
"Aku ga suka kamu pergi ke tempat seperti itu, dek." ucap Belle.
"Maaf kak. Aku di ajak oleh kak Sissy dan penasaran dengan tempat itu."
"Aku bisa membawa kamu kesana. Bahkan kita bisa pergi bersama sama. Kamu tinggal bilang saja padaku tempat mana yang kamu mau datangi, aku dan kakakmu akan menemanimu." omel Belle.
"Aku takut kalian marah."
"Kami marah karna kami sayang padamu. Untung kamu bisa selamat kali ini. Lain kali, aku ga tau harus bagaimana lagi."
"Ya, karna Dennis kan aku bisa selamat?" tanya Vanka.
"Karna kakaknya Dennis yang meneleponnya hingga kamu bisa aman di tempat itu."
"What? Kakaknya Dennis?" Vanka yang tak tau jelas kejadiannya.
Belle menceritakan kepada Vanka mengenai hal yang ia dengar dari Dennis bahwa Kakaknya yang mengingat Vanka adalah atasan adiknya, ia menolong Vanka yang sedang tidak sadar dari pria pria bejat yang ada disana.
Belle merasa bersyukur bahwa Dennis sangat peduli pada adik iparnya ini walaupun terkadang Vanka membuat Dennis jengkel dengan tingkah tengilnya itu.
"Aku sangat berterimakasih pada Daniel. Dia mengingatmu ketika Dennis menceritakan tentang kamu." jelas Belle.
"Aku akan berterimakasih padanya kak."
"Cukup jangan membencinya saja, dek."
"Aku tidak pernah membenci Dennis, kak."
"Aku tau, tapi kamu jahil padanya!"
"Dia sangat tengil, dan aku ga suka itu!"
Belle tertawa mendengar jawaban dari Vanka.
"Hati hati, nanti benci jadi suka lho....."
__ADS_1
"Dih amit amit." jawab Vanka.
"Jangan seperti itu, dek. Nanti kamu jadi beneran suka sama si Dennis."
"Never! NEVER!"
(Tidak akan pernah! TIDAK AKAN PERNAH!)
##########################################
Pagi hari, Belle bersama Nathan dan juga Vanka datang bersamaan ke kantor. Mama Gwen dan papa Abi sedang berada dirumah neneknya Nathan dan Vanka yang berada di Semarang.
Karna tidak sempat untuk memasak, mereka membeli makanan cepat saji melalui drive thru. Memakannya di jalan membuat mereka lebih efisien waktu. Belle mengajarkan kepada semuanya walaupun mereka pemimpin, tapi harus memberikan contoh yang baik kepada para bawahan mereka.
"Selamat pagi." sapa Dennis yang sudah berada dikantor.
"Pagi, Den. Sudah sarapan?" tanya Nathan.
"Belum pak." jawab Dennis.
"Ssttt jangan seperti itu, dek." omel Belle pada Vanka.
"Apa Gerald sudah datang?" tanya Nathan.
"Belum pak."
"Sissy?"
"Belum pak."
"Kenapa sih jawaban lo itu selalu belum pak belum pak. Ga ada yang lain?" cetus Vanka.
"Saya harus jawab apa non?" tanya Dennis.
"Sudahlah, ayo keruangan. Dan Dennis, kita bicara sebentar." ucap Belle.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" tanya Nathan.
"Urusan pekerjaan, beb." jawab Belle.
"Jangan lama lama. Aku menunggumu di atas."
"Kalian berdua ini, bucin terus!" ujar Vanka yang langsung berjalan mendahului mereka semua.
*
Belle membawa Dennis ke ruang meeting yang kosong. Dan disekitarnya juga tidak ada orang karna para karyawan belum datang.
"Ada perlu apa bu?" tanya Dennis membuka obrolan mereka.
"Den, maaf saya terlambat sekali untuk membicarakan ini denganmu. Saya berterimakasih kamu telah berbaik hati menolong adik saya saat itu. Terlebih lagi pada kakakmu." ucap Belle.
"Sama sama bu. Sudah tugas saya untuk menjaga non Vanka karna ibu memberikan kepercayaan pada saya." saut Dennis.
"Ceritakan pada saya semuanya yang terjadi pada hari itu di club kakakmu, Den." minta Belle.
"Bang Daniel mengingat bahwa saya pernah menceritakan non Vanka dan menunjukkan fotonya pada beliau. Maaf bu saya lancang, karna saat itu non Vanka sangat membuat saya kesal. Dan ternyata pada saat itu, bu Sissy yang merupakan teman bang Daniel, meninggalkan temannya di sebuah club dan memberikan kebebasan pada para pria anggota geng bu Sissy untuk mengurus Vanka." jelas Dennis.
"Kurang ajar Sissy!" maki Belle.
"Maaf atas semuanya bu."
"Justru saya yang harus meminta maaf padamu, Den. Adik saya itu memang jahil. Maaf ya kalau dia sering memakimu."
TO BE CONTINUE
Gimana ceritanya sejauh ini?
Author mohon jangan pelit like yach. Hope you guys like this. Thank you for reading
See you at the next chapter. 🥰
__ADS_1