
Alya dan Satria tiba di sebuah warung lalapan yang cukup ramai.
Alya segera membaca menu yang tersedia melalui spanduk.
"Mas, kamu mau makan pake ikan apa? pilihannya ada Lele, gurami, belut, bebek dan burung dara.
"Bebek goreng boleh deh,"
"Oke, nggak apa apa ya kali ini aku pesennya beda. Aku pengen gurami mas."
"Iya, nggak apa-apa. Aku nggak minta selalu sama kan."
"Bang, kalau gitu bebek goreng bumbu cabai hijau satu, sama gurami bakar satu ya."
"Habis waktu kamu bikin pas ulang tahun bunda kemaren enak banget Mas, aku jadi nagih."
"Iya, nanti aku sering-sering bikin di rumah, kalau sudah ada alatnya."
"Janji ya."
"Hehehe, apa'an nggak janji, nanti di tagih melulu. Alatnya kan belum ada."
Alya dan Satria terlihat lebih bahagia dan bebas bercanda ria ketika dia sudah tak lagi seatap dengan mantan. Sesuatu yang mengganjal di dada seakan kini serasa blong.
Bibir Alya terus saja berceloteh dan Satria lebih suka menjadi pendengar.
Alya berhenti berbicara ketika dia melihat dua gadis di belakangnya sengaja menggoda Satria dengan melambaikan tangan, Alya bisa melihat dengan jelas dari pantulan kaca yang ada di depannya.
Satria membalas senyum mereka berdua.
"Mas, awas kamu genit-genit." bisik Alya seraya mencondongkan tubuhnya lebih mendekat dengan Satria. Kalimat bernada Ancaman itu membuat Satria jadi semakin ingin menggoda Alya.
"Dia menyapa baik-baik, aku hanya membalas sapaan mereka dengan senyum, apa ada yang salah. kalau aku diam nanti dikira sombong, bukankah orang Indonesia terkenal dengan ramah tamah.
Padahal Satria hanya sengaja menguji kesabaran Alya. Wanita penggoda sama sekali bukan tipe Satria.
Melihat ekspresi tak suka dari Alya wanita itu bahkan semakin berani menggoda. Dua gadis cantik itu kembali melambaikan tangan dan cium jauh, Satria kini memalingkan wajahnya pura-pura tak tahu.
Namun Alya tak terima suaminya di goda, ketika sedang ada dirinya di sebelahnya.
"Mas sepertinya aku harus samperin dia."
"Buat apa Al? lagian aku nggak kenal, sudahlah biarin aja."
"Mas, dia goda kamu, disaat ada aku lho!" Alya sedikit marah.
"Sudahlah, nggak enak sama yang sedang makan. Kita pulang aja ya."
"Bilang aja kamu suka digoda sama dia."
"Nggak ... siapa bilang."
__ADS_1
"Itu kamu kenapa senyum-senyum."
"Aku senyum, karena lihat kamu lucu banget kalau sedang cemburu, hidungnya jadi pesek dan bibirnya makin tebal tu."
Alya sama sekali tak ingin tersenyum dengan candaan Satria, dia memilih tetap mengerucutkan bibirnya.
"Mbak, Mas, tadi pesen bebek goreng sama gurami bakar ya." Abang penjual membuyarkan ketegangan antara Alya dan Satria.
"Oh, iya." Satria segera bangkit dari kursi, dan mengambil dua bungkus pesanan yang masih hangat dan mengeluarkan aroma harum.
"Berapa Bang, semuanya?"
"Tujuh puluh ribu Mas."
Satria segera mengeluarkan satu lembar uang ratusan ribu dari dompetnya. Abang penjual menerima dengan senang hati lalu memberikan kembaliannya.
"Sayang, ni sudah selesai." Satria mengangkat bungkusan di tangannya.
Melihat Alya yang terlihat masih kesal, Satria menggamit tangannya dengan mesra.
Kalau kamu ngambek gini, dia merasa menang, udah jangan ngambek, lagian dia pasti sengaja ngerjain kamu.
"Kenapa ngerjain aku? aku nggak kenal."
"Habisnya mereka pengen kayak kamu punya suami tampan seperti aku."
Alya mendesah kesal, sama sekali tak ingin tersenyum.
Satria menyesal kenapa juga harus membalas senyum gadis tadi. niatnya mengerjai sekarang jadi repot sendiri.
"Alya, nggak seru ah kalau ngambek gini. pegangan kayak tadi donk."
"Nggak mau."
"Astagfirullah Alya, nanti kamu bisa jatuh."
"Biarin."
Satria tersenyum sambil geleng kepala. ternyata Alya kalau cemburu susah sekali di bujuk.
Satria terpaksa menarik tangan Alya agar melingkarkan di pinggangnya.
Alya akhirnya menyerah dia tetap mengikuti keinginan Satria meski duduknya tetap berjauhan.
Sampai di kontrakan barunya Alya segera turun dan membuka gerbang setinggi satu meter, Satria turun dari motor lalu mematikan menuntun masuk ke garasi.
Alya segera mengunci kembali. beberapa tetangga di kontrakan tertarik melihat pasangan baru yang serasi sekali itu.
"Mereka cantik dan tampan, sangat serasi." ujar ibu-ibu sang kebetulan lewat dari acara mingguan.
"Iya, kita sapa yuk."
__ADS_1
"Besok aja, sudah malam, sepertinya suasana hati istrinya kurang bagus," kata mereka saling mengingatkan.
"Iya, besok aja, besok pasti akan belanja di Kang sayur. Nanti kita juga akan kenal." Ibu-ibu rumpi terus saja membicarakan tetangga barunya yang dibilang masih sangat muda itu.
Sampai di ruang makan Alya masih irit bicara, dia mengambil dua piring nasi dan meletakkan satu di depan Satria, lalu satu untuknya sendiri.
Selanjutnya, Alya membuka bungkusan yang tadi dia beli. Alya segera meletakkan bebek goreng beserta sambal ke dalam piring yang lain dan menyerahkan pada Satria. Alya juga melakukan hal yang sama pada gurami bakar pesanannya.
Alya sangat suka dengan masakan satu itu, sejak merasakan gurami bakar buatan Satria, Alya jadi ketagihan.
"Sayang kok makannya nggak berselera gitu," tegur Satria yang tak suka dengan cara makan Alya yang terkesan ogah-ogahan.
Satria segera mengambil tindakan dengan menggenggam jemari Alya. "Maaf aku akui tadi memang salah, kalau aku tak membalas senyum mereka pasti kamu nggak akan cemburu berat begini."
Alya masih saja diam, dan irit bicara. Satria urung menikmati makan malamnya Satria menyingkirkan piring di depannya dan diambil piring Alya beserta piring lain berisi ikan.
"Alya kamu diam aja ya, biar aku saja yang suapi kamu, aku khawatir karena ngambek jadi nggak teliti.
"Aku bisa sendiri Mas." Alya hendak merebut piringnya.
"Alya, sudah jangan keras kepala, nurut sama suami." Aditya mulai mencabik-cabik daging gurame dan menyodorkan tangannya ke depan bibir Alya.
"Ayo buka mulutnya, Sayang."
Alya membuka mulutnya dengan malu-malu.
Satria senang Alya mau makan dari tangannya. " Maaf ya, aku tadi sengaja pengen tahu seberapa sayang kamu sama aku. tapi sekarang aku sudah tahu."
"Mas!! kamu jahat banget, jadi kamu sengaja kerjain aku."
"Bukan ngerjain, tapi cuma test sedikit Sayang. Dan sekarang aku jadi tahu, kamu sayang banget sama aku."
"Buka lagi mulutnya." Satria masih membujuk Alya di dengan kesabaran yang ekstra besar.
"Mas, kalau begitu aku juga ingin suapin kamu, Alya menerima satu suapan lagi dari Satria dan kini memaksa Satria membuka mulutnya.
Mereka berdua tidak lagi, merasa canggung untuk bermesraan dan bercanda.
Usai suap-suapan, Alya dan Satria jadi ngantuk berat. Efek dari kenyang juga pastinya.
"Sayang kamu ngantuk banget ya? tidurlah dulu, aku akan selesaikan pekerjaanku untuk laporan besok dulu."
Alya mengangguk, meski hatinya agak berat. sebenarnya dia ingin sekali Satria menemaninya sebelum lelap.
Melihat istri sedang menatapnya dengan pandangan mendamba, Akhirnya Satria urung pergi.
Ditariknya selimut supaya menutupi tubuh Alya, dikecupnya wajah istrinya bergantian dengan puluhan kecupan sayang.
"Kangen disayang ya? nggak usah malu kalau lagi pengen, jujur aja, "
Pipi Alya tentu saja mendadak memerah menjadi semerah buah tomat. Satria selalu saja bisa membaca apa yang ada di hatinya.
__ADS_1
***
Jangan lupa Ritualnya ya Kak, kasih Vote mumpung hari Senin.