
Antonio menghubungi Vanka untuk bertemu dengannya. Vanka menyetujuinya saja karna ia juga berpikir malas untuk tinggal dirumah yang sepi tidak ada kakak dan kakak iparnya. Vanka pun segera bersiap siap dan melajukan mobilnya ke tempat yang telah ia tetapkan pada Antonio.
Bukan hal yang perlu untuk dibicarakan sampai bertemu, Antonio meminta bertemu dengan Vanka karna Antonio akan segera pulang ke negara asalnya. Vanka berterimakasih karna Antonio telah menyempatkan waktu untuk datang ke pernikahan kakaknya yang bahkan berbeda negara.
"Thank you so much, Toni." ucap Vanka.
(Terimakasih banyak, Toni.)
"My pleasure, Van."
(Sama sama, Van.)
"Before I go, I have to say something, Van."
(Sebelum aku pergi, aku ingin menyampaikan sesuatu, Van.)
"Hm?"
"I liked you since the first time we meet."
(Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.)
"Seriously?" tanya Vanka
(Serius?)
"From the deep of my heart, I want say I love you, Vanka. Do you wanna be my wife?" ucap Antonio yang serasa melamar Vanka.
(Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin mengakatakan aku cinta kamu, Vanka. Maukah kamu menjadi istriku?)
__ADS_1
"Sorry, Toni, I think this is so fast. Can we just a friend, at first?"
(Maaf, Toni, aku pikir ini sangat cepat. Bisakah pertama kita hanya berteman dulu?)
"Sure! sure!" jawab Antonio menyetujui permintaan Vanka.
Tanpa keduanya sadari, bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka sedari tadi. Tak lain dan tak bukan adalah Sissy.
"Gue benar benar ga nyangka kalau pria itu mau sama anak bawang yang bahkan lulus kuliah aja belom!" oceh Sissy yang begitu melihat Antonio bertemu dengan Vanka.
#################################
Ketika Antonio dan Vanka bertemu, disaat yang sama pula Nathan dan Belle berangkat ke Bali untuk honeymoon. Mereka diantar oleh Dennis ke bandara.
"Dennis itu asisten kantor atau sopir kamu sih, Nath?" tanya Belle yang jengkel melihat Nathan selalu merepotkan Dennis.
"Ga lucu deh! Kita bisa naik taksi tadi." kata Belle lagi.
"Ok, Dennis. Gaji kamu saya naikkan 35%!" ucap Nathan.
"Terimakasih, pak. Tapi saya rasa itu ga perlu, karna ini memang kewajiban saya." jawab Dennis.
"Tu, sayang. Kamu dengar sendiri kan Dennis bilang apa? Ini itu memang kewajiban dia." tunjuk Nathan pada Belle.
"Kalau perjalanan dinas kantor, itu wajar Dennis menjadi sopirnya. Ini kan perjalanan pribadi kita, Nathan sayang! Sudahlah, Dennis! Kamu terima saja bapak Jonathan mu ini nenaikkan gajimu!" ucap Belle.
"Baiklah bu. Terimakasih."
"No! Kami yang berterimakasih padamu, Den! Titip kantor, dan papa yah?"
__ADS_1
"Titip Vanka juga, Den." tambah Nathan.
"Baik pak, bu. Akan saya laksanakan."
"Ok, kamu boleh kembali. Terimakasih ya, Den." ucap Nathan.
"Saya permisi." pamit Dennis.
"Rrrrgghhh!" ucap Belle sambil menunjukkan kukunya yang panjang itu seolah olah ingin mencakar Nathan dengan tatapan geregetan pada tingkah Nathan.
"Kenapa?" tanya Nathan dengan tampang polosnya.
"Ga papa!"
"Ya sudah, ayo kita check in. Kopermu sini, biar aku yang bawa."
"Ga papa, aku bisa sendiri, Nath."
"Itu berat loh, sayang!"
"Kopernya jalan pakai roda, sayangku! Bukan aku angkat!" seru Belle.
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1