Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Elisa kabur


__ADS_3

Elisa kembali mendorong tubuh Alya hingga keningnya mengenai pinggiran ranjang.


Alya yang tak terima diperlakukan Elisa dengan kasar terus-menerus, membalas mendorong tubuh Elisa dan membenturkan ke dinding.


Elisa meraung merasakan keningnya berdarah, dengan emosi yang membuncah dia segera meminta pada lelaki bayaran untuk segera menyeret Alya ke ranjang.


Alya makin tak berdaya, dengan perlakuan kasar dua lelaki berbaju hitam itu, kedua tangannya diikat dengan ujung ranjang.


Dua lelaki dengan bringas merobek-robek baju Alya hingga menyisakan kain kecil yang menjadi penutup organ intinya.


Dua lelaki menatap nyalang pada tubuh Alya yang lebih indah dari bayangannya.


"Seger banget bro. kamu duluan apa aku!" ujarnya sambil mengusap liurnya yang menetes.


"Kita barengan aja Sob, aku sudah nggak nahan."


"Biadap kalian, berani sentuh akan aku pastikan kalian akan mendekam. Alya menendang-nendang lelaki yang terus mendekatinya. Alya semakin ketakutan ketika melihat senjata mereka sudah berdiri. Semua terlihat dari celana mereka yang terlihat sesak.


Mendengar ancaman dari Alya dua lelaki tersebut saling pandang sesaat.


"Sudah embat aja, yang penting sekarang kita bersenang-senang. urusan besok bisa kita atur lagi nanti." Salah satu dari mereka sudah gelap mata.


Alya terus menendang dengan brutal, membuat dia berhasil beberapa kali menendang kaki dan paha lelaki itu.


"Nona tenanglah sedikit, jika kamu tidak mau bekerja sama, jangan salahkan jika aku memaksa. Lagian apa enaknya jika kita melakukan dengan terpaksa, sudahlah mari kita lakukan suka sama mau. Nikmatnya akan kita rasakan bersama."


"Tidak, jangan lakukan itu, aku mohon, aku tidak salah." Alya terus saja memohon ketika dia tak berhasil melawan dengan tenaganya.


"Cepat, ikat kakinya juga. lakukan sekarang! sebentar lagi suaminya akan sampai kita akan beri kejutan pada dia," titah Elisa.


"Kamu jahat, Elisa."


"Kamu yang jahat, Siapa suruh ambil Satria dariku."


Elisa mendekati tubuh putih Alya, Elisa juga memerintahkan dua lelaki suruhannya untuk mengikat kaki Alya.


Alya hanya bisa menangis sambil berdoa semoga ada keajaiban dari Tuhan.


Elisa memaksa Alya untuk menelan beberapa butir pil tidur sekaligus.


Ketika masih sadar, Alya terus meronta hingga tangan dan kakinya membiru.


Dalam penderitaan ini, tak ada yang kasihan melihat Alya, dua lelaki yang sudah mabuk itu justru melihat Alya semakin seksi saat meronta.

__ADS_1


Sudahlah cantik menyerah saja, suamimu tidak akan marah, jika hanya sedikit saja berbagi dengan kami, aku semakin terpesona jika kau terus meliuk seperti ini.


Satu lelaki maju, mulai mengungkung tubuh Alya, Alya yang kehabisan tenaga dia meludah di wajah si pria.


Lelaki itu mengusap wajahnya kasar dan mulai menciumi Alya dengan bringas.


Elisa tidak bisa merekam Alya dengan posisi terikat, Alya menunggu obat yang diminumkan dengan paksa tadi bereaksi.


Bibi yang mendengar jeritan Alya dia merasa iba, begitu melihat ada lelaki tampan mengendarai motor besar berhenti di taman, dia segera menghambur keluar.


Den, jika anda sendirian saya khawatir anda akan kalah, yang ada di dalam sana, ada tiga orang.


Dengan sigap Satria meraih ponselnya dan menghubungi polisi.


Setelah memberi kode bahaya pada polisi Satria segera berlari menuju kamar penyekapan istrinya.


Alya kini sudah tak terikat, hanya ronta'an lemah tak berdaya yang dia rasakan.


"Tolong ... lepas ...." Obat dahsyat itu sudah mulai bekerja. Suara Alya lebih mirip sebagai *******.


"Cup cup cantik, mari kita bersenang-senang sebentar sebelum suamimu datang." lelaki di sebelah kiri Alya menepuk pipi Alya dengan manja.


Satria mengeram, tangannya mengepal memperlihatkan otot ototnya, dia segera masuk dan menghajar dua lelaki dengan tendangan kaki secara bertubi. lelaki yang hanya memakai celana itu tentu terjungkal dan tersungkur berkali-kali.


Elisa yang kebetulan sedang mencari cambuk untuk menyiksa Alya, segera bersembunyi, menyaksikan kemarahan Satria, pada dua-laki laki bayaran itu.


Melihat dua preman sudah kalang kabut tak berdaya, Satria segera menghampiri Alya yang tengah berbaring lemah, kepalanya pening dan matanya terasa berat.


"Aku takut."


Dipeluknya tubuh dempal suami yang begitu dia sayangi. Tubuh Alya menggigil, suhu tubuhnya juga lebih tinggi.


"Aku takut." Lirih Alya kembali dengan bibir bergetar. Airmata tak henti terus membanjiri wajahnya.


Sudah ada aku disini, kamu tenang saja, kita akan segera pulang setelah dua cecunguk itu kita serahkan pada polisi.


"Aku takut." Alya meremas punggung suaminya.


Hati Satria menjerit menyaksikan betapa tragis nasib istrinya.


Satria hanyalah lelaki rupawan, yang bermodal ketulusan hati ramah pada semua orang. Tak tahu jika semua itu malah menjadi bumerang untuk istrinya.


"Baiklah kamu tenang saja, aku akan menjagamu." Satria mengelus lembut rambut istrinya yang tergerai. Lalu memakaikan baju yang koyak tadi. Setelah baju tersebut melekat ditubuh Alya, satria menutup dengan jaket hitam miliknya.

__ADS_1


Setelah Alya sedikit tenang, Satria menghampiri dua cecunguk yang kini terkapar di lantai.


"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu!!"


"Katakan!!" Sorot mata tajam dan mengintimidasi.


"Tidak ada yang menyuruh kami , istrimu saja yang terus menggoda kami di jalanan."


Prakk! bogem keras dari Satria kembali menghantam rahang lelaki bertato hingga liur dan darahnya kembali berhamburan ke lantai.


"Berani sekali lagi kau rendahkan istriku, maka aku akan merenggut paksa nyawamu!!"


"Ampun, Bang." Salah satu dari mereka merangkak dan bersujud di kaki Satria.


Elisa tercengang dalam persembunyiannya, melihat Satria berhasil mengalahkan dua lelaki bayaran yang sudah dia bayar mahal.


"Dasar tidak berguna." Elisa segera berlari sebelum Satria juga menangkapnya.


Elisa ingin selamat, sambil berlari kecil, dia keluar meninggalkan mansion menghampiri mobilnya yang bertengger di halaman.


Elisa mengemudikan dengan cepat tanpa arah dan tujuan.


Ketika mobil Elisa baru menyusuri jalanan hitam. Polisi baru datang.


Sampai di halaman pimpinan polisi segera memberi perintah pada anak buahnya. "Berpencar! Tiga orang ikut saya masuk."


"Siap!" jawab mereka serempak.


Empat orang masuk, dua orang berpencar lewat pintu samping sedangkan tiga orang berjaga di depan.


Karena musuh yang akan mereka tangkap sudah tak berdaya para polisi tinggal memborgol dan membawa dua cecunguk ke mobil.


"Sayang apakah ada orang lain lagi selain dia?"


Alya mengangguk, pelan.


"E-li-sa." jawab Alya terbata.


"Kamu yakin Sayang." Satria kembali dikejutkan dengan ucapan istrinya.


Alya mengangguk. "Dia ingin kamu kembali padanya, Mas. Dia tidak akan rela kita bersama," jawab Alya pelan.


Satria kini memeluk istrinya. Tak menyangka Elisa yang dia kenal dengan baik akan tega membuat skenario yang membahayakan nyawa istrinya. "Maafkan aku, karena aku, kamu harus menanggung semuanya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas. Aku berharap ini akan jadi pelajaran buat kita agar lebih hati-hati ke depannya."


"Ya, Elisa harus mendapat ganjaran dari perbuatannya. Semoga polisi segera menemukan wanita itu. rupanya aku selama ini tertipu, dengannya." Satria mengepalkan tangannya, geram pada Elisa yang kini lari entah kemana.


__ADS_2