
Danisha baru saja selesai sholat ashar di salah satu ruangan di toko kue Bunda. Ruangan itu bisa dibilang ruang kerja Bunda sekaligus ruang tempat Bunda beristirahat.
Ada sebuah sofa panjang dan dua buah single sofa serta sebuah meja di sana. Ada juga sebuah meja dan kursi kerja di pojok ruangan itu.
Sebelum pulang dari rumah sakit tadi, Dokter Ardhy dan Prasta mengajaknya makan di kantin rumah sakit. Setelahnya Dokter Ardhy yang mengantarnya pulang ke toko kue Bunda karena Saka akan menjemputnya di sini, di toko kue Bunda.
Terngiang jelas semua perkataan Dokter Ardhy, juga Prasta, di rumah sakit siang tadi.
Ia harus segera mengatakan kondisinya pada Saka dan juga keluarga besarnya.
Danisha mengambil obat yang ditebusnya tadi dari dalam tasnya. Lalu diambilnya segelas air mineral yang ada di meja di depan sofa. Bibirnya melafalkan doa sebelum kemudian dua butir pil masuk ke dalam mulutnya, kemudian diteguknya air mineral di tangannya.
" Alhamdulillah, " ucapnya lirih setelah meminum obat tersebut.
Perlahan, ia duduk bersandar di sofa. Saat baru saja memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya.
Saka is calling....
Danisha tersenyum simpul, lalu digesernya tombol hijau di ponselnya.
" Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam, Sayang. Lagi tidur ? "
" Ga juga. Lagi sandaran di sofa. Masih di kantor ? "
" Di parkiran mobil, mau jemput istriku tercinta. "
" Belum juga jam 4, Sayang. Jangan korupsi waktu, dong ! "
" Kerjaanku hari ini udah kelar, Bee. Aku mau pulang aja jemput istriku. Udah kangen banget. "
" Kamu nih, selalu aja ada alasan, Mas. Lain kali jangan begitu, ya.... "
" Semua paham, Bee. We just married. "
Saka terkekeh di seberang sana.
" Ck, " decak Danisha.
" Ok, aku udah di jalan mau jemput kamu. See you, Bee. Assalamualaikum. "
" Waalaikumsalam, " jawab Danisha lirih.
Sambungan telepon putus.
Danisha menghela napasnya dalam. Lalu ia bangkit dari duduknya. Ia pun segera bersiap-siap.
Saat hendak meninggalkan ruangan kerja Bunda, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
" Bunda. "
" Udah mau pulang sekarang ? " tanya Bunda.
" Iya, Bun. Saka udah di jalan. Bunda mau sekalian pulang ? " tanya Danisha.
" Ga usah, Bunda tunggu Ayah aja. Kasihan, Saka capek, " jawab Bunda tersenyum simpul pada putri sulungnya.
" Cuma ngantar Bunda aja, masa iya capek. Maaf ya, Bun. Danisha belum bisa ke rumah, " ucap Danisha sambil memeluk sang Bunda.
" Iya, Bunda paham. Kamu juga jangan terlalu capek, Danish. Ingat pesan Dokter Aldi, ya, " pesan Bunda.
Danisha mengangguk sembari tersenyum.
Tok... Tok !
Danisha dan Bunda melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka. Saka sudah berdiri di sana dengan senyum rupawannya.
" Mengganggu, ya ? " tanya Saka.
" Ga, dong ! " sahut Bunda dengan senyuman hangat khasnya.
" Kok cepat, sih ? Ngebut, ya ? " tanya Danisha pada Saka.
" Ga, Sayang. Jalan lagi lancar, ga macet, " jawab Saka.
" Bun, Danish pulang dulu, ya. Insya Allah dalam waktu dekat, Danish ke rumah. " Danisha berpamitan sembari mencium punggung tangan Bunda.
" Bunda ga sekalian pulang sama kita ? " tanya Saka, lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya.
" Ga usah... Bunda tunggu Ayah aja. Kalian langsung pulang. Bunda titip Danish, ya, Ka. Tolong ingatkan jangan sampai telat makan dan jangan terlalu capek, " pesan Bunda pada Saka.
" Danish ga apa-apa, Bun, " ujar Danisha meyakinkan sang Bunda.
" Iya, Bunda. Cuma anak Bunda ini, nih, yang suka keras kepala. Susah dibilanginnya, " sahut Saka.
" Mana ada, sih ! " sanggah Danisha.
" Udah, buruan pulang. Nanti keburu macet jalannya, " titah Bunda.
__ADS_1
Danisha tersenyum, lalu memeluk Bunda dan memberikan kecupan di kedua pipi wanita paruh baya itu.
" Pamit, ya, Bun. Makasih. Bunda dan Ayah hati-hati kalau pulang, " ujar Danisha kemudian.
" Assalamualaikum, " salam Danisha dan Saka bersamaan.
" Waalaikumsalam... Bunda ga perlu antar ke depan, ya ! " sahut Bunda tersenyum simpul.
Danisha mengedipkan matanya sembari tersenyum. Sementara Saka mengacungkan jempolnya dan memberikan senyum terbaiknya untuk Bunda, ibu mertuanya.
Bunda tersenyum melambaikan tangannya. Kemudian beranjak untuk bersiap pulang.
*******
Setelah sholat maghrib bersama, Saka mengambil laptop di tasnya. Lalu ia berjalan menuju sofa panjang yang letaknya di dekat pintu balkon. Ia menyalakannya di meja depan sofa dan terlihat serius dengan buku yang tadi diambil dari rak buku kecil di samping meja rias.
Danisha merapikan mukena yang dipakainya serta sarung dan pakaian sholat Saka. Ia memperhatikan suaminya yang terlihat sangat serius menatap laptop dan buku di tangannya.
" Mas.... " panggil Danisha, berjalan mendekat pada Saka yang benar-benar sangat serius menatap laptopnya.
" Huuumm.... " sahut Saka bergeming di tempatnya. Matanya masih menatap laptop dan sesekali beralih ke buku yang ada di samping laptop.
Danisha menghela napas singkat.
" Mau minum apa ? Kopi, teh atau susu ? " tanya Danisha.
" Apa aja, " jawab Saka singkat, tanpa melihat ke arah Danisha.
Kembali Danisha menghela napasnya, kali ini ia menghelanya cukup dalam. Dengan rasa sedikit kesal, ia beranjak keluar kamar menuju dapur di lantai bawah.
Di dapur, dilihatnya Bibi yang sibuk menyiapkan makan malam. Danisha tidak melihat keberadaan Mama mertuanya.
" Mama kemana, Bi ? " tanya Danisha sembari menyiapkan gelas dan kopi hitam yang diambilnya dari rak kitchen set. Lalu, ia merebus air di panci kecil.
" Di kamar, Mbak. Bapak baru saja datang, " jawab si Bibi.
" Papa baru datang ? Jam segini ? " Danisha berkata sembari melebarkan matanya, sekilas menatap jam dinding yang ada di dapur. Udah jam 7 malam lebih.
Si Bibi mengangguk yakin.
" Mbak Danish tinggal aja, biar saya buatkan dan antar ke kamar, Mbak, " celetuk si Bibi.
" Udah, kok, Bi. Ini udah selesai, " cetus Danisha sembari mengangkat panci berisi air yang mendidih dan menuangkannya di gelas berisi kopi hitam, lalu menyeduhnya dengan satu sendok teh gula.
Si Bibi menyodorkan nampan kecil bermotif bunga pada Danisha.
" Makasih, Bi. Saya ke atas dulu, ya, " ucap Danisha dengan senyum simpulnya.
Danisha membawa nampan berisi kopi hitam untuk Saka. Dibukanya pintu kamar, terlihat olehnya Saka masih bergelut dengan laptop dan buku-bukunya. Sangat serius. Namun, kali ini duduknya telah berpindah di karpet bukan di sofa lagi dengan laptop masih tetap di atas meja.
Danisha meletakkan nampan dan segelas kopi hitam yang telah dibuatnya di atas meja riasnya, karena meja sofa telah penuh dengan buku-buku Saka. Setelahnya, ia duduk di kursi riasnya memperhatikan suaminya yang sibuk dengan laptop dan buku-bukunya.
" Mas.... " panggil Danisha ragu.
Hening, tak ada jawaban.
" Lagi ngerjain apa ? " tanya Danisha kemudian. Masih tak ada respon dari Saka.
" Sibuk banget, ya ? " tanyanya lagi.
" Hu um.... " sahut Saka singkat, jemarinya bergerak lincah di keyboard laptop. Sedangkan matanya tetap menatap laptop dengan bibir yang bergumam sesekali.
Danisha menghela napasnya panjang. Ia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Saka mengenai kondisi penyakitnya.
" Kopinya udah siap, aku taruh di atas meja rias, " ujar Danisha.
" Iya, Bee. Nanti aku minum. " Sekali lagi Saka berbicara tanpa melihat Danisha.
Danisha pun beranjak ke ranjang tidur. Duduk di tepi ranjang memperhatikan suaminya sekali lagi. Sudahlah, ia tidak mau mengganggu suaminya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia baringkan tubuhnya sembari membuka ponselnya. Ada pesan dari Kak Ella.
Ella DG FM
" Danish, jangan lupa besok mulai siaran ya... Semua kangen sama pengantin baru 🤗 "
Danisha tersenyum membaca pesan dari atasannya itu.
Me
" Siap, Kak ! 🤗 "
Ia pun menekan tombol kirim di ponselnya. Lalu ia membuka akun sosmed nya. Di wall sosmed nya, ia kebanjiran ucapan selamat atas pernikahannya dari banyak teman dan pengikutnya. Pasalnya, Saka menandai dirinya saat memposting foto pernikahan mereka pagi tadi dengan sebuah caption :
" Bahagiaku benar-benar sempurna setelah menghalalkanmu sah sebagai pendamping hidupku. Finally, I have you permanently. You're My Kind of Perfect, My Favourite Place Where I Want To Go and I Want All of My Lasts To Be With You. "
Danisha tersenyum dan terharu membaca caption yang ditulis Saka di postingan sosmed nya. Ia menitikkan air mata. Namun, ia segera menghapusnya. Tak ingin Saka melihatnya menangis.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah postingan dari nama yang sangat dikenalnya.
@BirendraAl, " Sampai detik ini kamu masih menjadi alasan kenapa hatiku belum mau menerima siapa pun. "
__ADS_1
Danisha segera keluar dari aplikasi sosmed nya. Ada beberapa postingan dari Mas Rendra, ia tidak ingin membacanya. Hubungan mereka sudah berakhir dan selamanya akan begitu.
Mata Danisha terasa lelah dan mengantuk. Ia pun tertidur dengan sendirinya sementara ponsel masih di tangannya.
********
Setelah membereskan dan merapikan buku-buku serta mematikan laptopnya, Saka berjalan ke ranjang tidurnya. Perlahan ia naik ke atas ranjang. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya.
" Bee... Sayang.... " Saka mengusap kening Danisha lembut. Membangunkan istrinya untuk makan malam.
Sudah hampir jam 9 malam. Terlalu sibuknya ia tadi, hingga melupakan makan malam. Terlebih, ia melupakan istrinya yang belum makan malam.
Dikecupnya lembut kening Danisha sembari tangannya mengusap pelan puncak kepala istrinya.
" Sayang... Bangun, yuk ! Kita belum makan malam, lho ! " Sekali lagi Saka membangunkan Danisha.
Namun, Danisha tetap bergeming. Napasnya teratur, tertidur pulas sekali. Saka menghela panjang napasnya. Saat akan beranjak dari ranjang, ia melihat ponsel di tangan Danisha. Saka berdecak pelan, lalu mengambil ponsel itu dari tangan Danisha dan meletakkannya di meja kecil yang ada di samping ranjang tidur.
Setelahnya, Saka turun dari ranjang hendak ke kamar mandi mengambil air wudhu untuk sholat Isya'. Ia membiarkan Danisha tidur, tidak membangunkannya lagi.
Beberapa jam kemudian.
Danisha merasakan berat di pinggang dan perutnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah terkumpul semua kesadarannya, pandangannya tertuju pada sebuah tangan yang memeluk dirinya.
Seketika ia teringat kejadian semalam. Ia ketiduran saat menunggu Saka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seingatnya ia memegang ponselnya semalam sebelum tertidur.
Saat Danisha akan beranjak dari tidurnya, tiba-tiba tangan kokoh Saka bergerak hendak mengeratkan pelukannya. Seketika itu juga, ia berbalik badan menghadap ke tubuh Saka. Membuat Saka mengerjapkan kedua matanya karena pergerakan Danisha.
" Bee... Ada apa ? " Saka memicingkan matanya melihat Danisha yang sudah dalam posisi duduk di ranjang.
" Maaf, ya, Mas. Aku ketiduran. Udah makan ? " Danisha menatap Saka yang kini sudah dalam posisi duduk, bersandar pada kepala ranjang.
Saka mengangguk dengan sebuah senyuman.
" Sini ! " Saka merentangkan kedua tangannya siap memeluk istrinya.
Danisha pun mendekat dan masuk ke dalam dekapan suaminya.
" Kamu yang belum makan, Bee. Kok bisa tidur pulas banget. Aku bangunin beberapa kali, ga bergerak. Jadi kek kebo gitu, anteng dan pulas pake banget, " kelakar Saka yang langsung mendapatkan cubitan di lengannya dan Saka pun spontan mengaduh.
" Jahat bener ! Istrinya dibilang kebo ! " sungut Danisha, wajahnya merengut.
Saka tertawa, lalu mengeratkan dekapannya dan mengecup kening Danisha.
" Bercanda, Sayang. Tapi beneran, lho ! Pulas banget kamu tidur, " ujar Saka, tangannya mengusap lembut lengan istrinya.
" Hampir tengah malam. Mas udah sholat isya' ? " tanya Danisha mengangkat wajahnya dan menatap wajah Saka yang terlihat masih mengantuk.
" Udah, " sahut Saka singkat dengan suara seraknya.
" Aku mau sholat dulu, Mas, " cetus Danisha, mengurai pelukannya.
Saka mengangguk dan tersenyum.
Danisha pun bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Saka kembali merebahkan tubuhnya di ranjang untuk kembali tidur.
Setelah mengambil air wudhu, Danisha pun segera melakukan kewajiban sholat isya'. Usai sholat isya' dan berdzikir, Danisha melihat Saka yang sudah kembali tidur. Ia beranjak menuju sofa, ada beberapa macam lauk, nasi, semangkuk sayur dan juga dua buah apel serta dua buah pisang.
Danisha sudah tidak berselera makan, ia pun mengambil satu buah apel dan langsung menggigitnya sembari duduk di sofa. Buku-buku milik Saka sudah tertata rapi di sudut meja. Ia sangat familiar dengan buku yang berada di tumpukan paling atas.
" Jadi ? Tadi Saka ngerjain skripsinya ? " Batin Danisha yang melihat beberapa lembar kertas berisi coretan-coretan koreksi skripsi milik Saka.
Ia bisa melihat, yang dikerjakan Saka adalah bab terakhir skripsinya. Itu berarti... Saka mengejar ujian dan wisuda tiga bulan lagi ! gumam Danisha dalam hati. Ia menghela napasnya panjang.
Sesaat kemudian, Danisha berjalan mendekati ranjang dan naik ke atasnya. Dipandangnya wajah rupawan Saka yang tertidur miring menghadapnya. Kedua alis yang tebal, hidung mancung dan rahang yang tegas. Lelaki yang dulu sahabatnya, sekarang adalah suaminya. Ia mencintainya.
Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Saka, lalu mengecup kening suaminya.
" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Apa pun nanti yang terjadi padaku, aku mau kamu tetap dan harus selalu bahagia. Dengan atau pun tanpa aku, " gumam Danisha lirih.
Lalu ia merebahkan tubuhnya berhadapan dengan Saka. Memandangi wajah tenang suaminya yang tertidur. Ia tersenyum, tangannya mengusap pelan wajah kekasih halalnya. Kemudian ia genggam salah satu tangan kokoh di hadapannya.
Kamu ga perlu cemaskan aku. Aku janji, aku akan berjuang untukmu. Semuanya akan baik-baik aja. Tunggu aku, Sayang. Bisik Danisha dalam hati.
Dikecupnya tangan yang selalu membuatnya merasa aman dan nyaman. Yang selalu menggenggam tangannya, memeluknya dan membelainya penuh cinta dan sayang. Tangan yang selalu siap melakukan apa saja untuk kebahagiaan dan keselamatan dirinya.
Kemudian Danisha membalikkan badannya, berbaring memunggungi Saka. Ia menarik napasnya dalam. Ia terisak pelan, hampir tak terdengar. Ia hapus air mata yang mulai turun perlahan dari kedua matanya. Lalu ia memejamkan mata, mencoba untuk tidur supaya bisa bangun sebelum subuh.
Tbc
**Hellooww LOTA Lovers 💞💞
Aq lempar ini dulu & wait ya... segera aq lempar next eps 🤗
Selalu tinggalkan jempol kalian di sini, komen2 kalian aq tunggu selalu 😘
__ADS_1
Banyak terima kasih udah dukung LOTA so far
banyak cinta & sayang untuk kalian semua 🤗😘💞**