Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Disini kita bertemu


__ADS_3

"Kita pulang sekarang saja Al!" Satria kali ini sepertinya benar-benar marah, ingin sekali meluapkan kekesalannya pada Aditya, tapi Satria sadar, laki-laki di depannya itu bukanlah musuh, dia adalah kakak yang harus dia hormati. 


Lelaki memakai jas hitam dan kemeja garis putih yang tampak tampan dan berwibawa itu mendekati Alya.


"Dek, kamu masih ingat dengan janji yang pernah kamu ucapkan padaku kan? Dalam keadaan apapun kamu tidak akan meninggalkan aku, kamu bilang hanya kematian yang mampu memisahkan kita."


"Dek, aku butuh kamu sebagai kekuatanku saat ini, tolong bantu aku disaat aku rapuh."


"Tapi kamu selingkuh Mas?" Alya menatap Aditya dengan mata berkaca.


Sedangkan Aditya meraih dua lengan Alya dan menyatukan, Aditya menggenggam dengan erat supaya Alya yakin dan percaya dengan ucapannya jika dia tidak berbohong. 


"Dek, aku tidak pernah cinta sama Kinan, dia menjebak ku, dia ingin menikah denganku dan menghalalkan segala cara."


"Laki-laki macam apa Mas, kamu sudah menghamili anak orang dan sekarang kau merasa di jebak." Satria tidak mau Alya terkena bujuk rayu kakaknya yang ke dua kali.  


"Dek, dimalam itu aku sedang mabuk. Aku tidak ingat apa-apa, pantaskah orang yang tidak ingat apa-apa itu disalahkan."


Alya mulai bimbang, jika benar Aditya dijebak, jelas saja lelaki itu tidak bersalah, dia tidak pantas mendapat kebencian darinya. 


"Jika Mas Adit memang dijebak, Alya akan maafkan kamu Mas. Tapi kamu harus tahu, semua tak akan pernah sama seperti dulu lagi. Aku dan Satria adalah suami istri. Dia nahkoda dalam perahu yang kami berdua tumpangi saat inj."


"Ya, aku mengerti Dek, tapi kamu harus tahu, apakah kamu yakin dia akan menjadi imam yang terbaik untukmu?" Aditya terus membuat Alya meragukan ketulusan Satria. 


"Dan asal kamu tahu Dek, diluaran sana, bisa saja dia juga punya gebetan, bukan sekali dua kali ada wanita datang ke rumah mencarinya. 


"Mas, kamu sejak kapan jadi gila seperti ini. Jika aku memiliki wanita lain, tidak mungkin aku menikahi Alya."


"Halah, dia bohong dik, nanti kamu pasti akan tahu."


Satria menggelengkan kepala, tak percaya kakaknya jadi berubah drastis dan sekarang beralih profesi menjadi pengarang cerita handal. Hingga saat ini mampu membuat Alya bimbang. 


Alya jelas saja bimbang, jika Aditya yang selama ini dia kenal saja bisa berbohong apalagi dengan Satria yang baru saja kenal dan akrae


"Alya berlari mengambil barang barangnya di dalam Cottage. Lalu dia keluar dari area pantai dan menghentikan angkot. 

__ADS_1


Sedangkan Aditya ingin mengejar Alya tapi Satria menghalangi. "Mas Aditya boleh berusaha memisahkan Alya dan aku, tapi asal Mas Aditya tahu. Aku tak akan pernah melepaskan dia, Salah kamu Mas, memberi kesempatan padaku untuk menikahinya, Tantang Satria


"Dasar adik kurang ajar!  Tak tahu diri kamu. Nyesel aku punya adik seperti kamu." Aditya kembali melayangkan bogem mentahnya di rahang Satria.


Satria jatuh tersungkur, sedangkan Aditya masih terus menghajar adiknya, hingga kehebohan yang dilakukan kedua saudara kandung itu membuat penghuni Cottage yang sedang bermalas malasan terpaksa keluar. 


"Heh gila. Masih pagi dah bikin keributan." penghuni Cottage berkomentar. 


"Iya nih Abang-Abang ganteng ngapain ribut pagi-pagi?" Salah seorang  ikut menimpali.


"Rebutan cewek kali dia, hah dimana mana soal wanita pasti akan berekor panjang."


"Ceweknya mana sih? Secantik apa dia, jadi penasaran, Harusnya kalau cowoknya berantem datang, lalu dipisahin dong cowoknya.


"Ya elah, entar kayak sinetron." Wanita penjual baju renang wanita dan pria ikut bicara. 


Sadar, Alya tak ada lagi disini, Aditya mengusap telapak tangan dan bajunya yang terkena pasir putih. 


Sedangkan Satria terluka lumayan parah, dia bingung harus meminta tolong pada siapa, tak ada satupun orang yang dikenal di Cottage ini. 


-


-


Aditya segera mengejar Alya, yang sedang berlari di menyusuri trotoar sambil membawa tas slempang, menenteng sepatu, serta baju. Penampilan yang hancur-sehancurnya.


Alya tak bisa berfikir jernih, yang jelas dia tidak mau jadi bahan rebutan seperti barang. Aditya atau Satria kini bukanlah tempat yang paling nyaman untuk Alya menyandarkan kepala saat ini.


_


_


"Alya masuk." Aditya mengemudikan mobilnya pelan, mengimbangi langkah Alya. 


"Alya, masuk aku bilang!!" Kali ini Aditya lebih keras dalam berbicara. Dia tidak suka Alya mengacuhkannya. 

__ADS_1


Aditya menambah kecepatan mobilnya dan berhenti lumayan jauh di depan Alya.


Laki-laki itu segera turun dari mobil dan menghadang langkah wanita yang menjadi mantan kekasihnya


Tanpa sepatah kata, Aditya menarik tangan Alya dan membawanya masuk ke mobil. 


Alya hanya bisa menangis sesenggukan, tak ada penolakan saat dirinya di bawa ke mobil. 


Aditya segera membawa Alya ke sebuah tempat, dimana dulu dia pernah berjanji satu sama lain, Di Atas bukit yang dibawahnya terdapat hamparan kebun teh yang sangat luas ada sebuah batu besar yang bisa digunakan duduk, muat untuk banyak orang, disitu dulu Aditya mengutarakan cintanya pada Alya, yang waktu itu dia baru merintis usahanya.


Alya yang memang jatuh cinta pada pandangan pertama yaitu Kakak Alumninya itu, tentu sangat bahagia. Semua waktu itu seperti mimpi. 


Tanpa ada keraguan Alya menerima cinta Aditya, dan mempertahankan hubungan hingga lelaki itu benar-benar menjadi lelaki yang mandiri dan siap menjadi perisai yang kokoh untuk dirinya. Bermimpi mengarungi bahtera hingga ke pelabuhan terakhir.


Sampai di tempat yang amat sakral untuk berdua Alya dan Aditya diam terpaku dengan posisi tubuh bersandar di batu besar. 


Keheningan menyelimuti berdua, hingga matahari terus merangkak naik, udara yang tadi sejuk nan bersahabat,  kini mulai menunjukkan keganasan. Mulai tak memihak siapapun. 


" Dek, aku mohon padamu, jauhi Satria."


"Tapi dia suamiku, Mas." 


"Iya, setidaknya beri aku waktu untuk membuktikan padamu kalau aku bukan pemilik kesalahan ini." 


Aditya merubah posisi berdirinya, dia kini ada tepat di depan Alya memegang dua bahunya. Sesaat Aditya berusaha memejamkan mata dan menetralkan detak jantung yang tak beraturan. 


"Aku mohon Alya," pinta Satria dengan wajah iba. 


"Baiklah, aku akan menunggu sampai semua terang." Jawab Alya tak punya pilihan. 


"Jangan lakukan hal satu itu dengannya Dek, jaga kesucianmu untukku."


Alya mengangguk. " Semoga aku tak sedang salah menanti. Ini kesempatan terakhir untukmu Mas."


Aditya lega, dia mengusap rambut Alya yang selalu harum, saat ingin mendaratkan satu kecupan, Alya segera menghindar.

__ADS_1


Aditya mengerti kenapa Alya bersikap demikian. Alya pasti masih hancur, mengingat kado ulang tahun dari dirinya adalah hadiah paling menyakitkan, dan terburuk sepanjang sejarah kisah asmaranya.


__ADS_2