
**Hi, LOTA Lovers ππ
Selamat Idul Fitri, Minal Aidin Wali Faizin Taqabbalallahu Minna wa minkum πππ€
Lebaran kalian ngapain? Masih mudik kah?
Maaf ya, telat up. Bulan puasa dan lebaran waktu Imoet sangat terbatas buat nulis.
Happy reading you all guys βΊοΈπ€**
######
Hampir pukul 22.00 saat Saka dan Danisha sampai di rumah. Setelah mengunci semua pintu dan jendela, mereka menuju kamar dan segera mengambil air wudhu untuk salat isya.
Setelah salat isya berjamaah, Danisha merapikan mukenanya serta sarung milik Saka. Dilipat rapi dan diletakkannya di rak kecil di pojok kamar tempat mereka menggelar karpet untuk salat.
Sementara Saka sudah terlebih dulu duduk bersandar di kepala ranjang, sibuk dengan ponselnya. Danisha pun menyusul naik ke atas ranjang. Saka tersenyum saat mendapati Danisha telah berbaring di sisinya. Segera ia letakkan ponselnya di atas meja kecil di samping ranjang. Lalu ia menggeser duduknya mendekati Danisha.
"Udah ngantuk?" tanya Saka pelan, tangannya menggenggam dan mengusap tangan Danisha yang baru saja menempatkan tubuhnya dengan posisi berbaring terlentang di ranjang.
"Masih marah?" tanya Saka lagi karena tidak ada respon dari Danisha.
Danisha pun memiringkan kepalanya, menghadap Saka yang menatapnya dengan tatapan sendu. Lalu ia menggeleng, bibirnya mengulas senyuman tipis.
Saka beringsut mendekati Danisha, merapatkan tubuhnya pada tubuh Danisha. Memeluk tubuh istrinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mengecup puncak kepala istrinya cukup lama. Sesaat Danisha bergeming, tetapi detik berikutnya ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Saka. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu sambil menghirup wangi maskulin citrus kesukaannya.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ucap Saka yang semakin merapatkan pelukannya.
"Maafkan aku karena belum sempat bercerita soal beasiswa itu. Maaf, ya?" lanjut Saka, meminta maaf pada Danisha.
"Ya, udah. Ga penting juga aku tau sepertinya," lontar Danisha lirih, masih tenggelam dalam dekapan Saka.
Pelahan Saka mengurai pelukannya sedikit, agar dapat melihat wajah Danisha.
"Bukan begitu, Bee," sanggah Saka menatap Danisha. Sementara Danisha hanya diam dengan pandangan mata ke arah lain.
"Kamu tau sendiri aku sibuk kerja beberapa hari ini karena Papa ke luar kota. Belum lagi Papa memberikan kepercayaan padaku untuk menangani sebuah project di sini, sementara Papa ngurusin yang di luar kota," terang Saka.
Danisha menghela napas singkat, lalu menatap Saka yang masih menatapnya dengan tatapan sendu dengan satu tangan kokohnya yang mengusap lembut pipinya.
"Jadi, kapan berangkat?" tanya Danisha, menatap manik hitam nan teduh milik suaminya.
"Berangkat kemana?" Saka balik bertanya, matanya menyipit menunggu jawaban Danisha.
"Ya, ke Aussie itu!" sahut Danisha, terdengar ketus.
Saka tersenyum lebar. "Kamu mau aku berangkat, hm?" tanyanya.
"Gimana, sih? Kok nanya balik?" sungut Danisha, wajahnya mulai merengut.
Saka terkekeh kecil melihat raut wajah istrinya. Lalu merengkuh kembali tubuh wanita tercintanya ke dalam dekapannya.
"Aku ga akan kemana-mana, Sayang ... Aku ga akan mungkin bisa jauh dari kamu," ungkap Saka, lalu mengecup kening Danisha berulang kali.
"Aku udah bilang sama Pak Renaldi kalau aku ga akan ambil beasiswa itu," lanjut Saka.
"Kenapa?" tanya Danisha, kepalanya sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Saka.
"Karena aku ga mau jauh dari istriku. Aku ingin selalu bersama dan dekat dengan istriku. Istriku lebih penting dari apa pun itu," jawab Saka menatap sendu Danisha yang juga menatapnya.
Danisha tersenyum, satu tangannya mengusap lembut rahang Saka yang sedikit kasar karena bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sana.
"Benarkah?" tanya Danisha.
"Tentu saja, Sayang. Mana bisa aku jauh dari kamu. Membayangkan saja aku tak sanggup. Aku ingin selalu berdua bersamamu, Bee. Aku ga mau jauh dari kamu," ungkap Saka lembut. Tangannya meraih tangan Danisha yang menempel di rahangnya. Mengecupnya cukup lama. Pelahan direngkuhnya kembali tubuh Danisha dan memeluknya erat sembari mencium puncak kepala istrinya.
Saka tidak bisa membayangkan bila harus jauh dari Danisha. Ia tak sanggup. Danisha adalah segalanya baginya. Wanita dalam dekapannya ini ibarat immune booster baginya.
"Maaf dan terima kasih," ucap Danisha lirih. Ia melonggarkan pelukannya. Menangkup wajah Saka dengan kedua tangannya.
"Maaf karena aku udah berburuk sangka. Dan terima kasih untuk segala pengertianmu, Mas. Terima kasih untuk semuanya," imbuh Danisha. Dikecupnya sekilas bibir Saka dengan lembut.
Saka tersenyum menerima kecupan lembut dari bibir tipis Danisha. Ditatapnya istrinya sendu. Pelahan wajahnya mendekat pada wajah Danisha. Pandangan matanya tertuju pada bibir pink istrinya. Saat jarak telah terkikis, bibir keduanya pun telah menyatu. Saka memagut mesra bibir Danisha. Keduanya saling menikmati manisnya sentuhan bibir masing-masing. Belaian lembut Saka membuai wanita berlesung pipi itu. Keduanya pun larut dalam indahnya rasa di peraduan cinta mereka.
*******
Dering ponsel membuat pasangan halal yang baru saja menyelesaikan penyatuan itu terhenyak kaget. Dengan napas yang masih tersengal, Saka berdecak kesal seraya berguling di sisi ranjang yang kosong. Satu tangannya meraih selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Setelah itu, tangan lainnya menyambar ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja kecil di samping ranjang, sementara matanya melihat jam di dinding kamarnya. Hampir pukul 01.00 dini hari. Kembali ia berdecak kesal, apalagi setelah melihat sebuah nama di layar ponselnya.
"Siapa, Mas? Tengah malam begini menelepon," tanya Danisha menatap Saka, napasnya pun terdengar sedikit terengah.
Saka menghela napasnya singkat. "Prasta!" jawabnya. Lalu tangannya menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon dari sahabat baiknya itu.
Danisha mengerutkan dahinya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang mengikuti suaminya. Kedua tangannya memegangi selimut hingga bagian atas dadanya.
__ADS_1
"Halo!"
"Aku di depan rumah kamu."
Tut ... Tut ...!
"Ish! Dah gila nih anak!" sungut Saka sembari meletakkan ponselnya di samping bantalnya. Lalu mendekatkan dirinya pada istrinya.
"Ada apa, sih? Prasta kenapa, Mas?" cecar Danisha sedikit cemas. Takut terjadi sesuatu pada diri Prasta, sahabatnya.
"Dia di depan rumah," jawab Saka malas. Lalu mencium bibir Danisha sekilas sebelum istrinya itu mengatakan sesuatu.
"Hah? Di depan rumah kita?" tanya Danisha tak percaya sesaat setelah Saka melepaskan ciumannya.
Saka menganggukkan kepalanya. "Udah, Bee! Kamu tidur aja. Biar aku yang temuin dia. Dan makasih ya, Sayang," ujar Saka dengan seulas senyuman dan mengecup kening Danisha sebelum akhirnya ia memungut pakaiannya yang tergeletak di bawah ranjang dan memakainya dengan cepat untuk segera menemui Prasta yang saat ini sedang menunggu di luar, tepatnya di luar pagar rumahnya.
Sesampainya di bawah, Saka segera membuka pintu pagar rumahnya. Tampak Prasta berdiri di samping motor sport-nya sambil menginjak puntung rokok dengan sepatu gunungnya.
"Kamu gila, ya! Ga liat jam berapa ini?" omel Saka setengah berbisik pada sahabatnya. Suasana jalanan sekitar rumahnya telah sepi, waktu sudah beranjak dini hari. Udara dan angin yang berhembus cukup dingin menerpa kulit Saka yang hanya memakai kaos dalam tanpa lengan dan celana boxer.
"Sorry, Bro!" ucap Prasta memohon. "Boleh aku masuk?" tanyanya kemudian.
Saka mengusap wajahnya dan menghela napasnya panjang. Lalu ia mempersilahkan sahabatnya itu masuk. Prasta masuk bersama dengan motor sport-nya.
"Kamu dari mana?" tanya Saka menatap Prasta penasaran.
"Dari kantor, dong! Habis deadline!" jawab Prasta, matanya menatap penampilan Saka dari ujung kaki hingga kepala. Lalu ia terkekeh.
"Apa, sih? Ngeliatin sampe begitu!" sungut Saka, risih dengan tatapan sahabatnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Prasta masih terkekeh. "Jangan bilang kamu lagi ...."
"Emang iya! Udah tau, kan? Liat jam dong, jam berapa ini?" tukas Saka kesal, membenarkan apa yang dipikirkan sahabat tengilnya itu.
"Sorry, sorry, Bro! Aku lagi suntuk, butuh teman!" sahut Prasta sembari duduk di sofa ruang tamu.
"Waktunya ga tepat, tau! Ck!" decak Saka, berdiri sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Prasta.
"Jadi belum kelar? Lanjutin lagi sana!" ujar Prasta dengan santainya.
Saka mengambil bantal kecil yang ada di single sofa di dekat tempatnya berdiri, dilemparkannya ke arah Prasta tanpa berkata-kata. Lalu ia pun beranjak meninggalkan Prasta yang duduk di sofa dengan gelak tawanya.
"Ambil minum sendiri di dapur! Kamu tunggu di teras belakang!" seru Saka sembari berjalan menaiki anak tangga satu per satu.
Saka membuka pintu kamar bertepatan dengan Danisha yang keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar. Rambutnya masih setengah basah. Saka menghampiri istrinya.
"Kok udah mandi, sih! Aku masih mau lagi, Sayang." Saka menatap sendu wajah Danisha.
"Prasta?" tanya Danisha, mengabaikan perkataan Saka.
Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ada di bawah," jawabnya singkat.
"Kenapa dia?" tanya Danisha lagi.
"Lagi suntuk katanya," jawab Saka. Ia semakin mendekat pada Danisha. Mengikis jarak di antara keduanya. Lalu sebuah kecupan mendarat di keningnya.
"Ya, udah. Mandi dulu, gih!" Danisha sedikit mendorong tubuh Saka, menyuruhnya untuk segera mandi.
Saka menghela napasnya singkat. Lalu tersenyum dan mengangguk. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
Danisha menyiapkan pakaian ganti Saka, setelah itu ia menuju ke ranjang hendak bersiap untuk tidur. Namun sebelumnya, ia mengambil ponsel yang diletakkannya di atas meja kecil di samping ranjang. Ada beberapa notifikasi pesan baru. Salah satunya dari Kak Ella, yang menanyakan kabarnya dan memintanya untuk kembali siaran di Radio DG FM.
Danisha menghela napasnya dalam, lalu tersenyum kecil. Saka pasti tidak akan mengizinkannya untuk kembali bekerja di Radio DG FM. Mengingat kondisinya dan apalagi saat ini, ia sedang sibuk menyelesaikan skripsinya. Ia paham, Kak Ella pasti sedang kelimpungan karena Renata yang resign. Bang Hendra pernah menelponnya suatu hari, mengatakan bahwa mereka belum menemukan penyiar baru yang benar-benar sesuai dan qualified setelah dirinya dan Renata resign.
Pintu kamar mandi terbuka. Saka keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan bertelanjang dada. Sementara tangannya sibuk mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya.
"Kok belum tidur?" tanya Saka, mendekat ke sisi ranjang di mana Danisha berbaring. Mengecup kening istrinya lagi, lalu segera mengambil pakaian ganti yang sudah Danisha siapkan di atas sofa. Setelahnya, ia kembali menghampiri Danisha. Lalu duduk di tepi ranjang di mana istrinya berbaring, mengecup kening, kedua mata dan bibir tipis istrinya penuh kelembutan.
Danisha tersenyum menatap Saka yang terlihat segar setelah mandi.
"Buruan temui Prasta. Kasihan, lagi galau ditinggal Renata pergi," tutur Danisha, tangannya mengusap lembut tangan Saka.
Menatap penuh cinta sang istri, Saka bangkit dari duduknya. Ia mengangguk dengan senyuman manis terkembang di bibirnya sembari mengusap lembut kepala sang istri.
"Nanti lagi, ya," bisik Saka dengan mengedipkan sebelah matanya.
Sontak sebuah cubitan kecil mendarat di lengannya, membuat lelaki tercintanya meringis kesakitan diikuti tawa kecilnya. Sedangkan sang istri menampilkan wajah cemberutnya.
"Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah bersamaku, ya," ucap Saka, kemudian bergegas ke bawah menemui Prasta.
Danisha pun mengangguk dan segera melanjutkan tidurnya.
********
__ADS_1
Prasta meneguk air mineral dingin yang diambilnya dari dalam lemari pendingin yang ada di dapur milik tuan rumah. Menatap langit malam dengan beberapa bintang yang bersinar kecil di atas sana. Sesekali ia menghela napasnya.
Sementara sang tuan rumah, Saka, duduk di sampingnya sambil menyesap kopi hitam yang dibuatnya sendiri. Keduanya tampak terdiam setelah beberapa saat lalu terlibat obrolan. Sudah 1 jam mereka duduk di karpet di teras belakang rumah Saka.
"So, what's your planning?" tanya Saka akhirnya.
Prasta mengedikkan bahu. Bibirnya mencebik. "Aku ga tau," jawabnya singkat.
"Aku udah benar-benar kehilangan dia. Itu berarti harapanku pun udah ga ada. Sekarang dia benar-benar ga mau aku hubungi. Panggilan telponku aja ga pernah diangkatnya. Pesan apalagi!" oceh Prasta dengan senyum getir di bibirnya.
"Udah coba bertanya pada keluarganya?" tanya Saka.
Prasta menoleh pada Saka di sampingnya. "Kamu tau? Orang tuanya sendiri bahkan tidak tau di mana dia tinggal di sana. Mereka sedang mencari tau lewat saudara dan kenalan Papanya. Mereka memintaku untuk bersabar," terang Prasta.
Saka menghela napasnya panjang. Lalu menepuk bahu sahabatnya. "Mungkin memang itu yang harus kamu lakukan sekarang ini, bersabar," saran Saka.
Prasta mengusap wajahnya. "Sebegitu bencinya dia sama aku, hingga dia menyiksa aku dengan cara seperti ini," lirihnya.
Saka tersenyum tipis. Ia ikut prihatin pada apa yang saat ini dialami sahabatnya. Ia teringat dirinya saat mengetahui ada lelaki lain yang dicintai Danisha saat itu. Betapa kacaunya dirinya. Marah, benci, bahkan ada perasaan ingin mati saat itu karena tidak bisa memiliki gadis yang dicintainya. Beruntung ia masih punya stok sabar walaupun hanya sedikit saja. Lebih beruntung lagi, akalnya masih bekerja dengan sangat baik. Tidak bertindak yang bisa merugikan dirinya sendiri dan juga orang-orang yang disayanginya. Terbukti dengan sisa sabar dalam dirinya dan akal sehat yang tetap selalu mengingat Sang Pencipta dengan selalu bersyukur padaNya, ia bisa melewati semuanya. Bahkan ia tak henti menyebut nama Danisha di setiap doanya. Dan Allah sungguh mendengar doanya, memberikan Danisha padanya.
"Wooyy! Kok jadi kamu yang melamun!" seru Prasta mengagetkan Saka.
Saka tersenyum. "Sorry! Bersabarlah, Bro! Terus ucapkan namanya dalam setiap doamu. Insya Allah semua yang menjadi harapanmu akan kembali," tutur Saka.
Prasta mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku percaya sama kamu. Kamu udah melewati segala hal selama ini. Segala rasa udah pernah kamu rasakan, Bro. Aku salut sama kamu. Kamu hebat bisa menghadapi dan melewati segala hal yang mungkin membuat sebagian atau bahkan mungkin, hampir semua orang terutama lelaki, akan menyerah dan kalah. Tapi tidak dirimu. Kamu begitu kuat, kokoh dan tidak pernah menyerah. Selelah dan sesakit apa pun itu. Bantu aku ya, Bro. Bantu aku untuk tetap selalu di sampingku, mengingatkanku untuk selalu bersabar dengan segala hal yang kuhadapi. Sesungguhnya aku takut. Aku takut aku menyerah, khilaf lalu hilang akal," ungkap Prasta penuh kesungguhan.
Saka menatap Prasta dengan senyum simpulnya. Ia meraih bahu sahabatnya, dirangkulnya erat sahabat yang telah bersamanya sejak di bangku SMA itu.
"Kita kenal bukan baru sehari dua hari, Bro. I know you so well. Aku bisa melewati semuanya juga karena ada kamu dan kalian semua yang tak henti memberikan support pada kami. Kalian selalu di sampingku. Aku yakin kamu juga bisa menghadapi semua ini. Tentu saja kita akan saling menolong dan menjaga tanpa diminta sekalipun. Tapi jangan pernah memintaku untuk selalu di sampingmu. Danisha-ku bagaimana?" balas Saka diselingi gurauan kecilnya.
"Kampret!" umpat Prasta yang terlihat serius menyimak perkataan Saka. Namun seketika tergelak tawa dengan kalimat terakhir sahabatnya itu.
"Thank you so much!" ucap Prasta membalas rangkulan sahabatnya.
"Anytime, Bro!" sahut Saka. "Udah hampir jam 3 pagi. Istirahat di sini aja," imbuhnya.
"Boleh?"
"Ck! Dah kepalang tanggung kamu gangguin kita, sekalian aja! Gayamu pakai nanya!" gerutu Saka sembari bangkit dari duduknya.
Prasta tergelak tawa mendengar gerutuan sahabatnya. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Saka meninggalkan teras belakang rumahnya.
Saka membuka pintu kamar tamu rumahnya dan mempersilahkan Prasta untuk tidur di sana.
"Handuk ada di laci itu. Istirahatlah!" ujar Saka, tangannya menunjuk laci di samping lemari pakaian di kamar itu.
Prasta mengangguk.
"Thanks again," ucapnya sekali lagi.
Saka pun mengangguk.
"Udah kabari Ibu kalau kamu di sini?" tanya Saka mengingatkan.
"Beres!" sahut Prasta dengan senyum simpulnya.
"Ok, aku tinggal ya. Tidur, jangan begadang!" tukas Saka sembari berlalu meninggalkan Prasta.
"Siap!" balas Prasta, menutup pintu kamar dan menguncinya. Setelahnya, ia mengambil handuk dari dalam laci yang tadi ditunjukkan oleh Saka. Lalu bergegas membersihkan dirinya di bawah shower. Pikirannya kembali pada Renata, gadis yang masih selalu di hatinya, yang kini telah pergi jauh ke lain kota meninggalkannya. Sepenggal syair lagu dari Armada Band ia lantunkan lirih di bawah guyuran air shower.
πΆπΆπΆ
Apakah aku sejahat itu di matamu?
Sehingga kamu tak mau lagi dekat denganku
Apakah aku seburuk itu di hidupmu?
Salahku di mana tapi tak mengapa
'Ku selalu berdoa kau bahagia
πΆπΆπΆ
Tbc
**Danisha galau, takut ditinggal Saka ke Aussie. Prasta galau ditinggal Renata pergi.
Stay tune terus di sini yaa ... π€
Jgn lupa mampir jg di kisah Prasta-Renata di Love And Dreams. Rated, like n komen ya Cintaa ππ
Follow ig Imoet juga yaa ... @imoet_enra atau follow akun WP Imoet, Imoet_Enra.
__ADS_1
Thank you so much π€πππ**