Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Pingsan


__ADS_3

Ketika Alya selesai mandi, Satria meminta wanitanya bersantai dan menunggunya di sofa


Dari pada diam tak ada yang dikerjakan, Alya membuka beberapa tugas kampus dan mulai mengerjakannya.  


Sambil membuatkan teh di bagian sudut  lain, Satria diam-diam terus memandangi wajah wanita di depannya. 


'Alya, ternyata Tuhan selama ini mendengarkan do'a do'aku. Aku yang mencintaimu dalam diam, dan akhirnya aku bisa memilikimu tanpa harus merebut dari Kak Adit. Tuhan sendiri yang kirimkan kamu untukku. Bagaimana bisa Kak Aditya melakukan kebodohan itu, seharusnya dia hati-hati dan tak menghamili wanita bernama Kinan itu. 


"Satria, dingin banget, jadi nggak bikin tehnya, kok malah melamun." celetuk Alya sambil menoleh pada lelaki yang terus memandanginya dari kejauhan.


"Iya, Al. Sabar. Airnya baru aja mendidih. Takutnya kamu habis minum teh buatanku malah kembung."


Satria tersenyum memandang Alya. Alya menatapnya sekilas dan juga tersenyum, lalu wanita itu fokus lagi dengan buku-buku di depannya.


Dilihat Alya sambil tersenyum saja sudah membuat jantung Satria salah tingkah. Jiwa playboy Satria mendadak jadi sirna semenjak kenal dengan calon kakak iparnya itu. Wanita manapun seolah tak ada yang menarik dimatanya.


Sebelum menikah Satria sudah berulang kali mencoba melupakan Alya dan mencoba melabuhkan hati dengan dua gadis, wanita itu tak lain adalah Rosa dan Elisa dua duanya anak kaum berada, Tapi nyatanya dua gadis cantik di kampus itu tak mampu membuat dirinya melupakan calon kakak iparnya. 


 Rosa dan Elisa sama sekali tak mampu membuat hati Satria bergetar dan berpaling dari Alya, akhirnya hubungan mereka hanya sebatas teman dekat saja. 


Setelah air mendidih Satria segera menyeduh teh kedalam teko dan mengambil dua gelas yang tersedia. 


Satria segera menyerahkan teh di depan Alya, lalu dia duduk di sebelahnya. 


"Serius amat, bisa nggak!"


Satria menggeser duduknya semakin mendekat. 


"Masih mencoba, mau ajarin aku?"


"Boleh. Sini deketin ke aku bukunya."


Alya menggeser bukunya ke depan Satria. Satria menerimanya dan mulai memperhatikan pelajaran yang sedang dikerjakan Alya. 


Alya, Deket sini aku mau jelasin, kalau yang nomor satu sampai lima sudah benar, cuma yang nomor enam masih salah."


Satria menarik lengan Alya supaya lebih dekat lagi. "Aku bisa jelasin yang salah ini, tapi kalau kamu jauh begini, nanti nggak ngerti-ngerti." Satria menepuk pahanya.


"Jangan modus Satria, ini aku sudah dekat banget sama kamu. Baiklah aku relakan aja nomor enam salah. Aku nggak mau diajarin sama lelaki mesum kayak kamu."


"Alya, kamu jangan bandel."


"Jika kamu memaksa, aku pulang," ancam Alya.

__ADS_1


"Baiklah aku minta maaf, perhatikan baik baik, biar aku ajarin caranya." Satria mulai menjelaskan secara rinci rumus-rumus yang dipakai untuk menyelesaikan soal matematika ynag tengah dihadapi Alya.


Alya terus memperhatikan bibir Satria yang terus bergerak di depannya. Bentuk bibir yang mirip sekali dengan Aditya, hanya saja milik Satria sedikit lebih tipis.


Moment seperti ini kembali mengingatkan Aditya yang dulu selalu membantunya. 


Bahkan Aditya pernah mengajarinya sambil memangku tubuh indahnya saat dia datang ke kantor tempat kekasihnya dulu bekerja. 


Alya sering menghadiahi Aditya sebuah sebuah kecupan jika dia mendapat nilai yang sempurna. 


"Alya sudah mengerti belum." Satria merengkuh pinggang Alya membuat tubuh mereka tak berjarak lagi. Satria dengan lancang mengecup pipi Alya.


"Satria, sudah cukup, aku sekarang sudah mengerti!" ujar Alya yang tiba tiba dia mendadak grogi dan ingin sendiri. 


"Kamu serius sudah mengerti."


"Iya, aku kerjakan nanti saja. Aku ingin sendiri Satria. Biarkan aku keluar sebentar."


"Alya! Aku ikut! "


"Jangan Sat, aku akan segera kembali."


"Baiklah, pakai jaketnya." laki-laki itu menyodorkan baju hangatnya, masih tak mengerti Alya tiba-tiba berubah.


Alya mengambil jacket pemberian Satria, dia membawa tapi tak kunjung memakainya.


Satria mengintip Alya dari jendela cottage, Satria melihat bahu alya terguncang karena menahan tangisnya.  Wanita yang dulu dia kagumi karena selalu ceria dan tersenyum  itu menangis sambil menyandarkan kepalanya di batang kelapa.


'Alya, aku tak menyangka jika keputusanku akan seperti ini, jika aku tahu pernikahan ini hanya membuatmu semakin menderita mungkin aku tak akan memutuskan untuk menikahimu. ini salahku.'


Satria hanya terus melihat sambil menyibak tirai jendela, dia tak berani mendekati Alya. 


Satria sebenarnya panik melihat Alya yang mulai kedinginan, gerimis juga mulai membasahi bumi, makin lama gerimis berubah menjadi hujan deras.


Lama sekali alya menangis hingga kepalanya kembali pusing, semenjak pernikahan itu batal, Alya mudah sekali sakit kepala, Alya juga belum sempat memeriksakan diri ke dokter.  


Satu jam berlalu tak ada yang bergeming dari tempat masing masing. Satria melihat tubuh Alya limbung di bawah pohon yang ia jadikan sandaran tadi. 


Satria segera berlari dan membopongnya. Dia tak peduli dengan tubuh Alya yang basah. Satria segera membaringkan di ranjang satu satunya yang ada di cottage itu.


"Alya! Kenapa kau harus menyiksa diri seperti ini!"


Baiklah, jika aku memang tak pernah layak untukmu, aku akan pergi Alya, aku akan pergi dan lakukan sesukamu." Satria kesal dengan sikap Alya yang tidak terbuka dengannya. Satria juga kesal Alya tak ada niat sedikitpun belajar menerima dirinya. 

__ADS_1


Airmata Alya semakin deras. Dia tahu Satria marah, usahanya beberapa hari ini untuk mendapatkan perhatiannya memang tak tanggung lagi. Dia rela harus bekerja usai kuliah. Dia rela menjatuhkan harga diri didepannya demi bisa dilihatnya sebagai suami yang tanggung jawab. 


Satria hendak beranjak mengambil handuk, tapi Alya menahan lengan kokoh yang terdapat arloji besar itu. 


"Mau kemana Sat."


Satria diam. Memandang Alya sebentar lalu memalingkan wajah lagi. 


"Aku minta maaf." kata Alya lagi dengan bibir bergetar. Pucat. 


"Tidak ada yang salah. Aku satu satunya yang salah." Satria melepaskan tangan Alya dari lengannya menggunakan tangan satunya.  


Alya mendesah, merasa bersalah.


Tapi bagaimanapun yang dilakukan selama ini apa adanya, dia tidak mau pura pura mencintai, pura-pura senang, dan selalu terlihat bahagia jika kenyataannya memang rasa itu tidak ada.


"Kita pulang, aku tidak mau menahanmu lebih lama disini. Aku akan hubungi Kak Aditya dia sampai sekarang belum berhenti mencarimu." Kalimat Satria terdengar dingin. Sorot matanya juga kosong. Satria pasti bingung langkah apa yang akan diambil kedepannya.


"Kenapa harus Mas Aditya."


"Dia ada mobil, jika kamu naik motor aku yang khawatir."


"Tapi aku tidak mau satu mobil dengan dia."


"Kenapa Al? Nggak usah sungkan sama aku, bukannya kamu sedang ...."


"Pokoknya aku tidak mau, aku akan menginap disini."


Satria membuatkan teh lagi setelah menyerahkan handuk pada Alya. Stok baju Alya sudah tidak ada, tadi Aditya sudah membelikan baju ganti satu stel untuk dipakai malam hari, sekarang uangnya sudah tak ada lagi. 


Seratus ribu tak mungkin cukup untuk sarapan besok pagi dan beli satu stel baju. 


Alya kamu pake baju ini dulu, lagian hujan makin deras dan malam semakin larut, aku tidak tahu dimana masih ada toko yang buka.


Satria menyodorkan celana pendek dan kaos yang pasti akan kedodoran saat dipakai. Dan dalaman yang dia kenakan juga basah, tidak mungkin Alya harus memakai dalaman basah, pasti akan percuma ganti baju, sedangkan yang satunya masih kotor. 


"Pakai aja, nggak apa-apa, aku bisa pakai baju ini aja" Satria melihat bajunya masih bersih.


Alya menurut, dia berjalan hati-hati  ke kamar mandi dan segera ganti baju. Kaos putih yang sedikit transparan, dipakai tanpa dalaman, belum lagi bagian bawahnya hanya mengenakan celana dengan panjang selutut.


Satria Melihat Alya keluar kamar mandi, dia terlihat berjalan sambil sedikit membungkuk. Alya takut Satria akan melihat dua miliknya yang makin terlihat lancip karena tidak berpengaman. 


Satria bukan laki-laki yang lugu-lugu sangat, matanya tetap saja mencuri pandang ke bagian sensitif itu. Saat melihat keindahan milik istrinya, tiba-tiba darah Satria berdesir. 

__ADS_1


"Satria aku akan tidur di ranjang." ucap Alya kemudian.


"Ya, tidurlah, nanti aku di sofa saja," jawab Satria sambil berusaha menenangkan jantungnya yang mulai tak bisa kompromi.


__ADS_2