Love On The Air

Love On The Air
Eps 91 Mantan


__ADS_3

**HAPPY READING YOU ALL πŸ€—πŸ™**


Danisha terkejut ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya sangat familiar di telinganya. Minggu pagi itu ia sedang menyiram dan merawat tanaman hias yang ada di depan rumahnya, tepatnya yang berada di luar pagar rumahnya.


Ia tertegun saat membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok tinggi tegap dengan setelan hoodie putih serta celana training berwarna sama berdiri di hadapannya. Mas Rendra. Di sampingnya berdiri seorang wanita cantik dengan dress selutut merangkul lengan lelaki itu. Keduanya tersenyum padanya.


"Danish. Ka-kamu di sini? Ngapain?" tanya Mas Rendra sedikit gugup.


Seketika Danisha tersadar dari diamnya mendengar pertanyaan dari Mas Rendra. Ia pun balas tersenyum kepada pasangan suami istri itu.


"Hai, Mas, Mbak. Apa kabar?" tanya Danisha kemudian, mengabaikan pertanyaan mantan kekasihnya.


"Baik," jawab keduanya bersamaan.


"Apa kabar?" tanya balik Mas Rendra.


"Alhamdulillah, baik," jawab Danisha. Ia mengangguk pelan, senyumnya masih mengembang di bibirnya. Lalu tatapan matanya tertuju pada tangan Ayana yang sedang mengelus perutnya yang terlihat membuncit.


"Kamu kok, di sini?" tanya Mas Rendra heran.


"I-ya. Aku ...." Bibir Danisha tidak meneruskan perkataannya saat mendengar suara Saka memanggil namanya.


"Bee, Sayang!" Saka muncul dari arah depan Danisha berjarak sekitar 2 meter dari tempatnya berdiri. Berlari kecil menghampirinya dengan peluh di wajah tampannya, napasnya tersengal. Begitu sampai di samping Danisha, ia langsung mengecup kening istrinya. Mengabaikan sepasang suami istri yang sedang berbincang bersama istrinya.


"Mas ...." Bisik Danisha, tersenyum malu.


Saka membalikkan tubuhnya begitu selesai mencium kening istrinya. Sedikit terkejut saat mengetahui siapa yang sedang bersama istrinya.


"Mas Rendra?" heran Saka. Lalu matanya beralih pada wanita dengan perut buncit di samping Mas Rendra.


"Halo, Ka. Habis jogging, ya? Apa kabar?" sapa Mas Rendra dengan tangan yang terulur untuk bersalaman.


Saka mengangguk dan menyambut uluran tangan lelaki rivalnya itu, masih dengan tatapan heran. Namun senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Baik. Seperti yang Mas Rendra lihat," sahutnya seraya mengelap peluh di wajahnya dengan handuk kecil yang ia kalungkan di lehernya.


"Ini rumah kalian?" tebak Mas Rendra. Setelah melihat Saka, ia berasumsi bahwa rumah yang ada di hadapannya itu adalah tempat tinggal mereka.


"Iya, benar!" tegas Saka membenarkan.


"Benarkah?" tanya Ayana, kedua matanya sedikit membulat.


Saka tersenyum dan mengangguk. Tangannya meraih pinggang Danisha untuk dipeluknya erat. Danisha hanya diam, tidak berkata apa pun. Tangannya masih menggenggam gunting tanaman yang tadi ia pergunakan untuk memotong tangkai-tangkai tanaman yang sudah mulai tumbuh tak beraturan.


"Iya. Kenapa?" tanya balik Saka.


"Waah ... Kita tetangga ternyata!" seru Mas Rendra dengan tawa kecilnya.


"Oh, ya?" kaget Saka sembari menatap Danisha dengan tatapan yang sulit diartikan. Keduanya saling berpandangan. Danisha pun sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya. Kenapa bisa? Batinnya.


"Rumah kami di blok sebelah. Nomor tiga dari pojok depan," jelas Mas Rendra penuh semangat.


"Kami belum lama di sini. Belum begitu mengenal semua penghuni komplek ini," ujar Saka dengan senyum simpulnya.


Mas Rendra mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ya, kami tahu. Kami selalu melewati jalan ini dan tahu pembangunan rumah ini," timpal Mas Rendra.


"Oh, ya? Berarti udah lama dong tinggal di sini?" tanya Saka, penasaran.


"Lumayan, hampir 4 tahun. Mampirlah ke rumah kami," jawab Mas Rendra.


"I see. Ya, insya Allah," sahut Saka, manggut-manggut dengan kedua tangan di pinggangnya sembari melirik Danisha sekilas yang terlihat tersenyum tipis pada pasangan suami istri itu.


"Ren, udah, yuk! Kita pulang. Kakiku pegel, nih!" ajak Ayana sedikit merengek dengan suara yang terdengar manja.


Danisha tersenyum menatap Ayana. Ia berjalan lebih mendekat menghampiri wanita cantik itu.


"Udah berapa bulan, Mbak?" tanya Danisha mengusap lembut perut buncit Ayana. Matanya terus menatap perut buncit wanita cantik itu.


Bahagianya jika ini terjadi padaku juga. Batin Danisha, tangannya masih mengusap pelan dan lembut perut buncit Ayana.


"Mau jalan 7 bulan," jawab Ayana, tersenyum kecil.


"Cowok atau cewek?" tanya Danisha lagi.


"Insya Allah cewek." Kali ini Mas Rendra yang menjawab.


Danisha terkekeh. "Lucu pasti. Dan tentu saja cantik seperti mamanya," cetus Danisha.


Ayana dan Mas Rendra pun ikut terkekeh. Sementara Saka hanya menampilkan senyum tipis yang dipaksakan.


"Baiklah, kami permisi. Kapan-kapan kami mampir lagi atau mampirlah ke rumah kami, jika waktu kalian senggang," pamit Mas Rendra dengan senyum simpulnya.


Danisha tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya. Demikian halnya dengan Saka.


"Ya, insya Allah. Terima kasih," ucap Danisha dengan suara lembutnya. Kedua tangannya menangkup di depan dada.


Mas Rendra dan Ayana pun beranjak meninggalkan sang pemilik rumah. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Ayana berhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Danisha!" serunya.


Danisha menoleh. "Ya?" sahut Danisha dengan tatapan bingung. Saka pun menatap Ayana dengan mengerutkan dahinya.


"Terima kasih," ucap Ayana.


Danisha dan Saka semakin bingung.

__ADS_1


"Terima kasih atas pengertian kamu. Maafkan aku udah berprasangka buruk padamu. Mau kan, kamu memaafkan aku?" ungkap Ayana terdengar tulus penuh penyesalan.


Danisha menghampiri wanita cantik yang tengah hamil itu.


"Ga ada yang perlu dimaafkan, Mbak. Untuk apa meminta maaf?" tutur Danisha dengan senyum tulusnya.


"Semua yang terjadi udah semestinya terjadi. Tak ada yang perlu disesali. Kita hanya perlu mengikuti jalan yang sudah Allah tentukan untuk kita," imbuh Danisha dengan suara lembutnya.


Ayana pun tersenyum dan langsung memeluk Danisha. Sementara Danisha sedikit terkejut dengan tindakan Ayana. Untung saja mereka tidak terjatuh.


"Terima kasih, terima kasih sekali lagi," ucap tulus Ayana.


Danisha tersenyum. "Sama-sama, Mbak. Maaf, tangan saya kotor," sela Danisha.


Ayana melerai pelukannya. Tersenyum tulus menatap Danisha yang juga menatapnya.


"Ok, sampai ketemu lagi," pamit Ayana.


Mas Rendra menatap kedua wanita cantik berbeda usia itu dengan senyum semringah. Sementara Saka berdiri mematung dengan senyum tipisnya. Ada perasaan lega, wanita yang dulu bersikap ketus pada istrinya, kini telah berubah ramah dan bersahabat.


********


Saka memperhatikan Danisha yang sedang menata sarapan pagi mereka di meja makan. Wajahnya terlihat semringah.


"Teh nya, Mas." Danisha meletakkan teh hangat yang baru saja diseduhnya di meja makan, tepat di hadapan Saka dengan senyum semringahnya.


"Makasih," sahut Saka singkat, matanya tak lepas memperhatikan wajah istrinya.


"Kamu lagi bahagia, ya?" cetus Saka sambil menyesap teh hangat yang disajikan Danisha.


"Maksud, Mas?" tanya Danisha, bingung.


"Kamu kelihatan bahagia banget pagi ini," ucap Saka datar.


"Aku selalu bahagia, Mas. Apalagi bersama kamu," sahut Danisha, tersenyum semringah sembari duduk di samping Saka dan mengecup pipi suaminya sekilas.


Saka menautkan kedua alis hitamnya. Semakin heran dengan tingkah Danisha.


"Tumben," cetusnya lagi.


Danisha terkekeh. "Mau sarapan roti, sup jagung manis atau nasi?" tawar Danisha.


"Roti aja pakai selai kacang," sahut Saka singkat, lalu menyesap teh hangatnya.


Danisha pun segera mengambil roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang untuk suaminya.


"Monggo, Sayang." Danisha menyodorkan setangkup roti tawar dengan selai kacang yang disajikan di piring kecil pada Saka dengan senyum terbaiknya.


Saka menerimanya dengan mata yang tak lepas dari wajah istrinya.


"Terima kasih. Kamu kok ga pernah cerita kalau rumah Mas Rendra di komplek ini?" celoteh Saka sebelum menggigit roti selai kacang di tangannya.


"Aku?" tanya Danisha dengan telunjuk yang mengarah pada dirinya.


Saka mengangguk.


"Mana aku tau," sahut Danisha dengan bahu terangkat.


"Masa, sih?" tukas Saka.


"Aku benar ga tau, Mas. Baru ini tadi ga sengaja ketemu mereka. Mereka juga yang menyapa aku duluan," terang Danisha.


Saka telah menghabiskan setangkup roti selai kacangnya dan menyesap habis teh hangat buatan istrinya.


"Yakin?" cecar Saka.


"Kamu kenapa, sih?" tanya balik Danisha, menatap Saka penuh heran dengan sikap sang suami.


Saka pun menatap Danisha penuh tanya dan tidak percaya atas jawaban yang telah istrinya berikan.


"Dia tinggal di komplek ini udah hampir 4 tahun, lho! Kamu emang beneran ga tau atau pura-pura ga tau?" Kembali Saka mencecar Danisha, ia belum menyerah ingin mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Danisha semakin bingung dengan sikap dan perkataan Saka.


"Ini ada apa, sih? Aku ga ngerti deh, Mas! Maksud kamu apa, sih?" berondong Danisha. Ia memegang keningnya, berusaha mencerna semua yang dikatakan oleh suaminya.


Saka menghela napasnya panjang.


"Sebenarnya kamu tau kan, Mas Rendra tinggal di komplek perumahan ini? Secara dia udah tinggal di komplek ini hampir 4 tahun," tuding Saka akhirnya.


"Apa?" Danisha benar-benar bingung.


"Kamu terlihat senang banget waktu ketemu dia. Senyum terus. Sampai dia udah pergi pun, wajah kamu terlihat bahagia gitu," sindir Saka.


"Mas!" Danisha berjengit kaget mendengar perkataan Saka.


"Kamu senang kan, rumah kita berdekatan dengan rumahnya. Bisa sering ketemu," cerocos Saka, rahangnya yang tegas terlihat sedikit menegang.


"Masya Allah, Mas! Aku emang benar-benar ga tau rumah dia di komplek perumahan ini. Lagipula, yang beli rumah ini kan kamu, Mas! Aku juga ga pernah tau kapan kamu beli rumah ini. Tau-tau semua udah ada di depan mataku," sanggah Danisha sembari menatap Saka dengan tatapan sendu.


"Tapi kenapa kamu ga cerita kalau rumah Mas Rendra juga berada di komplek perumahan ini?" protes Saka.


"Aku ga tau, Mas! Aku ga tau sama sekali kalau rumah Mas Rendra itu di komplek ini juga!" sangkal Danisha, wajahnya mulai tegang. Ia pun bangkit dari duduknya, membereskan piring dan gelas kotor bekas sarapan mereka. Tak peduli pada Saka yang terus menatapnya. Ia sudah tidak ingin meneruskan sarapannya.


"Waktu kalian masih pacaran, dia udah tinggal di komplek ini. Ya, kan? Bohong kalau kamu ga tau rumahnya!" tukas Saka.


Danisha terdiam, tidak berkata sepatah kata pun. Kemudian ia berjalan meninggalkan dapur. Saka mengikutinya.

__ADS_1


"Kita belum selesai berbicara," cicit Saka, terus mengikuti langkah Danisha menuju lantai atas.


Danisha terus bergeming hingga mereka masuk ke dalam kamar.


"Katamu di sini tempat kita menyelesaikan semuanya. Ga enak bicara di bawah, ada Bu Erni," ucap Danisha berusaha tenang.


Saka menghela napasnya berat, menatap lekat istri cantiknya.


"Kamu udah ga percaya sama aku, ya? Penjelasan apa pun ga bakal ada gunanya," lirih Danisha berkata, kini ia duduk di kursi meja riasnya menghadap Saka yang berdiri di hadapannya.


"Ya, kan masa iya kamu ga tau rumah Mas Rendra selama ini. Aneh aja, gitu!" Saka masih keukeuh dengan pendapatnya.


Danisha menatap manik hitam Saka yang tajam menatapnya. Tiba-tiba ia merasa sesak di dadanya. Ia ingin menangis. Namun, ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Ada apa?" tanya Danisha lirih sembari bangkit dari duduknya dan mendekat pada lelaki halalnya. Saka bergeming di tempatnya berdiri.


"Kalau rumah Mas Rendra di komplek ini juga, kenapa? Aneh? Aku rasa ga ada yang aneh. Itu hak siapa pun untuk memilih tinggal dimana," ujar Danisha dengan suara yang bergetar.


"Tapi aku ga suka!" sahut Saka, terus menatap Danisha.


"Apalagi melihat kamu terus tersenyum padanya. Aku ga suka, Bee!" imbuhnya, tangannya menyentuh wajah sang istri. Mengusapnya penuh kelembutan.


Danisha tersenyum, lalu memeluk Saka erat.


"Maaf!" ucapnya, kepalanya menempel di dada bidang suaminya.


"Sungguh aku ga pernah tau dimana rumah Mas Rendra," tutur Danisha, masih memeluk tubuh suaminya.


Saka membalas pelukan Danisha. Mengusap punggung dan kepala istri tercintanya.


"Aku juga minta maaf," lirih Saka, mengecup puncak kepala istrinya penuh cinta.


"Maaf atas sikap dan perkataanku. Aku hanya ga suka melihat kamu terus tersenyum padanya. Aku ga mau kamu kembali padanya," lanjut Saka sembari mengeratkan pelukannya.


Senyum terukir di bibir tipis Danisha. Tanpa disadarinya, air mata bergulir membasahi pipinya. Ia menghapus pipinya yang basah dengan jemari tangannya. Kemudian ia sedikit merenggangkan pelukannya, menatap Saka dengan senyum yang ditahannya.


"Untuk apa kamu cemburu sama Mas Rendra?" tanya Danisha dengan senyum tertahannya.


"Berapa kali udah kubilang, bahkan dari sebelum kita menikah. Aku sama dia udah berakhir. Hari ini, esok dan selamanya hanya ada kita berdua, kamu dan aku," tegas Danisha.


"Tapi dia cinta mati sama kamu. Aku masih bisa melihat dari dia menatapmu. Aku ga suka, Bee!" sungut Saka.


Danisha tertawa kecil melihat sikap Saka yang sedang cemburu.


"Kok malah ketawa, sih! Apanya yang lucu?" kesal Saka.


"Kamu yang lucu, Mas," sahut Danisha, masih terkekeh.


Wajah Saka semakin cemberut.


"Kamu tadi lihat, kan? Istrinya hamil lho, Sayang. Masa iya, dia cinta mati sama aku? Yang ada tuh, dia cinta mati sama istrinya," ledek Danisha.


"Eh, siapa tau lho, Bee! Banyak kan, di luar sana yang seperti itu. Istri hamil, malah ditinggal selingkuh!" tukas Saka.


"Astaghfirullah, naudzubillah, Mas! Amit-amit, deh!" ucap Danisha sembari mengelus dadanya.


"Kamu jangan begitu, ya?" pinta Danisha, kembali merapatkan tubuhnya pada tubuh atletis Saka sembari menatap sendu wajah tampan suaminya.


Senyum mengembang di bibir Saka. Ia menangkup wajah ayu Danisha, mengecup sekilas bibir tipisnya.


"Ga akan, Sayang! Cuma kamu wanita halalku, yang akan selalu menemani sepanjang hidup dan matiku. Cuma kamu bidadariku yang akan membawaku ke surga," jawab Saka lembut, lalu membawa tubuh istrinya ke dalam dekapannya.


********


Rendra POV


Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Danisha. Ternyata dia tinggal satu komplek perumahan denganku. Kita bertetangga.


Dia tampak semakin sehat. Senyumnya masih sama seperti dulu. Hangat dan membuat bersemangat. Dia terlihat sangat bahagia. Aku pun bahagia, melihatnya bahagia. Apalagi melihat istriku, Aya, yang bersikap lembut dan bersahabat dengannya.


Semenjak hari itu, hari dimana Danisha pingsan di studio radio DG FM dan aku mengantarkannya ke rumah sakit bersama Hendra. Saat itulah aku menyaksikan bagaimana Saka, laki-laki yang sudah menjadi suami Danisha, terlihat benar-benar terpukul dengan kondisi yang dialami istrinya. Saat itu pula, aku benar-benar melihat bagaimana dia begitu sabar dan mencintai Danisha, wanita yang masih belum bisa aku lupakan meskipun statusku sudah menikah dengan Ayana. Aku melihat begitu besar cinta Saka pada Danisha. Pengorbanan yang dilakukan Saka sungguh membuatku merasa malu. Aku pun tersadar dari semua yang telah aku lakukan pada diriku, Danisha, dan terutama pada Ayana, wanita yang sudah sah menjadi istriku.


Kenapa aku tidak bisa seperti Saka? Laki-laki itu masih muda, jauh lebih muda dari diriku. Tetapi sikap dan pemikirannya jauh lebih dewasa dari diriku yang terlalu egois dan tidak peduli dengan perasaan wanita. Aku benar-benar merasa malu. Aku melihat Saka benar-benar tulus mencintai Danisha yang menderita penyakit yang sangat serius. Perjuangan dan pengorbanannya untuk membuat Danisha sehat kembali sungguh hebat. Cinta dan kasih sayangnya tanpa syarat.


Semenjak saat itu, aku berusaha untuk melupakan masa laluku bersama Danisha. Lebih tepatnya mengikhlaskan untuk melepaskan cintaku pada Danisha karena ada laki-laki lain yang telah mencintainya melebihi cintaku padanya. Seperti yang pernah Danisha katakan padaku, alangkah baiknya untuk melupakan dan menjaga hati kita dan pasangan kita masing-masing. Aku memulainya dari memberikan perhatian pada istriku, Ayana. Menghabiskan waktu berdua dengannya di sela-sela kesibukan kami. Sejak aku kembali bekerja di radio DG FM, mengharuskan aku dan Aya mondar-mandir Surabaya-Malang. Semua itu karena alasan pekerjaan Aya dan juga pekerjaanku yang harus mengurusi perusahaan keluargaku. Seperti janjiku pada kedua orang tuaku, bahwa aku akan tetap mengurusi dan memantau jalannya perusahaan keluarga meskipun aku menjalankan pekerjaanku di radio DG FM Surabaya.


Semakin intens kedekatanku dengan Aya, pelahan membuka hatiku pada wanita yang kunikahi karena perjodohan orang tua kami. Hingga akhirnya kami benar-benar menjadi suami istri dalam artian sebenarnya. Aya wanita baik, berpendidikan dan dari keluarga baik-baik. Sesungguhnya, Aya tidak pernah membenci Danisha. Dia bersikap ketus kepada Danisha karena kecewa dengan keadaan dan juga sikapku. Dia begitu prihatin saat mengetahui penyakit Danisha.


Kini sudah hampir satu tahun kami tidak lagi mondar-mandir Surabaya-Malang. Aya memutuskan resign dari pekerjaannya di Malang dan tinggal bersamaku di Surabaya. Sebulan setelah Aya pindah tinggal di Surabaya bersamaku, dokter menyatakan dia hamil. Aku sangat bahagia mendengar berita bahagia itu. Kini usia kandungannya berjalan memasuki bulan ke tujuh. Kami sangat bahagia. Dan aku sangat mencintai keduanya, istriku Ayana dan calon anakku yang akan segera lahir.


Terima kasih, Danisha dan Saka. Terima kasih karena kalian telah mengajarkanku tentang bagaimana mencintai dan tidak bersikap egois. Semoga kalian selalu berbahagia hingga maut memisahkan.


Rendra POV End


Tbc


**Jangan berpikiran buruk sama Mas Rendra yaa ... dia udah bahagia sama Ayana n calon baby nya, lho! Bahagianyaaa πŸ€—


Saka nya masih aja cemburu yaa, bicaranya muter2 pula ga jelas πŸ˜„ Dipeluk Danisha lsg luluh Saka nya, ihiiiyyyy 🀭


thank you buat semua yg slalu setia stay di sini yaa πŸ€—πŸ˜˜


Btw, Imoet nulis cerpen bareng 13 penulis hebat menjadi satu buku antologi cerpen Sepucuk Cerita Di Kereta Senja, yang bisa dipesan mulai sekarang.


Masa Pre Order hingga 15 Juni 2021 tentu saja dengan special price 40K only. Murah tapi ga murahan πŸ‘Œβ˜ΊοΈ.


Bisa pesan via Imoet di WA yg tercantum di banner berikut ini ya, thank you πŸ€—πŸ™

__ADS_1




__ADS_2