
Satria terkekeh melihat Ekspresi Alya yang berlebihan.
Alya berlari keluar, dengan sigap, Satria menangkap lengan istrinya itu
"Sudah disini saja,"
"Kamu pakai baju dulu aja, Mas. Aku malu lihat kamu ganti baju" kata Alya dengan jantung berdegup kencang.
"Kenapa malu, kita sudah menikah, bahkan semua yang ada pada diriku sudah jadi milikmu, kau bisa melihatnya bahkan menyentuh kapanpun," kata Satria menggoda Alya.
Satria lalu melepas tangan Alya, dia hendak mencari hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Alya segera membantu mencarinya di nakas, Akibat mereka sama-sama menunduk dan kepala Alya kepentok kepala Satria.
"Auhhh" Alya mengusap keningnya begitu juga Satria.
"Kata orang jaman dulu, kalau kepentok begini harus diulangi satu kali lagi."
"Percaya?" tanya Satria.
"Dicoba aja." Alya tersenyum.
"Tambah sakit dong," kata Satria.
"Pelan aja," Alya dan Satria akhirnya membenturkan kepalanya dengan pelan. Lalu mereka tertawa. Mungkin ini pertama kalinya mereka tertawa tanpa beban.
"Ada ada aja ya orang jaman dulu. kalo ini namanya modus."
"Iya, memang tidak masuk akal." jawab Alya.
Satria mengalah, membiarkan alya mengambil hair dryer. Alya segera menyerahkan pada Satria.
"apa ada lagi yang harus aku bantu?" tanya Alya
"Harusnya kamu istirahat aja dulu, tapi kalau kamu maksa, tolong ambilkan kemeja sama celana."
Alya menurut, dia mengambil kemeja dan satu buah celana Chino beserta **********.
"Mas, kok tumben pake baju model beginian, biasanya juga pake yang ini." Alya menunjuk celana jeans yang lututnya bolong.
"Hari ini aku mau cari kerja, aku nggak bisa terus tergantung pada orang tua terus, Apalagi sebentar lagi kebutuhan kita akan banyak banget"
"Iya, maaf ya Mas, aku jadi beban kamu terus." Alya menaruh baju di ranjang.
"Nggak ada istri Jadi beban suami itu, yang ada istri itu pembawa rezeki bagi suami."
Alya kembali tersenyum mendengar Satria bicara demikian dewasa. Ternyata menjadi dewasa itu tidak berpatokan dengan usia.
__ADS_1
"Mau kerja dimana?" kata Alya membantu mengancingkan kemeja Suaminya.
Satria sibuk menatap Alya yang begitu cantik dalam jarak sedekat ini. bibirnya merah, kulitnya bersih, tubuhnya padat dan pinggangnya ramping.
Satria terpaksa meneguk salivanya sendiri melihat semua keindahan di depannya.
"Mas, berangkat jam berapa?" Suara Alya membuat lamunan Satria tentang dirinya harus pudar.
"Kok malah ngelamun." Alya yang dilihat Satria demikian dalam jadi salah tingkah.
"Enggak ngelamun kok, cuma lagi kepikiran sesuatu." Satria segera menyisir rambutnya dan memakai sedikit minyak rambut, tak lupa parfum kesukaannya yang beraroma maskulin dia semprotkan pada kemeja depan dan belakang.
"Mas, apa nanti disana ada Elisa juga?"
"Kenapa kalau ada dia?" Satria menyipitkan matanya.
"Nggak, aku cuma tanya. siapa tahu dia juga ikut bersama kakaknya."
"Aku nggak tahu, aku juga belum berangkat, andaikan kamu tak sakit aku pasti akan mengajakmu, biar percaya kalau aku benar-benar sedang bahas kerjaan dengan Bang Arka.
'Duh, kok jadi mudah ditebak gini ya, apa aku terlihat lagi krisis kepercayaan banget sama suami ya, Bagaimana bisa aku berfikir kalau Satria akan tergoda dengan Elisa, bukannya mereka itu sudah kenal bertahun- tahun. kalau dia suka sama Elisa, sudah pasti mereka pacaran dan menikah jauh sebelum kenal aku.' gerutu Alya dalam hatinya.
Sebelum berangkat Satria pamit lebih dulu pada Alya, di kecup kening istrinya dengan lembut, Alya memejamkan mata begitu merasakan bibir basah itu menyentuh keningnya.
Alya sungguh siap andaikan Satria mendaratkan kecupan di bibirnya. tapi Satria tidak melakukan itu.
"Kamu juga Mas,"
Alya segera mengunci pintu kamar begitu Satria keluar, dia memilih melihat kepergian Satria dari balik jendela.
Sampai di bawah, Satria segera mendongak melihat Alya yang sudah melambaikan tangan.
Satria membalas lambaian Alya dengan mengangkat tangannya sebentar.
Satria melarang untuk keluar kamar sebelum keluarga yang lain pulang.
***
Satu jam Satria sudah sampai di sebuah kantor yang direkomendasikan oleh Arka, kantor yang lumayan besar dan kelihatannya masih baru.
"Pak Arya, ini Satria, calon Arsitek muda yang sedang butuh pekerjaan.
"Wah Satria, kamu tidak usah bingung, kenapa Arka merekomendasikan kamu kesini, Tadi saya butuh seorang yang punya keahlian di bidang corat-coret.
Arka bilang kamu sedang butuh pekerjaan ini, dan menurutnya kamu juga sangat kompeten. jadi aku tertarik untuk mencoba kemampuan kamu."
__ADS_1
"Bang Arka, terimakasih," Satria menatap Arka dan memeluknya.
"Bekerjalah dengan baik sesuai dengan waktu yang kamu miliki, yang penting kamu sudah jujur kalau masih menyelesaikan kuliah satu semester lagi. Pak Arya atasan yang sangat baik, kok." Arka menepuk pundak Satria berharap Satria akan mampu bekerja sama dan memulai karirnya dengan baik.
"InshaAllah Bang. Sedang berusaha keras"ujar Satria.
Arka lalu pulang, tugasnya mempertemukan Satria dengan Pak Arya sudah selesai, kini tinggallah Satria berdua dengan Pak Arya.
Pak Arya lalu mengajak Satria duduk di sebuah depot makan yang ada di kantornya.
Mereka berbicara seputar masalah bisnis, sambil minum es teh dan juga makan bistik.
"Aku percaya, kamu mempunyai keahlian merancang bangunan yang hebat."
"Bagaimana jika aku tidak sehebat seperti yang anda katakan, Aku masih dalam tahap belajar."
"Kamu suka merendah, Satria."
"Ya ini pertama kalinya. Sekarang katakan apa yang harus saya rancang, apakah anda bercita-cita membuat sebuah gedung, kantor, atau rumah."
"Aku butuh kamu menghitung berapa anggaran dan bahan yang aku butuhkan untuk mendirikan satu gedung lagi di sebelah bangunan ini."
"Sebagai pria yang akan menjadi lulusan akademi teknik bangunan, Satria memang sudah waktunya praktek langsung seperti hari ini."
Satria mulai mempelajari semuanya, Pak Arya memberi dokumen penting berisi luas lahan dan semua data yang kiranya akan dibutuhkan oleh Satria.
Satria memeriksanya satu persatu, setelah semua data yang ada sudah cukup, Satria akan mulai merancang desain bangunan serta biaya yang akan dibutuhkan dengan terperinci ketika tiba di rumah nanti.
Satria, calon Arsitek muda ini menganggukkan kepala mantap setelah semua data siap. mereka berjanji akan bertemu besok.
"Untuk pertemuan hari ini sepertinya sudah cukup. Daya pamit dulu, Pak." Satri berdiri dan menjabat tangan pak Arya. pak Arya memeluknya lalu menepuk pundaknya.
Sampai di rumah Satria mencari ruangan khusus yang bisa digunakan untuk bekerja, ruang kosong kebetulan ada di dekat kamarnya.
Satria membersihkan ruang yang lama menganggur itu untuk mulai pekerjaan barunya.
Satria dengan semangat menerima job pertama mendesain sebuah perusahaan dengan lantai sepuluh.. Pekerjaan yang begitu dia inginkan.
Satria bekerja hingga larut malam, karena dia berharap job ini segera selesai tanpa membuat Pak Arya menunggu lama.
Alya yang melihat Satria masih bekerja diatas kertas lebar dan putih itu, berinisiatif untuk membuatkan teh manis.
Setelah segelas besar teh siap beserta sepiring roti panggang, Alya segera mengantarkannya. "Mas, ini teh dan roti bakar, untuk teman begadang.
"Ya, terimakasih. taruh aja disitu." perintah Satria tanpa tertarik untuk langsung meminumnya.
__ADS_1
Begitulah Satria, kalau sudah bekerja, dia akan lupa sekedar hanya untuk makan.