
Terpaksa Aditia memeluk Alya untuk menenangkan. Namun tak lama pintu kembali terbuka.
"Umi, Abi" Aditya segera mengurai pelukannya.
"Alya, kamu baik baik saja, Nak." Salma segera menghampiri putrinya yang duduk di atas brankar. Sedangkan Rashidi menatap Aditya dengan tatapan tak suka.
"Abi." Aditya mencium tangan Abi. meski tak suka dengan kelakuan Aditya, tapi lelaki itu tetap tak menolak Aditya memberi hormat.
"Abi aku hanya menenangkan Alya, dia sangat sedih, sejak tadi sudah menunggu Abi."
"Benarkah? Maaf Abi telat karena dijalan tadi macet," kata Abi Rashidi dingin.
"Karena sekarang Abi sudah datang, aku ingin melihat kondisi Satria. Semoga saja dia sudah bisa di jenguk."
Abi Rashidi mengangguk. Sebelum pergi, Aditya kembali menatap Alya yang kini tengah memeluk tubuh Umi Salma sambil menceritakan rangkaian kejadian yang dialami baru saja dengan suara tersengal.
"Sabar Nak, Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi kemampuan umat. Semoga badai ini cepat berlalu dan setelah ini hubungan kalian berdua makin erat."
"Semoga Umi." Alya memeluk Umi Salma, kepada dia semua kegundahan yang dialaminya bisa dia curahkan.
Aisyah dan Damar juga menemui Alya, Aisyah dan Alya sama sama menangis tergugu karena ingat kondisi Satria.
Damar dan Rashidi keluar ruangan meninggalkan para wanita. Sebagai laki laki memang dia tak menangis tapi hati mereka tak kalah hancurnya.
"Bagaimana ini? Kenapa mereka selalu diterpa masalah yang berat." ujar Rashidi.
"Aku harus jawab apa, jika ujiaan datangnya dari yang kuasa,"jawab Damar.
Aditya yang ada di balkon rumah sakit, dia menatap ke arah taman yang ada di lantai satu, sekeliling rumah sakit. Ada sedikit penyesalan selama ini telah bersikap tidak naik pada Satria.
"Sat, jika kamu bangun hari ini, Aku berjanji akan selalu menjadi Kaka yang baik buat kamu, aku akan melindungi mu dan aku orang yang paling mendukung kebahagiaan kamu. Aku sudah merelakan Alya untuk menjadi milikmu sepenuhnya, Aku akan bahagia jika kamu bahagia." Aditya memejamkan mata mengingat betapa jahatnya dirinya selama ini.
Tiba-tiba suara wanita dibelakang membuyarkan lamunan Aditya. "Mas, aku sepertinya ingin melahirkan," ujar Kinan.
Wanita itu terlihat menahan sakit sambil terus memegangi perutnya.
"Benarkah sudah waktunya?" tanya Aditya.
"Iya, perkiraan dokter masih bulan depan, tapi kontraksinya sudah terasa sekarang, mungkin aku yang salah kasih info ke dokternya mengenai tanggal terakhir kali telat mens." ujar Kinan.
Aditya segera menemui dokter kandungan yang ada di rumah sakit ini juga. Setelah melewati beberapa rangkaian pemeriksaan, benar juga Kinan sudah akan melahirkan. Wanita itu sudah melewati pembukaan empat.
Kinan segera menempati salah satu ruang bersalin.
Aditya membantu Kinan selama persiapan.
"Mas kamu disini saja." pinta Kinan manja pada Aditya, saat lelaki itu hendak keluar ruangan.
__ADS_1
"Baiklah," ujar Aditya dingin. "Aku melakukan ini semua bukan berarti aku mulai cinta sama kamu, keputusanku sudah bulat, kita akan tetap bercerai."
"Baiklah Mas, lagipula hidup bersama kamu tak seindah seperti yang aku bayangkan, kamu tidak pernah menghargai aku, kamu juga pelit, untuk kebutuhan anak ini saja kamu tidak pernah memberi," ujar Kinan apa adanya.
Aditya diam, yang dikatakan kinan memang semua benar. Aditya selama ini tak pernah menganggap dia dan anakna ada. apalagi semenjak tahu Kinan sering keluar rumah dengan alasan bohong, Aditya semakin mengabaikan keberadaan Kinan.
"Setelah anak ini lahir, Aku mau bercerai Mas. Aku berharap kita akan temukan kebahagiaan masing-masing, maafkan aku yang merusak mimpi indahmu bersama Alya dulu."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? apa artinya kamu sudah menemukan laki laki lain?" ujar Aditya sambil memicingkan matanya. Heran saja bukankah selama ini dia kekeuh ingin memiliki dia seutuhnya.
"Setidaknya aku menemukan lelaki yang nantinya bisa menghargai aku," ujar Kinan tanpa ragu.
"Baiklah aku setuju, jika itu anakku, aku yang akan merawatnya, jika bayi itu anakmu dengan laki-laki lain kamu cari bapak anak itu, setidaknya kamu dan bayi itu akan bersama ayah biologisnya." jawab Aditya.
Kinan trrsenyum sambil menggenggam jemari Aditya, Kinan yakin ini adalah akhir dari pertemuannya dengan Aditya.
Aditya membiarkan Kinan mengenggam tangannya, setidaknya keputusan Kinan hari ini membuatnya lega.
Dua jam dalam ruang bersalin, akhirnya bayi perempuan berwajah cantik sudah lahir, sesaat Aditya terkesima dengan rupa bayi itu.
"Cantik sekali Kinan," ujar Aditya.
"Iya Mas," Kinan ikut menatap bayi mungilnya.
"Sepertinya aku berubah pikiran, aku ingin merawat dia, tanpa test DNA.
"Iya." jawab Aditya sambil mengecup bayi mungil itu. Lucu sekali, bayi itu sepertinya membuat Aditya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kita tetap harus test DNA Mas, jika anak itu darah daging kamu, kamu bisa bawa dia, aku yakin dia akan bahagia bersama papa biologisnya, kamu memiliki banyak materi yang bisa memberikan dia penghidupan lebih layak, dibandingkan aku."
"Biarpun dia bukan darah dagingku aku juga mau mengadopsi dia." Aditya berfikir ulang untuk membiarkan anak itu pada Kinan, bagaimana jika bayi itu hasil dari perbuatan Kinan bersama lelaki hidung belang, hasil dari cinta satu malamnya bersama para bos yang menginginkan membeli tubuhnya waktu itu.
"Mas yakin?" Kinan tak percaya.
"Iya, tapi aku berpesan carilah lelaki yang benar mencintai kamu. bukan karena tubuhmu saja, lelaki yang bisa menerima kekuranganmu, dan kesalahan dimasa lalumu, Kinan." tutur Aditya.
Kinan terdiam, akankah dengan masalalunya yang buruk dia akan menemukan lelaki yang tulus seperti diucapkan Aditya, bukankah lelaki semua sama.
Setelah dua hari test DNA dilakukan pada bayi Kinan dan seperti dugaan Aditya bayi itu bukan anak kandungnya.
Kinan dengan berat hati terpaksa membiarkan bayinya bersama Aditya, Kinan yakin Aditya akan tulus menyayanginya.
Kinan sudah diizinkan pulang, kesehatan Kinan lebih cepat pulih karena melahirkan secara normal.
"Mas pikirkan sekali lagi untuk mengadopsi bayi itu."
"Sudah jangan kau risaukan dia, aku akan merawatnya dengan baik. jika kamu rindu kamu boleh jenguk dia seminggu sekali.
__ADS_1
"Terimakasih Mas. Semoga kamu akan mendapatkan wanita yang kau inginkan."
"Ya, semoga kamu akan mendapatkan lelaki yang bisa mencintaimu dengan tulus."
Kinan dan Aditya benar-benar berpisah demi kebaikan masing-masing. Cahaya terlelap dalam gendongan Aditya sambil menikmagi susu formula yang bermerk paling mahal.
Besok Aditya berencana mencari pengasuh untuk merawat bayi mungilnya.
Sambil menggendong bayi, Aditya kembali menemui Alya yang masih dirawat di Rumah sakit ini.
Sampai di kamar Alya, Aditya tidak menemukan sosok wanita yang dicarinya.
Aditya yakin Alya pasti menunggu Satria yang belum juga siuman.
Dugaan Aditya tidak salah, Saat masuk ruang rawat Satria. Sosok wanita diatas tengah duduk di atas kursi roda dan selang infus masih menancap di tangannya sambil terus menatap tubuh tak berdaya itu dengan air mata yang tiada henti.
"Alya, bagaimana kondisi Satria apa ada perkembangan?" tanya Aditya.
Alya tak menjawab, dia memilih menyeka airmatanya.
Alya melihat bayi dalam gendongan Aditya, Alya menarik sudut bibirnya, memaksa untuk tersenyum. "Mbak Kinan sudah melahirkan rupanya."
"Iya Alya." Aditya sedikit membungkuk, memperlihatkan bayi berwajah cantik itu.
"Selamat Mas." ujar Alya, mentowel lempur pipi halus si mungil. "Cantik Mas."
"Iya Alya, aku memilih mengadopsi dia, karena hasil test DNA menyatakan kalau bayi ini bukan darah dagingku," ujar Aditya.
"Kamu cepat jatuh cinta sama dia."
"Iya Alya, Aku kasihan jika dia bersama Kinan."
"Mas Aditya tidak ingin memperbaiki semuanya dari awal, siapa tahu ada bayi ini, mbak Kinan akan berubah."
"Tidak Alya, biarlah hati ini kosong seperti saat ini, aku tidak ingin cepat-cepat mengisi dengan sosok wanita lain."
Alya dan Aditya sama-sama terdiam. Alya tak tertarik membahas masalah hati lagi, Satu harapan Alya hanya ingin melihat Satria kembali membuka mata, dan bisa tertawa seperti sediakala.
"Alya kamu yang sabar ya, aku akan pulang dulu, aku akan sering kesini lagi setelah menemukan pengasuh untuk Cahaya.
"Iya, Mas," Jawab Alya singkat.
Meski dalam keadaan koma, tetapi gendang telinga Satria mampu menangkap suara di sekitarnya.
Hati kecil Satria merasa bersalah terlalu cepat mengambil Alya dari dekapan Sang Kakak. Seharusnya mereka bisa kembali bersatu setelah tahu bayi Kinan bukan darah daging Aditya.
*Emak mau Vote dari kalian dunk, biar nggak kosong melompong. Biar semangat nulisnya.
__ADS_1