
"Ada." ucap Ester pada Nathan tanpa mengeluarkan suara.
"Kamu tentukan nomor kamarnya, dan segera beritahu saya nomor berapa. Dan ingat, jangan sampai ada yang tau!" kata Ester lagi pada Vina.
("Baik bu.")
Berita baik didengar oleh Nathan dan Belle. Ia menemukan titik terang untuk mempermudah rencananya ini.
"Gue udah minta Vina untuk ikut dalam hal ini. Apa yang akan lo lakukan selanjutnya, Than?" tanya Ester.
"Gue akan memergokinya dengan bu Lidya, istrinya pak Tono."
"Menurut gue, hal ini itu urusan pribadinya Sissy, Than. Ini ga ada sangkutannya dengan pekerjaan dia sih."
"Ga ada sangkutannya gimana, Est? Sissy tidur dengan pak Tono hanya agar proyek yang gw tugaskan ke dia itu berhasil aja. Dan gue maunya dia ga berhasil dalam hal ini."
"Gue paham maksud lo, Than. Tapi apa ga keterlaluan kalau lo menjebaknya seperti itu? Gue setuju dia pergi dari kehidupan keluarga lo, tapi ga seperti ini caranya." ucap Ester menasehati Nathan.
"Lo lihat saja, Est. Apa yang akan si ular itu lakukan." saut Nathan.
#####################################
__ADS_1
Hari jumat pun tiba. Nathan berharap ini adalah hari terakhir dia bertemu dengan wanita ular seperti Sissy. Mereka semua bertemu dikantor. Vanka seharian ini pergi berkeliling Jakarta bersama Dennis. Ia diminta demikian oleh Nathan karena ia tidak mau adiknya tau mengenai hal ini pada sekarang. Dengan alasa pada hari minggu nanti Nathan akan pergi ke Paris lagi untuk balapan, Nathan meminta Dennis untuk mengajak Vanka berbelanja sebagai oleh oleh untuk teman teman Nathan di Paris sana.
"Non Vanka kenapa beli barang untuk pria semua?" tanya Dennis.
"Hey! Suka suka saya mau belanja apapun! Mau barang pria, barang wanita, barang anak anak, atau apapun!" jawab Vanka dengan judes dan ketus.
"Maaf non."
"Kamu tau kan kakakku itu siapa?"
"Bos."
"Maaf non saya tidak berpikir sampai sana." ucap Dennis.
"Tak masalah. Panggil saya Vanka saja mulai sekarang! Kamu bukan pembantu saya dengan berpakaian rapi seperti itu."
Vanka asik bersama ponselnya selama berbelanja, karna ia sedang chatting dengan Antonio. Sementara Dennis, dia yang membawakan semua belanjaan Vanka.
Di kantor, Nathan bertanya pada Sissy mengenai pak Tono. Sissy menjawab kalau pak Tono belum memberikan kepastian atas tawarannya. Tak ingin berlama lama, Nathan pun pergi dari ruangan itu ke tempat Gerald.
"Bro, jangan lupa siapkan surat pemecatan dia secara resmi." ucap Nathan.
__ADS_1
"Sudah gue print. Tinggal lo tanda tangan aja." saut Gerald.
"Sekalian lampirkan ini." kata Nathan memberikan selembar cek yang sudah ia tulis sebelumnya.
Di dalam cek tersebut tertulis nominal 30 juta yang merupakan 3 bulan gaji Sissy.
"Lo yakin mau kasih dia pesangon sebanyak ini?" tanya Gerald.
"3 bulan gajinya kan? Ya itu." jawab Nathan.
"............"
Gerald tidak bisa membantah ucapan Nathan yang selaku bosnya juga. Ia hanya sebagai manager dalam kantor ini. Walaupun Nathan adalah saudaranya Gerald, tapi dia tidak gila kekuasaan seperti kebanyakan orang lainnya. Kekuasaan tertinggi disini dipegang oleh Nathan.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1