
"Sebenarnya apa sih yang dikasih umi mertua. Masa sejak tadi bikin keringetan dan dia terus menegang begini. jadi seperti orang hiper gini." Satria sejak tadi gelisah karena bazooka nya tak mau tenang.
Satria menghubungi Alya berulang kali tapi tak kunjung mendapat jawaban. "Mungkin Alya sedang istirahat batin Satria. Satria akhirnya memilih kembali memeriksa berkas di meja yang ada di depannya.
Alya tidak tahu Satria menghubunginya, dia sore ini sedang memasak di dapur bersama bibi.
"Bi, Rumah kok sepi, kemana semua orang?"
"Em, Nyonya dan Tuan lagi cek kesehatan, Kalau Non Kinan lagi mengunjungi keluarganya."
"Em, pantesan sepi."
"Nona Alya mau masak apa?"
"Pengennya mau masak kesukaan Satria Bi. tapi aku belum tahu kesukaan dia apa aja, selain rendang. kalau rendang aku belum bisa Bi, bumbunya banyak dan lama."
"Den Satria itu sukanya makan pake sambal, apa aja pokoknya."
"Oh, jadi Satria suka sejenis ikan dan lalapan gitu ya, Bi?"
"Iya kesukaannya itu, Lele goreng, gurami goreng, penyet tempe, itik goreng, pokoknya yang enak disantap pake sambal plus lalapan.
"Emhh, pantesan kemaren dia ngajak ke lesehan Mang Aryo. tapi disana sambalnya enak bsnget."
"Bi, tau nggak siapa saja yang sering kesini? maksudku cewek yang diajak Satria kesini?"
"Nona, mau tau aja ih, entar bibi kalau cerita dimarahi Den Satria."
"Enggak Bi, Nanti aku akan jaga rahasia, masa aku harus cerita ke Satria. Sama aja bikin malu diri sendiri donk"
"Enggak Ah, nanti Non cemburu, ujungnya tanya ke Den Satria."
"Ayolah Bi, cerita."
"Tapi janji ya, nggak cemburu."
"Enggak."
"Enggak marah?" tanya bibi lagi.
" Enggak. Bi, ayo cerita," rengek Alya.
Kalau cewek yang kesini itu banyak, tapi enggak tau apa hubungannya dengan Den Satria, entah itu teman, atau lebih, yang jelas ada satu cewek yang sering banget kesini dan Den satria itu senang banget kalau dia datang.
"Mereka suka di taman belakang itu, sambil duduk mengamati kebun teh."
"Apakah wanita itu namanya Elisa?"
__ADS_1
"Bukan."
"Siapa Bi."
"Sudahlah Non, kenapa juga membahas mantan Den Satria, yang penting sekarang dia sayang sama Non Elisa. Gadis itu juga sudah nggak kesini lagi."
"Rosa ya, Bi. jadi benar, Satria dan Rosa pernah saling suka. Tapi demi Elisa mereka tidak menjalin hubungan yang serius, atau jangan jangan Satria tidak mau Rosa disakiti Elisa, apakah secinta itu Satria dengan Rosa sampai sampai ...." Alya mulai menerka.
"Eh Non, gosong." ujar Bibi yang tak mau Alya kepikiran soal mantan Satria.
"Aaaa, bahan sambelnya godong." Alya kecewa melihat bahan sambal sudah berwarna coklat.
"Tuh, Bibi bilang apa, Nona jadi kepikiran, jadi cemburu, padahal apa yang Nona pikirkan dan bibi lihat belum tentu benar."
"Nggak Kok, Bi. kehadiran Alya memang terlalu tiba-tiba di kehidupan Satria, kalau begini, Alya bisa tahu kalau Satria itu sudah banyak berkorban, sampai-sampai dia harus mengubur kisah masalalunya.
"Syukurlah kalau Non tidak cemburu, Kalau Den Aditya yang tidak pernah bibi sangka, kenapa tiba-tiba bisa hamil dengan wanita lain, padahal selama ini yang saya tahu pacarannya cuma sama Non Alya."
"Itulah Bi, manusia cuma bisa berencana, semuanya kembali pada ketentuan Allah. Cinta Mas Aditya yang sangat besar, membuat aku merasa seperti wanita yang dicintai satu-satunya, nyatanya aku salah."
"Tapi dia selama ini memang tak pernah berbicara tentang wanita lain pada Nyonya dan Tuan. Sepertinya hamilnya Non kinan memang kecelakaan, atau Non Kinan sengaja menjebak."
"Bi, jangan su'uzon. Yang penting Aditya pernah berbuat, meski sekali, tetap saja harus bertanggung jawab."
"Aku sendiri nggak pernah nyangka Bi, selama empat tahun ini dia selalu baik, romantis, dewasa, tak ada sisi buruk yang diperlihatkan, tapi ternyata lama dipertemukan, tak menjamin aku untuk tahu sifat aslinya.
Dua orang dikejutkan dengan sosok jangkung dan tampan yang sudah bersandar di pintu dapur dan melipat tangannya di dada.
Aroma parfumnya tetap wangi meski seharian bekerja.
"Eh, Den Satria." Bibi menoleh lebih dulu. Bibi segera memberi isyarat dengan menyenggol lengan Alya supaya segera mendekati suaminya yang baru pulang.
"Mas, sudah pulang! kok nggak dengar suara motornya."
"Gimana dengar, kalian berdua asyik ngobrolin mantan."
Satria langsung balik badan, obrolan yang dia dengar tentang Aditya membuat Satria cemburu. Satria berharap Alya belajar melupakan masalalunya. Namun nyatanya dia masih asyik mengenang kebaikan Aditya. Yah kebaikan yang mungkin tak akan bisa tergantikan oleh dirinya.
"Mas tunggu." pinta Alya.
"Lanjutkan saja masaknya, aku mau mandi dan ganti baju. Gerah."
"Mas, kamu marah ya." Alya memasang wajah bersalah.
"Nggak Kok, kenapa aku marah? aku tahu kok nggak mudah lupakan mantan, apalagi kalian sudah bersama empat tahun, siapa aku yang baru hadir beberapa minggu."
"Tu kan kamu marah." Alya makin tak enak hati dengan Satria.
__ADS_1
Satria kali ini ingin terlihat benar-benar ngambek di depan Alya. Dia kembali berlalu dan meninggalkan Istrinya.
Satria segera mandi dan mengurus keperluan mandinya sendiri. Alya tak berani masuk, dia hanya melihat aktifitas Satria dari kejauhan. yang kebetulan pintunya tak terkunci.
"Duh, ngambek kan Alya, kamu sih, ngapain pake ngobrolin Aditya segala." Alya gelisah sambil meremas jemarinya, tak tenang.
Satria terkejut, begitu keluar dari kamar mandi, Alya sudah menunggu sambil duduk santai di pinggiran ranjang. Masih meremas tangannya dan wajahnya ditekuk.
"Mas, aku akan jelaskan." ujar Alya mendekati Satria.
"Apa yang dijelaskan, aku sudah dengar tadi,"
"Tapi Kamu salah paham, Mas. Aku dan bibi hanya menyinggung sedikit soal Mas Aditya. Cuma awalnya aku bertanya soal kamu, iya benar, aku ingin tahu masakan kesukaanmu pada bibi. Jadi pas tinggal berdua nanti aku bisa masak kesukaanmu Mas."
"Terus." ujar Satria acuh. lelaki itu memilih mengeringkan rambutnya.
"Jangan marah, aku minta maaf. Aku salah." Akhirnya tak ada pilihan lain untuk Alya selain minta maaf dan terus merayu Satria dengan terlihat manja.
Satu langkah yang harus diambil oleh Alya. dipeluknya tubuh polos suami dari belakang, diciumnya punggung lebar nan putih itu.
Alya mulai terbiasa melihat Satria hanya menutupi aset berharganya itu dengan melingkarkan handuk kecil saja. Sebenarnya hasratnya mulai tak menentu ketika meminum jamu pemberian Umi tadi.
"Mas, jawab dong please."
"Apa yang harus aku jawab Alya?"
"Apa Mas, sudah maafin aku? aku sudah minta maaf berkali-kali."
"Entahlah Alya, aku harus berbuat apa, supaya bisa membuat diri ini berarti dan dianggap ada olehmu."
"Mas, ngomongnya kok gitu sih." Alya menciumi tiap inci punggung Satria. Tangannya mulai bergerilya di dada dan memelintir dan memainkan tonjolan hitam milik Satria.
Satria pura pura risih dan melepas jemari Alya yang menggelitik di setiap inci tubuhnya.
"Mas!" Alya lelah membujuk, matanya kini berkaca-kaca.
"Apa sih Al? mau tutup pintu, malulah kalau dilihat bibi."
Alya lalu menyunggingkan bibirnya.
clik! Satria bukan sekedar menutup, tapi juga mengunci.
"Alya, sepertinya aku harus menghukum dirimu karena sudah membuat kesalahan yang sangat fatal."
"Fatal! aku rasa tidak," sanggah Alya.
Wanita itu memundurkan langkahnya karena Satria seperti sedang ingin menerkam.
__ADS_1
"Kau sudah membuat aku kesal ketika baru pulang kerja," ujar Satria mengunci tubuh Alya yang sudah mentok di tembok.