
"Danish, Barra rewel, tuh! Nyari Ayahnya terus," seru Distha berjalan menghampiri Danisha yang sedang sibuk di dapur bersama Bu Erni.
Danisha mendesah pelan, lalu mencuci tangannya di wastafel.
"Anak itu selalu begitu. Kalau Ayahnya beberapa hari libur kerja, trus giliran masuk kerja, sulit lepas dari Ayahnya," desah Danisha.
"Bu Erni, tolong ini sayur dan lauknya dihangatkan, lalu ditata di meja, ya," titah Danisha pada Bu Erni yang sedang memotong buah melon.
"Baik, Mbak," jawab Bu Erni sedikit menganggukkan kepalanya.
"Ayahnya terlalu manja-in," desah Danisha lagi.
Distha tersenyum tipis menatap Danisha yang berjalan melaluinya menuju ke lantai dua. Ia pun mengekori langkah Danisha yang menaiki anak tangga satu per satu.
"Namanya juga anak. Sama aja tuh, Bang Ardhy juga begitu. Apa pun yang diminta Fasya selalu dituruti," timpal Distha.
Sesampainya di ruang keluarga di lantai dua, keduanya mendapati bocah laki-laki yang berwajah mirip Saka sedang terisak memanggil sang Ayah. Nampak Dokter Ardhy bersamanya sedang membujuk bocah yang bulan depan akan berusia genap 2 tahun itu. Sementara seorang bocah perempuan nampak sedang asyik bermain-main dengan boneka Hello Kitty dan Doraemon. Distha menghampiri bocah perempuan itu yang tak lain putrinya, Fasya, yang berusia 16 bulan.
"Kenapa ini, sayangnya Bunda, hm? Lihat Fasya, tuh! Pinter banget main sendiri, nggak nangis," bujuk Danisha.
"Susah bener, nih, bujuk anak kamu. Emang sering begini sikapnya?" tanya Dokter Ardhy.
"Nggak juga, sih! Begini ini kalau habis ditemani Ayahnya beberapa hari. Giliran Ayahnya kerja, udah deh! Bawaannya seperti ini," jelas Danisha.
"Kesel juga bujuk dia, tapi dianya nggak terpengaruh! Kek siapa, coba?" sindir Dokter Ardhy.
Danisha berdecak kesal mendengar sindiran si Abang sepupu sambil merengkuh Barra, putranya, yang masih terisak.
"Ayah ... Mau Ayah!" ucapnya sambil terisak. Kini bocah itu duduk di pangkuan sang Bunda yang mendekapnya penuh cinta.
"Iyaa ... Sebentar lagi Ayah pulang, Sayang. Tunggu, ya! Barra nggak boleh cengeng, ah! Anak laki-laki harus kuat, nggak boleh cengeng gini, dong!" bujuk Danisha sekali lagi, mencium kening dan pipi bocah itu. Alhanan Barra Atlanta, nama lengkapnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang memasuki garasi rumah.
"Nah, itu Ayah datang! Berhenti dong, nangisnya!" ucap Danisha tersenyum menatap putranya sembari menghapus sisa-sisa air mata di wajah sang putra.
"Assalamualaikum ...." salam Saka ketika memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam ...." jawab semua orang serempak.
Saka pun langsung menuju ke lantai dua saat mendengar suara jawaban salamnya.
Barra, seketika turun dari pangkuan sang Bunda dan berlari menyambut kedatangan sang Ayah. Walaupun usianya belum genap 2 tahun, tetapi Barra termasuk anak yang gesit dan lincah. Di usia 1 tahun, bocah kecil yang mewarisi wajah Ayahnya itu sudah bisa berjalan sempurna. Bicaranya pun lancar.
"Ayaaah!" teriak bocah kecil itu kegirangan hingga lesung pipi kirinya terlihat jelas. Bocah kecil itu juga mewarisi lesung pipi sang Bunda.
Saka tersenyum semringah melihat sang putra yang menyambutnya dengan wajah berbinar senang. Barra langsung menghambur memeluk sang Ayah begitu jarak mereka sudah dekat.
"Hai, Boy! Assalamualaikum," sapa Saka sembari mengangkat tubuh sang putra tercintanya.
"Alaikumcalam," jawabnya sedikit cadel. Kedua tangannya memeluk erat leher sang Ayah.
"Eh! Ada apa? Kok tiba-tiba meluk Ayah begini? Kenapa lagi, Bun?" tanya Saka pada Danisha.
"Biasalah, seperti yang sudah-sudah!" sahut Danisha sembari mengibaskan tangannya.
"Anak kamu keras kepalanya ampun, ya!" gerutu Dokter Ardhy yang duduk bersandar di sofa.
"Lho! Kenapa, sih?" Saka menatap bergantian Abang sepupunya, istrinya dan Distha.
Lalu beralih pada bocah kecil yang memeluknya erat sembari menyandarkan kepalanya di bahu Saka.
"Barra, kenapa? Kangen Ayah, ya?" tanyanya pada sang putra. Tangannya mengusap lembut punggung bocah kecil kesayangannya.
Danisha bangkit dari duduknya menghampiri Saka. Lalu diciumnya punggung tangan suaminya dan mengambil alih tas kerjanya. Sebelum beranjak ke kamar untuk meletakkan tas kerja suaminya, ia mengusap-usap punggung putra kecilnya.
"Ayah seharian susah ditelponnya ya, Sayang. Makanya sekarang dia merajuk," ujar Danisha, lalu beranjak menuju kamarnya.
Saka tersenyum. "Udah dong, merajuknya. Kan Ayah udah pulang ini," bujuk Saka.
"Kalian udah lama?" tanya Saka pada Dokter Ardhy dan Distha.
"Yaa ... Hampir 2 jam an," sahut Dokter Ardhy sambil melirik arloji di tangan kanannya.
"Aku tinggal ke kamar dulu, ya," ujar Saka, diikuti anggukan kepala Dokter Ardhy dan Distha.
"Barra main sama Fasya dulu, ya?" bujuk Saka. Sang bocah hanya menggelengkan kepalanya, ia masih nyaman bersandar di bahu sang Ayah.
"Tuh! Keras kepalanya banget!" tukas Dokter Ardhy sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia punya prinsip yang kuat, Bang!" balas Saka sembari meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya menyusul Danisha.
Distha menggelengkan kepalanya melihat interaksi kedua orang saudara sepupu tersebut.
Sore itu, Distha mengajak anak dan suaminya, Dokter Ardhy yang kebetulan libur bertugas, berkunjung ke rumah Danisha dan Saka. Selain kangen dengan Danisha karena sudah hampir sebulan tak bertemu, ia juga kangen dengan keponakannya, si Barra, bocah kecil yang gesit dan lincah.
*******
Malam itu, rumah Danisha dan Saka tampak ramai. Ada Distha dan Dokter Ardhy bersama putrinya yang berkunjung sejak sore. Setelah Maghrib, Prasta baru datang. Laki-laki yang masih setia dengan rambut gondrongnya itu, baru pulang dari kantor langsung menuju rumah sahabatnya.
Saat ini, mereka sedang menikmati makan malam bersama.
"Barra makin pinter ya, udah bisa makan sendiri. Kapan-kapan Om ajak makan ayam goreng, mau?" celetuk Prasta.
Barra yang sedang asyik makan, menganggukkan kepalanya.
"Siipp!" sahut Prasta melihat Barra menganggukan kepalanya.
"Jangan ngada-ada deh, Pras! Jangan janji apa pun sama Barra. Dia bakal inget dan nagih janji kamu, lho!" timpal Danisha.
"Ya, biarlah! Ya kan, Barra? Kita mau main bom-bom car. Ya, kan?" ucap Prasta sambil mengusap puncak kepala bocah kecil yang duduk di baby chair di sampingnya.
"Makanya buruan bikin anak sendiri!" celetuk Dokter Ardhy.
"Gampang itu!" sahutnya santai.
"Udah saatnya move on, Bro!" imbuh Saka.
"Jangan PHP-in anak gadis orang melulu," timpal Distha.
Prasta menatap sahabat-sahabatnya bergantian. "Kalian udah sepakat menyerang aku, ya?" tukas Prasta dengan tawa kecilnya.
Prasta mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terkekeh. "It's ok!" ucapnya singkat.
"Pras ...." sela Danisha pelan.
"Makasih atas kepedulian kalian. Jangan khawatirkan aku. I'm fine, ok?" potong Prasta. Tangannya meraih gelas kaca berisi air putih dingin di depannya, menenggaknya hingga tersisa setengah gelas.
Semuanya terdiam. Prasta melanjutkan makannya tanpa berbicara hingga makanan di piringnya tak bersisa.
"Sorry!" celetuk Distha tiba-tiba yang juga telah menghabiskan makanannya.
"Pras!" seru Danisha, ia melirik suaminya memberikan sebuah isyarat. Saka paham dengan isyarat yang ditunjukkan Danisha. Ia menghela napasnya dalam.
Danisha bangkit dari duduknya. Ia mengangkat Barra dari baby chair-nya, membawanya untuk membersihkan tangan dan mulut putra kecilnya yang belepotan karena makanan. Distha pun melakukan hal yang sama pada putri kecilnya. Kedua wanita itu meninggalkan ketiga lelaki yang masih duduk bergeming di meja makan.
Sebelum beranjak ke kamar, Danisha meminta Bu Erni untuk membereskan meja makan jika ketiga orang lelaki itu telah benar-benar selesai di meja makan.
"Aku nggak bermaksud apa-apa tadi. Aku hanya tidak ingin dia mendapat masalah suatu hari nanti karena kelakuannya yang berganti-ganti cewek," terang Distha pada Danisha saat mereka sudah berada di kamar Danisha di lantai dua.
"I know, Sist. Tapi aku nggak sepenuhnya menyalahkan Prasta. Ada beberapa cewek yang aku pernah tahu, selalu mengejar Prasta. Sementara Prasta nggak suka dan selalu ingin menghindar," timpal Danisha, menghela napasnya singkat.
"Entahlah, beberapa kali aku mencoba mencari dan menghubungi Renata via medsos-nya. Beberapa kali aku lihat dia membagikan postingan di medsos. Lalu aku coba DM dia. Tapi nggak ada satu pun dibalasnya," ungkap Danisha sembari memakaikan pakaian Barra.
"Aku juga kesal sama yang namanya Olly itu. Ngebet banget sama Prasta. Aku tahu Prasta selalu mencoba menghindar dari cewek itu. Tapi dia merasa nggak enak karena teman dari kecil. Keluarganya saling mengenal," sungut Distha kesal. Ia menidurkan putri kecilnya di samping Barra di ranjang milik Danisha setelah membersihkan tubuh putri kecilnya.
"Olly sebenarnya baik, Sist. Aku lihat dia cuma ingin diperhatikan Prasta karena dari kecil mereka akrab. Beberapa kali aku bertemu Olly. Dia nggak ingin Prasta terpuruk karena kepergian Renata. Sementara Prasta merasa Olly terlalu mencampuri urusan pribadinya. Yang aku nggak suka, Prasta merokoknya semakin menjadi. Lihat aja badannya makin kurus aja. Wajahnya makin tirus. Saka berkali-kali mengingatkan, tapi dia menanggapinya dengan tertawa aja," terang Danisha sembari menggelengkan kepalanya.
Distha berdecak. "Ck! Itulah yang sering aku bilang padanya untuk berhenti merokok pelan-pelan. Tapi sama sekali nggak ditanggapinya," dumel Distha.
"Aku pernah bertemu ibunya di supermarket. Ibunya meminta tolong untuk menasehati Prasta. Aku bilang nggak janji, kamu tahu sendiri gimana dia kalau dikasih tahu. Hopeless aku, Sist!" cicit Distha sambil mengusap-usap punggung putri kecilnya yang mulai mengantuk.
"Harus pelan-pelan dan sabar. Aku yakin Prasta pasti tidak akan ceroboh dan bertindak yang aneh-aneh. Kita pelan-pelan bantu dia ya, Sist. Jangan sampai kita meninggalkannya," tutur Danisha, yang mendapat anggukan dari Distha.
Sementara itu, ketiga laki-laki itu sudah berpindah tempat di taman belakang. Prasta menghisap rokoknya santai. Sementara Saka dan Dokter Ardhy tak henti memperhatikan sahabatnya yang terkesan cuek.
"So, apa rencanamu?" tanya Saka memecah keheningan di antara mereka.
Prasta menekan puntung rokok ke dalam asbak di hadapannya untuk mematikan rokoknya. "Nggak ada," jawabnya singkat. Lalu menghela napasnya dalam.
"Kenapa?" tanya Dokter Ardhy.
"Ya emang nggak ada rencana. Jalani yang ada saat ini. Apa lagi?" sahut Prasta dengan senyum tipis.
"Just let it flows, right?" imbuhnya. Ia menatap Saka yang duduk di hadapannya.
Saka mengangguk dengan satu tangan yang menangkup dagunya. "Don't give up and to be hopeless!" ucapnya santai dengan seulas senyuman.
Prasta mengangguk tegas. "Sure, no worries! Thank you anyway!" sahut Prasta, tersenyum lebar.
__ADS_1
"Anytime!" balas Saka dengan senyum semringah. Keduanya saling memberikan tinjuan kecil sebagai salam khas mereka. Sementara Dokter Ardhy yang duduk di samping Prasta pun merangkul bahu lelaki gondrong sahabat istrinya.
******
Saka berjalan mendekati ranjang tidurnya setelah menidurkan Barra di ranjang kecil milik putranya yang berada di pojok ruangan kamarnya. Bocah kecil itu hari ini terlihat sangat lengket dengan ayahnya. Tidak mau tidur jika bukan ayahnya yang menemani.
Dilihatnya Danisha yang sedang berbaring bersandar di kepala ranjang dengan ponsel di tangannya. Saka naik ke sisi ranjang yang kosong, mengikuti Danisha bersandar di kepala ranjang.
"Lihat apa, Bee? Sampai senyum-senyum sendiri, gitu?" tanya Saka penasaran hingga mengernyitkan dahinya. Ia mendekat pada Danisha untuk merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya.
Danisha pun semakin merapatkan tubuhnya pada Saka, berbaring dengan lengan kokoh suaminya sebagai bantal. Ia menunjukkan ponselnya pada sang suami.
"Lagi lihat foto-foto Barra waktu dia baru lahir. Lihat, nih! Bikin gemes," tunjuk Danisha, tawa kecilnya lepas hingga lesung pipinya terlihat jelas.
Saka pun tersenyum lebar melihat foto putra kecilnya di ponsel milik Danisha.
"Nggak terasa bulan depan dia udah 2 tahun, ya," lontar Saka, ia mengecup kening Danisha.
"Dia manja banget sama kamu. Apalagi kalau kamu beberapa hari di rumah nggak pergi ke kantor. Begitu kamu pergi ke kantor, sudahlah! Nyari kamu melulu. Merengek terus kerjaannya. Lihat aja hari ini. Tidur pun minta sama kamu," keluh Danisha, bibirnya mencebik.
Saka terkekeh mendengar Danisha mengeluh sambil mencebik. Terlihat lucu dan menggemaskan. Dikecupnya puncak kepala Danisha. Lalu tangannya mengangkat dagu sang istri agar sedikit mendongak menatapnya.
"Kata orang, kalau anak mulai manja, pertanda dia minta adik," cetus Saka, menatap Danisha dengan senyum terbaiknya.
Sontak Danisha memukul dada Saka mendengar perkataan suaminya. "Ngaco, ih! Ilmu dari mana itu!" protes Danisha.
"Dari orang-orang yang udah expert sepertinya," balas Saka terkekeh.
"Mana ada, coba!" dengus Danisha. Ia kembali menggeser layar ponselnya melihat foto-foto Barra. Walaupun Barra dilahirkan melalui operasi caesar karena kondisinya yang tidak memungkinkan saat itu, ia sangat bersyukur bahwa tumbuh kembang putranya sangat baik. Ia bersyukur masih bisa memberikan ASI untuk putranya hingga saat ini, walaupun masih dibantu dengan susu formula.
Saka tersenyum saat melihat foto Danisha yang sedang bercanda menggendong Barra ketika mereka liburan di villa milik keluarganya di Batu, Malang. Dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Sumber kebahagiaannya.
Tangan Saka menghentikan tangan Danisha yang akan menggeser layar ponselnya untuk berganti melihat foto berikutnya. Lalu diambilnya ponsel Danisha. Dipandangnya sesaat foto tersebut sembari tersenyum bahagia.
"Kok senyum? Ada apa?" tanya Danisha sedikit mendongak untuk melihat ekspresi wajah suaminya lebih jelas.
Tiba-tiba Saka mengecup bibir Danisha. Memagutnya pelan dan lembut. "Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintai kalian. Kalian sumber kebahagiaanku. Rumahku. Oksigen untukku bernapas," ucap Saka. Ia menatap Danisha dengan wajah berbinar bahagia.
Danisha tersenyum manis pada Saka, tangannya mengusap rahang tegas suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Kami juga sangat mencintaimu, melebihi apa pun. Mas segalanya bagi kami. Terima kasih," lirih Danisha menatap lekat manik hitam Saka yang meneduhkan dan menghangatkan.
Dipeluknya erat tubuh suaminya. Saka mengecup kening dan puncak kepala istrinya penuh cinta. Keduanya hanyut dalam romansa cinta yang mereka ciptakan. Cinta yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar ungkapan cinta. Cinta yang memperjuangkan, menjaga dan melindungi.
#######
Bonus nih visual Saka & Little Barra yg selalu lengket (Ini hanya visual ya, anggaplah seperti itu)
Visual Danisha & Little Barra di atas juga sama, hanya visual.
Kalau nggak suka, abaikan aja visualnya βΊοΈππ
Segini aja ya, Extra part nya hehehe ....
Thank you buat yg udah nge-fave kisah DanSa
Thank you buat yg udah baca & setia menanti update kisah DanSa
Thank you buat yg udah tinggalin jejak jempol & komennya
Thank you buat yg udah vote dukung kisah DanSa
Ini karya pertamaku, maafkan jika banyak kekurangan. Masih dalam proses belajar & terus belajar untuk lebih baik lagi ππ
Semoga LOTA Lovers bisa menarik benang merah dari kisah ini. Semoga bisa paham makna yg ingin Imoet sampaikan melalui kisah ini. Semoga kisah ini bisa menginspirasi LOTA Lovers semua π€ππ
__ADS_1
I love you all LOTA Lovers π€πππ