
Matahari mulai menyingsing di ufuk barat, sebentar lagi sore akan lenyap berganti malam.
Alya dan Satria sore ini sedang jalan-jalan di pinggir pantai. Bukan hal aneh lagi kaum penghuni Cottage apabila mereka hingga malam hari masih di sekitar pantai. Bermain pasir putih dan membangun pasir membentuk mainan yang disukai Justru akan menjadi hal yang menyenangkan.
Satria dan Alya kini duduk di tepi pantai, kebetulan para penjual disana membawa kursi-kursi panjang, yang ditinggalkan ketika mereka pulang.
"Alya, nggak terasa kita sudah satu minggu menikah." Kata Satria sambil menatap wanita di sebelahnya.
"Iya." Jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Satria. Alya fokus pada ombak pantai yang semakin lama semakin mendekat.
"Semakin lama kita makin seperti orang asing Al, dulu saat kau masih pacaran sama Mas Adit aja nggak sedingin ini. Kamu bahkan nggak sungkan minta tolong aku, ini dan itu. Kamu makin berubah Al."
"Masa sih aku berubah? Aku masih sama kok dengan Alya, mungkin cuma perasaanmu saja." Alya lalu menoleh ke arah Satria dan memaksa tersenyum.
"Mungkin kamu memang masih sangat cinta dengan mas Adit, tapi aku berharap kamu tidak ada fikiran untuk kembali dengannya, Alya menikah bukan untuk main main, aku sekarang sudah menjadi suamimu maka aku juga berhak untuk tidak melepasmu pada pria manapun. Aku akan berjuang untukmu Al, meski kau yang minta untuk pergi, aku tak akan memaafkan kamu."
Senyum di bibir Alya sirna, kini netranya berkaca kaca. Kalimat yang manis sekali, baru saja lolos dari bibir adik dari mantannya baru saja.
Jujur, ada satu yang tidak disukai Alya, wajah tampan Satria selalu mengingatkan pada laki-laki yang menorehkan luka dihatinya. Mereka terlalu mirip, semakin Alya berusaha membuka diri, semakin takut untuk terluka kedua kalinya.
"Alya tunggu disini, terlalu sering didekat wanita cantik, aku jadi mudah kepanasan," canda Satria.
Tanpa menunggu persetujuan dari Alya satria membeli dua es kelapa yang langsung bisa dinikmati dari dalam buahnya.
"Berapa Bang?"
"Tiga puluh Mas, sama pacarnya ya mas!"
"Nggak Bang, Sama istri. Kenapa Bang?"
"Cantik sekali istrinya," puji Abang penjual es degan.
"Emang aku kurang ganteng ya Bang kalau jalan sama dia?"
"Nggak juga, kalian berdua sangat serasi kok. Cuma tadi aku pikir kalian masih tahap pacaran."
Nggak bang, dia istriku," kata Satria mulai tak suka dengan Abang yang sejak tadi berusaha melirik Alya.
Setelah selesai drama beli es kelapa muda dan ghibah soal Luna, Satria segera kembali ke tempat duduknya semula dengan wajah berbinar.
"Maaf Alya, lama ya nunggunya."
"Em, enggak Kok,"jawab Alya singkat
__ADS_1
"Diminum,"
"Makasi." Alya mengangguk.
Satria tersenyum, setiap di dekat Alya, Satria seperti kehilangan jiwa playboy yang pernah disandangnya dulu. Satria juga bingung kok bisa dia jatuh cinta pada istri Kakaknya sendiri.
Lalu dia memakan kentang goreng dan sesekali menyeruput es kelapa muda. Satria terlihat tenang, uangnya masih ada seratus ribu, masih cukup untuk sarapan berdua besok.
Sambil menikmati segarnya daging kelapa muda, Alya ingin menyampaikan sesuatu yang menurutnya penting.
"Sat, sepertinya aku ingin cari kerja, tapi kalau dibolehin sih!"
"Kerja?" Satria nyaris tersedak dengan minumannya karena saking kagetnya.
"Satria, kok sampai tersedak sih, hati-hati minumnya." Alya mengelus punggung suaminya.
"Aku terkejut aja dengan apa yang kamu katakan, pasti aku salah dengar kan tadi."
"Oh iya Al, kita masuk yuk, sudah menjelang magrib." Lelaki itu berdiri dan mengulurkan tangannya, Alya menerima uluran tangan Satria dan ikut berdiri.
Satria dan Alya berjalan beriringan setelah Alya melepas tautan tangan mereka.
Sampai di cottage Alya segera mandi sedangkan Satria sibuk dengan ponselnya sambil melihat acara TV.
Lima menit kemudian si penelepon merasa diabaikan ganti dengan notif pesan hingga puluhan kali.
[Satria, kemana kamu bawa Alya? Kenapa kalian tidak pulang]
[Satria, kalau sampai kamu tidak pulang malam ini bersama Alya, aku akan melupakan kalau kita saudara kandung]
[Alya, milikku Sat, jangan mimpi kamu memilikinya. Aku akan ambil Alya darimu setelah Kinan melahirkan, ingat itu]
Satria hanya bisa tersenyum melihat kakaknya yang tak mau berhenti memikirkan istrinya itu
"Satria, senyum-senyum sendiri lagi bahagia ya?"
'Lucu aja, mas Aditya kekeuh meminta aku supaya tak menyentuhmu."
"Boleh aku lihat pesannya," ya boleh. Silahkan. Satria menyerahkan ponsel miliknya. Alya dengan cepat meraih dari tangan Satria setelah pandangan matanya bertemu sesaat.
Satria tak berhenti menatap sang istri yang masih memakai jubah mandi, rambutnya yang basah, dia lilit dengan handuk kecil. Pikiran Satria jadi berkelana kemana mana, membayangkan benda yang menonjol didalam balutan handuk kimono itu.
__ADS_1
Satria juga lelaki normal, keinginan untuk bercinta tentu ada, apalagi bayangan wanita yang sah untuk disentuh itu selalu menari-nari di pelupuk matanya.
"Satria aku akan peringatkan mas Aditya, aku harus menelepon dia, supaya berhenti mengganggu."
"Boleh, silahkan.," kata Satria memberi izin.
Alya segera menghubungi Aditya di depan Satria.
Orang yang diseberang sana tentu segera mengangkat panggilan Alya, karena sejak tadi dia sudah menanti.
"Hallo Satria, kamu benar benar ban*sat!! cepat bawa pulang Alya sekarang."
"Maaf Mas, ini bukan Satria, tapi ini aku Alya."
"Dek, kamu dimana? Dek cepat pulang, Mas khawatirkan kamu Dek. ku jangan terlalu dekat sama Satria, ingat Dek, aku akan buktikan kalau Kinan bukan hanya telah tidur denganku saja, aku yakin anak itu bukan anakku."
"Tapi kamu sudah tidur dengannya Kan Mas? bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki tidak setia dan tak bisa menahan nafsunya Mas."
"Dek, Mas waktu itu ...."
"Apapun alasan yang Mas Adit berikan, aku tidak akan merubah keputusanku untuk memperbaiki hubungan kami Mas, jangan pernah ganggu aku lagi."
"Tapi apa yang kamu harapkan dari dia Dek, dia itu pemalas. Sedangkan Mas selama ini sudah bekerja keras demi kamu, kamu yang selalu beri semangat pada Mas. Kamu harus selalu beri suport Dek, jangan pernah pergi."
"Alya akan bahagia jika Mas Adit tak perlu lagi mengganggu kita, aku dan Satria sedang liburan Mas,"
Mendengar kata liburan tentu hati Aditya semakin meradang, laki laki itu tak bisa membayangkan jika Alya dan Satria terbawa suasana liburan dan tidur bersama."
"Kamu dimana Dek? kamu dimana? katakan! jangan buat Mas yang mencari sendiri dan membawamu pulang dengan paksa!!"
Aditya merasakan emosinya sudah sampai ubun ubun. dia tak bisa menahan diri lagi untuk tidak berbicara sambil berteriak.
Satria yang mendengar semua kalimat-kalimat kasar Aditya dia niat sekali ingin membuat Aditya tahu posisi.
"Sayang, kamu cepat pake baju dulu gih, nanti masuk angin," ujar Satria sengaja mengatakan kalimat yang membuat Aditya gagal paham.
"Baiklah Sat," Alya menurut.
"Bajunya aku ambilkan ya, aku mau kamu pake yang hanya renda saja. kamu cantik sekali pake yang itu."
"Boleh, Sat. ambil saja yang menurutmu cocok." Alya ikut masuk dalam sandiwara Satria.
Aditya langsung mematikan ponselnya, menjatuhkan bobot tubuh di sofa. dia lempar ponsel sejauh mungkin hingga hancur berkeping karena membentur pagar.
__ADS_1
"Aku harus menemukan Satria dan memberi pelajaran yang sangat menyakitkan, biar tahu siapa kakaknya sebenarnya."