman kampus di antara gedung fakultas ekonomi dan hukum.


" Thank you tumpangannya, Ka. Aku duluan ya.... " ucap Audy.


" Anytime, Audy. Uummm... nanti selesai kuliah ada acara ? " tanya Saka.


" Ga ada sih... kenapa ? "


" Mau ikut aku ga ? "


" Kemana ? " tanya Audy penasaran.

__ADS_1


" Nanti kamu juga tau. Hehehe... Ok, sampai nanti yaa.... " Saka tersenyum simpul dan melambaikan tangannya pada Audy.


Audy tersenyum lebar dan balas melambaikan tangannya. Kemudian dia beranjak menuju ruangan kelasnya.


******


Danisha sedang duduk di kantin kampus menikmati segelas teh manis hangat yang baru saja dipesannya. Ia menunggu Distha yang sudah berjanji untuk bertemu. Sesekali menjawab chat dari kekasihnya, Mas Rendra.


Mas Rendra


" Sayang, udah konsultasi sama dosen pembimbingnya ? "


Me


" Udah, Mas. Sekarang lagi di kantin nungguin Distha. Mas udah meeting sama Pak Andre ? "


Danisha mengirim pesannya dengan foto suasana kantin.


Tak lama, ia menerima notifikasi baru dari Mas Rendra.


Mas Rendra


" Kok bukan foto kamu, sayang. Mana donk foto kamu, hehehe... Barusan kelar meetingnya sama Pak Andre. Jadi gimana, aku jemput jam berapa ? "


Danisha tersenyum, lalu jemarinya mengetik pesan balasan


Me


" Kalo udah kelar, aku kabari Mas. Oh ya, buat apa fotoku ? Tidakkah aku sudah terbingkai di hatimu ? 🤗 "


Ponsel Danisha berbunyi, notif pesan baru. Masih dari kekasihnya.


Mas Rendra


" 😘😘😘😘😘 always and forever "


Danisha tertawa sambil menutup mulutnya ketika membaca pesan dari Mas Rendra yang baru saja masuk.


" Widih ! ketawa sendiri. Anda baik-baik sajakah, Nona Danish ? " tiba-tiba Distha muncul dan langsung duduk di hadapan Danisha.


Danisha masih terkekeh menyapa Distha dan memeluknya.


" Hello, My Sist. Miss you badly, "


" Miss you so much, Dear, " balas Distha.


" Udah ketemu Pak Suharyono ? " tanya Distha kemudian.


" Udah. "


" So ? " tanya Distha lagi.


" Katanya aku udah bisa mulai buat laporan magangnya. Ga ada masalah kalo mau buat di semester ini atau awal semester depan, " jelas Danisha sumringah.


" Alhamdulillah ! " ucap Distha.


" By the way, Prasta kemana ? " tanya Danisha.


" Tadi bilangnya mau ke toilet dulu, " jawab Distha.


" Hai ! " sapa Prasta.


" Lama bener ke toilet nya, Pras. Ngapain aja coba ! Hehehe.... " celetuk Distha.


" Kepo ! Nanti kalo aku ke toilet lagi mau ikut ? " jawab Prasta terkekeh.


" Ogah ! " sungut Distha.


" Kamu ga jemput Renata ke studio, Pras ? " tanya Danisha.


" Nanti setengah jam lagi, " jawab Prasta.


" Ada acara setelah ini, Dis ? " tanya Danisha pada Distha.


" Keknya ga ada sih, kenapa ? " Distha balik bertanya.


" Mau minta tolong antar ke studio, tapi mampir dulu ke toko Bunda. Kalo ga bisa ga apa-apa sih, " jelas Danisha.


" Ok, aku siap mengantarmu, " sahut Distha penuh semangat.


" Makasih, Sista, " ucap Danisha.


" Eh, itu bukannya Saka ya ? " tanya Distha tiba-tiba melihat Saka berjalan melewati kantin sambil memegang ponsel yang menempel di telinganya.


" Saka ! " seru Prasta memanggil Saka.


Saka menoleh ketika Prasta memanggilnya. Ia berhenti sesaat dan mengutak-atik ponselnya. Kemudian berjalan menghampiri ketiga sahabatnya.


" Hai ! " Saka tersenyum menyapa ketiga sahabatnya.


" Duduk lah, Bro. Udah lama kita ga ngobrol, " kata Prasta mengajak sahabatnya untuk duduk di bangku sebelahnya.


" Sorry, aku buru-buru ada janji. Kalian apa kabar ? " tanya Saka kemudian.


" Alhamdulillah, baik, " jawab ketiganya kompak.


" Ga duduk dulu, Ka ? " tanya Danisha sembari menatap Saka.


" Uummm... Ga usah deh ! Ini aku udah ditunggu. Aku duluan ya.... " ujar Saka berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya dengan terburu-buru.


Danisha terdiam terpaku melihat kepergian Saka. Ada sesuatu yang dirasakan di hatinya, kecewa. Saka berubah, bukan Saka yang dikenalnya.


Kita seperti dua orang asing, yang tak saling mengenal. Batin Danisha.


Kita adalah manusia yang pintar dalam hal menyembunyikan


Terutama tentang luka dan rasa


(Ahn)


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Apa kabar kalian ?


Tetap waspada dan selalu jaga kesehatan ya, dears 🤗


Semoga masih setia di sini


Ditunggu jejak kalian, rate, like dan komen nya 🤗😘


Oh ya, Prasta dan Renata punya lapak sendiri ya, dears.

__ADS_1


Kalian bisa baca kisah mereka di novel keduaku, LOVE AND DREAMS


Banyak terima kasih, cinta dan sayang untuk My LOTA Lovers 🤗😘 **


__ADS_2