Love On The Air

Love On The Air
Eps 81 Belum Stabil


__ADS_3

**Hai! Happy reading yes ☺️**


Sudah lewat 2 jam sejak Danisha masuk ke kamar operasi. Saka, Prasta dan Bang Hendra baru saja kembali dari musholla untuk sholat dhuhur sekaligus berdoa untuk kelancaran operasi pengangkatan tumor di kepala Danisha hingga operasi berhasil dan Danisha diberikan kesembuhan dari sakitnya.


Berjalan mondar-mandir di depan kamar operasi, Saka sesekali berhenti sambil mengusap tengkuknya dengan helaan napasnya yang dalam. Prasta menghampiri Saka dan merangkul bahu sahabatnya. Lalu mengajaknya untuk duduk.


" Duduklah, Ka. Ga capek jalan mondar-mandir gitu, " celetuk Prasta.


Saka menarik napasnya dan menghelanya berat sambil mengusap wajahnya pelan.


" Ya, nanti aku duduk kalau capek. "


Saka kembali berjalan ke sana kemari, kedua tangannya ia masukkan di saku celana jeans navy nya. Pandangan matanya sesekali ia arahkan pada pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat dengan lampu indikator ruang operasi yang menyala.


" Ka, duduklah, Nak, " pinta Bu Dinda lembut.


Saka masih saja berdiri, bersandar di dinding samping pintu ruang operasi. Permintaan sang Mama ia abaikan.


Bang Hendra berjalan mendekati Saka. Ikut berdiri di samping lelaki yang saat ini terlihat sangat cemas dan tidak tenang itu.


" Gimana kalau kita ke kantin ? Dokter Ardhy tadi bilang kamu belum makan, " ujar Bang Hendra.


Saka hanya diam, tangannya memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pening.


" Nanti aku akan makan setelah tahu kondisi Danisha baik-baik aja, " sahutnya datar.


" Danisha pasti baik-baik aja. Jaga kondisi kesehatanmu juga, Ka. Gimana kamu mau menjaga Danisha kalau kondisimu sendiri ga baik ? " ucap Bang Hendra berusaha membujuk Saka.


Saka masih diam bergeming dengan raut wajah yang cemas berbaur dengan mata sayu yang lelah. Pikirannya berkecamuk. Sangat terlihat jika lelaki itu dirundung kecemasan yang teramat dalam. Semua orang tahu dan paham, Saka sedang berusaha menentramkan hati untuk menghadapi ujian yang menimpanya.


Ayah beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri menantunya.


" Ayah dan Bunda mau ke musholla, kamu mau ikut ? Kita sholat ashar bersama, " ucap Ayah setengah berbisik.


Bunda pun mendekat dan mengusap lengan menantunya. Lalu menatap lelaki muda yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk putri sulungnya.


Saka memandang sang Ibu Mertua yang tersenyum lembut walau dipaksakan. Bunda mengangguk.


" Ayo ! Kita sholat ashar dulu, " ajak Bunda setengah berbisik.


" Ya, Bun. "


Saka mengikuti Bunda dan Ayah yang sudah berjalan lebih dulu. Namun sebelumnya, ia mendekati sang Mama.


" Ma, Saka sholat dulu. Titip Danish ya, Ma, " pamit Saka.


" Iya, tentu. Kamu sholat dulu, kita gantian, " ucap Bu Dinda mengusap lembut lengan putranya dengan senyum penuh kasih sayang.


" Makasih, Ma. " Saka tersenyum pada sang Mama kemudian pandangannya tertuju pada Prasta dan Bang Hendra.


" Pras, Bang ! Mau temani aku ? " tanyanya.


Prasta dan Bang Hendra seketika menatap Saka, mengangguk dengan senyuman di wajah mereka.


Ketiga lelaki itu pun beranjak pergi menuju musholla untuk sholat ashar.


******


Lampu indikator ruang operasi padam. Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka setelah hampir 5 jam tertutup. Saka langsung berdiri diikuti semua yang ada di sana.


Nampak seorang perawat keluar dan di belakangnya Dokter Aldi mengikuti.


Saka menelan ludahnya kelat dan menghampiri Dokter Aldi dengan raut penuh kecemasan.


" Dokter ! " panggilnya cemas.


Dokter Aldi berdiri berhadapan dengan Saka. Terlihat lelah dari raut wajah Dokter Bedah Saraf itu.


" Gimana istri saya, Dok ? " tanya Saka cemas.


Ayah dan Bunda pun terlihat sangat cemas menanti berita dari Dokter Aldi. Demikian pula dengan Bu Dinda dan Pak Rahmat yang baru saja datang.


Dokter Aldi menghela napasnya panjang dan menatap Saka dan semua orang yang ada di hadapannya saat itu bergantian.

__ADS_1


" Alhamdulillah, operasi berjalan baik dan kami berhasil mengangkat tumornya. Sekarang kita tunggu Danisha sadar. Setelah ini, Danisha akan dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit) untuk proses pemulihan, " jelas Dokter Aldi tersenyum dengan wajah lelahnya.


Saka mengusap wajahnya, mengucapkan syukur dalam hatinya dengan senyuman terukir di bibirnya. Ia tak sanggup berkata-kata. Wajahnya terlihat sedikit cerah setelah mendengar penjelasan Dokter Aldi. Demikian halnya dengan kedua orang tua Danisha dan kedua orang tuanya.


Dokter Aldi menepuk bahu Saka pelan.


" Kami akan memantau terus kondisi Danisha. Saya permisi dulu, " ujar Dokter Aldi berpamitan.


" Terima kasih, Dokter. Terima kasih ! " ucap Saka, diikuti oleh kedua mertua dan orang tuanya.


Bu Dinda memeluk putranya sambil mengusap pelan punggung sang putra. Kemudian, wanita paruh baya itu mendekat dan memeluk Bunda, besannya.


" Danisha akan baik-baik saja. Semua akan kembali baik. Putri kita akan sehat kembali atas izin Allah, " ucap Bu Dinda haru sembari memeluk Bunda.


" Aamiin... Insya Allah ! " sahut Bunda terisak.


Ayah pun merangkul menantunya, demikian pula Pak Rahmat. Tersenyum mendengar penjelasan Dokter Aldi bahwa tumor di kepala menantunya berhasil diangkat.


Namun, Saka masih belum bisa tenang. Pasalnya, Danisha masih belum sadar saat ini. Isi kepala Saka berkecamuk mengingat serangkaian proses yang harus dilalui Danisha pasca operasi seperti yang Dokter Aldi jelaskan sebelumnya.


" Ka, tetap berdoa ya, Nak. Tetap optimis bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk Danisha, " bisik Pak Rahmat yang menyadari bahwa putranya masih gelisah dan cemas.


Saka menghela dalam napasnya.


" Ya, Pa. Insya Allah, " lirih Saka berkata sembari meremas jemari tangannya.


Setidaknya untuk saat ini, ia sedikit lega karena tumor di kepala Danisha telah berhasil diangkat. Ia sangat berharap Danisha segera tersadar dari pengaruh anestesi dan terhindar dari komplikasi.


Mereka menunggu Danisha keluar dari kamar operasi untuk dipindahkan ke ruang ICU. Di ruangan itu, Danisha akan dipantau untuk proses pemulihan dirinya, terutama agar tidak mengalami komplikasi dari tindakan operasi tersebut.


Omong-omong, teman-teman kerja Danisha sudah pulang setelah Bang Hendra sholat ashar bersama Saka dan Prasta. Prasta juga juga sudah tidak berada di rumah sakit. Lelaki dengan rambut gondrong itu harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Distha sedang pergi ke kantin rumah sakit bersama Dokter Ardhy. Sahabat Danisha sejak SMP itu mengeluh lapar karena sejak siang perutnya belum terisi makanan berat. Ia hanya makan beberapa snack saja.


********


Sesak dan nyeri. Itu yang dirasakan Saka saat melihat kondisi Danisha setelah keluar dari ruang operasi. Entah perasaan apalagi yang saat ini ia rasakan. Ia merasa tubuhnya lemas menyaksikan tubuh lemah istrinya tergolek tak berdaya di atas ranjang ICU. Terlihat balutan perban di bagian depan kepala istrinya yang seluruhnya masih tertutup oleh jilbab. Beberapa peralatan medis terpasang di tubuh istri yang sangat dicintainya itu.


Di luar ruangan ICU, hati Saka serasa teriris sebilah belati. Sangat perih. Udara di rongga dadanya pun serasa penuh hingga ia merasakan sesak yang teramat sangat, membuatnya susah untuk bernapas.


Saat ini, Saka dan keluarga besarnya masih belum diperbolehkan untuk masuk ke ruangan ICU untuk melihat dan menemani Danisha. Kondisi Danisha masih belum stabil dan dalam pantauan yang sangat ketat oleh tim medis.


Bu Dinda mendekati Saka dan merangkul bahu putranya penuh sayang, ingin memberikan dukungan dan kekuatan untuk sang putra. Tidak mudah berada di posisi Saka saat ini.


" Danish akan baik-baik aja. Mama tau ini sangat sulit dan berat, tapi kamu tetap harus kuat. Allah yang akan menguatkanmu. Jangan pernah menjauh dari Nya. Pastikan dirimu selalu dekat dengan Nya, " tutur Bu Dinda penuh kelembutan.


Tanpa sadar, bulir bening lepas dari sudut mata Saka. Dipeluknya sang Mama dengan isakan lirih.


" Danish pasti tersiksa, Ma. Aku ga sanggup melihatnya. Dia pasti kesakitan, " lirih Saka terisak dalam pelukan sang Mama.


Bu Dinda mengusap kepala dan punggung putranya penuh kasih sayang. Wanita paruh baya itu merasakan bahunya hangat, basah karena air mata putranya. Sebagai seorang Ibu, ia bisa merasakan bagaimana perasaan putranya melihat istrinya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.


Bunda yang menyaksikan kondisi putrinya pun tak kuasa menahan tangisnya. Mertua Saka itu juga sangat prihatin melihat menantunya. Wanita paruh baya itu teringat perkataan Danisha beberapa waktu lalu bahwa apa pun yang terjadi padanya, putrinya itu ingin Saka selalu bahagia. Putrinya ikhlas dan ridlo apabila harus melepaskan suaminya jika hal itu membuat lelaki hebatnya itu bahagia.


" Bunda ! "


Bunda tersentak dengan sebuah suara yang memanggilnya.


" Kirana ! Kakakmu, Sayang.... " Bunda semakin terisak dan menghambur memeluk Kirana, adik Danisha yang baru saja datang dengan napas yang sedikit tersengal.


Kirana dapat melihat kakaknya yang terbaring lemah dengan peralatan medis terpasang di tubuhnya.


" Udah, Bun. Jangan menangis, katanya kita ga boleh nangis. Kita harus kuat agar bisa menguatkan kakak. " Kirana melerai pelukannya perlahan dan menatap wajah Bundanya yang terlihat sembab.


Saka pun melepaskan pelukannya dari Bu Dinda dan mengusap mata dan pipinya yang sedikit basah. Lalu menatap Kirana sekilas. Adik iparnya itu terlihat tegar dengan seulas senyuman tersungging di bibirnya.


Maafkan aku, Bee. Maafkan aku yang menjadi lemah.


Saka bergumam dalam hati.


Tak jauh dari tempat mereka berada, seorang pria berdiri mematung menatap ke arah jendela kaca kamar ICU yang ditempati Danisha.


" Nak Rendra, " gumam Bunda lirih yang masih terdengar oleh Saka. Lelaki itu pun sontak menoleh. Matanya menangkap sosok pria mantan kekasih istrinya.


Pandangan mereka beradu. Mas Rendra perlahan melangkah menghampiri Saka.

__ADS_1


" Danisha pasti akan baik-baik aja. Dia wanita kuat, apalagi ada kamu bersamanya. Makasih udah menjaganya dengan sangat baik. Maaf, aku baru bisa datang sekarang, " ujar Mas Rendra tulus.


Saka menatap Mas Rendra, sedetik kemudian ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


" Makasih udah datang, Mas. Makasih untuk supportnya. Ya, dia wanita kuat. Dia akan sembuh, " ucap Saka, matanya menatap Danisha yang terbaring di ranjang ICU melalui jendela kaca yang cukup lebar.


********


Semua orang yang menunggu Danisha telah kembali pulang ke rumah masing-masing, termasuk Distha, Bu Dinda dan Pak Rahmat. Ayah, Bunda dan Saka masih tinggal di ruang tunggu ICU rumah sakit.


Malam semakin larut, hampir tengah malam saat ini. Beberapa tim medis termasuk Dokter Aldi bolak balik memantau kondisi Danisha.


Saka dan kedua orang tua Danisha kembali merasa cemas. Hingga saat ini, Danisha masih belum menampakkan tanda-tanda baik. Kondisinya masih belum stabil.


Bersandar pada dinding kamar ICU sambil sesekali melihat Danisha yang masih terbaring dengan mata yang masih setia terpejam, Saka merasakan dadanya kembali sesak.


Please, Bee... Buka mata kamu, Sayang! Jangan buat aku dan kami semua takut! Kami menunggumu, Bee. Please, wake up! Ya, Allah! Angkatlah penyakit istriku. Sembuhkan dia. Berikan kesempatan pada hamba untuk membahagiakannya. Berikan kesempatan pada kami untuk membangun rumah tangga yang penuh ketaatan kepada Mu, Ya Allah! Berikan kami kebahagiaan itu, Ya Allah!


Batin Saka terus bergumam dan melantunkan doa-doa untuk kesembuhan Danisha.


Pintu kamar ICU terbuka. Dokter Aldi keluar. Dengan tergesa, Saka menghampiri Dokter Bedah Saraf itu.


" Gimana Danish, Dok ? " tanya Saka cemas dan ingin tahu perkembangan kondisi istrinya.


Dokter Aldi menghela napasnya panjang dan sesaat terdiam dengan kepala menunduk.


" Dokter ? "


" Dok, tolong katakan apa sebenarnya yang terjadi dengan anak saya. Jujur saja, jangan menutupi, " celetuk Bunda.


Dokter Aldi menatap Bunda dengan wajah tenang.


" Begini. Kami sudah memeriksa seluruh kondisi organ vital tubuh Danisha. Tidak ada yang salah. Hanya saja kami menduga ini terjadi karena efek dari anestesi. Dugaan saya, Danisha mengalami koma sementara. Kami akan terus memantau kondisinya, " terang Dokter Aldi dengan lugas dan tenang.


" Koma ? " tanya Saka dengan nada sedikit meninggi.


" Ya, insya Allah bukan koma permanen. Kami sudah mengatasinya dengan memberikan pasokan oksigen di otaknya untuk menghentikan pembengkakan yang terjadi di otaknya. Maaf, untuk sementara hanya ini yang bisa kami informasikan dan semoga cukup untuk dipahami, " jawab Dokter Aldi dengan wajah sayu.


Tubuh Saka lemas. Saat Dokter Aldi berlalu pergi, Saka berjalan tertatih mencari tempat untuk bersandar. Tubuhnya langsung merosot ke lantai ketika berhasil menyandarkan punggungnya di dinding luar kamar ICU.


Apalagi ini ? Apa ini takdir Mu, Ya Allah ? Tidak! Kamu harus berjuang, Danisha! Aku akan segera sidang skripsi, Sayang! Akan aku turuti semua keinginanmu, Bee. Aku akan lakukan apa pun untuk kesembuhanmu dan kebahagiaanmu. Bertahanlah, berjuanglah! Kumohon jangan menyerah!


Wajah Saka nampak lelah. Dipijatnya pangkal hidungnya. Kepalanya terasa berat.


" Ka... Jangan begini, Nak! " Suara Ayah sedikit membuatnya kaget.


Ayah mertuanya itu berjongkok sembari memegang kedua bahu Saka.


" Kita harus kuat! Ingat, Ka! Dokter Aldi bilang, hanya koma sementara. Tidak ada yang serius, semua udah ditangani oleh Dokter Aldi dan tim medisnya. Danisha akan segera baik. Ayo, bangkitlah! " ujar Ayah memberi semangat Saka agar tidak lemah dan putus asa.


Seketika Saka berdiri diikuti Ayah. Lalu tersenyum pada sang Ayah mertua dan helaan napas dalam terlepas dari mulutnya. Badannya berdiri tegak dan menyisir rambutnya dengan jemarinya.


" Ya, Ayah! Danish akan sembuh! Sebentar lagi Danish akan kembali bersama kita. Saka janji akan membahagiakan putri Ayah! " lantang Saka berkata.


Ayah tersenyum simpul mendengar perkataan menantunya. Ditatapnya wajah lelah menantunya sembari berkata dengan bijak, " Jangan pernah takut kalah sama keadaan. Ada kekuatan besar yang kita miliki ketika semua hal di dunia ini sudah tak mampu kita hadapi. Doa. Karenanya jangan pernah putus untuk selalu berdoa pada Sang Pencipta, penguasa alam semesta. Untuk semua kepedihan dan kesulitan yang kita hadapi, kita wajib untuk bersabar dan bertahan, karena Allah tahu dimana batas kemampuan kita. "


Saka memeluk erat sang Ayah mertua.


" Makasih banyak, Ayah. Maafkan Saka bila Saka belum bisa menjaga putri Ayah dengan baik. Belum bisa membahagiakannya, " ucap Saka, sedikit ada rasa sesal dalam kalimat yang diucapkannya.


" Kamu udah sangat sangat baik menjaga putri Ayah. Ayah sangat berterima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan. Maafkan kami yang udah merepotkanmu. Membuatmu melewatkan kebahagiaan masa mudamu, " tutur Ayah lembut dan bijak. Terpancar senyuman tulus di wajahnya. Pria paruh baya itu merasa sangat beruntung memiliki menantu seperti Saka yang sangat bertanggung jawab walaupun usianya terbilang masih sangat muda.


Tbc


**Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Maaf ya, beberapa hari terakhir, selalu lama up nya πŸ™πŸ™ Kesibukan RL ku sangat menyita waktu, mohon dimaapken, ya πŸ€—πŸ™πŸ™


Btw, kisah DanSa rencananya segera aq end kan. Gimana menurut kalian ? ditunggu komennya ya...πŸ€—πŸ˜˜


Thank you buat yg udah setia stay tune di LOTA


Jgn lupa LIKE N KOMEN YA... yg belum kasih rate 🌟 5, buruan rated ya Cinta...

__ADS_1


Sehat2 slalu untuk kalian πŸ€—πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž**


__ADS_2