Love On The Air

Love On The Air
Eps 41 Kembali Pingsan


__ADS_3

Danisha menatap Mas Rendra, ingin penjelasan dari kekasihnya itu.


Mas Rendra menghela dalam napasnya. Ia ingin memulai bicaranya.


" Apa yang ingin kamu tau ? " tanya Mas Rendra lembut.


Danisha berdecak.


" Ck ! Mas bilang serius sama aku dan ga main-main dengan hubungan kita. Tidakkah Mas ingin bercerita tentang diri dan keluarga Mas ? Bukan aku yang bertanya tapi Mas harusnya jujur dan terbuka bercerita dengan sendirinya padaku tanpa aku meminta. Jika memang Mas serius dengan hubungan kita, " jelas Danisha. Kenapa tiba-tiba hatinya meragu.


" Bukankah hal terpenting dalam sebuah hubungan adalah kejujuran dan kepercayaan ? " lanjut Danisha.


" Maafkan aku. Aku harus mengurus dan mengelola perusahaan orang tuaku, karena itu aku harus kembali ke Malang. Selain itu aku juga harus mengurus cafe dan galeriku di sana, " tutur Mas Rendra.


Danisha sedikit kaget. Jadi kekasihnya bukanlah orang dari kalangan biasa seperti dirinya. Dia anak seorang pengusaha dan dia juga seorang pengusaha !


" Jika demikian, kenapa Mas bekerja di radio DG FM ? Untuk apa ? Mas udah punya segalanya. "


Mas Rendra tersenyum.


" Apa salah kalo aku bekerja atas usahaku sendiri ? Sejak aku memutuskan kuliah di kota ini, aku juga memutuskan untuk hidup mandiri. Bekerja atas kemauan dan usahaku sendiri. Lalu dari hasil kerja kerasku, aku membangun usahaku sendiri. Aku dan temanku join mendirikan sebuah cafe sekaligus galeri lukis dan foto. Karena kebetulan Nay suka banget melukis, dia yang membantuku mengurus galeri lukis dan temanku seorang fotografer mengurus galeri foto dan cafe, " cerita Mas Rendra.


" Lalu kenapa Mas bertahan di DG FM sementara Mas udah punya tempat usaha sendiri ? " Danisha bertanya sedikit lembut.


" Karena aku menyukai pekerjaanku di DG FM. Terlebih di situ aku menemukan cintaku, menemukan gadis manis yang sekarang ada di hadapanku. Makin membuatku tak ingin pergi jauh darinya, " ucap Mas Rendra dengan kelembutan.


" Suka banget sih ngegombal. Pasti diajarin Bang Hendra ya...? " celetuk Danisha.


" Ish ! Ga lah, sayang... Hendra tuh yang belajar sama aku, " tukas Mas Rendra.


Danisha terkekeh, " Kalian berdua sama aja sih ! " Danisha menyeruput minumannya.


Mas Rendra pun tertawa mendengar perkataan Danisha. Kemudian ia merapatkan duduknya dekat dengan Danisha, tanpa jarak. Ditautkannya jemari tangannya dengan jemari milik Danisha. Hati Danisha berdesir, jantungnya berdetak tak beraturan. Perlahan Danisha menyandarkan kepalanya pada bahu Mas Rendra. Sungguh nyaman bersandar pada bahu orang yang dicintai. Hatinya pun menghangat. Ia tak tahu kapan lagi mereka akan bisa seperti ini.


Keduanya benar-benar menikmati quality time sebelum jarak benar-benar memisahkan mereka.


******


Saka mengantarkan Audy pulang ke rumah setelah mereka puas bermain dan bercanda dengan teman-teman pinggiran mereka.


Audy terlihat bahagia sekali, senyum sumringah tak lepas dari wajahnya. Ia sangat menikmati saat bermain, bercanda dan ngobrol dengan teman-teman barunya.


" Kamu sering ya main ke tempat itu ? " tanya Audy saat dalam perjalanan pulang.


" Ya begitulah ! " jawab Saka.


" Pantesan... semua mengenalmu. Mereka juga kenal Danisha, Distha dan Prasta. Tadi mereka bertanya padaku, ke mana Kak Danisha. Kamu sama Danisha sering singgah ke tempat itu rupanya. Oh ya, mereka juga bilang, kangen sama Danisha. Mereka minta kalo kita ke sana lagi harus sama Danisha. Hehehe... sepertinya mereka sayang sekali sama Danisha ya... hehehe.... " Audy bercerita tentang celotehan anak-anak jalanan itu.


" Oh ya ? " sahut Saka, ia tetap fokus pada kemudinya. Jalanan cukup ramai dan padat di jam pulang kerja saat ini.


" Gimana kalo minggu depan kita kembali ke sana sama Danisha dan lainnya ? " usul Audy.


Saka masih terdiam dan pandangannya lurus ke depan sesekali matanya mengarah ke spion.


" Sorry ! " ucap Audy singkat.


" Hah ? Sorry kenapa ? " tanya Saka.


" Sorry, aku banyak bicara. Sorry, ignore aja usulku tadi, " sahut Audy menunduk sedih.


Saka melihat perubahan sikap Audy.


" Hey ! Kenapa ? Sorry, aku tadi lagi fokus mengemudi, kamu lihat. Jalanan ramai dan padat, jam pulang kerja. Aku harus hati-hati bawa mobilnya, aku bawa anak orang. Hehehe.... " Saka terkekeh menjelaskan pada Audy kenapa ia diam saja sedari tadi.


" Nanti kita atur lagi singgah ke tempat mereka. Sekarang aku masih belum bisa memberi kepastian. Danisha, Distha dan Prasta pasti juga punya kesibukan, " lanjut Saka.


" Iya, baiklah, " jawab Audy singkat.


" Besok ke kampus ? " tanya Saka.


" Iya, ada 1 mata kuliah jam 9 pagi. Kamu ada kuliah ? "


" Ada 1 mata kuliah juga tapi jam 8 pagi. Gimana, aku jemput jam 7 terlalu pagi ya ? Hehehe.... " jawab Saka tersenyum lebar.


" Ga apa-apa sih, aku biasa bangun pagi terus jogging. Tapi kalo kamu repot, mending kita langsung ketemu di kampus aja, " tutur Audy.


" Wait ! Kamu suka jogging ? " tanya Saka yang kembali terkejut dengan kegemaran Audy yang baru saja ia dengar.


Audy mengangguk, " Iya, kalo ga pagi ya sore aku sempatin jogging meskipun cuma 1 jam. "


" Minggu pagi aku jemput ya... kita jogging bareng di CFD, " ajak Saka antusias. Sudah lama ia tidak jogging di CFD. Sejak Danisha sakit.


" Kamu suka jogging di CFD juga ? Kok kita ga pernah ketemu ya ? Ok, hari minggu aku tunggu ! " Audy bersemangat menerima ajakan Saka.


******


Seminggu telah berlalu.


Saka semakin dekat dengan Audy. Hari Minggu pagi yang lalu pun mereka jogging bersama di CFD kota. Di kampus pun mereka terlihat sering bersama. Teman satu fakultas Audy pun menyimpulkan bahwa mereka berdua sepasang kekasih. Namun, Saka dan Audy tidak terlalu menanggapinya. Biarlah mereka berkata apapun, terserah mereka. Selama yang mereka dengar dan lihat tidak merugikan mereka.


Sementara Danisha yang melihat hubungan Saka dan Audy semakin dekat, ia pun semakin menjauh. Di kampus, ia lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia mulai menulis laporan magang. Seperti saat ini, ia duduk sendiri di ujung ruangan perpustakaan. Tampak headset sedang bertengger di telinganya. Ia mendengarkan musik via headset nya sambil tetap fokus mengetik laporan magang di laptop kesayangannya.


Danisha tidak menyadari, ada sepasang mata yang selalu mengawasi gerak-gerik nya selama ini. Sepasang mata elang itu, menyiratkan kerinduan yang dalam.


Pemilik mata elang itu siapa lagi kalau bukan Saka. Saka tak pernah ingkar dalam berkata. Ia tetap menjaga gadis kesayangannya meskipun dari kejauhan, tidak dari dekat dan secara langsung.


Selama di kampus, diam-diam Saka selalu mengawasi dan memperhatikan Danisha.


Ingin sekali Saka menemani gadis itu saat ini. Namun entah kenapa ia ragu melakukannya. Ia juga merasa sangat bersalah, membiarkan gadis itu mengendarai motor nya sendiri selama ke kampus dan ke studio DG FM.


Ia mendengar dari Distha, jika Danisha dan Mas Rendra saat ini sedang menjalani LDR. Mas Rendra kembali ke kota kelahirannya, Malang, untuk mengelola perusahaan keluarganya.

__ADS_1


Dari tempatnya duduk, Saka dapat melihat jelas wajah Danisha. Sedikit pucat. Mata yang sayu. Sesekali tangannya memegang kepala dan sesekali ia menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangannya bertumpu pada meja. Saka terlihat khawatir. Ia segera menghampiri Danisha.


" Hai ! " sapa Saka.


Danisha tak bergeming.


" Sweet girl.... " ulang Saka menyapa Danisha.


Danisha masih juga tak bergeming. Saka mulai terlihat khawatir. Ia memegang lengan Danisha perlahan.


" Danish ! " Saka mengeraskan suaranya memanggil nama Danisha.


Perlahan ada pergerakan pada kepala Danisha. Ia mulai menegakkan kepalanya, matanya mengerjap berusaha sadar sepenuhnya.


Danisha terkejut saat matanya telah terbuka sempurna, menangkap sebuah wajah teduh yang sangat dikenalnya dengan seulas senyum manis yang tersungging di bibir.


" Saka ! " ucapnya lirih.


" Kamu ga apa-apa ? " tanya Saka.


" Iya, ga apa. Emangnya aku kenapa ? " tanya balik Danisha.


" Kamu pucat, Sweet Girl. Are you really fine ? Aku pikir kamu pingsan tadi. Lama aku bangunin kamu, tapi kamu ga bergerak. Jangan bikin orang khawatir. "


" Masa sih ? Aku cuma ketiduran tadi. "


Danisha segera membereskan barang-barangnya. Laptop ia matikan dan dimasukkannya ke dalam tas, demikan juga dengan alat tulisnya. Terakhir ia bereskan buku-bukunya. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kepalanya terasa nyeri. Ia hela napasnya dalam. Lalu ia beranjak dari duduknya.


" Sorry, aku pergi dulu ya. Sampai ketemu, Ka. "


" Danish ! " seru Saka.


" Aku antar pulang ! " Saka beranjak dari duduknya. Ia meraih buku-buku yang didekap Danisha untuk dibawanya.


" Apaan sih, Ka ! "


Saka meraih pergelangan tangan Danisha, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


" Ka, tolong lepasin tanganku, " pinta Danisha.


Saka menghentikan langkahnya dan menatap Danisha, " Kenapa ? "


" Aku bisa jalan sendiri, " jawab Danisha lirih.


" Yakin kamu ga apa-apa ? " tanya Saka, ada kekhawatiran di matanya.


" Iya, aku ga apa-apa, " jawab Danisha meyakinkan sahabatnya.


Bukan tanpa alasan Danisha meminta Saka melepaskan genggaman tangannya. Danisha melihat Audy di sudut koridor perpustakaan yang menatap mereka dengan raut wajah tak senang. Ia tak ingin timbul kesalahpahaman di antara mereka.


Saka pun melepaskan genggaman tangannya. Danisha berusaha menahan rasa nyeri di kepalanya dan berusaha bersikap tenang. Pandangan matanya pun mulai kabur dan berputar.


Please, jangan di sini. Ya Allah, aku kuat ! aku bisa ! tolong hamba, Ya Allah ! Danisha terus berdoa dalam hatinya supaya ia tidak pingsan saat itu.


BRUGG !!


Danisha terjatuh ! Saka yang mendengar suara benda terjatuh, seketika membalikkan tubuhnya ke belakang.


" Danish ! " seru Saka.


Saka benar-benar terkejut dan segera meraih tubuh Danisha yang sudah tergeletak di lantai.


" Danish, please bangun ! Danish ! " Saka menepuk pipi Danisha berulang-ulang. Namun, tak ada respon dari gadis itu. Saka benar-benar khawatir dibuatnya. Beberapa mahasiswa mengerumuni mereka.


" Cepat bawa ke klinik kampus aja dulu ! " ucap salah satu dari mahasiswa.


" Danish ! "


" Danish kenapa, Ka ? "


Distha dan Prasta berjongkok memegang tubuh Danisha yang direngkuh Saka.


" Thanks God, kalian datang. Bantu aku bawa Danish ke klinik, " cetus Saka yang segera menggendong Danisha dengan setengah berlari menuju klinik kampus. Untung letak klinik tak jauh dari tempatnya pingsan. Sementara Prasta dan Distha membawakan tas dan buku-buku Danisha berjalan tergesa di belakang Saka.


Setibanya di klinik, Saka langsung meletakkan Danisha di brankar yang ada di salah satu bilik pemeriksaan. Dan meminta dokter jaga untuk memeriksa kondisi Danisha.


Saka keluar dari bilik pemeriksaan. Prasta dan Distha pun menghampirinya.


" Apa yang terjadi, Ka ? " tanya Distha cemas.


Saka mengacak rambutnya, raut wajahnya terlihat sangat cemas.


" Harusnya tadi aku tidak membiarkan dia berjalan sendiri, " sesal Saka, ia menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya


Dokter Wulan, dokter jaga yang memeriksa Danisha pun keluar dari bilik pemeriksaan.


Dengan segera Saka, Distha dan Prasta menghampiri dokter muda itu.


" Gimana, Dok ? "


" Apa Danisha udah siuman ? "


" Dia kenapa Dok ? "


Ketiga sahabat Danisha itu saling melontarkan pertanyaan pada Dokter Wulan.


Dokter muda itu pun tersenyum melihat ketiga mahasiswa itu bertanya bersamaan padanya dengan rasa cemas dan rasa bersalah.


" Bahagia sekali dia mempunyai sahabat seperti kalian bertiga yang selalu perhatian. Uummm... sepertinya teman kalian kecapekan, tapi menurut saya ada baiknya dan sangat disarankan untuk membawanya ke rumah sakit. "


" Apakah dia pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya ? "" lanjut Dokter Wulan bertanya pada ketiga sahabat Danisha.

__ADS_1


" Pernah, Dok. Terakhir kali dia pingsan dan harus rawat inap beberapa hari di RS, " sahut Prasta.


Saka menyibak kain yang menjadi penutup bilik pemeriksaan. Dilihatnya gadis kesayangannya terbaring dengan mata masih terpejam. Perlahan ia berjalan ke sisi ranjang, lalu menggenggam jemari gadis itu.


" Maafkan aku, sweet girl. Maafkan aku. Harusnya aku tak melepaskan pegangan tanganku. Harusnya aku tak membiarkanmu berjalan sendiri. Bangunlah, Danish, batin Saka.


" Sebaiknya sekarang kita bawa Danisha ke rumah sakit, supaya bisa dilakukan pemeriksaan menyeluruh, " jelas Dokter Wulan.


" Pras, bisa tolong ambil mobilku dan bawa ke sini ? " Saka memberikan kunci mobilnya pada Prasta meminta tolong untuk membawa mobilnya ke dekat klinik.


" Siap, Bro ! " Prasta pun bergegas pergi mengambil mobil Saka yang ia parkir di dekat fakultas ekonomi.


Tak berapa lama, Distha melihat mobil Saka sudah terparkir di depan klinik. Segera ia memberitahu Saka dan tanpa menunggu lama, Saka menggendong Danisha untuk dibawa ke dalam mobil menuju rumah sakit.


Distha pun turut serta dalam mobil Saka membawa sahabatnya ke rumah sakit. Sementara Prasta, ia menyusul dengan motor sport nya. Namun sebelum itu, ia menelpon Renata memberitahukan keadaan Danisha.


******


Sesampainya di rumah sakit tempat Danisha dirawat sebelumnya, Saka meletakkan Danisha di atas brankar UGD. Seorang perawat segera membawanya masuk ke ruang pemeriksaan UGD setelah Distha dan Saka menyelesaikan kelengkapan administrasi.


Prasta yang baru saja datang langsung menghampiri mereka. Tangannya sibuk dengan ponselnya.


" Ponsel Bunda ga bisa dihubungi juga dari tadi, " ucap Prasta.


" Coba lagi nanti, Pras. Mungkin masih sibuk, " kata Distha.


Selang beberapa waktu menunggu, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan menatap ke arah mereka bertiga.


" Lho, Saka ! " seru dokter muda itu kaget.


" Bang Ardhy ! " Saka pun tak kalah kaget melihat dokter muda itu.


" Siapa yang sakit, Ka ? " tanya dokter muda yang bernama Ardhy itu.


" Teman, Bang. Abang tugas di sini ? Kok ga kasih kabar kalo Abang udah pindah tugas ke sini, " kata Saka.


" Sebentar, temanmu yang sakit ? Yang barusan masuk tadi ? Danisha ? " tanya Dokter Ardhy.


" I... Iya, Bang. Abang tau ? Abang yang periksa ya ? Gimana keadaannya ? Udah sadarkah dia ? " cecar Saka dengan rasa cemasnya.


Dokter Ardhy tersenyum simpul melihat sikap Saka yang tak lain adik sepupunya.


" Hey ! tenanglah ! Danisha sebentar lagi pasti sadar. Sebelumnya dia memang pasien di rumah sakit ini. Dia pasien Dokter Andra dan Dokter Aldi. Kalian bisa melihatnya, setelah sadar nanti ia akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia harus kembali rawat inap, Ka. Sebaiknya kau hubungi orang tuanya segera, " tutur Dokter Ardhy.


Tanpa banyak bicara, Distha langsung menerobos masuk ke ruang pemeriksaan UGD untuk melihat Danisha. Prasta pun mengikutinya.


Saka terdiam sesaat.


" Sebenarnya bagaimana kondisinya, Bang ? Adakah yang serius ? " tanya Saka menyelidik.


Dokter Ardhy menghela napas panjang. Lalu ia mengajak Saka untuk duduk di bangku tunggu di depan ruang UGD.


" Kamu menyukainya ? " tanya Dokter Ardhy


" Bang, tolong ga usah ngomong lainnya. Aku tanya bagaimana sebenarnya kondisinya ? Dia menderita anemia kan ? " cecar Saka.


" Kamu tidak tau ? " tanya balik Dokter Ardhy.


Saka menggeleng.


" Bang, please... Danisha sebenarnya kenapa ? "


" Danisha itu awalnya pasien Dokter Andra, dokter spesialis penyakit dalam dan terakhir dia ditangani oleh Dokter Aldi, dokter spesialis bedah syaraf, " jelas Dokter Ardhy


" Tunggu ! bedah syaraf ? " tanya Saka menautkan kedua alis tebalnya.


Dokter Ardhy mengangguk.


" Dokter Andra dan Dokter Aldi belum mengetahui pasti penyakit Danisha, karena Danisha menolak melakukan tes pemeriksaan kelanjutan atas keluhannya, " lanjut Dokter Ardhy.


" Lalu apa diagnosis mereka ? " tanya Saka ingin tahu dan hatinya berdebar, banyak hal yang bermain di otaknya.


" Abang tidak bisa kasih tau kamu, maaf ! Biar nanti Dokter Aldi yang memeriksanya kembali. Sebaiknya temui dia dulu, jangan lupa menghubungi orang tuanya, " kata Dokter Ardhy sambil menepuk bahu Saka.


Saka terdiam sesaat lalu mengangguk.


" Makasih banyak, Bang ! Abang main ke rumah ya... Mama pasti senang Abang pindah tugas di sini, " ucap Saka.


" Insya Allah. Ok, Abang pergi dulu kalo ada apa-apa, Abang ada di ruangan Abang di situ, " ujar Dokter Ardhy, tangannya menunjuk ke salah satu ruangan yang tak jauh dari ruang UGD.


Saka mengangguk, kemudian ia bergegas masuk menemui Danisha dan kedua sahabatnya yang lebih dulu masuk.


" Kenapa dia belum sadar juga, Dis ? " tanya Saka.


" Entahlah, Ka. Dia pingsan lama sekali, " ucap Distha.


" Gimana, Bunda udah bisa dihubungi, Pras ? " tanya Saka pada Prasta.


" Aku kirim pesan tadi dan udah dijawab Bunda, segera ke sini katanya, " jawab Prasta.


" Syukurlah ! " ucap Saka.


" Kalian tau apa sebenarnya sakit Danisha ? " tanya Saka pada kedua sahabatnya.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers 💞💞


Author berusaha ga slow up buat story nya Danisha n friends ya..


Moga kalian tetap setia di sini

__ADS_1


Jan lupa tinggalin jejak jempol kalian, komenbya ditunggu always, alhamdulillaah yg mau vote 😘


Banyak terima kasih, cinta n sayang buat LOTA Lovers 🤗 😘💞💞**


__ADS_2