
"Kalau gitu nggak usah, sini biar aku makan sendiri."
"Aku bantuin." Satria menyendok nasi dan mengulurkan tepat di depan mulut Alya.
Sebelum membuka mulutnya Alya menatap Satria sebentar. Rasanya sedikit aneh, disuapin lelaki yang seharusnya jadi adik ipar, Alya masih belum terbiasa manja.
"Buka yang lebar, nggak usah malu, sama suami sendiri"
Alya mengunyah makanan yang terasa hambar di lidahnya. Lalu meminta Satria supaya mengakhiri suapannya saja.
"Sudah Sat, Aku sudah kenyang."
"Sedikit lagi."
"Nggak perlu, aku sudah kenyang, bener."
"Ya sudah," Dengan berat hati Satria mengakhiri suapannya.
Satria lalu keluar sebentar, dia mencoba menghubungi bos di tempatnya bekerja.
Bos, boleh nggak aku absen sehari lagi.'
"Apa!! Dengar ya, gue ini cari karyawan untuk bekerja, bukan setiap hari hanya lapor absen melulu. jika nggak niat kerja mending kamu keluar aja, masih banyak kok karyawan lain yang bisa bekerja lebih baik darimu.
" Bos, tapi istriku sekarang lagi sakit."
"Kemaren bilang mau nyenengin istri sehari saja, sekarang mau absen alasan istri sakit, besok apalagi hah? udah nggak apa-apa, tunggu aja istri kamu yang sakit sampe sembuh, dan besok nggak usah kesini lagi."
Tut!
Ponsel dimatikan sepihak.
Satria hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam meski terasa sesak.
"Menikah sebelum bekerja apakah memang seberat ini, gimana aku kembalikan uang Dewo kalau aku dipecat. Secepatnya aku harus cari kerja lain kayaknya."
Kepala Satria tiba-tiba terasa berkedut nyeri, dia tak bisa berfikir jernih disaat lelah seperti saat ini, dia sandarkan kepalanya di sandaran bangku yang di duduki, sambil mengurut urut pelipisnya.
"Satria!"
"Umi! Abi!" Satria terkejut, darimana keluarga Alya tahu, sedangkan dia juga belum lama disini.
"Satria! bagaimana bisa kamu ceroboh menjaga Alya, jika kalian main di tebing, harusnya hati-hati. Lagipula kenapa harus jalan-jalan ke tempat berbahaya begitu, sekarang Alya celaka."
"Maafkan Satria, Umi, Abi. Satria tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."
__ADS_1
"Untung tadi Adrian segera hubungi kami, kalau tidak, pasti kami tidak tahu kabar apa-apa."
Satria hanya menundukkan kepala bersalah, tanpa berani menatap wajah kedua mertuanya.
Karena hasutan Aditya mereka jadi berprasangka buruk. Satria juga tak percaya kalau kakaknya telah membalikkan fakta sebenarnya dengan mudah.
"Umi, Abi. kita lihat kondisi Alya dulu ya, Alya pasti akan sangat senang tahu Abi dan Umi datang."
"Baiklah."
Satria mengantarkan kedua mertuanya ke ruang bugenvil kelas satu, dimana Alya dirawat.
Tahu orang tuanya datang Alya segera merentangkan ke dua tangannya. "Umi! Abi!"
Alya dipeluk oleh dua orang tuanya.
"Alya, Kok bisa sampai jatuh Nak. kamu ini cerobohnya"
"Bisa aja Umi, Abi wong namanya musibah." Alya melerai pelukan kedua orang tuanya.
Satria merasa mertuanya tak se ramah dulu saat pertama kali dia datang ke rumahnya. Rupanya hasutan Aditya luar biasa pengaruhnya.
"Alya luka kamu lumayan banyak, Nak. sebenarnya kalian berdua ini main di tebing mana sampai jatuh, sebagai suami harusnya Satria ini bisa dong mengajak ke tempat yang lebih baik dari tebing. Masa pengantin baru mainnya ke tempat bahaya.
"Umi, Abi, ini bukan salah Satria, tapi ini salah Alya sendiri."
Satria menggenggam jemari Alya, "Sudahlah, nggak usah dijelaskan, bisik Satria sambil membelai rambut Alya.
*
*
*
Tiga hari di rumah sakit, Alya sudah diizinkan pulang.
Karena tidak memiliki kartu miskin, terpaksa Satria kembali meminjam uang pada Sadewo.
Satria meminta Sadewo datang ke kedai kopi sambil membawa sejumlah uang yang dibutuhkan.
Sebagai sahabat yang baik, Sadewo tidak keberatan membantu selagi dia ada.
"Sat, tumben sih, pinjem uang banyak, bukannya gue nggak mau minjemin, tapi pengen tahu aja."
"Ada kebutuhan tak terduga, sudah tenang aja, pas ada langsung aku balikin."
__ADS_1
"Santai saja Bro, sebenarnya uang gue itu untuk modal kawin, berhubung calonnya belum ada, Lo pake aja dulu."
"Siip, terimakasih. Kalau gitu aku nggak buru-buru nie balikinnya, tunggu aku kerja lagi ya, aku baru dipecat."
"Santai bro. Pake aja dulu."
Satria kembali meminjam uang pada Sadewo sebesar tiga juta. Satria berjanji setelah ini dia akan bekerja serius. Dalam hati terus berdo'a semoga segera mendapat pekerjaan baru.
Sadewo yang kini makin sukses dengan pekerjaan barunya dia sudah mampu membeli mobil baru, dan tabungan yang lumayan banyak.
Lelaki itu sebenarnya sudah lama jatuh cinta dengan seorang gadis. Hanya saja Sadewo belum berani mengungkapkannya.
"Ya udah, makasi banyak ya Dewo, gue langsung balik. Soalnya sudah ditunggu."
"Ya, nggak apa-apa kamu duluan aja, soalnya aku juga lagi santai hari ini."
Satria segera pergi dengan menaiki sepeda besarnya menuju Rumah sakit.
Sampai disana kedatangannya sudah ditunggu oleh semua orang.
Umi, Abi, Ayah dan Bunda, termasuk Aditya.
"Darimana Sat, Kita semua nunggu kamu, Alya sudah boleh pulang sekarang," kata Bunda.
Aditya memasang wajah mengejek pada Satria. Satria sudah tahu apa maksudnya.
"Oh, iya Sat, kalau kamu belum ada uang, biar pake uangku aja untuk biaya berobat Alya." Aditya mengambil kartu ATM dari sakunya dan menyodorkan pada Satria di depan semua orang.
"Adit, kamu nggak usah repot, Umi dan Abi juga bawa uang kontan kok," ujar Umi.
Umi dan Abi tak mau melibatkan Aditya yang bukan siapa-siapanya lagi. meski dulu sudah berharap banget jadi menantu, nyatanya Aditya sudah melukai hati semua orang.
"Iya, Dit. Ayah dan Bunda tadi juga bawa kok. Bunda yakin ini jumlahnya pasti cukup."
"Ya sudah kalau gitu," Aditya memasukkan kembali benda persegi panjang nan pipih itu ke saku.
Satria hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan kakaknya yang berubah seratus delapan puluh derajat itu. Dulu kakaknya tak pernah suka cari muka, dulu dia juga sangat sayang dengan dirinya, tapi sosok yang dewasa dan penuh wibawa itu hilang, Satria sudah tak menemukan sosok kakak seperti yang dulu lagi.
"Maaf semuanya, terimakasih kalian sudah menawarkan bantuan, Terutama Umi, Abi, Ayah, Bunda. Tapi Satria kebetulan ada tabungan kok, masih cukup untuk biaya rumah sakit Alya selama tiga hari ini."
"Satria pasti sungkan, Umi, Abi. Dapat uang dari mana coba? uang saku aja masih minta orang tua."
"Cukup Mas! Hargai usahaku sedikit kenapa? aku ini sudah mulai kerja!" Satria mulai tak bisa mengontrol emosi.
Aditya diam, dia tak mau tersulut emosi seperti Satria. Sungguh sikap kekanakan seperti itu bisa menurunkan imagenya didepan semua orang.
__ADS_1
Bunda merengkuh pundak putranya dan membawanya pergi sebelum suasana makin memanas. "Bunda tahu putra bunda ini hebat dan bertanggung jawab, sekarang kamu ke ruang Administrasi sana, biar selang infus Alya segera dilepas."