
Bisa bayangin jadi aku Dewo, kamu pasti tau kan, gimana aku selalu bertahan disisinya dengan kedok seorang sahabat, tapi kamu lihat kenyataannya, ini benar-benar tidak adil padaku Dewo, andai kamu jadi aku, pasti kamu juga akan hancur, kamu juga akan sakit. laki-laki yang kamu sayangi selama ini, tau-tau udah nikah aja, bayangin Dewo."
"Ngerti, aku paham. tapi kenyataan emang tak selamanya sesuai realita, gimana lagi ya Elisa, jodoh rezeki, Pati bukan kita yang atur. Elu juga tau kan gue suka sama Alya, tapi gue berusaha untuk bisa terima.
Elisa mengusap lelehan air mata yang terus membanjiri pipinya.
**
Sampai di rumah, Satria segera memarkirkan motornya. Alya meminta turun ketika Sampai di depan pintu gerbang
Alya menunggu Satria, Satria meraih tangan Alya ketika Alya menunggunya di depan pintu masuk.
Alya menatap Satria dan tersenyum malu-malu.
Satria membalas senyum Alya, dan mengajaknya langsung ke kamar.
"Ehm. Darimana kamu semalam?" Aditya tiba-tiba saja muncul dan2
menghadang langkah mereka berdua.
"Emang apa urusannya dengan kamu, Mas ?" Satria tentu tak suka Aditya terus ikut campur masalah pribadinya.
Hanya senyum smirk yang terlihat di wajah Aditya. Kini Alya yang seolah melihat setan. Alya ketakutan, telapak tangannya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Sat, kita masuk aja yuk, kamu tadi belum sarapan kan. Sekarang sudah jam berapa. Jangan diladeni." Alya menarik tangan Satria, Satria terpaksa mengikuti langkah Alya yang sedikit tergesa.
"Alya, pelan aja jalannya, kenapa kamu takut ketika bertemu sama Mas Aditya. Selama kamu benar, nggak usah takut." Satria menghentikan langkah kakinya di depan meja menarik dagu Alya yang sejak tadi menghindari pandangan dari Satria.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu? jawab Alya? apa dia kurang ajar padamu!" Suara Satria meninggi satu oktaf karena Alya hanya diam.
"Tidak Sat, dia semalam juga tidak pulang."
"Kamu tahu darimana?"
"Bunda yang bilang, dia tidak tidur di rumah, dan bunda menemani Kinan karena perutnya sering kram.
Alya tak kuasa menceritakan kejadian memalukan pagi tadi pada Satria, dimana dia merasakan bibir basah seseorang menyentuh pipinya dengan lembut, dan sebelumnya lelaki itu juga mengelus rambutnya.
__ADS_1
Alya berusaha bersikap senormal mungkin. dia tidak berbohong bercerita tentang kejadian semalam, tapi di tidak bisa jujur dengan kejadian pagi tadi.
Satria menarik kursi lalu duduk, Alya mengambilkan teko berisi teh hangat lalu menuang pada gelas.
"Terimakasih Al, duduklah, kita sarapan bersama."
Alya tidak menolak tawaran Satria, dia mengambil duduk di kursi paling dekat dengan Satria.
'Satria, apakah kamu akan memaafkan aku jika aku sudah ceroboh menjaga diri ini.' Batin Alya sambil mengamati gerakan tangan Satria yang membuka piring di depannya lalu mengisi nasi dan lauk pauk.
Satria lahap sekali memakan masakan rendang yang rasanya sama persis dengan yang dia makan di rumah umi dan abi tempo hari.
"Satria, gimana,rasanya?" Alya suka dengan Satria yang semangat menyantap masakan prtzamanya.
"Enak banget, Al, sama persis seperti di rumah umi tempo hari."
"Ya iyalah sama, ini resep juga dari umi."
"Jadi sebelum masak rendang ini, kamu telepon umi dulu."
"Iya." Alya mengangguk sambil memperlihatkan senyum tipis. Satria lega Alya sudah kembali terang.
"Apa yang akan kamu lakukan Sat, jika Mas Aditya menyakitiku?"
"Aku harus melindungi istriku dari siapapun yang mengganggunya, jika dia terbukti melakukan dengan sengaja, tentu aku tak akan pernah memaafkan dia lagi.
Alya meneguk salivanya dengan kasar, sungguh dia tak siap mengatakan kejadian tadi pagi yang terjadi di kamar, Alya takut Satria akan menganggapnya wanita yang tak bisa menjaga diri. Alya juga tak mau ada pertengkaran adik dan kakak terjadi lagi.
"Nambah lagi Sat."
"Disuruh nambah terus, tapi kamunya nggak makan." Satria mengambil nasi dan lauk lagi. "Aku nambah, tapi kamu harus mau disuapin ya."
Alya mengangguk. "Baiklah."
Satria dengan senang hati menyuapi Alya, Alya tak tahu lagi menerima suapan dari Satria.
Bunda Aisyah sengaja tak menampakkan diri dari mereka berdua. Tadinya dia akan melewati ruang tengah, tapi niat itu urung dia lakukan.
__ADS_1
Usai sarapan, Alya mencuci piring, dan Satria naik ke kamarnya di lantai dua. Satria mengabaikan Aditya yang sedang di balkon sambil memainkan jarinya di atas tombol laptop.
Satria merasa sikap Aditya belakangan ini sangat berbeda, dia yang biasanya suka bekerja di ruang pribadinya, kini malah sengaja nampang di depan kamar Alya dan Satria.
"Satria tunggu! Semalam Alya ketiduran di balkon, dia menunggumu, apa kamu sengaja ingin membuat dia sakit, tanpa kasih kabar kalau tidak pulang."
"Jadi semalam Alya ketiduran di balkon." Satria terkejut dengan penuturan Satria baru saja.
"Iya, untung aku membopongnya ke kamar kalian. Kalau tidak, mungkin akan sampai pagi dia ada disini. Maaf aku masuk kamar kalian berdua."
Satria yang tadinya ingin berterima kasih, justru kini kembali tersulut amarah, Satria merasa tindakan Aditya kali ini kelewatan.
Satria segera menghampiri Aditya dengan langkah cepat. Ditariknya kerah kemeja kakaknya hingga Aditya sedikit menjinjit.
"Kenapa tidak kau bangunkan saja dia?!"
"Kenapa kau malah melakukan semuanya, kamu jahat Mas!!"
"Satria! sudah jangan percaya ucapan dia, dia tidak pernah ingin kita bahagia." Alya menarik lengan Satria yang siap melayangkan bogem mentah pada rahang Aditya.
Tapi sayang sekali, Alya sudah menarik lengan Satria menjauh, Terpaksa Satria melepas cengkeraman tangannya dari leher Aditya.
"Satria, jika kamu terus seperti ini, biarkan aku pergi, aku akan tinggal di rumah umi saja, aku tidak tahan jika kalian berdua terus bertengkar seperti ini."
Alya merajuk, dia duduk di pinggiran ranjang sambil menangis sesenggukan. "Baiklah, jangan menangis, maafkan aku." ujar Satria.
"Maaf Sat, aku benar-benar tidak tahu jika itu dia, aku terlalu lelah, hingga aku tertidur pulas, dan kantukku waktu itu mengalahkan semuanya."
"Sudahlah, toh semua sudah terjadi, jika kalian tidak melakukan lebih dari itu, aku akan memaafkan." kata Satria, berusaha menenangkan hati Alya. meski jauh di dalam lubuk hatinya, kecewa Satria sangatlah besar.
Satria benci kenapa malam itu harus terjadi, kenapa harus pergi, Andaikan dia tidak datang ke ajang balap malam itu, pasti Alya tidak akan ketiduran di balkon. Aditya tidak memanfaatkan kesempatan itu.
Alya menarik tubuh Satria hingga laki-laki itu juga duduk di tepi ranjang, pandangan Satria lurus pada pantulan dirinya di cermin.
Alya yang juga menatap cermin, bisa melihat jelas kecewa di wajah Satria.
Alya bingung bagaimana membuat Satria tidak marah lagi. "Satria, lakukan first ki*s yang kau inginkan," ujar Alya sambil menarik wajah Satria supaya menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Satria diam tak bersuara, dia memilih menatap wajah yang berlahan memejamkan mata.
Senyum tipis terukir di bibir Satria, dibelainya rambut lurus sepunggung itu dengan lembut, kali ini Alya menunggu bibir basah Satria mendarat di bibirnya yang merah muda.