
"Ini mobilmu, Nath?" tanya Belle.
"Dulu, ini adalah mobilku selama di Indonesia. Tapi aku ga suka pakai mobil, beb." saut Nathan.
"Kenapa? Lamborghini kamu ini kan bagus sayang."
"Aku lebih suka naik motor daripada naik mobil."
"Mobil kan lebih safety, sayang."
"So, kamu mau aku jadi pebalap F1 bukan Moto GP?" tanya Nathan.
"Apa aja." jawab Belle.
"Kamu itu supporter utama aku, sayang!"
"Cepatlah, aku udah lapar, Nath."
Nathan membawa Belle ke restoran seafood di Jakarta. Mereka memesan banyak sekali aneka seafood.
"Aku sangat suka seafood disini. Fresh dan enak. Di luar negeri, belum lihat aku yang berjualan seperti ini dan seenak ini." kata Nathan.
"Betul, Nath. Ini enak banget. Nanti ajak aku ke sini lagi ya?" pinta Belle.
"Tentu saja, asal jangan setiap hari kamu minta ke sini. Kolesterol bisa bisa kamu."
"Oh ya, Gerald itu siapa kamu? Kenapa dia panggil papa Abi itu om?" tanya Belle.
"Gerald itu sepupu aku. Anaknya kakak papa, Paman Juna." saut Nathan.
"Seharusnya aku numpang di paman Juna aja kali ya? Benar usul papa biar lebih irit biaya juga, sayang."
"Aku ga mau kamu dekat dekat sama si kunyuk itu. Dia itu duda, sayang. Bisa bisa kamu dijadikan mama baru untuk Gerren."
__ADS_1
"Serius kamu kalau Gerald itu duda?"
"Serius, sayang. Nanti aku ajak kamu main ke rumahnya. Dia itu sudah punya anak."
"Istrinya kemana?"
"Mereka cerai. Mba Ayu udah nikah lagi sama bule dan tinggal di Australia."
"Oh......" jawab Belle.
"Ga tanya kalau dia ga nikah lagi? Atau mau tanya hal lain?" tanya Nathan dengan raut wajah yang tidak biasa.
"Ga perlu. Untuk apa aku tau urusan dia? Ga ada faedahnya untuk aku."
"Bagus kalau kamu tau." kata Nathan.
"Ih cemburu ya?" ledek Belle.
"Ngaku aja deh, Nath! Wajah kamu itu mengingatkan aku sama seperti saat kita bertemu Fernando."
"Ya aku cemburu! Karna aku takut kamu di deketin si Gerald!"
Belle tertawa mendengar jawaban dari mulut Nathan.
"Kita sebentar lagi nikah, Nath! Masa kamu masih cemburuan gini?"
"Aku ga takut kamu berpaling ke yang lain bila kita sudah resmi ada status suami istri!"
"Aku janji ga akan pindah ke lain hati, sayang." jawab Belle.
"Gitu dong!"
"Kamu ini seperti anak kecil! Padahal usiamu diatasku, Nath!"
__ADS_1
"Hanya setahun, sayang!"
"Oh ya, Nath. Tadi papa memintaku untuk jadi wakil direktur sementara."
"What? Terus kamu terima?"
"Iyah. Karna aku pikir papa butuh bantuan. Dan aku juga malas kalau ga ada aktivitas selama di Jakarta, sayang."
"Baiklah. Aku percaya pilihan kamu itu ga salah, sayang. Apapun yang kamu suka, lakukan saja."
"Thank you so much, Nathan sayang!" ucap Belle.
"Iyah sama sama! Sudah cepat abiskan makananmu dan kamu akan tinggal di apartemenku untuk sementara. Itu adalah tempat rahasiaku dan Vanka. Mama dan Papa ga pernah tau kalau aku membeli apartemen." kata Nathan.
"Terus kamu baru bilang ke aku?"
"Aku lupa sayang. Tadi di jalan Vanka yang bilang kalau kamu tinggal disana saja. Kalau papa dan mama tanya aku bisa jawab kalau kamu tinggal di hotel."
"Astaga, Nath! Aku lupa menyapa mama!"
"Ga masalah, sayang. Mama juga sedang arisan sama teman temannya. Mana mungkin mama ingat anaknya?"
"Jahat kamu, Nath! Jangan gitu sama orang tua." kata Belle.
"Kenyataannya seperti itu, sayang. Nanti juga kamu akan terbiasa akan hal itu ketika tinggal dirumahku."
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1