
Tas ditangan Satria terjatuh. Tangannya mengepal dan bergetar hebat.
Melihat pemandangan di depannya bagi Satria lebih baik mati dengan tertusuk ribuan anak panah.
Wanita yang menjadi kehormatan bagi dirinya, kini barada dalam rengkuhan lelaki yang seharusnya di hormati keberadaannya.
Aditya segera bangkit dan mencari pembelaan. "Percayalah aku tidak melakukan apa-apa," wajahnya ketakutan. tangannya
"Tidak melakukan!! Sudah ketangkap basah negini masih mengelak kamu Mas?"
"Satria percayalah. Aku tidak melakukan apa-apa pada istrimu."
Satria merasa harga dirinya sudah direndahkan oleh Aditya. pemandangan tadi, serta rasa lelah seharian bekerja membuat otaknya makin terbakar.
"Plakk!" Tamparan keras mendarat di pipi Aditya, disusul dengan bogem mentah di rahang."
"Pukul aku sesukamu, aku memang salah, ayo pukul." Aditya membiarkan Satria memukul sesuka hatinya.
"Kau tak pantas disebut Kakak, kau tak pantas dihormati! Aku jijik memiliki kakak sepertimu!." Satria meludah sembari berbicara dengan nada tinggi.
"Dengam tangan ini kau sudah menyentuh wanitaku."
Jrett! Satria menginjak ke lima jemari Aditya.
"Arrgg" Aditya kesakitan.
Suara berisik di kamar Satria tentu mengundang penasaran bibi di dapur.
"Den!"
"Aden berhenti!" Bibi menutup mulutnya melihat Satria begitu tega dengan kakaknya
"Bi, tolong saya Bi, Satria sudah salah paham." Aditya meminta Bibi supaya menenangkan Satria.
"Den Satria, jangan menuruti emosi Den, bisa saja ini salah paham, beri kesempatan Den Aditya menjelaskan semuanya."
"Bibi masih percaya lelaki semacam dia? Bibi melihat dia dari segi mana kalau dia bisa dipercaya?!" Kata Satria mulai kehilangan kesabaran.
"Sudah tidur dengan wanita lain tapi ingin menikah dengan kekasihnya. Sudah punya istri, sekarang malah mengganggu istri adiknya sendiri. Apakah lelaki seperti itu pantas disebut manusia, Bi" Satria terlihat marah sekali, dadanya membusung naik turun. Bibi belum pernah melihat Satria semarah ini sebelumnya.
Satria puas memukul Aditya hingga babak belur.
Bibi semakin kasihan dengan Aditya. "Den Aditya, buruan move'on Den. Kasihan Den Satria dan Nona Alya, dia tidak nyaman tinggal disini jika Den Aditya mengganggunya "
__ADS_1
"Aku memang sudah lama tak nyaman disini. Aku akan pergi dari rumah ini hingga tak bertemu lagi dengan lelaki berhati binatang seperti dia." Satria membiarkan Aditya tergeletak, bibi mencoba membantu Aditya berdiri.
Satria membangunkan Alya menggoyangkan tubuhnya berlahan. "Alya kamu baik-baik aja."
"Alya bangun!" Satria mulai panik.
Dia kembali menghampiri Aditya yang masih berusaha bangun.
"Kau apakan dia hah? Kamu kasih obat apa?"
"Tanyakan pada Alya, dia pasti bisa merasakan kalau aku tidak menyakitinya. aku tidak kasih dia apa-apa."
"Kamu berbohong kan? Katakan!!"
"Hanya sedikit obat penenang." Aditya akhirnya mengaku
Plakk!
Brug!
Satria terus saja memberi pukulan yang cukup berarti di tubuh kakaknya. Rasa hormat yang selama ini dia jaga kini sudah hilang tak tersisa.
"Den Satria sudah! Den Aditya sudah tak melawan, dia sudah mengaku salah." Bibi menengahi Satria dan Aditya supaya kedua anak majikannya menghentikan pertikaian ini.
Alya segera memeriksa baju dan kulot yang dipakai, Alya bersyukur tidak terjadi sesuatu hanya kancing bajunya atas saja yang terlepas, dan lainnya masih melekat utuh.
Alya memeluk lengan Satria dengan wajah ketakutan. "Mas, aku ingin kita pergi saja dari sini, kita tinggal di rumah umi, atau kita tinggal saja di kontrakan."
Satria mengelus rambut istrinya. dikecupnya kening Alya dengan kelembutan."Kalau begitu kemas semua barang kamu, kita tinggalkan rumah ini sekarang juga."
"Baiklah Mas." Alya segera melepaskan dekapan tangannya di lengan Satria. Kini Alya mulai membuka lemari satu persatu, lalu memasukkan baju dan buku milik berdua ke dalam koper yang berbeda. karena belum terlalu banyak barang Alya yang dibeli ketika tinggal di rumah ini, ada dua koper dan dua ransel saja berisi barang mereka.
"Sat please jangan pergi, tinggallah disini, biar aku saja yang pergi." Aditya tak mau Alya tinggal di kontrakan yang kumuh, atau tak layak. Aditya tak mau Alya menderita.
"Keputusanku sudah bulat, aku mau kemanapun bukan urusan kamu Mas, percayalah aku dan Alya akan lebih tenang dan bahagia di tempat yang lain."
"Alya, katakan pada suami kamu, bujuk dia supaya jangan pergi. Aku saja yang pergi."
"Maaf Mas, kami sudah lama berencana untuk tinggal berdua dan hidup mandiri, bukan hanya Mas Satria yang ingin mandiri, tapi aku juga, aku sudah lama tak nyaman dengan sikap kamu Mas."
Aditya yang sudah babak belur kini makin sedih dengan akibat perbuatannya. Satria dan Alya sudah bersikukuh meninggalkan rumah ini.
Alya membawa koper yang lumayan kecil dan satu ransel, sedangkan Satria membawa koper besar dan ransel besar.
__ADS_1
***
Den Satria tunggu, jangan ambil keputusan ketika marah. Den Satria akan menyesal." Bibi berusaha mencegah Satria.
"Tidak Bi, Aku dan Alya sudah menikah, jadi wajar kalau kita harus tinggalkan rumah ibu, lagi pula rumah ini sebagian besar hasil kerja Mas Aditya" Satria terus saja menarik koper sedangkan bibi makin bingung.
"Den, kenapa nggak tunggu, Nyonya. Sudah dalam perjalanan Sebentar lagi dia akan sampai." kata Bibi.
Mas, kita tunggu bunda sebentar, Nggak enak kalau kita pergi tanpa pamit."
"Iya, kita tunggu di ruang tamu."
Alya dan Aditya memilih duduk berdampingan di sofa panjang, minuman kesukaan tak lagi di sentuh.
Aditya duduk di ruang tengah sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya, pukulan Satria sama sekali tidak main-main.
Setengah jam kemudian Aisyah dan Damar sudah tiba. Hanya bibi yang menyambut kedatangan mereka berdua.
"Anak-anak dimana, Bi?'
"Ada di dalam kok, Nya," jawab bibi.
"Tumben mereka tidak keluar, menyambut kita." Aisyah merasakan kejanggalan.
Saat masuk rumah, Aisyah sudah di kejutkan dengan pemandangan di depannya.
"Satria, Alya ada apa ini?"
"Ma, Pa, Satria sudah memutuskan kalau mulai hari ini ingin mencari kontrakan saja."
"Satria, apa yang membuat kamu buru-buru mengambil keputusan seperti ini?"
"Aku dan Alya ingin mandiri. Sudah sepantasnya sebagai lelaki yang sudah menikah untuk berusaha mencukupi kebutuhan rumah tangganya."
"Ayah setuju dengan kamu Satria, tapi setidaknya tunggu sampai kamu selesai wisuda."
"Iya Satria, tunggu sampai kamu selesai wisuda, kami semua masih ingin terus bersama kamu dan Alya." ujar Aisyah nampak sedih.
"Kelamaan Ma, Jika aku nunggu sampai wisuda, bisa-bisa Alya dinikmatin Mas Aditya juga."
"Jaga bicaramu Satria! Aditya juga memiliki istri," kata Aisyah dengan nada suara tinggi.
Aisyah tidak suka salah satu anaknya direndahkan. Aisyah memang tidak pernah tahu kelakuan Aditya di belakangnya, karena Satria terus melindungi perbuatan kakaknya. tapi untuk hari ini, Satria tidak bisa lagi menahan semuanya.
__ADS_1