
Apartemen mewah yang terletak di kawasan strategis ini, membuat Belle sangat menyukai tempatnya. Tembok yang memiliki warna hijau gelap dan perpaduan furniture yang cocok, membuat tempat ini semakin memancarkan aura tenang.
"Nomor rumahmu ini aneh, Nath. Masa 123 sih?"
"Biar gampang di inget, sayang."
"Berapa kamar disini?"
"Ada 2. 1 adalah kamarku dan 1 lagi kamar Vanka. Kedua kamarnya ada di atas ya, sayang. Kamu tinggal di kamarku aja yang sebelah kanan." kata Nathan.
"Baiklah. Nanti aku akan masuk."
"Yakin kamu mau tinggal sendirian disini?" tanya Nathan.
"Yakin dong, Nath."
"Ga takut? Tempat ini sudah lama ga aku tempati loh."
"Sudahlah kamu jangan menakut nakutiku! Aku sudah terbiasa tinggal sendiri." jawab Belle.
"Jangan telepon aku kalau nanti kamu ketakutan."
"Kalau tempatmu ini angker, aku tinggal di hotel saja!" ucap Belle.
"No no no. Just kidding, babe."
"Modus itu namanya! Sudah pulang sana, Vanka nunggu seafoodnya kelamaan nanti!"
"Baiklah, aku pulang dulu ya."
"Iyah. Kabari aku begitu kamu sampai dirumah."
"Siap nyonya!"
"Hati hati! Kamu jangan ngebut ya, ini Jakarta! Padat!"
"Tenang aja, sayang."
Belle masuk ke lantai atas apartemen Nathan dan mencari dimana kamar yang Nathan maksud. Disana Belle langsung merebahkan tubuhnya dikasur besar Nathan.
"Argh! Lelahnya! Walaupun lelah, tapi gue senang banget hari ini bisa kembali ke Indonesia setelah sekian lama! Jetlag astaga!"
"Lebih baik mandi dulu, ah!"
Belle mulai mengucurkan air hangat dan juga sabun yang ada disana hingga memenuhi bathup. Ia pun masuk dan berendam disana untuk menenangkan dirinya. 30 menit berlalu, Belle baru sadar bahwa Nathan lupa membawa kopernya ke sini. Belle tau kalau Nathan tidak akan menolongnya dalam hal ini. Malah akan sebaliknya, dia akan memakai hal ini sebagai kesempatan untuknya. Hingga akhirnya Belle berpikir untuk menelepon Vanka. Tidak ada jawaban dari Vanka hingga akhirnya Belle menyampaikan pesan saja kepada Vanka.
Belle selesai mandi hanya memakai sehelai handuk yang ditinggalkan Nathan dilemarinya. Bahkan baik baju Nathan maupun Vanka tidak ada ditempat ini. Dan Belle tertidur tanpa selehai benangpun dan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.
#####################################
"Jovanka!" teriak mama Gwen begitu pulang ke rumah.
"Apa mah? Vanka di dapur, jangan teriak teriak." saut Vanka yang menghampiri mamanya.
"Maaf yah mama ga ikut jemput kamu di bandara. Kakak kamu mana?" tanya Gwen.
"Kakak belum pulang. Lagi antar kak Belle ke hotel." saut Vanka.
"Kenapa ke hotel? Belle biar tinggal dirumah mas Juna aja." ucap Gwen.
__ADS_1
"Nathan ga setuju, mah. Dia cemburu sama si Gerald." jawab Abimanyu.
"Ada ada aja itu anak. Gerald kan sepupunya sendiri."
"Walaupun sepupu, kalau Mas Gerald suka sama kak Belle, bagaimana?" tanya Vanka.
"Lagipula Gerald sudah punya calon ibu sambung untuk Gerren."
"Yang bener mah?" tanya Vanka dan Abimanyu.
"Kata teman arisan mama sih begitu."
"Mama percaya aja sama kata orang. Sabtu nanti Nath mau main ke rumah Gerald." kata Nathan yang berjalan masuk ke rumah.
"Mama mau ikut dong, Nath."
"Mama kan bisa setiap hari kesana. Kenapa harus ikut urusan anak muda sih?" kata Abimanyu.
"Pah, besok papa ngantor ga? Vanka ikut dong." ucap Vanka.
"Mau apa kamu ikut papa kerja?" tanya Gwen.
"Ya mau belajar bisnis, mah. Biar Vanka bisa bantuin kak Belle." jawab Vanka.
"Besok Belle juga datang ke kantor untuk bantu papa. Kamu datanglah sama Belle." saut Abimanyu.
"Terus Nathan ngapain pah?"
"Kamu reservasi ke gedung XXXX untuk acara pernikahan, dan mama akan urus busana kalian." jawab Gwenneth.
"Mah, pakai WO aja. Ribet urusinnya." keluh Nathan.
"Iyah iyah. Besok Nathan urus gedung dan yang lainnya."
###################################
Pagi hari, Nathan sudah siap untuk berangkat keluar rumah.
"Morning, Nath!" sapa mama Gwen.
"Morning, mam! Nathan jalan dulu yah." pamit Nathan.
"Mau kemana pagi pagi sudah keluar?"
"Kemarin aku diminta mama urus gedung. Ya ini aku mau urus gedung, mah."
"Tapi ga sepagi ini kamu sudah keluar, Nath!"
"Ok ok aku ngaku. Aku mau temui Belle, mam."
"Bawa Belle ke sini nanti malam. Kita akan makan bersama." kata Gwen.
"Ok mah. Nath pamit dulu yah! Bye!"
################################
Tong Ting Tong Ting
Nathan memencet bel apartemènnya. Walaupun ia tau pin pintu rumahnya ini, namun karna sekarang ditempati oleh Belle yang notabenenya adalah seorang wanita.
__ADS_1
Namun rupanya Belle tidak mendengar suara bel.
Ringtone ponsel Belle berbunyi.
Belle terbangun dari tidurnya dan melihat nama Nathan disana.
"Hallo! Kenapa?" tanya Belle.
("Aku di depan. Ayo sarapan bareng.") ajak Jonathan.
"Kamu masuk aja. Jangan ke kamar!"
("Kenapa?")
"Kamu ga sadar? KAMU GA MEMBAWA KOPERKU KE SINI NATHAN!" bentak Belle.
("Oh iyah! Aku lupa sayang! Jadi kamu tidak ada pakaian?") tanya Nathan.
Belle mengakhiri panggilannya dengan Nathan, dan beralih mengunci kamarnya hingga Vanka datang.
Disisi lain, Vanka yang baru terbangun karna sinar matahari menyorot ke arah matanya. Ia pun mengecek ponselnya.
"Baru jam 7?"
Kemudian Vanka melihat ada 8 panggilan tak terjawab dari Belle. Ia lanjut membaca pesan yang Belle tinggalkan untuknya.
"Jadi kak Belle ga punya pakaian? Astaga kakakku itu sangat pintar sekali!" kata Vanka.
Ia segera mandi dan bersiap siap dengan pakaian blouse dipadukan dengan celana levisnya.
"Good morning anak perempuan mama!" sapa Gwenneth.
"Hi mah! Aku jalan dulu ya!"
"Kamu mau kemana? Tadi juga Nathan kakakmu itu pergi tanpa sarapan."
"Aku mau ke tempat kak Belle mah! Kita sudah janji akan berangkat ke kantor bersama!" saut Vanka.
"Papamu saja baru mandi! Tumben sekali kamu pagi pagi sudah bangun."
"Jetlag mah. Kak Belle juga sepertinya Jetlag karna dia sudah lama di Paris dan belum terbiasa dengan waktu di Indonesia."
"Baiklah, temui kakakmu disana juga."
"Ok mah. Vanka jalan dulu ya!"
"Hati hati! Kamu sudah lama tidak mengendarai mobil lagi, nak!" ucap Gwenneth.
"Tenang mah."
Vanka segera mengambil koper Belle yang masih tergeletak di ruang tamu rumahnya dengan cepat, sebelum orang lain menyadarinya. Ia melangkah menuju garasi rumahnya dan meminta satpam untuk membukakan gerbang pintu rumahnya dan masuk ke dalam mobil CRV lama miliknya.
"Okay! Tenang Vanka. Lo pasti akan terbiasa nantinya." ucap Vanka, lalu melajukan mobilnya.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
__ADS_1
See you at the next chapter. 🥰