
Satria segera menuju ke pembakaran ikan, kebetulan mereka hari ini pakai cara lama, yaitu menggunakan arang, dengan alasan aroma ikan yang dihasilkan lebih harum dan rasanya lebih nikmat.
Satria terus mengipas arang yang sudah mulai membara seperti penjual sate, sedangkan Aditya terlihat tak tenang. Dia mondar-mandir sambil menelepon seseorang.
Alya dan Kinan memilih duduk di karpet yang sudah digelar luas, dan menyiapkan bumbu pelengkap beserta nasi.
Bibi mencuci ikan dan memberi perasan jeruk, sedangkan Ayah Damar dan Bunda Aisyah belum keluar juga, pasti lelaki itu memberi surprise untuk istrinya..
"Luna, baju gamis kamu bagus," puji Kinan.
"Masa sih? Ini Satria yang belikan, aku tinggal pake aja." ujar Alya jujur sembari tersenyum.
"Beruntung ya, kamu dapat Satria, romantis dan perhatian lagi."
"Emang mas Adit enggak perhatian? Gimana sih." Alya tersenyum menatap perut buncit Kinan.
"Mas Aditya sayangnya ke kamu aja, kalau sama aku dia cuma naf*u, kamu sih, waktu pacaran nggak mau disentuh lebih sama dia, jadi dia melampiaskan sama aku."
"Jadi kamu tau waktu itu Mas Aditya sudah punya kekasih."
"Aku tau Alya, tapi aku juga cinta sama dia, aku pikir dengan memberikan semuanya ke dia, cintanya bakal berubah, tapi apa? Aku justru hamil anaknya, dan dia tidak mengakui. Dia menuduhku wanita gampangan, yang bisa tidur sama setiap laki-laki hidung belang. Padahal cintaku tulus ke dia.
Alya hanya tersenyum, kasihan pada Kinan. Tapi salahnya juga, dia sebagai wanita mau di celup-celup sebelum yakin dengan niat lelaki.
"Alya, andaikan waktu itu kamu tidak menolak Mas Aditya di hari ulang tahunnya tujuh bulan lalu, pasti selamanya doa akan menjadi milikmu. Kamu pasti menyesal sekarang tahu semuanya."
Ulang tahun Aditya dirayakan di sebuah clup, dan Aditya malam itu membujuk Alya, tapi gadis itu sekuat hati untuk menolak, akhirnya Alya memilih pulang diantar teman kantor Aditya, dan Aditya masih bersama teman lainnya.
"Setelah kamu pulang bersama wanita itu, Aku datang dan kita berdansa, Aditya malam itu terlihat sekali sangat bergairah dengan penampilannya yang bisa dibilang seksi."
"Aditya dan aku menghabiskan banyak minuman malam itu, dan Aditya terus membisikkan kata cinta padaku, aku yang sudah lama memendam rasa ini sendirian, dimalam itu aku merasa cinta yang lama terpendam seperti mendapat sambut. Aku merelakan dia melakukan semuanya berulang kali hingga kami lupa waktu. Aku lupa kalau Aditya adalah milikmu."
Setelah kejadian itu, Aditya menyesal, dia tidak bisa menerima kenyataan Alya, dia mengeluarkan aku dari perusahaan dan memberi aku sejumlah uang, supaya tidak lagi mengganggu hubungan kalian.
Alya menitikkan airmata, berapa bodohnya dia tak bisa merasakan karakter asli Aditya. Alya mengusap air matanya.
"Alya kamu menangis? Kamu masih cinta ya sama mas Aditya," tanya kinanwmatap Alya yang berderai air mata.
"Enggak, aku tidak boleh memendam rasa lagi untuk lelaki lain selain suamiku, aku menangis karena aku bersyukur, andaikan malam itu aku terjebak dalam perbuatan nista itu, bisa saja Mas aditya juga mencampakkan aku dan menganggap aku murahan. Dan mungkin aku tidak akan pernah dipertemukan lelaki sebaik Satria."
__ADS_1
"Yang, bawa nampannya, kesini, ikannya susah ada yang matang." Satria memanggil Alya dengan panggilan Sayang.
"Iya, Mas." Alya bergegas berdiri meninggalkan Kinan seorang diri. Kinan tak sedikitpun melepas pandangannya dari Satria dan Alya yang mulai mengangkat ikan dari atas panggangan.
"Harum banget Mas, ikannya. Kamu bakat banget memanggang."
"Masa sih, jadi aku cocok dong jualan ikan bakar, gimana kalau aku jual ikan bakar juga," canda Satria.
"Kamu ada aja sih Mas, kalau aku yang bilang itu jangan percaya, bisa saja aku bohong." Alya tertawa.
Tak sengaja tangan Alya menyentuh pada sisi hitam, Alya dengan sengaja mengoleskan ke pipi Satria.
"Alya!"
"Biar tambah cakep."
Satria hendak mengejar Alya, tapi Satria urung melakukannya. Ketika melihat Aditya terus menatapnya dengan tatapan tajam.
"Awas di dalam nanti Alya," ancam Satria.
"Siapa takut," Alya menjulurkan lidahnya. Satria hanya bisa menggelengkan kepala.
"Al" Aditya dengan berani menggenggam jemari Alya yang sedang menata ikan di atas meja.
"Mas!"
"Jangan berteriak, kamu nggak mau Satria sedih dan lihat semuanya kan?"
"Kamu jangan kurang ajar, nyesel aku pernah percaya sama kamu." Alya benar-benar marah, dihempaskan tangan Aditya.
Aditya berdiri dan mendekati Alya, pura pura membantu. "Dek, kamu jadi galak gini sih, harus kamu ingat Alya, aku sampai kapanpun akan terus mencintai kamu, mungkin cintaku ini akan abadi selamanya."
"Cinta yang ada padamu itu cinta yang salah, Mas. Aku baru sadar kalau cinta sesungguhnya itu saat kita sudah menikah. Lupakan aku, dan mulailah mencintai Kinan. Anak kalian sebentar lagi akan lahir."
"Sampai kapan kau percaya wanita itu, apa yang dikatakan itu dusta Alya, dia adalah penipu."
"Kalau begitu, kamu dan dia sama dong. Penipu memang cocok dengan penipu."kata Alya, di bibirnya tersungging senyum merendahkan.
"Alya, kamu jangan menyakiti aku keterlaluan seperti ini. Aku tulus sama kamu, kapanpun kamu mau kembali padaku, aku tidak akan pernah menolak kehadiranmu. Aku tak perduli meski kamu dan Satria sudah pernah melakukan hubungan suami istri, yang aku tau kamu adalah wanita yang sangat aku cintai"
__ADS_1
"Kamu semakin gila, emangnya aku serendah itu Mas, lepas dari pelukan suami segera pindah ke kakaknya. Dan aku yakin Satria tidak seperti kamu, dia menjaga aku dengan baik dan memiliki cinta yang besar dan tulus." Alya tersenyum, lalu pergi usai menata ikan dan memberi saos sambal.
Satria mulai berkeringat karena sejak tadi terus membakar banyak ikan.
"Ngobrol apa sama Mas Adit." Tanya Satria begitu Alya mendekat.
"Emm dia cuma bilang kalau …." Alya tidak enak hati langsung mengadukan pada Satria.
"Masih sayang kamu?" Sergah Satria.
"i-iya."
"Terus kamu jawab apa."
"Ya itu nggak akan pernah mungkin, karena aku sekarang sayangnya sama kamu, Satria." Alya menggenggam jemari Satria ada perasaan takut kalau Satria malah meragukan perasaannya.
Satria diam saja, melanjutkan mengipas ikan terakhir malam ini. Sebenarnya bulan ini sudah merencanakan akan langsung ngontrak sebuah rumah sederhana. Tapi gaji pertama belum cukup. Satria harus mengambil cincin di pegadaian. Belum lagi hutangnya pada Sadewo yang sudah setinggi gunung. Hadiah untuk bunda, yang selama ini belum pernah dia bahagaiakan. Sisanya yang masih di ATM untuk Alya dan pegangan sampai gajian lagi. Belum lagi hadiah yang sudah dijanjikan untuk Alya tapi masih dirahasiakan bentuk dan rupanya itu.
"Alya, kamu harus lebih hati+hati dengan Mas Adit, berusaha bersikap baik karena bagaimanapun dia Kakak kita. Bulan depan kita cari kontrakan." Satria meminta maaf dalam hati dengan Alya.
"Iya Mas."
'Satria, kamu tidak tahu kalau aku justru sekarang takut sama Mas Aditya, bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang buruk padaku saat kau tak ada.' batin Alya.
Satria dan Alya sudah selesai membakar ikan terakhir, sepasang suami istri itu berjalan bersama menuju keberadaan Aditya. Aditya sudah selesai menata kursi di taman dengan posisi melingkari sebuah meja.
Keluarga berkumpul dan siap menyantap makan malam bersama.
Tempat duduk Alya tepat di depan Aditya. Alya mulai tak nyaman dengan tatapan Aditya yang dirasa berlebihan. Alya memilih menunduk dan fokus pada ikan di piringnya, sesekali menatap Satria dan tersenyum manja.
"Hati-hati makannya, ikannya durinya besar." kata Satria memberi perhatian.
"Aku udah gede, Mas. Masa harus diingetin," canda Alya, lalu mengambil daging gurami dan menyuapkan daging ikan ke mulut Satria.
Aditya pura-pura fokus makan, tapi rupanya dia memiliki sebuah ide lain. Aditya sengaja berulang kali menggesekkan kakinya dengan kaki Alya.
"Uhuk," Alya nyaris tersedak merasakan ada yang sengaja menggesek kakinya dengan lembut.
__ADS_1