Love On The Air

Love On The Air
Eps 52 Distha & Dokter Ardhy


__ADS_3

Sejak dari studio DG FM, Saka terus saja menggenggam tangan gadis yang duduk di sebelahnya sembari tangan kanannya tetap memegang kemudi. Ia tak ingin melepas tangan kekasihnya barang sedetikpun. Jemari mereka saling bertautan.


Danisha membiarkan hal itu. Sesekali ia memalingkan wajahnya menatap wajah rupawan kekasih hatinya. Ia ingin bertanya sesuatu pada kekasih hatinya, tapi ia ragu.


Saka bersenandung kecil mengikuti lagu yang terdengar dari audio mobilnya. Sesekali ia menatap gadis di sampingnya penuh cinta, mengeratkan tautan jemari tangan mereka dan sesekali mencium mesra punggung tangan kekasih hatinya.


🎢🎢


You're all I need beside me girl


You're all I need to turn my world


You're all I want inside my heart


You're all I need when we're apart


Say, say that you'll be there


Whenever I reach out


To feel your hand in mine


Stay, stay within my heart


Whenever I'm alone


I'll know that you are there


🎢🎢


Danisha tersenyum lebar, wajahnya berbinar bahagia. Jantungnya berdegup kencang, hatinya bergetar indah. Ia menatap laki-laki yang masih terus bersenandung sembari tetap fokus dengan kemudinya.


" Fokus nyetir, Sayang.... " ujar Danisha mengingatkan Saka.


Saka hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Danisha. Ia melambatkan laju mobilnya yang sesaat lagi akan sampai di rumah Danisha.


Danisha menggelengkan kepalanya heran melihat sikap Saka hari ini.


Saka menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Danisha.


" Udah sampai, Tuan Putri, " seulas senyuman ia berikan pada gadis di sampingnya, yang teramat ia cintai. Masih dengan sebelah tangan yang saling bertautan jemari satu sama lain.


" Terima kasih, Pangeranku, " jawab Danisha dengan senyuman dan lesung pipinya.


Saka menatap penuh cinta wajah berlesung pipi di hadapannya. Wajah yang selalu dirindukannya setiap saat. Wajah yang membuatnya tidak bisa berpaling pada gadis lainnya. Wajah penuh kesederhanaan dan kelembutan. Wajah yang selalu menjadi bingkai hatinya.


" Trus begini aja, ga lepas dan ga turun ? " tanya Danisha, terkekeh pelan.


" Maunya ? "


Danisha mengerutkan dahinya, menatap penuh tanya kekasihnya.


" Apa coba ? Kita udah sampai di rumah, lho. Please, lepasin tangan kamu. Kita turun, sayang.... " ujar Danisha manja.


Saka semakin mengeratkan tautan jemari mereka. Menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kemudi dan memejamkan matanya sembari menghela napas pelan.


" Ish ! Kok malah rebahan, sih ! Say.... "


" One minute, please.... " Saka memotong perkataan Danisha.


Danisha menghela napas pelan sembari tersenyum tipis.


Ia melepaskan safety belt dengan tangan kirinya. Lalu, memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Saka yang tengah memejamkan matanya.


" Sayang, turun dulu yuk ! Kalau kamu capek, istirahat di dalam aja, " ujar Danisha sembari mengusap lengan Saka menggunakan tangan kirinya.


Saka memiringkan kepalanya, menengok Danisha di samping kirinya dengan seulas senyuman penuh cinta. Sejurus kemudian ia menegakkan tubuhnya dan mengecup punggung tangan sang kekasih sekilas. Tangan kanannya bergerak membuka safety belt nya dan membuka centre lock pintu mobilnya.


" Ayo ! " ajak Saka siap turun dari mobil.


******


Distha tergesa-gesa berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Saat ia sedang sibuk di perpustakaan umum untuk mencari referensi bahan skripsinya, Mamanya menelpon mengabarkan jika Rafa, anak semata wayang Kak Mitha harus dirawat di rumah sakit karena demam tinggi. Ia pun bergegas meluncur ke rumah sakit yang diberitahukan Mamanya via pesan WhatsApp.


Ia berjalan tergesa-gesa sembari menempelkan ponsel di telinganya, melakukan panggilan telpon pada Mamanya. Namun, beberapa kali nada sambung tidak ada jawaban. Sedikit kesal, Distha mengulang kembali panggilan telponnya.


" Aduh ! " suara seseorang membuat Distha tersentak kaget. Ia menabrak seseorang saat berjalan tergesa sembari sibuk dengan ponselnya. Tubuhnya sedikit limbung tetapi ia bisa menguasai dirinya. Untung ponselnya tidak ikut terjatuh.


" Duh ! Gimana sih ! " sungut Distha yang langsung menatap sosok lelaki yang bertabrakan dengannya dengan wajah kesal.


" Eh ! Maaf, maaf ! Mbaknya ga apa-apa ? "


Distha yang masih kaget menatap seseorang yang ditabraknya. Sosok tegap dengan pakaian snelli dan stetoskop di lehernya, berdiri di hadapannya. Terlihat gugup dengan raut wajah merasa bersalah.


" Mbak, Mbak ga apa-apa ? Maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja... wait ! Bukankah kamu... temannya Saka, ya ? " tanya laki-laki berpakaian snelli itu.


Distha segera tersadar dari keterkejutannya. Ditatapnya sosok laki-laki di hadapannya sekali lagi. Kali ini, wajahnya terlihat tidak sekesal tadi.

__ADS_1


" Uummm... maaf ! " ucap Distha canggung. Lelaki di hadapannya ini terlihat tidak asing baginya.


" Benar kan, kamu temannya Saka dan Danisha ? " tanya lelaki itu dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.


" Owh, iya. Saya teman mereka. Maaf, anda.... "


" Saya Ardhy, saudara sepupu Saka, " jawab lelaki itu yang ternyata adalah Dokter Ardhy, sepupu Saka.


" Ah iya, saya ingat sekarang. Dokter Ardhy, iya kan ? " Akhirnya Distha mengingatnya. Lelaki berpakaian snelli itu adalah Dokter Ardhy, saudara sepupu Saka.


" Maaf, Mbak ga apa-apa, kan ? Maafkan saya, tadi saya terburu-buru sampai tidak memperhatikan arah jalan saya, " tutur Dokter Ardhy.


" Saya juga minta maaf, Dok. Berjalan terburu-buru dan sibuk dengan ponsel saya, " ujar Distha.


Keduanya terkekeh.


" Ah, ya udah. Saya permisi dulu. By the way, Mbak mau kemana ? Apa Danisha sakit lagi ? " tanya Dokter Ardhy.


" Panggil Distha aja, Dok. Saya bukan Mbak nya Dokter Ardhy, lho. Hehehe... Anyway, bukan Danisha yang sakit kok, tapi keponakan saya. Maaf, ruang perawatan khusus anak dimana ya, Dok ? "


" Jalan ini lurus aja, nanti belok ke kanan setelah taman, " jelas Dokter Ardhy sembari tersenyum simpul.


Distha menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Ok, Dokter Ardhy. Thank you informasinya, saya permisi, " pamit Distha dengan senyuman manis membingkai wajahnya.


Dokter Ardhy pun tersenyum ramah, kedua matanya tak berpaling dari wajah manis Distha. Hatinya menghangat menatap wajah manis gadis yang sekilas terlihat tomboy tetapi sisi femininnya tetap terlihat di matanya.


Distha berdehem dan tersenyum kembali menatap Dokter Ardhy sebelum ia beranjak pergi dari tempat itu. Melambaikan tangannya pada sang Dokter dan dengan canggung mengucapkan sampai ketemu kembali.


Dokter Ardhy pun membalas lambaian tangan Distha dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Tangannya meraba dadanya, dapat ia rasakan detak jantungnya yang lebih kencang, bertalu-talu di dalam sana.


" How come ? " gumamnya, seulas senyuman pun terbit dari bibirnya.


" Am I falling in love ? " kembali ia bergumam sembari berjalan dengan kedua mata yang berbinar dan senyum simpul di bibirnya.


******


" Beneran nih, Bunda ga perlu antar kamu ? " tanya Bunda pada Danisha yang saat ini sedang bersiap hendak pergi ke rumah sakit untuk kontrol kesehatannya.


Danisha tersenyum menghampiri Bunda yang duduk di tepi ranjang miliknya.


" Iya, ga perlu, Bunda, " kata Danisha sembari duduk di samping sang Bunda.


" Keknya Bunda sekarang kalah saing sama Saka, nih ! " kata Bunda sambil merengut menggoda putri sulungnya.


Danisha menautkan kedua alis cantiknya.


" Yaaa... kalah saing. Bunda ga dibutuhkan lagi, " ujar Bunda dengan raut sedih.


" Bunda, ih ! Sampai kapanpun Danish selalu membutuhkan Bunda. Mana bisa Danish tanpa Bunda, " tukas Danisha memeluk tubuh sang Bunda dari samping sembari mengecup pipi wanita paruh baya yang sangat dicintainya.


" Masa ? " goda Bunda, masih berpura-pura merajuk.


" Ya jelas dong, Bun. Danish ga mau merepotkan Bunda. Lagipula, Danish bisa berangkat sendiri sebenarnya. Saka nya aja yang lebay, Danish ga boleh pergi sendiri, " ucap Danisha, kedua tangannya masih saja memeluk sang Bunda, enggan melepaskannya.


Bunda pun tersenyum, kedua tangannya melerai pelukan putrinya.


" Karena Saka sangat mencemaskanmu. Dia ga mau terjadi sesuatu sama kamu jika kamu pergi sendirian. Dia laki-laki yang bertanggung jawab dan penuh perhatian, " tutur Bunda menangkupkan kedua telapak tangan di kedua pipi putrinya.


Danisah tersenyum, lesung pipinya membingkai indah wajahnya.


" Danish tau, Bunda. Tapi Danish juga ga mau selalu ngerepotin dia. Apalagi sekarang kami sibuk dengan skripsi dan dia juga harus kerja bantuin Om Rahmat. Danish ga mau dibilang manja, Bun. Danish ga mau dibilang memanfaatkan Saka, " ujar Danisha. Ia teringat dengan ucapan-ucapan beberapa orang di kampusnya.


Bunda mengusap lengan putrinya penuh sayang, paham dengan sikap putrinya.


" Mungkin orang yang bilang begitu belum mengenal dekat kamu dan Saka. Hanya melihat dan mendengar dari orang lain, " ucap Bunda dengan sebuah senyuman yang membuat teduh hati Danisha.


" Kak ! Pangeran kodokmu udah nunggu di teras tuh ! " suara teriakan Kirana seketika menghentikan obrolan Ibu dan anak itu.


" Ish ! Kiran tuh, kalau ga teriak kenapa sih, Bun ! Ampun Danish kalau denger teriakannya, " gerutu Danisha, beranjak dari duduknya yang diikuti sang Bunda sambil terkekeh mendengar gerutuan putri sulungnya.


" Kebiasaan di tempat latihan, sayang.... " bela sang Bunda untuk adiknya yang jago taekwondo itu.


Saka tersenyum melihat kekasih hatinya menghampirinya. Hatinya menghangat ketika sang kekasih hati memberikan senyuman dengan lesung pipi yang senantiasa terbingkai indah di wajahnya yang sederhana.


" Maafin Kiran ya, Sayang. Pasti dia langsung nyelonong pergi habis teriak-teriak tadi, " Danisha masih saja menggerutu karena ulah adiknya.


Bunda yang berada di belakang Danisha tersenyum dan memberikan isyarat dengan jari telunjuk menempel di bibir agar Saka mengacuhkan saja gerutuan Danisha.


Saka pun paham dan tersenyum simpul mendengar gerutuan Danisha.


" Udah siap, Bee ? " Saka bertanya pada Danisha, penuh kelembutan dengan senyuman termanisnya.


Melihat senyuman manis dari kekasihnya, seketika Danisha mengangguk dan membalas tersenyum pada lelaki pemilik hatinya.


" Kita berangkat ya, Bun, " pamit Danisha mencium punggung tangan sang Bunda dan tak lupa memberi kecupan sayang di kedua pipi wanita terhebat dalam hidupnya itu.

__ADS_1


Saka pun mengikuti Danisha, mencium punggung tangan Bunda untuk berpamitan.


" Hati-hati, ya... Buruan pulang jika udah selesai, " pesan Bunda.


Danisha mengedipkan sebelah matanya sembari mengangkat ibu jarinya. Bunda menggelengkan kepala melihat sikap putrinya.


*******


Setelah melakukan pemeriksaan dengan Dokter Aldi yang mengatakan jika kondisi kesehatan Danisha sudah semakin membaik, mereka pun segera pergi. Namun sebelumnya, mereka menebus resep obat dan vitamin yang diberikan oleh Dokter Aldi.


Saat akan beranjak dari apotek, mereka bertemu dengan Distha yang sedang berjalan beriringan dengan Dokter Ardhy. Keduanya terlihat sangat akrab.


Saka dan Danisha saling berpandangan melihat sahabatnya, Distha, yang terlihat dekat dan tidak canggung berbincang dengan Dokter Ardhy.


" Distha ! " panggil Danisha.


" Bang Ardhy ! " Saka pun memanggil saudara sepupunya.


Distha dan Dokter Ardhy pun serempak menengok ke arah Saka dan Danisha.


" Kamu ngapain, Sist ? Siapa yang sakit ? " cecar Danisha pada Distha.


" Rafa yang sakit, Danish. Udah 2 hari dirawat, " jawab Distha.


" Rafa sakit apa ? Kok ga ngabari sih ? Di ruangan mana ? Sayang, kita jenguk Rafa dulu, yuk ! " Danisha pun mulai heboh, mencecar Distha dan ingin saat itu juga menjenguk Rafa, bocah kecil berumur 4 tahun keponakan Distha.


" Demam tinggi, hasil lab nya sih, tifus. Bukan begitu ya, Dok ? " tanya Distha pada Dokter Ardhy, memastikan bahwa yang dikatakannya benar.


Dokter Ardhy mengangguk diikuti dengan senyuman manisnya.


Saka menatap wajah sepupunya dengan penuh tanya hingga membuat Dokter Ardhy salah tingkah.


" Keknya ada yang harus kalian jelaskan pada kami, " ujar Saka kemudian, dengan gaya meledek.


Distha dan Dokter Ardhy saling berpandangan. Dokter Ardhy mengedikkan bahunya berpura-pura tidak tahu menahu maksud perkataan saudara sepupunya.


Distha mengerutkan dahinya, " Maksudnya ? "


" Bang, pake pura-pura ga tau gitu, ya, " cetus Saka.


" Apaan sih, Ka ? Maksud kamu apa sih ? " tanya Dokter Ardhy meminta penjelasan.


" Bener nih, ga mau bilang ? Ok lah, no problem. Bee, yuk pulang aja. Jenguk Rafa nya besok aja, ya ? " tukas Saka sembari menggamit tangan Danisha mengajaknya untuk segera pergi dari hadapan dua orang yang baru saja akrab itu.


Danisha sedikit bingung. Namun ia menurut saja dengan apa yang dikatakan Saka.


" Kita pulang dulu ya, Sist. Besok deh, jenguk Rafa nya. Salam buat Kak Mitha dan Mama, ya.... " ucap Danisha.


" Iyaa... kamu jangan capek-capek. Banyakin istirahat, ya. Hati-hati bawa mobilnya, Ka, " sahut Distha.


Saka dan Danisha pun melangkah pergi meninggalkan Distha dan Dokter Ardhy di depan apotek rumah sakit.


Dokter Ardhy menghela napasnya lalu pandangannya beralih pada gadis di sampingnya yang masih menatap kedua sahabatnya yang telah menjauh dari tempat mereka berdiri.


" So, kamu jadi tebus obat kan ? " tanya Dokter Ardhy.


" Iya, sampai lupa kan... " Distha terkekeh menjawab pertanyaan Dokter Ardhy.


Dengan spontan, Dokter Ardhy mengacak rambut Distha sembari tertawa pelan. Dokter berkulit putih itu kemudian menatap Distha dengan senyum termanis tersungging di bibirnya. Entah mengapa dan bagaimana bisa, perasaannya begitu nyaman dan senang berdekatan dengan gadis sedikit tomboy ini. Padahal baru 2 hari berkenalan dan mulai sedikit akrab.


Distha terpaku dengan sikap Dokter Ardhy. Jantungnya berdegup tak beraturan dengan perlakuan Dokter Ardhy padanya. Ada apa denganku ? Dan ada apa dengannya ? batin Distha.


" Hey ! Distha, mana resepnya ? " Dokter Ardhy memanggil Distha menanyakan resep obat yang harus ditebusnya sembari menautkan kedua alisnya.


Distha sontak terkaget mendengar panggilan Dokter Ardhy.


" Ah, sorry ! " Distha pun mengambil resep obat dari dalam dompet pouch nya. Tersenyum pada Dokter Ardhy sembari mengacungkan kertas resep tersebut.


" Sini, biar aku yang kasih ke bagian farmasinya, " Dokter Saka mengambil kertas resep tersebut dari tangan Distha, lalu berjalan menuju bagian pemesanan resep.


" Mbak, tolong resep obat ini ya. Kalau sudah ready, tolong menghubungi saya, " ucap Dokter Ardhy sembari memberikan kertas resep tersebut pada salah satu pegawai perempuan bagian farmasi tersebut. Pegawai perempuan itu mengangguk, bibirnya mengulum sebuah senyuman pada Dokter Ardhy.


Distha melihat interaksi Dokter Ardhy dengan pegawai perempuan itu, tiba-tiba hatinya merasa sebal dengan sikap pegawai perempuan itu yang memberikan senyuman pada Dokter Ardhy. Eh ? Kenapa aku jadi sebal sama dia ya ? Bomat ih ! gumamnya dalam hati.


Tbc




***Hellooww LOTA Lovers πŸ’žπŸ’ž


Hehehe... Distha n Dokter Ardhy ?? Why not ya ?? Kira2 gimana LOTA Lovers ? Cocok ga sih ?


Semoga tetap setia di sini yaa... πŸ˜˜πŸ€—


Oh ya, jangan lupa mampir n baca juga kisah Prasta n Renata di LOVE AND DREAMS ya... seru juga lho !

__ADS_1


Banyak terima kasih, cinta n sayang utk kalian semua πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’žπŸ’ž***



__ADS_2