Love With Calon Ipar

Love With Calon Ipar
Rindu Satria yang hangat.


__ADS_3

Tiga minggu sudah berlalu, Satria memutuskan untuk pulang ke rumah kontrakan.


Tak jarang Aditya datang dengan berbagai oleh-oleh. Satria semakin yakin kalau Aditya sedang merebut hati Alya lagi.


Apalagi Aditya sekarang statusnya duda, Aditya juga sering membawa cahaya ke rumah, akhir-akhir ini cahaya dan pengasuhnya sering menginap di kontrakan.


Kontrakan yang sempit hanya terdiri dari dua kamar, membuat malam yang harusnya indah untuk Alya dan Satria menjadi terganggu.


Alya menilai Satria sekarang benar benar berubah, kadang jalan pikirannya tak bisa dimengerti. Meski tidak kasar, Satria jadi pendiam dan suka melamun.


Satria semakin berubah semenjak, Aditya sering menemui dan memberi perhatian lebih.


"Mas mau aku siapkan sarapan?" tanya Alya lembut.


"Tidak usah, aku bisa ambil sendiri." jawab Satria.


"Em, Mas kalau gitu kita jalan- jalan keliling sebentar, kamu pasti jenuh."


"Aku lagi malas." jawab Satria.


"Baiklah. kamu istirahat, aku akan buatkan teh hangat."


"Sudahlah tidak perlu capek-capek, kamu istirahat saja."


Tanpa mendengar ucapan Satria, Alya tetap membuat teh.


Saat Alya di dapur, tak lama ada pesan masuk di ponsel Alya. tapi Satria tidak berani menerima. Satria hanya melihat dan memangil Alya di dapur.


"Mas, Dewi datang bersama Dewo. dia sudah ada di depan." kata Alya.


"Suruh dia masuk," ujar Satria.


Satria akhirnya menemui Dewo di ruang tamu, sedangkan Dewi langsung menemui Alya di kamar, Dewi sudah menganggap rumah ini seperti rumah miliknya. Satria juga tidak keberatan Alya berteman baik, dia gadis yang tidak suka neko-neko.


Kini Alya dan Dewi sudah ada di sofa, yang terdapat di kamar.


"Alya, apakah menikah itu enak?"


"Banyak enaknya, emang kenapa Wi?" tanya Alya sambil menikmati cemilan. "Mau nikah sama Dewo?"


"Dia mau lamar aku, tapi aku belum siap, aku takut kejadian yang menimpa dirimu terjadi juga pada aku."


"Nggak boleh ragu, harus yakin." kata Alya.


"Iya, Yakin. baiklah aku harus yakin kalau Dewo lelaki yang baik."

__ADS_1


***


Sedangkan di depan rumah Sadewo sedang asyik menikmati rokok sambil mambil memakan cemilan yang disuguhkan Alya.


"Wo, jika kamu jadi aku apa yang kamu lakukan ketika wanita yang kamu cintai itu lebih nyaman sama mantan?" tanya Satria, lelaki itu masih salah paham soal kejadian di taman, Saat Aditya dan Alya sedang asyik menikmati sushi.


"Mungkin aku akan putusin dia."


"Bagaiman kalau kita sudah menikah?"


"Tunggu bro? jangan bilang kamu tidak percaya sama Alya." Sadewo sadar kemana arah pembicaraan Alya.


Satria terlihat bingung dan resah. "Aku sekarang di posisi serba salah, aku ingin Alya bersamaku, tapi cintaku tak membuatnya bahagia, disisi lain kakakku juga sangat mencintainya.


"Jika seperti itu, kamu bisa lakukan test kesetiaan," usul Dewo.


"Maksud kamu?" Satria selama ini belum pernah melakukan test kesetiaan.


"Kamu akan tahu betapa besar cinta Alya ketika jarak memisahkan. Wanita tak akan kuat godaan ketika jauh dari suami, dan disitulah cinta kalian akan dipertanyakan."


"Jadi maksud kamu aku harus menerima tawaran Pak Arya?" tanya Satria.


"Ya."


"Saat jauh darimu, kamu akan mengerti bagaimana perasaan Alya yang sesungguhnya? akankah dia setia sama kamu atau masih mencintai Aditya."


"Kalau begitu, kamu harus menjadi orang sukses, biar tidak incesure lagi, dan disaat kamu pulang, kamu akan tahu apakah Alya masih menunggumu, atau dia memutuskan untuk kembali dengan cinta pertamanya."


Satria terdiam, meninggalkan Alya adalah hal berat, tapi benar kata Dewo, dia harus pergi untuk menguji kesetiaan dua orang terdekatnya.


***


Pagi buta Satria sudah berkemas, meski pikirannya sedang dalam dilema, inilah jalan terbaik. Satria bekerja dengan dua tujuan, membahagiakan Alya, atau untuk melepaskan Alya.


Sedangkan Alya memasak untuknya di dapur. wanita itu belum tahu apa apa.


Alya mengira Satria akan kembali bekerja di perusahaan Pak Arya. tidak tahunya dia sudah menyetujui pekerjaan yang ada di luar negeri.


"Mas kalau bekerja, kenapa bawa koper?" Alya sudah merasakan tak enak hati.


"Ada yang tidak kamu tahu Alya, aku sudah mengambil pekerjaan di luar negeri, mungkin aku akan bekerja disana lumayan lama, dua tahun. Bi Minah akan menemanimu selama aku nggak ada." Satria berat mengatakan ini semua. Tapi ini keputusan yang sudah di smbil.


"Mas!"


"Tenang Alya, setiap bulan uang lima puluh juta akan masuk ke rekening kamu, hasil dari kerja aku bersama Pak Arya." Satria hari ini bersikap lembut, dia tak lagi dingin seperti biasa.

__ADS_1


"ini bukan masalah uang Mas, tapi kenapa kamu berubah, semua yang kamu lakukan aku nggak perlu tahu. Apa aku nggak penting lagi buat kamu. "Alya menangis mendadak tubuhnya menjadi rapuh, tak pernah terbersit sedikitpun di benaknya kalau dia akan menjalani cinta jarak jauh seperti ini.


"Maafkan Aku Alya, suatu hari kamu akan tahu, yang kulakukan ini untuk kebaikan kita berdua."


"Mas, jangan pergi, aku mohon." Alya menabrakkan tubuhnya pada dada Satria, Cengkeramannya begitu kuat di punggung Satria. Alya tidak pernah rela Satria pergi.


"Alya, jaga diri baik-baik, aku juga merasakan hal yang sama, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu." Satria mengecup lembut bibir Alya, kecupan itu berlahan menjadi lu*matan. Tak lupa dicium seluruh wajah Alya hingga tak terlewat walau satu centi.


Satria juga akan merindukan Alya. Dia juga belum tahu bagaimana melewati hari itu tanpa wanita yang dicintai.


Alya merebut koper dari tangan Satria lalu mendorong tubuh suaminya diatas ranjang. "Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi Mas."


"Alya, aku harus pergi, mengertilah." Satria mencoba untuk membujuk Alya. Namun wanita itu tidak bisa menahan tangisnya.


"Jika kamu pergi maka bawa aku Mas." Mohon Alya dengan lelehan air mata.


"Aku akan sering pulang," bujuk Satria.


"Aku tidak percaya." Alya merasa Satria tidak akan pernah mengurungkan niatnya. Terpaksa Alya mengunci koper Satria di lemari hingga tak bisa mengambil benda berisi baju-bajunya itu.


Melihat Alya benar-benar tak rela melepas kepergian dirinya, Satria terpaksa menunda untuk pergi dan berfikir ulang tentang keputusannya. Lelaki itu duduk di pinggir ranjang sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Akhirnya Satria berkata dengan lembut, ditariknya tubuh sang istri kedalam pangkuan. "Alya katakan alasan terbesarmu kenapa kau tak mengijinkan aku pergi? beberapa hari ini aku melihat kau sudah mulai nyaman dengan Mas Aditya? Bukankah dia sekarang sudah menduda, dan Alasan kalian berpisah sudah jelas. Bayi Kinan bukan anak kandung Mas Aditya."


Dari ucapan Satria, Alya baru sadar kalau suaminya tengah cemburu.


"Apa maksud kamu Mas?" Alya menatap Satria dengan tatapan tajam, setajam pedang yang siap menghunus musuh.


"Katakan sekali lagi?" lirih Alya yang merasa terluka, terluka suami tak percaya dengan ketulusannya.


"Aku akan memberi kesempatan untuk kalian bersatu lagi, mungkin ...."


Belum selesai kalimat Satria, Alya memukul pipi Satria lumayan keras, hingga Satria mengaduh.


Plaaak!


"Auhh." Satria memegangi pipinya. Alya benar-benar menakutkan ketika marah.


"Katakan sekali lagi kalau kau akan memberi kesempatan untuk aku berselingkuh?" cecar Alya dengan sorot tajam.


"Kau tidak pernah tahu bagaimana rasa sakitnya diselingkuhin Mas. Mungkin kamu yang ada niatan untuk kembali pada mantan kamu? Rosa, Elisa, Naina atau ...."


"Stop Alya." Satria kini merasa terpojok dengan tuduhan Alya.


"Kalau begitu jangan pergi, boleh pergi tapi harus bersama aku," kata Alya mulai terdengar konyol.

__ADS_1


Satria menggerutu, " Jika pergi bersamamu, itu namanya honey moon. Aku bukan CEO, seperti Dimas, Dirga, Arsena atau Miko. Apalagi Si Dion dan Adrian."


"


__ADS_2