Love On The Air

Love On The Air
Eps 58 Ketakutan Dan Kecemasan Danisha


__ADS_3

Danisha memandangi anak-anak jalanan yang sedang sibuk mencari rejeki di tengah teriknya matahari. Beberapa anak mengamen, ada juga yang menjual majalah dan surat kabar. Beberapa anak lagi menjual minuman dingin dalam kemasan.


Betapa ia merasa kecil berada di antara mereka yang tidak pernah mengeluh. Selalu tampak riang dan bahagia dengan keadaan mereka. Berjuang untuk bisa hidup di tengah kerasnya kehidupan yang harus dihadapi.


" Jika kamu ingin sembuh, kamu harus segera melakukan pengobatan lagi, Danish. Maafkan saya harus mengatakan semua ini. Bicaralah pada kedua orang tuamu. Kamu tidak bisa merahasiakan semua ini pada mereka. "


Ucapan Dokter Aldi masih terngiang di kepalanya. Stadium tiga dan kemoterapi lagi.


Danisha menghela napasnya panjang. Ia harus kuat, ia harus berjuang. Mereka bisa kuat berjuang untuk hidup mereka, ia pun harus begitu. Ia tersenyum dan menghapus bulir bening yang sudah membasahi pipinya.


Diambilnya ponsel yang sedari tadi berada di dalam tasnya. Dilihatnya ada panggilan tak terjawab dari Saka, Bu Dinda dan Bunda. Mereka pasti sedang mencarinya.


Lalu jemarinya mulai mengetik pesan pada mereka, mengabarkan jika ia baik-baik saja. Meskipun ia berbohong dengan mengatakan jika ia sedang berada di perpustakaan kampus.


Sesaat kemudian, Danisha menuliskan pesan kepada Dokter Aldi.


" Siang, Dokter. Baiklah, saya akan lakukan pengobatan lagi, Dokter. Tapi tolong, jangan katakan apapun pada kedua orang tua saya, juga pada Saka. "


Setelah menekan tombol send, Danisha menghela napasnya singkat. Dari tempat duduknya di bawah jembatan, ia pun kembali memandangi anak-anak jalanan yang mulai menepi dari jalan raya untuk beristirahat.


*******


Di kamarnya, Danisha berbaring di ranjangnya. Ditatapnya foto dirinya dan Saka yang ada di galeri ponselnya. Beberapa kali ia hela napasnya dalam. Kedua matanya tertuju pada foto sang kekasih hati, yang selalu ada di sampingnya, bersamanya dan selalu mengerti apa keinginannya dan apa maunya. Yang tidak pernah sedikitpun membuatnya kecewa, sebaliknya Saka selalu membuatnya bahagia. Membuatnya sangat dicintai dengan sempurna di antara ketidaksempurnaannya.


Sore tadi, di hadapan Ayah dan Bunda, Saka sudah menyatakan keinginannya untuk mempercepat pernikahan mereka. Sedikit membuat Danisha kaget. Awalnya mereka sepakat untuk menikah setelah skripsi selesai dan lulus kuliah. Namun, Saka dan kedua orang tuanya menginginkan pernikahan dipercepat. Lebih cepat lebih baik, supaya tidak menimbulkan fitnah.


Sesungguhnya ia sangat bahagia dengan rencana pernikahannya. Gadis mana yang tidak bahagia dilamar dan diajak menikah dengan kekasih yang sangat dicintai dan mencintainya. Namun, sisi lain hatinya gamang. Akankah nanti ia bisa membuat bahagia lelaki yang mencintainya dengan sempurna ? Dengan kondisi dirinya saat ini, hatinya menjadi gamang.


" Danish... Boleh Bunda masuk ? " Suara Bunda dari luar kamar mengagetkannya.


" Iya, Bunda. " Danisha beranjak dari ranjangnya. Namun, sebelum ia berjalan membuka pintu kamarnya, Bunda sudah membuka pintu kamar terlebih dulu sembari memberikan seulas senyuman pada putrinya yang duduk di tepi ranjang.


Danisha membalas dengan senyum sumringah. Bunda duduk di samping putrinya.


" Ada apa, Bunda ? "


" Calon mertuamu menelpon Bunda. Besok diajak ke butik buat pilih gaun pengantin dan kebaya untuk dipakai seragam seluruh keluarga, " jelas Bunda.


" Tapi Danish bisanya sore, Bun. Kan Danish siaran siang, " sahut Danisha.


" Iya, Bu Dinda bilang sebisanya kamu, Sayang. Kalau besok kamu sibuk, ya ga apa-apa. Kalau waktumu senggang aja, " ujar Bu Dinda sembari mengusap rambut panjang putrinya.


" Iya, Bun. Besok sore ga apa-apa, jam 3 sore. Danish selesai siaran jam 2 siang, " ucap Danisha yang diikuti anggukan kepala sang Bunda.


Ponsel Danisha berdering. Saka menelpon.


Bunda pun bangkit dari duduknya, " Ya udah, Bunda tinggal ya. "


Danisha menganggukkan kepalanya, " Makasih, Bunda. "


Setelahnya digesernya tombol berwarna hijau di layar ponselnya.


" Assalamualaikum. "


" Waalaikumsalam. Aku kira udah tidur, Bee. Besok Mama ngajak ke butik. Kamu siaran siang, kan ? "


" Iya. Selesai jam 2 siang. Ke butiknya jam 3 sore ga apa-apa, kan ? " tanya Danisha.


" Ga apa-apa. Tapi kamu ga capek ? " tanya balik Saka.


" Insya Allah ga, Sayang, " jawab Danisha.


" I love you, Bee. "


Sejenak Danisha terdiam. Akankah kamu bahagia bersamaku ? Aku takut tidak bisa membuatmu bahagia. Sementara kamu selalu membuatku bahagia, Ka. Batin Danisha. Hatinya semakin gamang.


' Bee ? Kamu ga apa-apa ? Udah ngantuk, ya ? "


" Iya, ngantuk. Besok ga perlu antar aku ke studio. Distha yang mau antar aku. Kamu jemput ke studio aja ya, terus langsung ke butik, " ujar Danisha.


" Bener ya, sama Distha ? Aku ga mau kamu naik motor sendiri atau naik ojol. "


" Iya... Kamu bisa telpon Distha deh ! Lagian, kenapa sih, kalau aku naik motor sendiri atau naik ojol ? Dulu juga sering begitu, kan ? "


" Bee, please... Jangan mulai lagi berdebat soal ini. Ok ? Kamu udah tahu jawabannya. "


Danisha merotasikan kedua bola matanya. Ia memang tahu jawabannya, selalu begitu pada akhirnya. Sikap posesif kekasihnya tidak bisa dilawan. Apalagi sekarang yang sudah jelas mereka akan menikah.


" Iya, iya...! "


" Jangan marah, Bee. "


" Kamu nyebelin ! "


" Kok nyebelin ? Aku cinta banget sama kamu, Bee. Kok dibilang nyebelin, sih ! "


" Udah, ah ! Aku ngantuk ! " Danisha berujar sedikit ketus.


" Bee, bilang dulu kamu ga marah. "


" Apaan ? Udah ya, assalamualaikum. "


" Bee, please. Sayang.... "


Danisha mematikan panggilan telponnya sebelum Saka menuntaskan kalimatnya. Lalu ia menekan tombol power untuk menonaktifkan ponselnya.


Danisha menghela napasnya panjang. Ia meraih tas yang terletak di meja kecil samping ranjangnya. Diambilnya sebuah dompet pouch tempatnya menyimpan obat-obatan. Lalu diambilnya sebuah plastik berisi obat dari Dokter Aldi. Diambilnya sebutir pil dan gelas berisi air putih di meja kecil itu, lalu segera diminumnya pil tersebut.


Saat memasukkan dompet pouch berisi obat-obatannya ke dalam tas, terlihat olehnya sebuah kertas berwarna merah. Perlahan diambilnya kertas itu. Undangan pernikahan Mas Rendra dan Ayana. Dibukanya perlahan dan dibacanya, 4 hari lagi acara pernikahan mereka dilaksanakan di kota Malang.


Senyuman tipis tersungging di bibirnya. Entah, apakah ia akan hadir ke acara pernikahan mereka. Ia belum memikirkan hal itu. Danisha merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya yang sudah mulai mengantuk karena efek obat yang diminumnya.


*******


" Jadi sekarang resmi dong ya, jadi kekasih Dokter Ardhy, " ujar Danisha menggoda Distha yang sedang fokus dengan kemudinya. Senyuman lebar mengembang dari bibirnya.


" Sekarang boleh dong dipanggil Bu Dokter, " Danisha terus saja menggoda sahabatnya.


Distha yang tetap fokus mengemudi terkekeh menanggapi candaan sahabatnya. Wajahnya terlihat bahagia.


" Terusin godain aku, Sist. Apa kabarnya calon Nyonya Saka Abimanyu ? Tunggu tunggu ! Nyonya Danisha Abimanyu. Uummm... keren, by the way ! " Distha tertawa terbahak membalas candaan Danisha.


" Distha, ih ! " Danisha mencubit lengan Distha sembari mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


" Aduh, Danish ! Aku lagi nyetir lho ini ! Main cubit aja kamu ! " sungut Distha.


" Eh, sorry. Habisnya kamu, sih ! " elak Danisha.


" Eh, kan kamu yang mulai duluan ! " tukas Distha tak mau kalah.


Mereka pun tergelak bersama.


" Jadi nanti sore ibu mertua ngajakin fitting gaun pengantin ? Di butik mana, Sist ? " tanya Distha tetap fokus dengan jalan di depannya.


" Aku ga tau di butik mana, " jawab Danisha.


" Kok ga tau, sih ! Emang ga bilang ? " tanya Distha lagi.


" Mungkin bilangnya sama Bunda. Aku ikut aja apa yang diinginkan mereka, " ucap Danisha lirih dan pasrah.


Distha sedikit mengerutkan dahinya. Nada suara Danisha terdengar pasrah dan ada keraguan. Ia menengok sahabatnya sekilas. Danisha memandang keluar jendela.


" Ada apa, Sist ? " tanya Distha penasaran.


Danisha mengalihkan pandangannya ke arah Distha yang mulai mengurangi laju mobilnya karena sudah hampir sampai ke tempat tujuan, studio Radio DG FM.


" Ga ada apa-apa. Ikut ke butik, yuk ! " ajak Danisha.


Distha menepikan mobilnya dan berhenti tepat di depan studio Radio DG FM.


" Pengen sih, tapi aku ada janji, " ujar Distha tersenyum kecil.


" Janjian sama Pak Dokter pasti, " ledek Danisha.


" Iyes lah ! " sahut Distha bersemangat.


" Heeemm... yang lagi kasmaran. Ok, deh ! Thank you tumpangannya. Aku tunggu ya undangan celebration kalian, " ucap Danisha sambil tersenyum jahil, masih menggoda Distha. Danisha pun turun dari mobil. Distha membuka kaca jendela mobilnya.


" Gampang itu, kalian urus dulu pernikahan kalian. Sekalian aja syukurannya pas hari resepsi kalian, gimana ? " ujar Distha terkekeh.


Danisha mendengus sebal.


" Ish ! Enak banget ! Masa iya calon Nyonya Dokter nebeng buat syukuran, " gerutu Danisha.


" Bye, Sista ! " pamit Distha diiringi gelak tawa dan melajukan mobilnya meninggalkan Danisha dengan raut sebalnya.


*******


Danisha terdiam duduk di kursi penyiar setelah ia memutar lagu pilihan pendengar DG FM, Jika Nanti dari Samsons.


🎢🎢🎢


Jika nanti aku mendampingmu


Kau tahu dengan pasti bahwa ku mencintaimu


Jika nanti aku memilikimu


Kau tahu dengan pasti untuk seumur hidupku


Kaulah yang terbaik untukku


Yang tercipta untuk hidupku


Engkau adalah bagian dari hidupku


Karena kau yang melengkapiku


🎢🎢🎢


Benda pipih berwarna biru metalik masih digenggamnya setelah membaca pesan dari Dokter Aldi. Helaan napasnya terdengar berat. Sekali lagi dibacanya pesan dari Dokter Aldi.


" Siang, Danish. Lusa kita mulai kemoterapinya, ya. Sudah saya jadwalkan jam 10 pagi. Jaga kondisi tubuhmu jangan sampai lelah, ya. Sampai ketemu lusa. "


Dokter Aldi benar-benar bertindak cepat untuk pengobatannya. Ada rasa takut menyergapnya. Ia baru menyadari jika ia akan menghadapi semuanya sendiri.


Di studio masih terdengar suara Samsons dengan lagunya Jika Nanti.


🎢🎢🎢


Jika nanti aku mendampingmu


Kau tahu dengan pasti bahwa ku mencintaimu


Jika nanti aku memilikimu, oh


Kau tahu dengan pasti untuk seumur hidupku


Kaulah yang terbaik untukku


Yang tercipta untuk hidupku


Engkau adalah bagian dari hidupku


Kan ku terima semua baik dan buruk


Karena kau yang melengkapiku


Ku tak mungkin, ku dapatkan…


🎢🎢🎢


Lagu dari Samsons sudah hampir habis, Danisha belum siap untuk berbicara on air. Karenanya, kembali ia menyiapkan sebuah lagu untuk diputar. Lagu request dari seorang pendengar selanjutnya dari MLTR, I'm Gonna Be Around.


🎢🎢🎢


It's been so long since we took the time


To share words from deep inside us


We're in our own world, spinning our Wheels


But you know how I feel


Since the first time I took your hand


My love for you has just been growing

__ADS_1


You always seem to understand


You know how I am


I'm gonna love you till the end


I'm gonna be your very true friend


I wanna share your ups and downs


I'm gonna be around


When you're alone 'cause I'm away


Don't be sad, don't be afraid


I'm gonna turn my thoughts to you


Like I always do


🎢🎢🎢


Rasa takut dan cemas yang tiba-tiba datang setelah membaca pesan dari Dokter Aldi, sungguh membuatnya sulit untuk fokus dalam bertugas. Raut wajahnya terlihat gelisah.


" Ada apa, Dek ? Abang perhatiin dari tadi di luar, kamu gelisah dan seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, " lontar Bang Hendra yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Danisha.


" Ga ada apa-apa, Bang, " tersenyum Danisha menanggapi perkataan Bang Hendra.


Danisha meletakkan ponselnya ke dalam tas. Selanjutnya ia meraih tumbler tempat air minumnya dan meneguknya untuk membasahi tenggorokannya.


Ia tersenyum menatap Bang Hendra yang duduk di hadapannya. Laki-laki itu seringkali menemaninya jika ia sedang on air. Tak jarang pula Bang Hendra menjadi teman curhat nya.


🎢🎢Jingle Radio DG FM 🎢🎢


( Fader musik off perlahan diikuti fader mic on )


" 86,7 DG FM, Baiklah DG Lovers. Kalian masih bersama Alma Danish siang hari ini. Alma masih buka request lagu dari kalian. Yang mau berbagi quote juga boleh ya, atau kalian ingin berbagi tips yang bermanfaat, boleh juga lho ! Alma tunggu di WhatsApp DG FM seperti biasa. Dan... dari WhatsApp kita berikutnya ada yang kirim quote untuk siang ini.


" Kunci hidup bahagia setiap hari itu, mensyukuri hari ini dan mengikhlaskan apa yang telah berlalu. "


Thank you, Maharani, quote yang keren. Syukur dan ikhlas, dua kata yang harus kita sematkan dalam hati kita. Menurut Alma, ini dua kata yang tidak terpisahkan. Jika kita selalu bersyukur, segala sesuatu dalam hidup kita akan menjadi nikmat. Dan jika kita ikhlas atas semua yang terjadi pada diri dan hidup kita, maka nikmat yang kita rasakan akan menjadi kebahagiaan yang tiada hentinya. "


*******


Setelah menjemput Danisha, Saka melajukan mobilnya menuju butik yang ditunjuk oleh Bu Dinda, Mamanya. Bunda berangkat bersama Bu Dinda, mungkin saat ini mereka telah berada di butik itu.


Danisha diam sejak dari studio DG FM. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut gadis itu. Sesekali Saka memperhatikan kekasih hatinya.


" Ada apa, Bee ? "


Danisha masih terdiam, matanya memandang ke luar jendela mobil. Hati dan pikirannya berkecamuk memikirkan pengobatannya yang telah dokter Aldi jadwalkan pada besok lusa.


" Bee, kamu capek ? Ga mau pergi ke butik ? " cecar Saka.


' Kalau kamu ga mau atau capek, kita pulang. It's ok ! " lanjut Saka.


Danisha memalingkan wajahnya menatap Saka. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkannya. Seulas senyuman mengembang dari bibirnya.


" Capek dikit, sih. It's ok. Tadi pagi jadi ke kampus ? "


Saka bernapas lega mendengar suara lembut kekasihnya.


" Jadi. Ketemu Prasta. Dia ngajak kita ngumpul weekend besok, " ujar Saka.


" Sabtu atau Minggu ? " tanya Danisha. Ia teringat undangan pernikahan Mas Rendra dan Ayana.


" Prasta ga bilang sih... Nanti kita tanya lagi aja. Emang kenapa, ada acara ? "


" Uummm... Nanti aja diomongin, " jawab Danisha.


Saka menautkan kedua alis hitamnya. Sedikit penasaran dengan jawaban kekasih hatinya.


Mobil Saka berhenti di halaman sebuah ruko berlantai tiga yang terbilang cukup besar.


" Ini butiknya ? " tanya Danisha diikuti anggukan dari lelaki yang akan mempersuntingnya.


Keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam butik. Mama dan Bunda yang sudah tiba di tempat itu terlebih dulu segera menyambut mereka. Pasangan calon pengantin itu mencium punggung tangan kedua wanita paruh baya yang terlihat antusias dengan kedatangan mereka.


" Anak cantik Mama akhirnya datang juga. Sini, Sayang. Ayo, langsung aja pilih gaunnya, " sambut Bu Dinda.


" Kami tadi udah pilih beberapa gaun pengantinnya, Danish. Coba kamu lihat. Kalau kamu ga suka, bisa pilih yang lain yang kamu suka, " imbuh Bunda.


Danisha menyunggingkan sebuah senyuman pada kedua wanita paruh baya yang sangat disayanginya.


" Mana mungkin Danish ga suka dengan pilihan Bunda dan Mama, " ujar Danisha.


Mereka berjalan menuju lantai dua butik itu setelah pemilik butik dan seorang karyawannya mempersilahkan mereka.


Dan tibalah mereka di sebuah ruangan, dimana terpajang beberapa manekin menampilkan gaun-gaun pengantin muslimah yang sangat cantik dan elegan. Danisha dibuat terpesona dengan pemandangan di hadapannya.


" Uummm... Ma, Bunda. Apa ini tidak berlebihan ? " tanya Danisha, ada perasaan tidak enak dan canggung dengan semua yang telah mereka persiapkan.


" Tidak, Sayang. Tidak ada yang berlebihan untuk kebahagiaan putra putri kami, " tutur Mama sambil memeluk bahu Danisha.


Timbul perasaan bersalah pada diri Danisha. Mereka selalu memberikan kebahagiaan untuk dirinya. Lalu, apa yang bisa diberikannya untuk mereka ? Bisakah nanti ia membahagiakan mereka ? Perasaan takut kembali menyergapnya. Teringat kembali dengan kondisi kesehatannya dan pengobatan yang akan dilakukannya tanpa seorang pun yang tahu akan kondisinya saat ini.


Tbc





**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Happy New Year 2021, new chapter, new chance, and best wishes of course 😘


Stay safe n healthy for you all πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž


Thank to you all for all support so far, highly appreciate it πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž


Benar-benar ga nyangka dengan pencapaian sejauh ini di MT/NT 🀭

__ADS_1


Love you as always πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2