Love Racer

Love Racer
#47


__ADS_3

Di apartemen.


"Thanks sudah antar gue pulang." ucap Vanka.


"Saya hanya melakukan perintah bu Ysabelle saja."


"Whatever! I don't care. You should go home!"


(Terserah! Aku tidak peduli. Kamu bisa pulang!)


"Baik. Selamat malam." ujar Dennis.


Dennis pun pergi dari apartemen itu ketika Vanka berjalan naik ke dalam gedung apartemen. Dennis menyetop taksi.


"Gila itu cewe! Rrrggghh andaikan dia bukan anak bos gue, udah gue balas tu cewe!"


"Huhh sabar, Dennis. Lo ga pernah kasar sama perempuan!"


"Itu bukan perempuan! Ladyboy!"


Dennis yang geram pada Vanka berbicara sendiri setelah menaiki taksi.


"Maaf pak, tujuan kita ke mana?" tanya sang sopir dengan wajah yang sedikit ketakutan.


"Jalan Sudirman, pak." jawab Dennis.


"Baik."


##################################


Keesokan harinya, Nathan benar menjemput Belle untuk ke rumah Gerald. Sedangkan Vanka, ia sudah berangkat setelah sebelumnya janjian dengan Sissy untuk hangout bersama.


"Kita naik motor?" tanya Belle yang dijawab anggukkan oleh Nathan.


"Ini Jakarta, sayang. Pasti banyak yang pakai motor."


"Jangan ngebut bawanya, Nath. Aku takut."


"Tenang. Selama kamu sama aku, aman sayang."


*


Dirumah Gerald.


"Ger! Gerald!" panggil Nathan di depan rumah Gerald.


"Ya sebentar!" jawab seseorang dari dalam rumah.


Gerald membukakan pintu gerbang untuk Nathan dan Belle masuk.


"Siang, pak Gerald." sapa Belle yang berjalan memasuki area rumah Gerald dengan sopan.


"Masuklah." suruh Gerald.


"Ger, mana paman sama bibi?" tanya Nathan.


"Lagi pergi dinas." jawab Gerald.


"Gerren mana?"

__ADS_1


"Ada. Gerren, om Nathan datang!" panggil Gerald.


"Om Nathan!!" sapa Gerren yang keluar dari dalam rumahnya.


"Hey Gerren! Lihat, om Nathan bawa apa untuk Gerren?" tanya Nathan sambil memberikan paperbag pada Gerren.


"Wah cokelat! Makasih om Nathan! Ini siapa?" tanya Gerren menunjuk Belle.


"Ini calon istrinya om Nathan. Namanya tante Belle." ucap Nathan memperkenalkan Belle pada Gerren.


"Calon istri itu apa ya, pah?" tanya Gerren pada Gerald.


"Hm... Seperti mama Gerren." jawab Gerald.


"Oh..."


"Gerren main sama mbak dulu yah di kamar." suruh Gerald.


"Ok pah." saut Gerren.


"Ada apa, Jo? Tumben lo main ke rumah gue."


"Mau kasih undangan. Datang ya, minggu depan." ucap Nathan.


Gerald segera membuka undangan tersebut.


"Ini undangan untuk paman dan bibi juga. Gue sih sangat berharap kalian bisa datang."


"Gue usahakan untuk bisa datang." jawab Gerald.


"Dan gue dengar dari mama, lo udah punya gandengan, Ger?" tanya Nathan.


"Sayang, aku sama Gerald itu seperti sahabat. Jadi kita santai aja." jelas Nathan.


"Itu betul, Belle. Dan untuk gandengan, nyokap lo tau dari mana?"


"Nyokap lo bilang ke teman temannya yang lagi kumpul, dan disitu ada nyokap gue."


"Astaga! Mami ada ada aja!" keluh Gerald.


"Jadi benar ga?"


"Gue belum ketemu pengganti mamanya Gerren, Jo. Doakan saja yang terbaik untuk gue ya."


"Pasti, Ger. Kenapa lo ga mau sama Sissy aja? Dia jomblo kan? Gue minta bantuan si Vanka deh, dia sahabatnya Sissy." tawar Nathan.


"What? Sissy? Ogah gue! Jangan! Perempuan nakal gitu." ucap Gerald.


"Iyah, sayang. Aku juga ga setuju kalau pak Gerald sama Sissy. Dia selalu berpakaian terbuka." tambah Belle.


"Bukannya lo suka sama perempuan yang berpakaian terbuka gitu, Ger?" sindir Nathan.


"S*alan lo, Ger! Normal sih normal, tapi gue ga mau menjadikan wanita seperti itu untuk jadi istri gue sekaligus ibu untuk Gerren." jelas Gerald.


"Lo benar, Ger. Gue juga ogah sih. Beruntung gue dapat pasangan yang seperti wanita disamping gue!"


"Lebay, kamu! Sudahlah." jawab Belle.


"Lo punya kembaran ga, Belle?" tanya Gerald.

__ADS_1


"Ga punya, pak. Kenapa?"


"Panggil Gerald saja. Gue pikir sih kalau lo punya kembaran, mau gue jadikan ibu sambung untuk Gerren."


"Tinggal bilang aja lo suka perempuan seperti CALON ISTRI GUE ini! Bikin gue geram aja, Ger." kata Nathan.


"Bercanda, bro. Pokoknya selamat lah untuk kalian. Gue doakan semoga lancar sampai hari H." ucap Gerald.


"Thanks, Ger. Kalau gitu gue jalan dulu ya." jawab Nathan.


"Jalan? Mau kemana lagi, bro?"


"Touring, Ger. Gue mau ajak Belle keliling Jakarta."


"Hati hati kalian. Weekend biasanya sih jalanan padat loh." ujar Gerald.


"Ini makanya gue bawa motor."


"Ga ada kapoknya lo, Jo. Masih bawa motor."


"Gue gabung ke MotoGP lagi, bro." jawab Nathan.


"What? Lo tau, Belle?"


"Tau." saut Belle.


"Lo setuju dia balapan lagi? Nanti kalau suami lo terluka, dan meninggal, gimana?" tanya Gerald.


"Wah, Ger. Lo mendoakan yang ga baik buat gue!"


"Bukan gitu, Jo. Gue ga mau lo kecelakaan seperti dulu!"


"Gue setuju aja sih, Ger. Bahkan mendukung Nathan apapun yang mau dia lakukan. Karna gue mau lihat dia bahagia." jawab Belle.


"Huh, semoga aja lo sukses deh bro di dunia balap lo. Jangan terluka, inget!" tekan Gerald.


"Iya, sayang!" jawab Nathan.


"Dih geli gue! Itu, sayang lo itu si Belle!"


"Gue tau lo itu sayang sama gue, makanya lo larang gue balapan."


"Lo itu sudah seperti adik gue sendiri." kata Gerald.


"Iyah kakak! Gue jalan dulu, ah."


"Gerren! Om Nathan mau pulang!" panggil Gerald.


Setelah berpamitan dengan Gerren, Nathan dan Belle pergi untuk melanjutkan perjalanannya berkeliling kota Jakarta.


TO BE CONTINUE


Gimana ceritanya sejauh ini?


Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading


See you at the next chapter. 🥰


Ini Visual Sissy Permata Djaja yahhhh

__ADS_1



__ADS_2