
Belle dan Nathan kembali ke Indonesia seusai Nathan menyelesaikan 2 pertandingannya dalam waktu 2 bulan. Belle sudah sangat rindu dengan pekerjaannya, kantornya, dan juga kegiatan hariannya.
"Lain kali kamu ga perlu ikut ke tempat aku lomba, sayang. Lelah kan?" tanya Nathan.
"Nath, aku ga pernah lelah mengikut kamu sampai kapanpun." jawab Belle.
"Kamu pasti sangat mencintai aku yah?"
"Hei, kalau aku ga mencintai kamu, kenapa aku terima pinangan kamu?" tanya Belle.
"Seberapa besar rasa cinta kamu ke aku, lebih besar rasa cintaku pada kamu, my wife." ucap Nathan.
"Stop gombalnya, Nath." kata Belle.
Belle dan Nathan yang sedang duduk di ruang tamu, melihat Vanka yang pulang dari kantornya.
"Kakak? Sudah pulang?" tanya Vanka yang terkejut akan kedatangan kedua kakaknya ini.
"Tentu saja kami sudah pulang, memangnya berapa lama kamu bisa jauh dari kakakmu ini?" balas Nathan.
"Tengil kamu, Nath. Jahil saja!" omel Belle.
"Iyah marahi saja kak! Kak Nathan kali yang kangen padaku!" saut Vanka.
"Kamu rindu padaku kan?" tanya Nathan lagi.
"Aku rindu pada kalian dan juga Antonio! Puas?"
__ADS_1
"Mentang mentang kamu sudah jadian sama si Anton, kamu juga rindu padanya!"
"Sudah sana kamu istirahat dulu, dek. Pasti lelah." ucap Belle yang melerai Nathan dan Vanka ini.
"Kalian juga. Kalian pasti lelah sekali karna lama di pesawat semalam."
Vanka pamit masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo kita istirahat juga." ajak Nathan.
"Kamu duluan saja ya beb. Aku mau minum dulu." ucap Belle.
"Baiklah. Aku duluan." jawab Nathan.
Bukannya pergi ke dapur, Belle malah pergi ke kamar Vanka dan mengetuknya setelah memastikan bahwa Nathan masuk ke dalam kamar. Kamar Vanka memang berada di samping kamar Nathan, namun Belle secara perlahan mengetuk pintu kamar Vanka dan masuk.
"Ssttt." ucap Belle menaruh jarinya di bibir yang menunjukkan bahwa jangan berisik.
Belle berjalan mendekat ke arah Vanka.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Belle.
"Tentu saja, kak." jawab Vanka.
"Dek, mungkin Dennis sudah menceritakan ke padamu mengenai kejadian dimana kamu ada di apartment milik kakakmu."
"Aku tau Dennis menghubungi kakak, kan?"
__ADS_1
"Dennis menghubungiku, dan saat itu ditempatku masih sangat pagi hingga membuat kakakmu marah dengan adanya suara ponsel dipagi hari."
"Apa kak Nathan tau?" tanya Vanka yang cemas.
"Apa kamu pikir kakakmu akan tenang dan diam saja setelah dia tau hal ini?"
"Aku ga yakin kak Nathan akan diam saja. Dia pasti akan marah padaku." jawab Vanka.
"Binggo! Aku ga bilang pada kakakmu kalau kamu mabuk hari itu. Sekarang ceritakan padaku sebelum aku mengetahui semuanya dari Dennis, dek." suruh Belle.
"Aku juga tidak tau kak kenapa aku bisa tidur di apartment pada hari itu bersama Dennis."
"Bukan itu yang aku maksud, Vanka. Bagaimana kamu bisa mabuk? Kenapa kamu datang ke night club?"
"Aku di ajak oleh Sissy kak."
"What? Sissy lagi Sissy lagi! Apa untungnya kamu berhubungan dengan orang seperti Sissy, dek?"
"Dengan alasan dia penat akan pekerjaan, dia membawaku ke bar yang katanya sering ia datangi. Disana juga banyak teman kak Sissy. Bahkan bartender disana adalah teman kak Sissy." jelas Vanka.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1