
Sudah waktunya untuk Belle naik pesawat. Di dalam pesawat, ia pun segera mengabari Nathan lagi kalau sebentar lagi pesawatnya akan take off dan selama belasan jam ke depan, ia akan menonaktifkan ponselnya.
Pesan terkirim.
Belle segera menonaktifkan ponselnya. Dan pesawat pun take off. Tak ada hal lain yang Belle lakukan selain mencari jalan keluar untuk masalah perusahaannya ini.
###################################
Nathan terbangun ketika mentari pagi menusuk ke dalam pandangannya melalui celah jendela kamarnya. Ia tidak mendapati Belle disamping atau dikamarnya. Ia pun mengecek ponselnya segera, dan ternyata ponselnya kehabisan baterai. Nathan pun dengan segera mencharger ponselnya. Dan muncullah notifikasi dari Belle yang mengatakan bahwa dirinya sudah di bandara dan pesawatnya akan take off.
Nathan segera menghubungi Belle, namun dirinya sudah sangat terlambat. Ponsel Belle telah mati. Kemudian ia pun berlari ke lantai bawah untuk bertanya juga kepada adiknya, lagi lagi Nathan tidak mendapati Vanka juga disana. Lantas ia pun menghubungi Vanka.
("Halo?") saut Vanka.
"Vanka, kamu dimana?" tanya Nathan.
("Di kantor.") jawab Vanka.
"Apakah kau tau kapan pesawat Belle berangkat?"
("Setauku subuh. Lebih pasti pukul berapanya, aku kurang tau.") kata Vanka.
"Dennis mana? Minta dia segera ke rumah!" suruh Nathan.
("Kakak tuh main seenaknya saja ya nyuruh nyuruh Dennis! Dia itu karyawan kantor kak, bukan pembantu kakak! Hubungi saja dia sendiri!") saut Vanka yang langsung memutuskan teleponnya.
__ADS_1
"Dasar adik kurang ajar! Berani sekali dia membela Dennis! Hanya dia yang tau apa yang terjadi semalam."
Nathan pun menghubungi Dennis dan memintanya untuk datang ke rumah. Dennis pun yang tidak bisa berkutik dengan perintah bos nya ini pun segera datang ke rumah Nathan.
"Katakan padaku apa yang terjadi semalam." kata Nathan.
Dennis menceritakan semuanya.
"Betapa bodohnya aku merusak diriku sendiri!" ucap Nathan merutuki dirinya sendiri.
"Pak, kemarin Bu Ysabelle muntah begitu mencium bapak bau alkohol. Dan dia sendiri juga yang membersihkan muntah bapak saat di kamar atas sana."
"Aku sudah keterlaluan."
Nathan pun menyesali perbuatannya kepada Belle.
#############################
"Jovan! Lo kemana aja?" sapa teman sekolahnya dulu yang bernama Kinan.
"Stop panggil gue Jovan Jovan! Seperti nama laki laki tau ga sih, nan!"
"Lho memang nama lo Jovanka kan?" tanya Kinan dengan tertawa.
Ketika asik mengobrol ngobrol dengan Kinan, Vanka melihat Sissy yang sedang masuk ke sebuah toko pakaian. Tapi anehnya, menurut pandangan Vanka, Sissy saat ini terlihat berbeda sehingga ia pun berniat memastikannya.
__ADS_1
"Nan, kita ke sana yuk. Gue pengen lihat lihat baju." ajak Vanka.
"Ayo. Gue juga sudah lama ga shopping nih." saut Kinan.
Vanka berjalan dengan berpura pura tidak melihat Sissy disana. Dan ternyata benar, Sissy yang pergi bersama seorang pria, sangat terlihat bahwa Sissy sedang hamil dengan perutnya yang mulai membesar. Ketika sudah berada sangat dekat dengan Sissy, Vanka berniat untuk hanya sekedar menyapanya.
"Eh, kak Sissy?" tanya Vanka.
"Hey! Kamu apa kabar, dek?"
"Kabarku baik, kak. Kakak bagaimana?"
"Aku juga baik. Kakak dan kakak iparmu bagaimana?"
"Mereka juga baik baik saja. Wah sepertinya kakak akan segera punya baby. Kapan kakak menikahnya?" tanya Vanka.
Sissy pun langsung menarik Vanka untuk menjauh dari Wira dan juga Kinan teman Vanka.
"Anak kecil ga usah ikut campur urusan orang dewasa!" bentak Sissy.
"Aku hanya bertanya kapan kakak menikahnya! Dan lagi, apakah anak kakak itu adalah anak om yang bersamamu itu?" tanya Vanka yang sudah mengetahui rahasia kebusukan Sissy.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
__ADS_1
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰