Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Ingin mandiri


__ADS_3

"Mana susu buat aku?" Tanya Satria belum berhenti menggoda.


Alya kembali hanya membawa secangkir teh. Dan seember air untuk mengompres luka Satria.


"Nggak ada, Mas. Bunda bilang kamu nggak suka susu."


"Ya sudah kamu duduk aja disini, temani aku." Satria menarik lengan Alya. wanita itu menurut, dia duduk di tepi ranjang dengan menghadap ke suaminya.


"Aku nggak kuliah, tapi aku tetap akan mengantar berkas pada Pak Arya hari ini," curhat Satria kemudian.


"Tapi luka kamu lumayan parah, lebam-lebam ini nggak mungkin sembuh nanti siang." Alya mulai membersihkan wajah suami tampannya. "Biar aku saja yang antar, Mas."


"Aku masih bisa kok, nanti disamperin Bang Arka kesini, aku nggak bawa motor."


"Oh. kalau bang Arka kesini syukurlah, aku nggak khawatir lagi," ujar Alya.


"Kamu sendiri gimana? apa itunya masih sakit?" Tanya Satria. matanya menunjuk pada area sensitif Alya.


"Sedikit, Mas." jawab Alya malu. pipinya kembali merona.


Satria senang melihat ekspresi Alya yang menggemaskan.


"Maaf ya, kami sampe menangis semalam. Apa sampai sakit banget."


"Kalau semalam iya." Alya mengangguk.


Satria membiarkan Alya membersihkan lukanya, sedangkan dia terus menatap wajah cantik Alya.


Satria merasa beruntung bisa menjadi yang pertama buat Alya.


"Mas, aku ingin ngomong sesuatu." kata Alya kemudian memecah keheningan.


"Ngomong aja, apa itu?"


"Mas bagaimana kalau aku bekerja, supaya kita bisa cepat ngontrak rumah. Kalau kerja berdua uang akan cepet terkumpul. jadi kita bisa tinggal berdua.


Satria menarik nafasnya panjang. kelihatan yang ini Satria kurang setuju. Satria saat ini hanya ingin Alya menuntaskan kuliahnya dulu baru dia bekerja sesuai profesi yang disukai.


"Alya aku tahu kamu tidak nyaman karena kelakuan Mas Aditya kan" ujar Satria.


Alya mengangguk. "Mas Aditya kelewatan Mas, dia selalu menggunakan kekerasan untuk menyakiti kamu, padahal yang patut dipersalahkan disini hanyalah dia."


"Tandanya Mas Adit masih sayang kamu Alya." kata Satria sambil menahan sakit akibat sentuhan Alya pada luka lebam di pipinya.

__ADS_1


"Nggak ada maaf untuk orang yang berselingkuh Mas. seharusnya dia sudah bisa menerima konsekuensinya sebelum melakukan semuanya. Dan sekali selingkuh aku nggak akan percaya untuk selamanya." jawab Alya.


"Mas Aditya sudah tidur dengan wanita lain dikala hubungan kita masih ranum, bagaimana kalau nanti aku sudah punya banyak anak dan nggak cantik lagi."


"Kamu ada benarnya juga." Satria mengangguk. Ucapan Alya benar juga.


"Ini berlaku untuk kamu juga Mas."ujar Alya sengaja menekan kalimatnya.


"Hm, tapi bagaimana jika ternyata wanita diluar sana yang mulai menggoda duluan. Kita kan nggak tau rencana mereka" Satria mencoba bercanda.


"Pokoknya tidak ada maaf, mau duluan, atau belakangan, sama aja, perselingkuhan tidak akan terjadi kalau bukan keduanya sama-sama mau."


Satria tersenyum sekaligus bergidik ngeri, ucapan Alya sepertinya lampu kuning juga untuk dirinya.


"Mas mau selingkuh? Tanya Alya dengan sorot mata tajam.


"Silahkan saja kalau memang Mas ingin aku pergi untuk selamanya. Dan jangan salahkan aku jika bazooka kebanggaan kamu itu akan hilang."


"Nggak ah, nggak berani. ngeri banget ancamannya." Satria tertawa lalu mencium pipi istrinya yang sudah wangi.


"Kamu wangi banget." Satria mengalihkan pembicaraan.


"Aku kan sudah mandi Mas." Alya senang dipuji Satria.


Bunda yang baru pulang dari pasar segera naik ke lantai dua menuju kamar Alya. Bunda tersenyum ketika melihat anak dan menantunya sudah rukun di pagi hari.


"Bilang aja Mas habis tawuran, bunda akan percaya."


Alya dan Satria tidak mau bunda menyaksikan keributan antara dia dan kakaknya terus menerus. Sebagai orang tua pasti akan sedih.


"Alya ada umi, dibawah." Kata Bunda. Alya bergegas turun.


"Umi datang?" pekik Alya girang.


Alya dan Aisyah segera turun dan memeluk besannya.


"Alya, Umi bawakan oleh-oleh buat kamu, Nak. "


"Apa bunda?"


"Ini jamu untuk kamu dan suami kamu, Alya. supaya tubuh kamu fit dan juga tubuh Satria, Umi juga bawakan kurma muda supaya kamu cepat hamil.


Umi lalu mendekati Alya. "Kalau yang ini, ibu tadi mampir ke toko baju, ibu belikan baju buat dipakai dinas malam," bisik umi ditelinga Alya.

__ADS_1


Sedangkan Bunda Aisyah segera ke dapur, membuatkan minuman spesial untuk besannya.


"Umi, ada-ada aja. Masa Alya pakai baju seperti wanita penggoda gini, malu lah umi, Apa yang Satria pikirkan nanti."


"Nggak apa-apa, ini khusus dipakai dikamar aja, kamu harus bisa menyenangkan suami. Alya pelakor diluar sana lebih menyeramkan daripada hantu.


"Umi bikin Alya takut."


"Alya ngomong-ngomong kenapa kamu nggak ajak Satria ngontrak aja. Umi akan lebih tenang kalau kamu sama dia, suami kamu belum dapat kerjaan ya."


"Sabar Umi, Mas Satria sudah kerja." ujar Alya. sambil menatap suaminya baru menuruni anak tangga.


"Kalau sudah kerja, bagus dong, entar kalian bisa segera ngontrak, Umi kepikiran kamu Alya, bagaimana kalau mantan kamu itu belum terima kamu bersama Adiknya."


"Alya suami kamu kenapa lagi ini."


"Emm, Satria ...." Satria bingung harus jawab apa. Umi Salma terlihat kurang suka melihat Satria pagi ini.


"Satria kamu ini sudah menikah, sudah waktunya memikirkan kebahagian kalian berdua, fokus dengan rumah tangga, kok kamu masih terus saja berkelahi tidak jelas, pikirkan masa depan kamu dan Alya. Kasian Alya masa harus tinggal disini terus, di rumah ini ada Aditya. Gimana sih Sat, kamu bisa tenang, umi saja setiap hari kepikiran.


"Umi, sudah dong. Mas Satria belum sarapan sudah dikasih sarapan duluan." Alya malu pada suaminya.


"Satria sudah cari kontrakan, kebetulan belum ada yang cocok." jawab Satria.


Sedangkan Aditya yang mendengar obrolan mereka bertiga hanya tertawa sinis.


"Dikira kontrakan bayarnya nggak pake duit." ejeknya dalam hati.


"Umi" panggil Aditya.


"Aditya," umi terkesan dengan penampilan Aditya yang rapi. sungguh berbeda dengan Satria.


"Kabar umi baik?" Aditya mencium tangan umi, dan bertanya kabar.


"Seperti yang kamu lihat, kamu makin sukses, Adit." Umi salma memuji Aditya.


"Alhamdulilah Umi. Penghasilan perusahaan terus meningkat, jumlah karyawan yang bekerja selalu bertambah.


"Sukses selalu ya Aditya."


"Makasi Umi, Aditya ke kantor dulu, Oh iya umi, yang sabar ya, menantunya masih belum memiliki penghasilan."


"Iya Adit. Meski sekarang belum memiliki penghasilan, tapi siapa tahu nanti dapat pekerjaan bagus. yang penting bagi umi ada usaha dulu, dan tidak selingkuh."

__ADS_1


Aditya langsung diam seribu bahasa, Umi Salma yang sedikit materialistis sekarang rupanya sudah bisa menerima Satria.


Satria dan Alya hanya diam saja melihat Umi dan Aditya terus berbicara soal pekerjaan. Satria tak percaya kekuasaan yang dimiliki kakaknya merubah Aditya yang dulu lembut dan penyayang jadi angkuh dan sok merasa paling sukses.


__ADS_2