
Usai sarapan Alya dan Satria kembali ke kamar, mereka berjalan beriringan, Alya di depan dan Satria di belakang.
Kebetulan lantai dua khusus untuk kamar Alya beserta kamar mandinya. Rumah didesain demikian Karena ukuran tanah mereka tidak cukup luas.
Alya dan Satria sudah sampai di kamar, Alya duduk lebih dulu di ranjang dan Satria memilih berdiri sambil bersandar di daun pintu setelah menguncinya.
"Alya, apakah penelepon tadi Mas Aditya?"
"Iya," jawab Alya singkat.
"Terus dia bilang apa? Pesannya sudah kamu baca kan?" Cecar Alya lagi.
"Sudah, Sat, dia bilang kenapa aku semalam nggak pulang, dan …."
"Dan apa? ... Apalagi yang dia katakan?"
"Udah, cuma itu aja."
"Al, kita tukeran ponsel boleh nggak? sehati ini aja, sampai sore aku pulang nanti."
"Buat apa Sat?" Alya tersentak dengan permintaan Satria. Sementara ini dia tak pernah meminjamkan barang pribadinya pada siapapun.
"Buat bantu kamu lebih cepat lupain mantan, kalau memang kamu serius ingin buat hubungan kita ini jadi normal kamu harus juga serius untuk lupakan mantan."
Alya terdiam sejenak. Jujur dihatinya masih ingin kembali dengan Aditya, apalagi Aditya berjanji akan menceraikan Kinan setelah melahirkan. Alya mulai berpikir kalau anak itu bisa jadi bukan anak Aditya, atau bisa saja Aditya dijebak. Dan jika benar seperti itu, Aditya tidak bersalah, dan mereka berdua masih berhak untuk memperjuangkan cintanya. Aditya dulu tidak pernah kurang ajar dengannya, dia selalu lembut dan perhatian, dia lelaki terbaik. jika belakangan ini kasar sama Satria itu pasti karena Satria yang telah menikahinya.
"Al." panggil Bagas lagi setelah mengamati Alya yang malah melamun.
"Em, maaf Sat."
"Ya sudahlah kalau nggak boleh." Satria lalu melirik ke jam dinding sudah menunjukkan nyaris pukul tujuh. Satria segera pamit kuliah dan mengambil tas di atas lemari yang masih terbungkus kresek sejak semalam, Satria terpaksa membungkusnya dengan kresek karena takut air hujan tembus ke dalam.
Alya dan Satria kembali lebih banyak diam, dia hanya mencium tangan suaminya, sedangkan Satria ingin mencium kening, tapi Alya segera menjauhkan wajahnya.
Satria memejamkan mata kembali mengumpulkan kesabaran, lalu berdiri dan melepaskan jemari alya.
Alya membiarkan suaminya pergi begitu saja dari kamarnya. Saat diambang pintu Alya kembali berbicara.
"Sat, maafin aku, aku tahu kamu juga nggak cinta sama aku, kenapa kamu harus capek-capek memaksa diri kamu untuk menerima aku, bukannya ini menyiksa diri namanya."
Satria menghentikan langkahnya lalu diapun berkata, "Alya, kamu salah. Aku sudah menyukaimu jauh hari sebelum kita menikah."
"Alya maafkan aku yang mencintaimu dalam diam, aku berusaha untuk bersikap senormal mungkin di depanmu, dan terlihat bahagia saat kau bersama Mas Adit, memendam semuanya sendiri, tapi ternyata Tuhan mengabulkan doaku itu. Sudahlah aku nanti terlambat, aku berangkat" pamit Satria lagi.
__ADS_1
Alya tak percaya dengan ungkapan jujur Satria. Apa benar Satria mencintainya. Jika benar, bagaimana dia bisa menenangkan perasaannya saat bersama Aditya. Apalagi Aditya kerap memamerkan kemesraan didepannya
"Satria tunggu!"
Satria yang sampai di undakan tangga terpaksa menghentikan langkahnya. Menoleh pada Alya yang mengejarnya.
"Kamu berbohong Sat! kamu pembohong! Kamu hanya ingin menyelamatkan nama baik keluargamu dan ingin menyelamatksn keluargaku dari malu. Kenapa kamu harus bersandiwara!"
Satria menggelengkan kepala lalu melanjutkan langkahnya. Dia benar benar meninggalkan Alya yang terus berbicara.
"Aku harus berangkat ke kampus Al, jika ada yang masih mengganjal dihatimu, katakan nanti aja.
"Aku ikut!" pekik Alya.
"Baiklah aku tunggu di serambi. Cepat dikit ya!" Lelaki tampan pemilik senyum menawan dan memiliki kebiasaan menyampirkan jaket di pundaknya itupun memilih tetap turun, menyapa Umi dan Abi yang sedang santai karena Abi kurang enak badan dia memilih absen datang ke peternakan ayam miliknya.
Satria sekaligus pamit nanti tidak akan pulang lagi ke rumah ini.
***
Sepuluh menit menunggu, akhirnya Alya sudah keluar kamar, dia turun dengan senyum tipis di wajahnya, terlihat cantik dengan baju yang dipakai hari ini. Gamis hijau lumut kalem dengan kerudung senada namun lebih gelap.
"Sudah mau kuliah Alya, katanya ambil libur tiga hari," tanya Umi.
Satria menyambut istrinya yang sudah sampai di ujung tangga, dia menggandeng pinggangnya dan Alya membiarkan saja. Alya tidak mau Umi berfikir macam macam dan sedih.
Sampai di halaman, Satria menyalakan mesin motornya, suaranya menggema sampai ke halaman tetangga.
Beberapa tetangga yang tidak hadir terlihat heran kenapa suami Alya berbeda dari yang biasanya datang.
Satria mengabaikan pantangan orang lain terhadap dirinya.
Satria mengambil helm dan memakaikan untuk Alya. untuk hal-hal kecil, Alya tak pernah menolak Satria memberi perhatiaan namun jika melakukan hal yang lebih intim, Alya masih selalu menghindar.
"Yuk Naik," pinta Satria.
Alya berpegangan dengan pinggang Satria, lalu naik jik belakang, setelah berhasil duduk dengan nyaman Alya melepas pegangannya.
"Kenapa dilepas, aku terbiasa naik motornya kencang ya, soalnya dia sudah aku stel dengan kecepatan tinggi, kalau kecepatan rendah malah gak enak," kata Satria jujur.
"Nggak apa apa aku sudah biasa naik motor tanpa pegangan kok." tolak Alya.
Sebelum memakai helmnya sendiri, Satria menyempatkan diri menoleh ke arah istrinya yang kaku dan canggung seperti seperti kanebo?."
__ADS_1
Satria tersenyum pada Abi dan Umi yang ternyata mereka berdua memandanginya sejak tadi.
Satria melajukan motornya ke jalanan hitam. Saat di gang tadi dia pelan-pelan dan menyapa beberapa tetangga dengan ramah, dia sadar saat ini dia jadi anggota baru di perumahan tempat Alya tinggal.
Tapi saat dijalankan hitam di jalan raya, Satria mulai memainkan kecepatan motornya, kadang sengaja melewati lubang kecil kadang menambah dan mengurangi gasnya dengan mendadak. Membuat Alya berulang kali terpaksa harus memeluk pinggang suaminya.
???
"Sat, Kamu sebenarnya bisa naik motor nggak sih." protes Alya.
"Apa Al? aku nggak dengar, bicara nanti saja ya, kalau sudah sampai." jawab Satria dengan keras yang jisa di dengar Alya dengan baik meski suar hiruk pikuk kendaraan sedang ramai-ramainya.
"Al pegangan." perintah Satria kemudian.
"Nggak mau!" jawab Alya konyol.
"Alya, jangan bandel." kata Satria sambil menarik tangan Alya.
Alya menariknya lagi, tapi Satria tak patah semangat. laki-laki itu akhirnya menarik pergelangan tangan Alya dan memeganginya agar tetap stay di perutnya.
Sambil memegangi tangan Alya, Satria sudah mahir mengemudi dengan tangan satu.
Alya akhirnya menyerah, dia kini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Satria. Alya tidak mau Satria ceroboh.
Seperti ini saja Alya sudah sangat senang, jantungnya berdebar demikian kencang dan seakan dunia sudah milik berdua.
Tanpa dia tahu di belakang ada seseorang yang sedang kebakaran jenggot karena melihat Satria terus saja tersenyum saat mengemudi dan dia terus mencoba menaklukkan hati Alya.
"kurang ajar Satria, anak ingusan berani beraninya merayu wanita yang kucintai selama ini." geram Aditya yang nyaris tak melepaskan pandangannya pada dua orang di depannya.
Satria dan Alya segera belok menuju parkiran kampus, Aditya juga ikut menepikan mobilnya dan berhenti di depan gerbang.
Aditya segera menyusul Satria yang kini tengah memarkirkan motornya.
"Sat, aku duluan ya!" pamit Alya.
Hanya dibalas Anggukan oleh Satria karena dia sedang sibuk melepas helmnya.
"Satria kamu makin kurang ajar ya!!" Aditya menaruh kaos ketat adiknya dari belakang."
Mas Aditya, kenapa Mas selalu mengganggu aku dan Alya, Mas sadar dong, mas itu sudah bikin bunting anak orang, nggak kasian apa sama Alya yang serius cinta sama Mas, tapi malah Mas sakitin."
"Alya milik aku Sat, dia tidak pernah mencintaimu, dia hanya cinta sama aku, ingat itu. Seberapa besar kau berusaha ingin memiliki dia, hanya namaku yang bersemayam dalam hatinya. camkan itu. mungkin kau sudah berhasil menikahinya, aku yakin setelah semua beres dia skan kembali padaku." Aditya tersenyum smirk ketika melihat wajah Satria yang mulai pucat pasi.
__ADS_1
"Untuk Saat ini, mungkin apa yang dikatakan oleh Mas Adit memang benar, tapi aku tak percaya semua masih sama untuk masa yang akan datang. Aku akan menjadi suami yang hebat untuk Alya." kini Satria membalas senyum Aditya yang tak langsung meragukan kemampuannya untuk menaklukkan hati istrinya sendiri itu.