Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Puncak amarah.


__ADS_3

Cup! Bibir basah Satria mendarat di pipi Alya. 


 "Mas!" Pekik alya sambil menggeliat merasakan sentuhan bibir basah Satria. 


"Bangun sekarang atau nanti saja?" tanya Satria begitu mendengar suara adzan subuh.


Alya menggeliat. "Makasi suamiku, sudah bangunkan aku, ujar Alya dengan wajah lelahnya.


"Mau dibantu ke kamar mandi?" tanya Satria.


"Nggak perlu Mas, bisa sendiri kok." jawab Alya 


"Oke, kalau begitu." Satria kini berdiri di dekat ranjang sambil mengamati Alya yang akan turun


Alya berusaha untuk duduk tapi dia merasakan sakit sekali di organ intinya. "Awww. Sakit banget Mas "


Satria tersenyum. "Katanya bisa sendiri?" godanya.


"Aku kira nggak akan sesakit ini, Mas." Alya menahan sakit sambil menggeser tubuhnya pelan. 


"Pasti Sakit, soalnya masih pertama kalinya." Satria mengerling.


"ishh." Alya mendesis malu.


"Tapi lama-lama nanti bisa jadi kamu yang akan minta duluan karena nagih," kata Satria.


Alya yang kesal dia memukul dada Satria dan mencubit pinggangnya sebelum lelaki itu mengangkat tubuhnya.


Betapa terkejut Alya melihat noda darah di seprei. Alya tahu inilah darah keperawanannya yang baru saja terenggut . Pantas saja sakitnya luar biasa. 


"Aku gendong ya?" tawar Satria dengan posisi siaga sudah merentangkan tangannya.


Alya segera mengangguk. Dengan senang hati Satria membopong tubuh putih Alya yang polos dan tertutup dengan selimut


Satria sudah selesai mandi, tubuhnya wangi dan harum. Alya bisa menciumnya. 


Satria terus menatap wajah cantik istrinya ketika berjalan ke kamar mandi. Dengan hati-hati sekali Satria menurunkan Alya ke dalam bathup. 


Satria sudah mengisi bathup dengan air hangat membuat Alya bisa mandi tanpa merasa kedinginan.


"Uhhhh." Alya mendesis ketika miliknya terasa perih saat menyentuh air hangat itu. 


"Katakan jika ada yang bisa aku bantu?" Satria panik saat Alya meringis.


 "Siapa tahu butuh jasa menggosokkan lulur?" ujar Satria.


"Mas keluarlah, aku malu," pinta Alya pada suaminya yang berdiri di dekat bathup.


"Kenapa malu, bukankah aku sudah melihat semuanya semalam. bahkan aku juga sudah memegangnya."


"Iya, kau sudah melihatnya, tapi semalam aku tak sepenuhnya sadar."


Satria tersenyum. "Jadi semalam kau seperti mimpi?"

__ADS_1


Alya semakin malu, tidak mungkin dia berkata jujur kalau semalam dia sudah dilanda hasrat yang menggebu.


Baiklah, kamu mandi, dan telepon aku jika butuh sesuatu, aku akan menata pekerjaan semalam dan ke kampus. Kamu libur aja dulu, nanti aku izinkan pada Dosen Prily.


"Tapi Mas, aku akan ke kampus denganmu."


"Yakin bisa berjalan dengan benar."


Alya terdiam, sebenarnya dia khawatir Elisa akan menggoda suaminya. Hanya wanita itu yang masih berjuang untuk merebut Satria dari dirinya, karena Rosa sudah pergi dan tak mungkin kembali dalam waktu dekat. 


Ketakutan Alya bukan tanpa sebab, wanita itu sedikit menakutkan, dia bisa menghalalkan segala cara, termasuk menyekap dirinya seperti tempo hari.


"Mas, apakah kamu senang aku sudah memberi semuanya." Alya bertanya dengan wajah menunduk. Satria yang baru saja satu langkah menjauh terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apa yang kamu katakan? Tentu saja itu sangat berarti dan aku tak akan pernah melupakan malam ini, istriku." Satria jongkok dengan bertumpu pada satu kaki lalu menarik dagu Alya dan mengecup bibirnya, kecupan yang berakhir dengan lidah saling membelit dan kembali terjadi pertukaran Saliva. Alya tersenyum bahagia setelah Satria melepaskan bibirnya. 


"Sebuah hubungan rumah tangga harus didasari kepercayaan juga. Jika itu tak ada maka kita akan terus saling curiga," ujar Satria sebelum pergi.


Tapi Alya pantas hati-hati, dia baru saja kembali menaruh percaya pada laki-laki yang mengkhianatinya.


Satria lalu keluar, dia akan menata semua berkas untuk laporan kepada Pak Arya, Satria semakin semangat karena sebentar lagi pekerjaan yang dia kerjakan akan segera membuahkan hasil. Miniatur gedung permintaan Pak Arya sudah tinggal bagian atap saja, Satria sendiri tak percaya dia bisa membuat karya pertama yang menurutnya bagus dalam waktu yang terbatas.


Satria!! Panggil seseorang dari arah belakang.


Mas! Satria terkejut. 


"Selamat ya, kamu adik terhebat yang sudah berhasil merebut kekasih kakaknya," ujar Aditya yang tak bisa menyembunyikan kemarahannya.


Satria segera memasukkan pekerjaannya sebelum Aditya masuk, dan menguncinya ke dalam lemari. Satria tidak mau Aditya khilaf dan menghancurkan semuanya. Karena sejak pernikahan itu, Aditya selalu saja bersikap kasar.


"Oh jadi itu pekerjaan barumu." Senyum menghina dari Aditya terlihat lagi.


Aditya belum tahu betul, apa pekerjaan Satria, hanya saja dia menduga Satria sedang mencoba menjadi seorang pelukis, melihat banyak kertas berserakan. Sebelum melihat dengan jelas Satria sudah buru buru menyembunyikan semuanya. 


"Hahaha, berapa uang yang kau dapat dari pekerjaan itu, tanpa keluarga, kamu dan istrimu akan kelaparab. Kasihan sekali Alya sudah memilih kamu ynag memiliki hoby tak jelas. Balap liar lah, melukis lah."


"Mas, apapun pekerjaanku, buktinya Alya merasa nyaman denganku, dia sudah berpaling dari kamu, direktur perusahaan yang sukses terhormat."


"Jaga mulutmu, berani bicara aku pastikan akan melupakan kalau kamu adikku." Aditya menarik kerah Satria dan sudah siaga menghajarnya dengan bogem mentah, tapi niat itu diurungkan karena Aditya melihat luka bekas kuku di leher dan dada Satria."


Aditya sudah membuktikan sendiri dengan mata kepalanya bekas itu pasti sisa percintaan semalam, Alya kesakitan dan mencakar leher dan dada Satria.


"Arggg." Aditya berteriak untuk melampiaskan amarahnya.


"Mas, maafkan aku, aku dan Alya adalah pasangan sah, aku harus melakukan kewajibanku sebagai suami."


Satria mendekat hendak menenangkan kakaknya yang tentunya sangat frustasi, Satria juga bisa melihat cinta Aditya pada Alya begitu tulus. 


Namun justru hal itu membuat Emosi Aditya kembali memuncak. "Kamu sangat jahat Satria!! Kamu sudah membuat luka paling sakit yang pernah aku alami selama hidup." Aditya membabi buta memukul Satria dengan tendangan bertubi baik menggunakan tangan dan kakinya. 


Pipi Satria lebam, hidungnya berdarah, belum lagi perutnya tiba-tiba mual dan ingin muntah karena pukulan tendangan bertubi dari Aditya. 


"Lebih baik kamu mati Sat, lebih baik aku tak punya adik sepertimu." Aditya terus menghajar tanpa Ampun meski Satria sudah kesakitan.

__ADS_1


Satria hanya menerima tanpa membalas, tapi ketika bazooka saktinya hendak di tendang oleh Aditya Satria baru menghindar. 


"Mas, kamu serius ingin membunuhku rupanya. Aku tak menyangka memiliki kakak yang egois seperti kamu," ujar Satria sambil memegangi perutnya.


Sedangkan Alya yang mendengar suara berisik di kamar sebelah dia segera turun dari bathup dan hanya memakai handuk kimono tanpa sempat memakai baju, firasatnya tak enak karena mendengar Satria mengerang kesakitan begitu jelas.


"Mas!" Pekik Alya, ketika melihat Satria terluka lumayan parah. 


Alya segera memeluk Satria dan memeriksa wajah suaminya yang penuh luka. 


"Alya, kenapa kamu kesini, pergilah, ini urusanku dan Mas Adit," titah Satria.


"Mas, aku istrimu, luka ditubuhmu ini urusanku juga." Alya sampai menangis melihat wajah Satria penuh luka.


Alya mengambil tisu dan membersihkannya luka-luka Satria  dengan telaten, jarak mereka kini begitu dekat. 


"Makasi ya, Sayang." Ini pertama kalinya Satria memanggil 'Sayang.' pada Alya.


Hati Aditya kian makin sakit seperti diremas dengan garam dan cuka. Alya dan Satria ternyata sudah sangat dekat melebihi dugaannya. 


"Sama-sama Mas, jangan berterima kasih sama istri sendiri," Alya memapah lengan Satria, membantu berdiri meski jalannya sendiri masih tertatih-tatih.


Aditya berdiri mematung dengan tangan masih mengepal. Sungguh Aditya sekarang bukan hanya kecewa pada Satria, tapi kecewa pada Alya juga. 


Aditya bisa melihat leher dan dada Alya yang penuh dengan bekas merah, bekas itu terlihat masih sangat baru.


Setelah mereka berdua pergi, Aditya duduk sempoyongan di kursi kerja Satria, Aditya tak percaya selama ini hanya dia sendiri yang berjuang untuk bisa kembali dengan Alya, sedangkan wanita yang diperjuangkan sudah menyerah dan memberikan segalanya untuk suaminya.


"Alya, sia-sia aku berjuang untuk bisa kembali," lirih Aditya lalu meraih air bekas minum Satria semalam dan meneguk hingga tandas semua di perutnya.


***


"Mas, ini pasti sakit." Alya membantu Satria untuk kembali tidur di ranjang.


"Tidak seberapa kok, sakitnya pasti akan cepat hilang jika pagi ini aku kembali minum susu." Satria melihat dua buah yang menggantung indah ketika Alya sedang membungkuk.


"Mas, ini serius, kamu pasti bercanda."


"Aku juga serius, Alya." Minum susu di pagi hari, bisa menambah nutrisi yang membuat luka cepat sembuh."


"Ngaco." Alya mengerucutkan bibirnya dan segera bangkit. Setahu Alya, Satria tak pernah suka susu, dia tak pernah sekalipun melihat lelaki itu minum susu.


"Baiklah, mau susu kan? aku akan minta tolong Bi Minah buatkan, awas kalau tidak di minum." Alya balik menggoda.


"Siapa bilang aku mau susu buatan Bi Minah.Aku mau yang masih murni." Satria mengedipkan matanya setelah berhasil membuat Alya kesal.


"Mas! bisa nggak jangan mesum!" pekik Alya.


"Kalau sama istri nggak bisa," jawab Satria sambil meringis kesakitan.


  


"Sakit aja banyak gaya," gerutu Alya.

__ADS_1


__ADS_2