
Tibalah mereka semua di depan kamar 213. Ternyata pintu kamar tersebut tidak tertutup rapat hingga suara suara aneh terdengar sampai ke luar. Sepertinya, saat Sissy datang tadi, ia tidak begitu teliti menutup pintu hingga rapat. Lidya yang mendengar suara tersebut semakin penasaran dibuatnya, dan ia pun curiga bahwa ucapan Nathan dan Gerald benar adanya.
"Wartawan cukup sampai sini saja meliputnya. Biar selanjutnya adalah urusan pribadi kami." ucap Lidya yang khawatir kalau suaminya benar tidur dengan Sissy.
"Baiklah, kita akan memergoki keduanya. Pelan pelan ya bu." ucap Gerald.
3
2
1
Gerald secara perlahan membuka pintu kamar tersebut dan terlihatlah Sissy yang sedang berada di atas pak Tono sedang melakukan penyatuan badan. Lidya yang melihatnya langsung juga menjadi syok. Gerald, Belle, dan Nathan juga sama terkejutnya. Ditambah keduanya yang tidak sadar bahwa pintu sudah terbuka lebar, terus saja melakukan kegiatan keduanya.
Dan akhirnya keduanya sadar saat flash light kamera memotret keduanya. Tono yang jelas jelas sedang menikmati hal tersebut pun terkejut melihat semuanya. Sementara Lidya juga kaget melihat wartawan yang dibawanya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Mama?" ucap Tono mendorong Sissy yang berada di atasnya ke ranjang.
Dengan segera Tono memakai handuknya kembali dan Sissy pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sayang, hal tersebut sia sia. Semua wartawan dan juga Nathan, Gerald, Belle, dan bu Lidya sudah melihat tubuh mereka berdua tanpa sehelai benang apapun.
"Ma, aku bisa jelasin semuanya!"
"Sissy, mulai saat ini, kamu saya pecat! Ga nyangka lo pakai cara ini untuk berhasil dalam proyek!" bentak Nathan.
__ADS_1
"Dan saya pastikan kamu tidak akan diterima diperusahaan manapun di asia ini!" tambah Lidya.
"Maafkan saya pak Jonathan, bu.... Saya terpaksa melakukan ini."
"Terpaksa kamu bilang? Bahkan kalian tadi sangat bahagia sekali! Dan kamu mas Tono, aku akan segera mengurus perceraian kita!"
Sissy terlihat sangat sinis pada Gerald, Nathan, dan juga Belle.
"Bu Lidya, urusan kami disini sudah selesai. Silahkan ibu urus suami ibu. Kami permisi." ucap Nathan berpamitan dengan bu Lidya.
"Pak Jonathan, Bu Ysabelle, Pak Gerald!" panggil Sissy.
Ketiganya tidak mendengarkan panggilan Sissy dan turun ke lobby.
"Sissy sekarang sudah bukan karyawan perusahaan kita lagi. Kita berhasil memecat dia." kata Nathan.
"Akhirnya, bro. Si ****** itu pergi juga dari perusahaan kita."
"Dia pasti tidak bisa berbuat apa apa lagi pada Vanka." ucap Belle.
"Baiklah, ini sudah malam. Lebih baik kita segera pulang dan istirahat." kata Gerald.
"Betul! Den, kamu langsung pulang saja! Maaf ya membuatmu bekerja lembur sampai malam seperti ini." ucap Nathan.
__ADS_1
"Ga masalah pak." saut Dennis.
"Thanks banget bro sudah bantu gue sejauh ini." ucap Nathan pada Gerald.
"Samasama, bro. Gue juga senang kalau si ular itu pergi dari perusahaan kita." jawab Gerald.
Mereka akhirnya berpisah satu sama lain. Nathan, Belle, dan Vanka pulang bersama sedangkan Gerald dan Dennis pulang sendiri sendiri.
*
"Beb, aku kasihan deh sama Sissy." ucap Belle.
"Orang seperti dia ngapain dikasihani?" tanya Nathan.
"Walau seperti itu dia sudah berjasa bagi perusahaan kita." tambah Belle.
"Ya, dia nantinya akan membuat reputasi keluarga dan perusahaan kita hancur!"
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
__ADS_1
See you at the next chapter. 🥰