
Dalam kegelapan Alya hanya bisa menangis.
Satria yang semakin kesal karena pengaruh Elisa yang mengatakan Elisa pulang dengan Aditya tentu semakin meradang. Dia tak ada niatan untuk menghubungi Alya.
Satria berulang kali memeriksa ponsel, berharap ada pesan untuk panggilan dari Alya. Namun harapan Satria sia-sia.
Hingga sore hari, tak ada tanda-tanda Alya menghubungi.
"Hai Sat, sejak tadi gelisah aja." Arka bisa melihat kegelisahan Satria.
"Iya nih Bang, istri gue nggak ada kabar sejak siang tadi. telepon kek, SMS kek, nih gak ada." Satria menunjukkan ponselnya yang tak ada panggilan dari siapapun kecuali, Arka dan pak Arya yang mengingatkan Satria untuk tak lupa datang ke kantor.
"Sabar, wanita kadang emang sudah dimengerti. Aku yang dua tahun sudah juga harus kandas, menjalin hubungan rupanya tak semudah yang dibayangkan."
Satria menganggukkan kepala, lalu mengeluarkan alat yang dibutuhkan untuk meneruskan membuat rancangan desain yang baru setengah jadi.
"Hebat Lu Sat, sehari semalam aja udah sampai tahap ini, dan hasilnya aku suka banget, ini nggak asal dan unik."
"Makasi, Bang, aku juga nggak ingin kecewakan kamu Bang." Mendapat pujian hati Satria sedikit tenang, setidaknya yang dia takutkan tidak terjadi, Semoga Bos Arya juga suka.
Tak lama Bos Arya datang, suara sepatunya terdengar ketika menuruni tangga.
Arya tepuk tangan ketika dia melihat hasil kerja keras Satria sehari semalam.
Kamu nggak tidur, hanya untuk kerjain ini semua pastinya? Benar-benar anak muda yang bisa diandalkan." Bos Arya juga bangga melihat Satria.
Lelaki seusia bapaknya itu sudah tak sabar ingin segera meminang Satria untuk jadi karyawan tetap di perusahaannya.
"Otak dia memang encer Bos, entahlah dulu ibunya ngidam apa bisa lahir si jenius kayak dia."
"Wah dapat pujian bertubi, bisa-bisa nanti aku terbang ke langit dan nggak balik lagi Bang. Tolong jangan puji aku dengan kalimat-kalimat yang bisa membuat aku terlena dan besar kepala seperti itu."
"Kami bicara fakta Satria, baiklah lanjutkan kerja kamu, satu bulan waktu yang aku berikan, ini pasti selesai dalam seminggu. Jika kamu kerjanya gercep begini."
"Semoga Bos." Satria terus mengamati hasil kerjanya dengan tubuh membungkuk dan telapak tangan bertumpu pada meja.
Sedangkan Arka dan Bos Arya melipat tangannya di dada, dengan wajah puas.
***
Alya terus saja meronta namun tak ada hasil hingga tenaganya nyaris habis. hingga dia akhirnya memiliki ide dengan menggesekkan tali terus menerus pada kayu yang memiliki permukaan kasar.
Alya akhirnya bisa terlepas, dia segera menggedor pintu hingga suaranya mengejutkan tukang kantin yang baru tutup.
__ADS_1
" Neng Alya, ngapain di gudang, aduh badannya kotor semua kan? cantik-cantik kok suka main di gudang."
Alya yang sudah menahan tangis tak bisa menjawab pertanyaan Bapak kantin dengan benar, dia mampu mengucapkan terima kasih dengan terbata. Jika ada yang mau dia bisa mengadukan perbuatan Elisa pada dosen ataupun siapapun. Tapi sayangnya Alya masih memikirkan wanita yang menjadi sahabat suaminya itu.
"A-aku tadi terkunci, terimakasih sudah mendengar teriakan saya." Alya segera pergi dengan hati sedih.
Ketika hari nyaris malam Alya segera menghubungi Satria.
Kebetulan Satria juga sudah siap-siap untuk pulang.
"Mas jemput aku." Kata Alya dengan suaranya yang parau.
"Kamu dimana Alya? kenapa seharian ini nggak hubungi aku." Satria tak selembut biasanya.
"Mas, jemput aku saja di depan kampus."
Mendengar Alya menyebut kampus, Satria segera bergegas keluar perusahaan dan mengemudikan motornya dengan kencang.
Tiba di depan kampus, Satria mendapati istrinya sedang duduk sendiri dengan wajah lesu.
"Alya apa yang terjadi?"
"Mas." Alya berlari menghambur di pelukan Satria.
"Apa yang terjadi?" ulang Satria. Kenapa kamu masih disini sampai saat ini?" Satria yang tadi sempat berprasangka buruk kini merasa bersalah.
"Aku terkunci di gudang Mas."
"Siapa yang melakukannya."
"Aku terkunci Mas, aku tidak tahu siapa yang melakukannya." Alya masih ragu mengatakan yang sesungguhnya pada Satria.
Alya takut semuanya akan mempengaruhi hubungan Satria dengan Arka, Alya ingin Satria bekerja dan bisa segera mandiri, Seatap dengan mantan juga hal yang sangat mengerikan.
Alya takut jika tak ada Satria Aditya akan nekat.
"Mas, gimana kerjanya?"
"Untuk saat ini Pak Arya sangat puas, Lagi-lagi Mas Arka yang bantu aku. Dia sudah seperti Kakak Al. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikannya, berterimakasih saja rasanya tak ada artinya," kata Satria sambil mengurai pelukannya.
"Kita makan yuk, kamu pasti lapar." Satria menggandeng tubuh Alya.
Alya mengangguk sambil tersenyum memamerkan pipi chubby nya.
__ADS_1
Alya dan Satria segera menuju sebuah kedai, yang kebetulan juga jual aneka lalapan. kedai yang sudah biasa Satria kunjungi bersama teman-temannya.
"Al kamu mau makan pake ikan apa?" tanya Satria pada Alya
"Sama kayak kamu aja Mas," jawab Alya.
Satria lalu mendekati Abang penjual.
"Bang, tolong teh hangat dua sama penyet lele dua."
"Oh iya Mas, Eh kamu Sat, tumben lama nggak kesini, pacar baru lagi." Abang penjual nampak senang ternyata Satria yang datang.
"Iya, pacar halal, Bang." Satria menatap Alya, takut wanitanya akan berfikir macam-macam.
Alya yang mendengarnya agak terkejut mengetahui Satria sering kesini dengan seorang wanita. Sebisa mungkin Alya berusaha untuk tenang, atau bahkan pura-pura tak mendengar.
"Cantik banget Sat, Abang suka yang ini kalem, makanya kamu tinggalin pacar kamu yang lama dan langsung halalin cewek yang ini."
"Abang bahas apaan sih, Nggak enak di dengar sama orangnya. Gue tunggu disana ya, Bang." Lelaki pemilik bentuk tubuh idaman wanita itu bergabung dengan istrinya.
"Iya Sat, tunggu bentar ya, nggak lama kok."
Satria lalu duduk di depan Alya, sama-sama menghadap meja panjang yang menjadi jarak pemisah berdua. kebetulan kedai yang mereka kunjungi modelnya lesehan.
Wajah Alya terlihat di tekuk, Alya juga lebih sering menunduk dan melihat ponselnya.
"Hai, kok diem aja, nggak ada yang pengen diomongin?"
Satria tahu Alya pasti sedang memikirkan soal omongan Abang pemilik kedai tadi.
"Nggak kok, Aku lapar Mas." Alya mengelus perutnya. Mengalihkan pembicaraan Satria.
"Tunggu bentar ya, itu abangnya dah selesai." Satria menoleh ke arah lelaki yang membawa dua piring dan dua cobek sekaligus. lalu kembali mengambil dua teh hangat.
Satria langsung membersihkan tangannya di air kran yang disediakan, Satria suka menyantap makanan langsung pakai tangan.
Sedangkan Alya memilih makan memakai sendok.
Kalau makan lalapan itu enak langsung pake tangan aja. kayak gini, Satria mulai mencubit cubit daging lele goreng dan mencocol ke sambel.
"Pasti jarang ya, sama mas Adit ke tempat kek ginian, kalau aku sering banget, murah dan dapat nikmatnya."
Alya hanya tersenyum, berusaha memotong daging lele pake sendok. "Tapi tempat kayak gini juga enak kok, suasana kayak di pantai."
__ADS_1
Kebetulan kedai ini dikelilingi kolam ikan yang dibuat berpetak-petak dengan jenis ikan yang berbeda.
"Mas Adit mana mau makan di tempat beginian, pasti sukanya restaurant mewah."