Love Racer

Love Racer
#90


__ADS_3

"Aku paham perasaanmu, Vanka. Tapi aku juga pernah berada diposisimu. Kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi dan cintai." jelas Belle.


"Aku ga kuat!" ucap Vanka.


Nathan memeluk adiknya itu dan berusaha untuk menenangkannya walau dalam diri Nathan juga sebenarnya merasakan kehilangan yang mendalam. Antonio adalah salah satu sahabatnya yang walaupun bertanding, tapi mereka bersaing secara sehat.


"Aku juga merasa kehilangan, sama sepertimu, dek." ucap Nathan.


"Bang, aku baru jadian belum lama sama Antonio. Secepat itu jyga dia pergi meninggalkan aku!" curhat Vanka.


"Dia ingin melamarmu setelah pertandingan hari ini. Tapi, Tuhan berkehendak lain, dek." kata Nathan lagi.


Ucapan Nathan semakin membuat Vanka menangis sejadi jadinya. Ia pergi meninggalkan Belle dan Nathan untuk melihat jasad Antonio.


"Kamu seharusnya jangan bilang dulu, Nath! Kasihan dia semakin terpukul!" ucap Belle.


"Biarlah dia sedihnya saat ini, beb. Daripada nanti jika dia sudah bisa melupakan Antonio tapi baru tau hal ini, semakin membuatnya merasa lebih terpukul." kata Nathan.


"Aku ga tega melihat Vanka yang seperti itu."


"Aku yang lama hidup bersamanya pun baru melihat hal ini, say. Dia belum pernah seperti ini sebelumnya."


Di hadapan jasad Antonio, Vanka menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


"Aku mau menikah denganmu! Aku mencintaimu, Toni." ucap Vanka membuat orang orang yang berada disana menatap pada Vanka.


"Aku cinta padamu! Aku mau menikah denganmu! Kita hidup bahagia bersama seperti kak Nathan dan kak Belle!" ucap Vanka lagi.


"Vanka...." panggil Dennis.


Tak menggubris panggilan Dennis, Vanka hanya bisa menangis sejadi jadinya.


"Sayang, kamu tolong bawa Vanka ke hotel. Aku akan mengurus semuanya disini bersama Dennis dan Albert." kata Nathan.


"Baiklah." saut Belle.


"Aku masih mau disini....." ujar Vanka.


"Ayo Vanka... Ada aku, kakak iparmu, Belle, disisimu." ucap Belle.


Akhirnya Vanka menurut untuk ikut bersama Belle ke hotel dan beristirahat disana.


"Dek, tadi aku memesan makanan untukmu." kata Belle.


"Aku ga lapar, kak." saut Vanka.


"Ayolah kita makan dulu... Perut dan tubuhmu perlu asupan, Jovanka."

__ADS_1


"Tapi aku benar benar tidak lapar kak. Bahkan aku tidak berselera untuk makan." jawab Vanka.


"Setidaknya, makanlah sedikit..."


Setelah dibujuk, Vanka pun makan makanannya walaupun hanya sedikit sekali.


"Dek, kamu mau dengar kisah hidupku dulu?" tanya Belle.


"Hmm...."


"Dulu aku juga sama sepertimu ketika kehilangan kedua orang tuaku. Aku berpikir bagaimana jadinya hidupku jika tanpa mereka berdua. Ditambah usiaku yang masih sangat muda ketika kehilangan mereka. Aku sama seperti Antonio yang tidak memiliki ayah dan ibu untuk mengajarkan yang mana yang baik. Dan ditambah, aku harus merasakan hidup dengan tidak punya uang. Tapi kamu lihatlah, aku dan Antonio bisa sukses, dan sekarang kamu pun bisa untuk bangkit kembali, kamu bisa seperti Antonio dan aku. Walaupun Antonio sudah tidak bersama kita lagi, tapi dia selalu ada di dalam hati kita." jelas Belle.


"Aku tidak sekuat kalian, kak. Aku lemah!" saut Vanka memojokkan dirinya.


"Kamu orang yang kuat! Itulah yang harus kamu tanamkan di dalam dirimu! Sugesti yang baik akan membuat pikiranmu pun jadi berpikir positif, dek. Aku yakin kamu bisa, walaupun bukan sekarang, tapi pasti ada waktunya." kata Belle.


TO BE CONTINUE


Gimana ceritanya sejauh ini?


Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading


See you at the next chapter. 🥰

__ADS_1


__ADS_2